Musik Klasik adalah Seni Interpretasi

Posted by: on Oct 30, 2011 | 2 Comments

Guru piano saya yang gaya mainnya “sangat pop” pernah mencemooh kalau orang yang baca music sheet (partitur) itu tidak ada bedanya dengan robot atau mesin pembaca sheet. Ia tidak terlalu meng-apresiasi pianis yang mainnya sangat bagus karena membaca partitur. Ia lebih mengapresiasi pianis-pianis yang bebas yang memainkan sebuah lagu dengan gayanya sendiri tanpa harus terikat dengan partitur musik. Pendapat yang sangat wajar karena guru saya itu memang bukan “anak sekolahan”. Ia mendevelop gaya bermainnya sendiri dan lebih sering bermain berdasarkan apa yang ia dengar. Ia memiliki satu set arpeggio standar yang bisa ia aplikasikan dalam berbagai macam lagu. Gaya yang sangat pop dengan sedikit nuansa jazz.

Sadar karena bakat seni itu adalah karunia, saya tahu tidak akan terlalu banyak berkembang jika saya mencoba mengembangkan gaya saya sendiri. Boro-boro gaya, bermain chord standar aja masih berlepotan. Karena itu pada suatu titik, bisa dikatakan saya mengambil jalan yang berbeda dengan guru saya itu. Saya belajar not balok dan tertarik pada musik-musik klasik. Langkah ekstrim-nya, saya menjual keyboard Yamaha Portable DGX 620 dan menggantinya dengan digital piano murni yang hanya bisa membunyikan suara piano saja. Yamaha Arius YDP series, versi tidak populer-nya Clavinova.

Setelah menyelesaikan beberapa partitur musik klasik seperti Fur Elise, Sonata op. 13 Pathetique, Canon in D Major, dan Menuett G-dur nya JS Bach, saya pikir pendapat guru saya itu salah. Musik klasik itu menawarkan ruang yang sangat luas untuk bereksplorasi. Partitur musik hanyalah sebuah patokan agar pianis tetap bermain dalam koridor komposisi tersebut. Tetapi variasi tempo, lembut dan kerasnya not yang ditekan, ketukan, ritme, semuanya tergantung interpretasi masing-masing. Dan hal itu bisa menjadikan sebuah komposisi yang sama memiliki emosi yang sangat berbeda karena dimainkan oleh orang yang berbeda.

Contohnya, Clair de Lune yang dimainkan oleh Thomas Labe dan Grant Johannesen ini. Sama-sama Clair de Lune karya komposer Claude Debussy (teman-teman kalau suka film Twilight akan tahu komposisi ini). Dua versi ini menurut saya memiliki emosi yang sangat berbeda. Bahkan dua versi itu juga berbeda dengan yang di hardisk saya (versi Yamaha Music — bonus track yang disertakan dalam bundel piano).

Kedalaman emosi ini tidak bisa dikeluarkan oleh sebuah mesin pembaca partitur. Semakin tinggi skill seorang pianis, akan semakin terasa keindahan nada-nada yang dikeluarkan oleh sebuah komposisi musik klasik. Demikian.

The New Experience of Coding

Posted by: on Oct 28, 2011 | 6 Comments

Saya menemukan passion di pemrograman komputer beberapa bulan setelah saya menjalani perkuliahan di Teknik Informatika ITS, hampir sepuluh tahun yang lalu. Ketika mencari-cari bahasa yang akan dijadikan spesialisasi, saya menemukan sebuah quote dari majalah Oracle, “… because we believe in Java.” Sejak itu saya menyadari bahwa Java akan menjadi bahasa masa depan.

Sampai sekarang saya masih bekerja sebagai programmer (yg banyak orang bilang ini adalah jenjang karier terendah di dunia IT), meskipun sekarang lebih banyak analisis data. Saya ditugaskan di bagian ini setelah dua tahun mengotak-atik aplikasi Java Enterprise. Hal itu kadang-kadang menimbulkan kerinduan, sehingga kadang-kadang saya membuka kode Spring, Struts, dan Hibernate untuk membuat sebuah aplikasi kecil yang memakai PHP pun sebenarnya bisa.

Lha, awal bulan ini, atasan saya mengembalikan saya ke sisi programming lagi disamping tanggung jawab saya untuk analisa data sebuah sistem ERP untuk manajemen aset. Sebuah pengalaman baru bagi saya, yaitu bahasa deklaratif untuk arsitektur berorientasi pelayanan (halah… Service Oriented Architecture – SOA). Mendalami alur-alur proses dalam bahasa BPEL (Business Process Execution Language), mediator, web service, database adapter, dll.

Passion itu saya temukan lagi. Sudah lama saya tidak mengalami gairah yang meluap-luap, sebegitu penasarannya ketika web service saya tidak berjalan. Berusaha menemukan pintu ketika menabrak tembok, bukan malah membentur-benturkan kepala berharap temboknya jebol. Programming itu sebuah seni, karena dibutuhkan imajinasi dan kreativitas ketika membangunnya.

Seperti halnya dulu, saya rasa, SOA adalah arsitektur masa depan. Dan lagi-lagi Oracle yang membuat saya berpikir begitu. Oh iya, saya memakai Oracle SOA Suite 11g, yang merupakan bagian dari Oracle Fusion Middleware. Mungkin kapan-kapan saya akan ceritakan lebih detail tentang produk ini nanti.

Memotret Keseharian

Posted by: on Oct 22, 2011 | 14 Comments

Salah satu alasan saya berhenti aktif dari Fotografer.net dan situs forum kamera serupa beberapa tahun yang lalu adalah karena saya bosan dengan style fotografi yang begitu-begitu saja. Olah digital yang berat ibarat wajah cewek cantik pergi ke kondangan — dempulnya semeter. Jadi meskipun fotonya sebenarnya cakep, tapi oldig membuatnya jadi menor dan membosankan.

Lalu seolah-olah fotografi itu sesuatu yang sangat serius. Harus dengan heavy equipment, konsep matang, metering cahaya yang terukur, dan akhirnya eksekusi yang sempurna. Saya mencoba melakukannya ketika membuat project essay. Hasil fotonya memang bagus, dilihat indah, tetapi apa iya fotografi hanya seperti itu? Fotografi seharusnya fun dan bisa juga dibawa tidak serius.

Saya suka foto-foto once upon a time yang merekam sebuah kejadian keseharian dengan apa adanya. Mungkin secara konsep fotografi sekolahan foto itu tidak bagus — penuh noise, ngeblur, komposisi kacau, dsb. Tapi isinya yang dibuat dengan spontan dan apa adanya menurut saya adalah sebuah seni tersendiri. Contoh: suasana sore di sebuah gang sempit di Depok, angkot yang sedang ngetem di depan stasiun Wonokromo, ayam sedang diberi makan di lereng gunung Wilis, seorang santri sedang turun dari masjid di pesantren Tebu Ireng, seorang ayah sedang menggendong anaknya di rumah kayu di tepi hutan Kalimantan, dsb.

Sesuatu yang biasa bagi setiap orang yang menjalani rutinitas, tapi jadi spesial bagi orang di belahan bumi berbeda yang mengalami suasana berbeda. Bagi saya, asap kopaja, kemacetan di jam pulang kantor adalah pemandangan yang menyesakkan dan bikin mata sepet; tetapi mungkin buat kawan yang di Probolinggo jadi spesial karena tidak pernah melihatnya. Itulah yang saya sebut foto once upon a time, atau pada suatu ketika, atau titi kala mangsa.

Karena yang penting adalah objeknya, maka hasil dan kualitas foto jadi nomor dua. Spontan dan fun. Alat jadi tak terbatas harus kamera-kamera mahal, bisa jadi kamera saku (Lumix F3 saya harganya dibawah sejuta), atau kamera ponsel.

Jangan pernah mikir konsep. Jepret! Jepret! Jepret. Lalu upload. Saya sarankan jangan diupload ke jejaring sosial macam Twitter atau Facebook karena foto di Twitter tidak tahan lama dan Facebook tidak tersusun secara kronologis. Konsistenlah, dan lihat apa yang terjadi… (MTGW banged).

Contoh yang bagus tentu saja fotoblog favorit saya: Oh! dan Memo. Meskipun bukan once upon a time  dan lebih ke citizen photo jurnalism (maksudnya berkonsep dan kadang-kadang serius banget), tapi dua blog itu bisa jadi inspirasi. Contoh lain, Mas Fahmi yang konsisten dengan Weekly Photo Challenge-nya. Meskipun fokusnya lebih ke pembuatan konsep yang kreatif (maklum, ilmunya sudah di level berbeda), tapi juga bisa sebagai inspirasi.

Saya sedang memulai project foto once upon a time ini di sesi blogging post di foto.galihsatria.com. Update kategori ini tidak akan terlihat di halaman depan karena sudah terlanjur dipakai foto-foto yang lebih (sok) serius. Ini akan terlihat di feed-nya atau langsung di alamat ini. Pokoknya konsepnya: gak pake mikir, gak pake konsep, gak pake teknik, jepret, jepret, jepret!

Memperkenalkan, GALIHSATRIA photoworks

Posted by: on Oct 21, 2011 | 12 Comments

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang,

Teman-teman, saya ingin memperkenalkan sebuah fotoblog yang saya beri judul: GALIHSATRIA photoworks. Sebuah wadah khusus untuk memajang hasil karya fotografi saya. Konsepnya adalah: high resolution! Meskipun tidak segede The Boston’s Big Pictures, tapi di sana saya akan memasang foto berukuran 900-an pixel. Lebih lega daripada foto-foto yang saya pasang di sini yang hanya sekitar 500-an pixel.

Tidak takut dibajak? Sudah terlanjur, saya sudah melihat foto-foto saya ada dimana-mana, baik yang komersial ataupun non-komersial. Tapi saya tetap memohon, marilah kita belajar menghargai sebuah karya cipta. Oke!

