Menghitung Dana Pensiun

Dana pensiun (pension fund) adalah dana yang paling banyak diremehkan orang, termasuk saya, karena kejadiannya masih jauh di masa depan. Menikah saja belum, kok sudah mikir pensiun. Apalagi setiap bulan gaji saya dipotong untuk asuransi Jamsostek. Para PNS tentu akan lebih meremehkan dana pensiun ini karena mereka akan mendapatkan gaji pensiun yang dibayarkan tiap bulan.

Pada suatu kesempatan, manajer HR pabrik tempat saya bekerja bercerita, bahwa ada beberapa kejadian seorang pekerja pabrik meminta untuk dipekerjakan kembali sebagai kontraktor outsourcing di pabrik bekas ia bekerja beberapa bulan setelah ia memasuki masa pensiun. Hah?? Padahal saya tahu betul, pekerja yang pensiun di pabrik tersebut mendapatkan uang pesangon pensiun yang menurut ukuran saya sangat besar, hitungannya mungkin mencapai satu milyar rupiah atau lebih.

Berawal dari twit-twit-nya Aidil Akbar tentang dana pensiun, saya iseng-iseng menghitung berapa sih kebutuhan dana pensiun saya kelak, jika memproyeksikan dengan kondisi sekarang. Saya memakai perhitungan present value dan future value of annuity yang saya pelajari di bangku sekolah.

Ternyata temuan saya cukup mengejutkan. Saat ini, jika pengeluaran orang pensiun tersebut adalah 5 juta, maka uang 1M itu akan segera habis dalam waktu 10 tahun saja. Sekilas dipikir-pikir cukup, tapi apa iya, pekerja pabrik yang mendapatkan dana pensiun 1M itu tingkat gaya hidupnya hanya lima juta sebulan? Dan lagi, biasanya orang memakai dana pensiun-nya justru untuk membeli mobil baru atau rumah baru. Menyadari hal ini, saya jadi percaya cerita manajer HR tersebut!

Nah, sekarang, bagaimana dengan pensiun kita-kita kelak yang masih sekitar 30 tahunan lagi? Yang jelas, karena inflasi yang tinggi, uang 1M tersebut takkan ada nilainya di tahun 2040-an (kecuali kalau ada re-denominasi lho ya :p). Dengan pemikiran yang sama, jelas nilai yang dikumpulkan Jamsostek saya itu juga tidak akan cukup karena akan digerus inflasi. (Saya tidak tahu berapa return asuransi Jamsostek ini, mungkin perlu ditelaah nanti di lain kesempatan).

Kalkulator Dana Pensiun

Yuk, kita bermain-main sebentar. Anda bisa download hasil hitung-hitungan Excel saya di sini. Pertama-tama masukkan umur dan rencana mau pensiun di umur berapa. Misalnya saya sekarang umur 27 dan rencana akan pensiun katakanlah di umur 50 tahun. Maka, saya punya waktu 23 tahun lagi. Kemudian, setelah pensiun, berapa sisa hidup kita? Yaah… katakanlah orang akan mati di umur 80 tahun, berarti, kita akan hidup tanpa punya penghasilan selama 30 tahun. Kita sendiri lah yang harus menghidupi kakek-kakek tua renta itu di masa depan.

Kemudian, tentukan jumlah pengeluaran bulanan kelak dengan nilai sekarang. Gampangannya, berapa sih pengeluaran kita tiap bulannya? Ambil contoh simpel saja: 5 juta rupiah sebulan. Tadi Nike di Twitter menyeletuk apakah expense segini untuk single atau ada anak isteri. Entahlah, saya sih ambil asal comot saja hehehe…

Next, tentukan perkiraan kasar tingkat inflasi setiap tahunnya. Saya ambil contoh, 12%. Ini saya dapatkan dari hitungan pedagang nasi goreng sebelah rumah. Ia menaikkan nasi goreng dari Rp. 7000 jadi Rp. 8000 atau sebesar 12,5%. Ini ia lakukan setiap tahun sehabis libur lebaran. Nah, lihat baris yang berjudul “FV”. Itulah nilai yang akan Anda butuhkan untuk menghidupi kakek tua renta itu selama 30 tahun. Saya mendapatkan angka sekitar Rp. 24 milyar!

Investasi

Kita tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu tanpa melakukan investasi yang agresif. Dan faktor kedua yang penting adalah waktu. Semakin lama waktu yang ada semakin baik. Kekuatan rumus bunga majemuk adalah waktu. Semakin panjang waktunya, semakin berlipat ganda jumlahnya.

Katakanlah sebuah produk investasi agresif menghasilkan return 28% (angka dari langit). Kemudian silakan bermain-main dengan baris “Payment”. Ini adalah jumlah yang harus anda investasikan setiap bulan. Tidak boleh absen sekalipun, karena rumusnya adalah konsep future value of annuity. Masukkan sebuah nilai dan perhatikan bagian “NPV” di paling bawah. Jika masih merah, investasi Anda kurang. Jika sudah hijau berarti sudah aman.

Dengan asumsi-asumsi di atas, maka saya menemukan angka Rp. 150 ribu untuk disisihkan setiap bulan. Di tahun ke-23 kelak, saya akan mengumpulkan uang sebesar hampir Rp. 26 milyar!

Saya pikir Rp. 150 ribu bukanlah angka yang terlalu besar untuk disisihkan. Jika anda merokok, pengeluaran anda sebulan untuk rokok bisa mencapai Rp. 300 ribu bukan?. Dan terima kasih kepada reksadana, dengan uang segitu kita sudah bisa membeli reksadana saham unggulan setiap bulan. Uang segitu tidak cukup untuk beli satu lot saham langsung di pasar modal. Dengan adanya reksadana, kita bisa melakukan investasi secara rutin sesuai prinsip future value of annuity.

Catatan:
Penghitungan ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain saya tidak menghitung nilai inflasi untuk sisa hidup 30 tahun di masa depan pada waktu pensiun karena hitungannya menjadi makin rumit. Beberapa indikator lain seperti fluktuasi nilai investasi, dan juga kakek yang sakit-sakitan, juga ditiadakan untuk menyederhanakan perhitungan. Jika Anda menemukan kesalahan di perhitungan saya, mohon saya dibetulkan. Maklum, bukan financial planner, hanya amatiran hehehe… Terima kasih.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. ada rekomendasi gak mas galih, dimana sebaiknya membeli reksadana? dan produk apa yg sebaiknya dipilih? thanks…

    oh iya, lebaran dulu, minal aidin wal faidzin 🙂

  2. Biasanya kan kalo pensiun udah ada anak istri kan ya Lih? 😀
    Jadi, sekarang mbok ya di rencanakan kapan menikah? mau punya berapa anak? trus itung juga biaya sekolah anak2nya. Dijamin tambah takjub lagi deh tuh liat angka2nya 🙂

  3. Thanks bung Galih atas perhitungan di excelnya.
    Saran kalo bisa dilengkapin daftar pertumbuhan nilai investasi per tahunnya agar bisa menganalisa tiap 5 tahun apakah investasi kita berjalan di arah yg kita inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *