Catatan Penghujung Ramadhan

Posted by: on Aug 30, 2011 | 2 Comments

Saya sudah mudik di malam 26 Ramadhan menggunakan kereta api Bima jurusan Surabaya, namun saya turun di Kertosono. Sejak di rumah jumlah ibadah saya harus diakui menurun drastis karena memang atmosfernya berbeda. Di Jakarta lebih banyak waktu untuk merenung dan melihat kedalaman diri.

Karena rumah ada di lingkungan langgar NU, saya akhirnya tarawih dengan versi 23 rakaat — sesuatu yang selalu saya hindari kalau di Jakarta. Bukan apa-apa, karena saya ingin lebih khusyuk dengan jumlah rakaat yang lebih pendek tapi dengan ritme yang jauh lebih panjang.

Di langgar sebelah, sholat Isya’ dimulai pukul 18:50, dan segala rangkaian sholat tarawih dan witir selesai pada pukul 19:30. Setiap jeda rakaat keempat, jamaah menyeru sahabat-sahabat nabi mulai Abu Bakar Shiddiq ra, Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, dan Ali bin Abi Thalib khw dengan gegap gempita.

Setiap malam ganjil, selalu ada acara selamatan/shodaqohan kecil dimana secara bergiliran jamaah membawa makanan untuk dibagi-bagi. Seringkali, urusan ini saja bisa menjadi “perang dingin” antar tetangga untuk saling bersaing — menunjukkan siapa yang lebih makmur dan kaya. Ya tidak bisa dihindari kalau hal yang begini selalu diperbandingkan orang, keluarga A menyajikan ini itu yang lebih enak dan mewah daripada keluarga B, hehe..

Lebaran memang akhirnya tidak serempak. Pemerintah memutuskan untuk menggenapkan puasa menjadi 30 hari karena hilal belum cukup umur. Suatu hal yang sebenarnya biasa dari tahun ke tahun, tetapi rupanya ribut-ributnya juga masih saja ada. Berbagai lelucon dan cemoohan ke pemerintah tersebar melalui Twitter dan BBM. Kalau melihat message yang berseliweran, nampaknya kita umat muslim Indonesia masih lebih mementingkan hal-hal yang bersifat tradisi dan seremonial seperti opor ayam dan kapan lebaran. Bukan hal-hal yang lebih mendalam seperti bertakbir, bertahmid, dan lagi-lagi: merenung dan berinstrospeksi apakah ramadhan tahun ini membawa kesan yang khusus atau hanya sekadar tradisi kebudayaan tahunan sebagai muslim Indonesia.

Demikianlah, dengan berat hati saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada Ramadhan 1432H, semoga masih diberi karunia umur dan kesehatan untuk berjumpa Ramadhan berikutnya dalam kondisi lebih mapan dan lebih baik lagi. Tetapi juga saya dengan penuh syukur menyambut malam takbiran tanggal 1 Syawal 1432H, malam kemenangan, malam Idul Fitri. Hari ketika dengan izin-Nya umat muslim diampuni segala dosa-dosa yang telah lalu sehingga seakan-akan telah menjadi suci/fitri seperti bayi yang baru dilahirkan.

Dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan,
Taqaballahu mina wa mingkum, taqabal ya karim
Mohon maaf atas segala kesalahan, segala salah tulis, baik yang saya sengaja atau lebih-lebih yang tidak saya sengaja.

Wish you Ied Mubarak,
Selamat berhariraya bersama keluarga.
Salam hangat saya selalu,

Galih Satriaji.

Catatan Minggu Ketiga

Posted by: on Aug 21, 2011 | 2 Comments

Ya Allah,
Mungkin aku tidak sesensitif mereka
yang bisa menangis tersedu bahkan meraung-raung saat memohon kepada-Mu
saat imam melantunkan nada-nada sendu untuk doa-doa qiyamul lail

Ya Rahman yang Maha Pengasih,
Mungkin aku yang masih jauh dari Engkau
yang belum bisa merasakan kedekatan-Mu
yang belum bisa khusyuk dalam keheningan shalat
yang belum bisa syahdu dalam memanjatkan doa

Ya Rahim yang Maha Penyayang,
Sungguh aku merasa terasing diantara ribuan jamaah
Berdiri menengadahkan tangan, amin… amin… amin… bersedu sedan

Ya Aziz yang Mahamulia,
Ingin saya juga bisa menangis memohon kepada-Mu
Tapi bukankah ketulusan doa tidak harus larut dalam tangis?
Engkau Maha Mendengar doa-doa, bahkan untuk doa yang tak terucap
Doa yang dibisikkan dari dalam hati
Dalam keheningan dan kebeningan hati

Ya Ghofar yang Maha Pengampun,
Sungguh kami telah menganiaya diri sendiri
Sungguh jika Engkau tidak mengampuni diri ini
Tidak mengasihi diri ini
Sungguh kami benar-benar menjadi orang yang merugi
Maha ampunilah dosa-dosa kami…

Rabbana dzalamna anfusana
Wa ilam taghfirlanaa
Wa tarhamna lanakunanna minal khasyirin

Panti Asuhan

Posted by: on Aug 21, 2011 | One Comment

Salah satu tradisi yang dilakukan oleh divisi di pabrik tempat saya bekerja kalau sedang bulan puasa adalah mengadakan buka puasa bareng. Acaranya biasanya dilakukan di hotel seperti Ritz Carlton, Four Season, The Sultan, dan tahun ini di Gran Melia. Sejak tiga tahun yang lalu, tradisi ditambahkan dengan mengajak anak-anak yatim dari panti asuhan.

Tahun ini, panti asuhan yang diundang adalah sebuah panti asuhan dan anak jalanan di bilangan Manggarai. Saya kebagian membuat video profil singkat-nya untuk ditayangkan ke semua hadirin yang hadir. Hanya direkam dengan menggunakan kamera saku biasa, dan karena keterbatasan waktu, editingnya pun masih sangat kasar. Tetapi ada satu hal yang menarik yang membuat saya men-share-nya di sini. Enjoy

Dirgahayu Indonesiaku

Posted by: on Aug 18, 2011 | 2 Comments

Sore itu terik. Cahaya matahari kuning keemasan terasa menyilaukan menyiram setiap sudut lapangan Pasar Pahing yang luas. Tetapi kesibukan tampak nyata semakin meningkat di setiap sudutnya. Kami, anggota tim paduan suara gabungan beberapa SMP di kota Tulungagung pun telah menyiapkan diri. Celana pendek biru dengan seragam kemeja putih lengkap dengan peci biru tertulis “SLTP Negeri 02 Tulungagung”. Bangga sekali rasanya menjadi wakil sekolah. Meskipun warna seragamnya sama, tetapi pernak-pernik kecil seperti ini tetap saja membedakan, seperti warna badge, kain segitiga yang ditempel di lengan atas menunjukkan kelas berapa. Badge saya berwarna hijau dengan huruf “A”, atau kelas 1A, kelas paling favorit tempat bercokolnya anak-anak terpandai.

Masih dua jam lagi sebelum upacara penurunan bendera. Menurut rencana, kami akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu wajib nasional. Pak Herry Subagyo, guru seni musik kami, sudah sibuk dengan koleganya, mencoba-coba piano. Untunglah kami hanya diharuskan menyanyi saja, tidak harus meniup recorder seperti kebiasaan kalau upacara bendera di halaman sekolah, memainkan lagu Mengheningkan Cipta. Ke-khidmat-an lagu ini selalu rusak kalau ada tiba-tiba suara satu recorder yang melengking salah tiup.

Tiga hari sebelumnya, semua anak kelas satu dikumpulkan di speelood (aula) sekolah yang tidak terlalu luas. Kami disuruh menyanyikan lagu wajib secara bersama-sama. Pak Herry mengaudisi kami dengan cepat, memilih sekitar tiga puluh anak yang akan dipilih menjadi anggota tim paduan suara obade untuk upacara penurunan bendera 17 Agustus 1997 di lapangan Pasar Pahing Tulungagung.

Empat belas tahun kemudian, seluruh bulu kuduk saya merinding ketika mendengarkan lagu “Hymne Kemerdekaan” dinyanyikan oleh tim obade istana. Sungguh lagu ini lagu yang terlupakan bahwa ini masuk playlist yang kami nyanyikan dulu. Di depan televisi LG 14 inch, di rumah kost-kost-an di sudut Jakarta, saya terpaku…

Dirgahayu Indonesiaku.

Catatan Minggu Kedua

Posted by: on Aug 15, 2011 | 5 Comments

Malam minggu, 13 Agustus 2011, tiba-tiba saya lapar mata pengen sahur junk food, McDonald atau KFC. Karena tarawihnya di Al-Azhar, saya meluncur ke KFC di Kemang. Saya sempat lupa kalau malam itu adalah malam minggu. Baru sadar waktu masuk ke KFC, saya jadi merasa seperti guru ngaji kampung yang kesasar hehehe…

Tapi momen itu meledakkan sesuatu yang sering saya renungi: yaitu gaya berpacaran anak-anak muda zaman sekarang (emang gimane gaya anak muda jaman sekarang ‘tad?) :p

Kalau anda pernah masuk forum yang sekarang diblok oleh pemerintah (saya sih sering, hehe), maka disitu anda pasti akan surprise jumlah “film” triple x yang diproduksi secara swadaya oleh anak-anak muda itu. Jumlah update per harinya bisa menyamai jumlah produksi yang dilakukan oleh production house profesional macam Vivid Entertainment atau Japan AV Idol.

Padahal, file yang terpublikasi itu hanya karena kecerobohan mereka. Adalah ketidaktahuan bahwa sebuah file ketika dihapus, yang dihapus hanya indeks-nya aja. File fisik-nya masih ada di storage dan bisa di-restore dengan software tertentu. Saya membayangkan hal yang pertama dilakukan penjual HP second adalah me-restore file-file di dalam HP dan mencari video-video seperti ini, hihihi… (Pesan moralnya, jangan pernah merekam adegan porno anda kalo ga mau kesebar di internet) :p

Artinya, ini adalah fenomena gunung es. Dari sampel yang lolos ke ranah publik di internet, bisa diambil kesimpulan sebenarnya gaya pacaran sekarang sudah sangat tidak sehat. Dan ini didukung oleh kondisi bahwa status single terlalu lama itu tidak baik — dianggap tidak laku.

Sesungguhnya zina adalah dosa yang sangat berat. Dan setiap pemuda pemudi muslim diwajibkan untuk menjauhi segala perbuatan yang mengarah kesana, karena tidak akan henti-hentinya setan berbisik. Setan disini bukan sebuah makhluk gaib yang menakutkan, tetapi hakikatnya adalah gejolak alamiah yang lazim muncul. Pemuda muslim yang telah siap sedia bahkan diwajibkan untuk bersegera menikah, dan disarankan berpuasa jika jodoh belum juga datang.

Ironisnya batasan norma agama seperti sudah tidak membekas lagi. Metode yang diperkenalkan Islam melalui metode taaruf dianggap tidak sesuai dengan kondisi sosial masa kini. Metode yang biasa dilakukan orang-orang tua kita, yaitu memperkenalkan melalui keluarga, menyelediki bibit bebet bobot secara detail dianggap kuno, bahkan dianggap sebuah pemaksaan ala roman Siti Nurbaya.

Sebuah pesan yang sebenarnya lebih ditujukan untuk diri saya pribadi, semoga kita selalu dilindungi dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya itu adalah ancaman yang sangat nyata.

Sekian catatan minggu kedua bulan Ramadhan 1432H. Selamat menjalankan paruh kedua bulan puasa tahun ini bagi anda yang menjalankan. Semoga tetap semangat dan istiqomah. Mohon maaf juga kalau akhir-akhir ini postingannya melulu soal agama — kebawa suasana sih hehehe…

Pasar Modal Hari Ini

Posted by: on Aug 8, 2011 | 2 Comments

Jumat pagi, sahur saya digelitik oleh sepotong akun berita di Twitter, “Indeks S&P 500 jatuh terdalam”. Kemudian disusul tentang indeks Dow Jones (DJIA) yang juga ambruk parah. Salah satu penyebabnya adalah rating investasi Amerika yang diturunkan satu grade lebih rendah. Saya langsung berpikir, “Apa jadinya indeks IHSG hari ini?”

Benar. Meskipun saya sudah tahu apa yang terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Indeks bergerak terlalu cepat jatuh. Saham-saham jagoan saya jatuh. Disinilah pelajaran sebenarnya sedang berlangsung. Bagaimana kita dituntut untuk tidak panik dalam kondisi pasar yang kalut, dan mengambil keputusan dengan cepat. Pada akhirnya saya, yang masih hijau ini, tidak mampu berbuat apa-apa. Diam membeku memandang running trade yang semakin kacau.

Disini pun saya pikir semua scientist telah berubah menjadi tukang nujum. Segala teori tentang teknikal analisis telah diterjang. Nah, disinilah menariknya, semua sedang menebak-nebak, apakah kejadian krisis global 2008 akan terjadi lagi. Semua berteori. Pendukung teori optimistis berpendapat ini hanyalah imbas dari efek Amerika yang memang sedang sakit. Tak kurang Menko Perekonomian sendiri yang menghimbau agar pelaku pasar tidak panik. Inilah saat yang tepat untuk menggelontorkan modal karena saham-saham sedang didiskon.

Sebaliknya, pendukung teori pesimistis juga tak kalah kuat dengan pendapat dan datanya. Memang kondisinya sudah mirip dengan 2008. Di 2008 pun pemerintah menghimbau untuk tidak panik. Jadilah semuanya bermain tebak-tebakan. Sebelas dua belas lah sama tebak-tebakan buah manggis, hehehe…

Pagi tadi, indeks kembali bergoncang. Mau tidak mau saya harus berpikir ulang. Saya tidak mau melakukan averaging down, karena dengan kondisi “peluru” yang sudah tipis, itu tidak akan berpengaruh terhadap portofolio saya — bahkan akan mengakumulasi kerugian saya lebih besar lagi. Maka, di titik yang paling parah indeks pagi tadi (sempat menyentuh 3700), saya melepas beberapa saham yang saya anggap saya masuk di saat harga telah terlalu mahal. Saya masih belum mengeluarkan peluru cadangan terakhir, jaga-jaga kalau besok harga didiskon lagi.

Nah, siapa yang bisa tahu kalau indeks akan berbalik di sesi kedua? Di saat itu, saya mereposisi portofolio hasil jual rugi di sesi pagi agar kondisinya lebih merata. Meskipun masih merah, tapi saya cukup puas karena kerusakannya tidak terlalu parah.

Apakah yang akan terjadi besok? Apakah rebound di sesi kedua tadi hanya sekadar technical rebound atau hanya jebakan betmen untuk menekan indeks lebih dalam lagi? Yang jelas saya tidak tahu, tidak ada science yang bisa menebak apa yang terjadi besok. Tidak lebih dari spekulasi — meskipun dalam kondisi normal masih bisa diukur.

Tembang Pucung dan Sosialita Ramadhan

Posted by: on Aug 7, 2011 | 4 Comments

Saya teringat tembang macapat Jawa, Pocung (atau Pucung) yang liriknya begini

Ngelmu iku, kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekese dur angkara

Artinya kurang lebih,

Ilmu itu terlaksana dengan penghayatan
Penerapannya harus sungguh-sungguh
Artinya ilmu itu harus membawa kesentosaan
Sehingga akan menaklukkan angkara murka

Kata yang membekas buat saya adalah “laku”. Kata laku sebenarnya tidak bisa diartikan sebagai penghayatan. Tetapi laku adalah sebuah perjalanan rohani untuk berprihatin dalam menghayati ilmu. Orang-orang zaman dulu sering menjalankan “laku” dengan bertapa brata di goa-goa terpencil, berprihatin dengan melakukan puasa mutih (tidak makan asam garam bumbu dapur, hanya nasi putih saja) dan biasanya diakhiri dengan pati geni — hidup tanpa cahaya. Sudah menyepi, puasa, lalu tanpa cahaya. Bagi yang lulus laku ini, ia mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, misalnya dapat pusaka keris sakti mandraguna, ajian-ajian menggetarkan macam Gelap Ngampar, Tameng Waja, dll.

Dalam konteks kekinian, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menjalankan “laku”. Ramadhan seharusnya menjadi fasilitator untuk setiap kita menapaki jenjang kualitas pribadi yang lebih tinggi. Dengan menahan nafsu: lapar dan haus, melatih kesabaran, banyak merenungi diri, instrospeksi, yang diaktualisasi dalam prosesi rangkaian ibadah-ibadah yang ditentukan oleh syariat.

Syariat memang mensyaratkan untuk menahan diri dari saat fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi secara hakikat, sebuah laku menahan diri ini bisa dilaksanakan selama tiga puluh hari tanpa henti. Bagaimana kita bisa menghayati lapar dan haus jika pada saat buka puasa restoran-restoran penuh sesak (bahkan sampai waiting list)? Bagaimana bisa menghayati makna kesederhanaan jika malam hari mal-mal riuh rendah orang belanja dan nonton film?

Seminggu yang lalu, saya cukup terkejut bahwa waktu saya datang di masjid bahkan sebelum adzan isya’, saya sudah cukup kesulitan mencari parkir yang kosong. Lebih terkejut lagi kemarin bahkan saya sudah terlambat untuk isya’, lapangan basket itu masih banyak ruang kosong untuk parkir.

Seperti orang zaman dahulu begitu susahnya laku untuk menguasai ilmu Gelap Ngampar atau Tameng Waja, diperlukan laku juga untuk bisa lulus di bulan Ramadhan ini. Lebih banyak merenung, melihat diri, berinstrospeksi. Kenapa kita masih saja sibuk memikirkan menu buka puasa, baju-baju baru yang akan dipakai nanti di hari lebaran? Gadget baru apa yang bisa dipamerkan untuk menunjukkan status sosial? Kenapa tidak kita jadikan momen Ramadhan menjadi momen yang membekas dalam kenangan sepanjang tahun? Jika sebelas bulan fokus kita habis untuk urusan duniawi, kenapa kita tidak menyisihkan waktu sebulan saja untuk fokus menatap masa depan yang kekal itu?

Demikian catatan minggu pertama puasa yang telah kita jalankan bersama. Selamat menjalankan minggu kedua Ramadhan tahun ini. Semoga tetap istiqomah. Amin.

Switch to our mobile site