Tidak berpanjang-panjang, silakan meluncur ke http://foto.galihsatria.com. Dengan lahirnya fotoblog ini, saya tidak akan memajang foto lagi di sini. Segala hal yang berhubungan tentang fotografi akan saya taruh di sana. Perhatikan konsumsi bandwidth karena situs itu akan cukup rakus bandwidth.

Oh iya, beberapa komentator pertama akan mendapatkan hadiah. Mungkin sebuah edisi cetak dari essay fotografi saya, atau cetakan salah satu foto saya seukuran kertas letter. Mari silakan dinikmati dan jangan lupa subscribe feed-nya di sini: http://foto.galihsatria.com/feed.

Meluncur!

A New Look

Posted by: on Oct 20, 2011 | 7 Comments

Wow, it’s been almost seven years since I’ve been writing on this blog for the first time. I will never forget the way at first time I wrote, I always started the paragraph with two words, dear diary. However, I will never delete those posts, whatever it was that silly. I know those series of posts will be used by my colleagues as jokes. For me, every post I’ve written is a very personal history, in a very personal emotion, which I called it as daily notes.

Today, I think it’s a perfect time to change. As the main topics of this blog is not melancholia anymore, I think I should change my long wisdom text, kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan agar kita bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat.

That was the past.
And this is today and tomorrow and the future.

And for celebrating the throwing out that long tagline, I proudly present the brand new look for this blog. Yet a clean and simple themes. It’s just because I love simplicity.

Thank you. It’s strange to write in English, but I don’t know why the first sentence is in English, so I just follow my fingers to write in English hehehe…

Pemekaran SubDomain

Posted by: on Oct 17, 2011 | 4 Comments

Sebenarnya saya sudah lama merasa kalau blog saya ini terlalu campur aduk. Ya mungkin memang inilah cerminan isi kepala saya — campur aduk gak karuan. Rasa-rasanya apa saja yang sedang terlintas pengen ditulis segera tanpa pikir panjang, wong ini blog punya saya sendiri juga, siapa yang berhak larang-larang? Toh juga saya nulis lebih buat diri sendiri, kalau ternyata ada yang tertarik untuk membaca ya alhamdulillah, sesuatu banget hahaha…

Meskipun campur aduk, sebenarnya hanya ada tiga topik besar yang menurut saya menarik untuk saya tulis saat ini. Fotografi, tetap menjadi hobi saya, meskipun mungkin sudah tidak se-menggebu-gebu dulu. Bukannya malas dan berhenti untuk belajar, tetapi saya masih memutuskan untuk mendalami fotografi jalanan (maksudnya jalan-jalan sambil motret) dan lansekap saja. Saya masih ingin mengenali dan mencari gaya memotret saya, yang diberi kehormatan oleh Mas Dion sehingga dinamakannya fotografi jujur (mungkin maksudnya fotografi biasa-biasa saja tidak istimewa, heuheuheu..).

Tema kedua adalah tentang perencanaan keuangan. Yeah, everybody is now talking about personal financial planning, seiring dengan naik daunnya beberapa perencana keuangan di ranah jejaring sosial. Berawal dari seminar kecil Mas Ablehunder di depan tim kecil kami tentang pencatatan keuangan dengan GNU Cash, saya segera memindahkan sistem Excel saya ke sana. Itu kira-kira sudah dua tahunan yang lalu.

Kemudian juga bahwa saya berhasil masuk pasar modal juga awal tahun ini. Lalu diberi banyak pelajaran shock therapy waktu market jatuh akhir-akhir ini. Ini secara drastis mengubah profil investasi saya dari yang awalnya sangat konservatif menjadi sangat agresif. Hal ini membuat saya harus terus menyempurnakan sistem perencanaan keuangan saya — dan itu menyenangkan. Makanya itu ingin saya share di blog ini.

Tema terakhir namun sedikit lebih jarang adalah musik. Saya menemukan obsesi masa kecil untuk bisa bermain piano ala kadarnya. Belajar piano juga merupakan sebuah perjalanan panjang (long journey) yang menyenangkan. Saya ingat saya mulai dengan kertas karton yang digambari tuts-tuts piano, lalu ketika sudah mulai lancar berburu piano dari Kelapa Gading di ujung utara hingga Permata Hijau di ujung selatan. Itu juga ingin saya tuliskan.

www.galihsatria.com

Langkah pertama dalam pemekaran subdomain ini sebenarnya sudah saya mulai. Saya akan mulai memberdayakan alamat www.galihsatria.com sebagai pengumpul hasil-hasil karya saya — foto, lagu, dan buku. Sama seperti dulu waktu jadi admin di ITS. Domain yang awalnya saya redirect ke blog.galihsatria.com ini sekarang sudah ada tempatnya. Cuma belum dibangun rumah di situ. Konsepnya sudah ada di kepala saya, tapi rasa-rasanya untuk mengeksekusinya belum ada waktu. Jika ada teman-teman yang mau bantu saya mendesainkan sebuah theme yang semi-statik, saya akan sangat bergembira, hehehe…

Museum Kereta

Posted by: on Oct 16, 2011 | No Comments

FLICKR
Lokasi: Museum Kereta Alun-Alun Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Switch to our mobile site