Nonton Resital Piano Teguh Sukaryo

Mungkin saya termasuk orang yang aneh. Orang ramai-ramai pergi ke Java Soulnation, saya malah nyasar nonton resital piano klasik Teguh Sukaryo di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Ya memang, siapa yang kenal judul-judul macam Fantasie Impromptu, La Campanella, Prelude in B minor, atau Rondo Alla Turca. Ah tapi biarin, sisi freak yang ini mau saya pertahankan.

Dimana-mana musik klasik memang tidak terlalu banyak disukai karena memang tidak populer (ya eyalah, kalo populer namanya jadi musik pop). Paling yang nonton di teater kecil tidak lebih dari 30 – 50 orang saja dari seluruh kapasitas teater yang saya perkirakan sekitar dua ratus an orang. Dan saya juga pikir paling-paling yang nonton kalau nggak guru piano ya murid sekolah piano. Musik klasik biasanya menjadi kurikulum pelajaran awal sekolah-sekolah piano sebelum mengarah ke pop atau jazz.

Saya akhirnya juga berkesempatan melihat dan mendengar secara langsung grand piano Steinway & Sons yang dimiliki Taman Ismail Marzuki yang selama ini hanya saya dengar ceritanya saja. Di tangan pianis handal, ternyata Steinway memiliki suara yang sukar diungkapkan dengan kata-kata. Secara karakter, suaranya agak mendem dibandingkan grand piano Yamaha yang melengking. Saya pikir Steinway sangat cocok untuk memainkan musik-musik klasik, sementara Yamaha cocok untuk musik-musik generasi new age.

Tanpa pengeras suara, piano Steinway mampu menghadirkan gelombang suara yang imajinatif. Di Rondo Alla Turca-nya Mozart (Turkish March), rasa-rasanya seperti menggambarkan barisan tentara Turki yang menggetarkan tentara-tentara Eropa di Perang Salib. Gegap gempita, mengejutkan, dan menggetarkan. Atau di Fantasie Impromptu yang temponya berubah-ubah, rasa-rasanya seperti melihat kehidupan Chopin yang tak menentu.

Meskipun musik klasik kebanyakan orang tidak tahu, tetapi Teguh Sukaryo di speech pembukaannya mengatakan bahwa komposisi-komposisi yang dimainkannya malam itu adalah karya-karya yang populer. Bahkan tajuk resital piano kali itu adalah “The Greatest Hits”. Saya agak tersenyum geli. Ya benar sih, jika dibandingkan dengan komposisi-komposisi lain, apa yang dimainkan memang sangat populer yang biasa dimainkan di sekolah-sekolah musik.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *