Tentang Intrik dan Politik

Posted by: on Jul 19, 2011 | 3 Comments

Intrik dan politik ternyata tidak hanya ada di panggung parlemen dan pemerintahan. Intrik dan politik dekat sekali bersentuhan dengan lingkaran kehidupan kita. Bagi teman-teman yang sudah bekerja, mungkin akan sangat mengenal sebuah perang non-fisik tak terlihat yang bernama politik kantor. Suka atau tidak, politik kantor ada di setiap ruang lingkup pekerjaan sebagai salah satu budaya bangsa kita.

Kenapa saya bilang budaya? Ternyata jika ditelusuri, berpolitik sebagai perang urat syaraf yang cerdik dan licik telah ada sejak jaman prabu Sri Erlangga, pendiri kerajaan Kadiri di Kahuripan. Oke, mari kita telusuri.

Nampaknya, kudeta menggunakan tipu muslihat pertama kali dilakukan oleh Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, dalam menjungkalkan kekuasaan akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, kemudian bahkan kekuasaan raja Kadiri saat itu: Sri Kartanegara. Cara ini dicontoh oleh keturunan-keturunan berikutnya, termasuk anak tirinya: Anusapati.

Raden Wijaya (Sanggramawijaya), keturunan kelima Ken Arok, menghiasi berdirinya Majapahit dengan taktik politik ganda. Ia berhasil mengkudeta raja Kadiri saat itu, Jayakatwang, dengan tipu muslihat tingkat tinggi sekaligus mengusir tentara Mongol yang dipimpin Kubilai Khan. Ia sendiri bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Next. Jauh maju ke masa awal Mataram Islam. Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati) mengkudeta ayah angkatnya sendiri, Sultan Hadiwijaya dan memindahkan kekuasaan bekas Demak dari Pajang ke Mataram.

Maju ke masa kemerdekaan Indonesia. Hampir semua presiden kita tidak turun dengan cara baik-baik. Orde Lama digantikan Orde Baru dengan kudeta kontroversial yang mirip dengan cara Ken Arok. Presiden Soeharto diturunkan paksa di tahun 1998. Penggantinya, Presiden Habibie dianggap hanya sebagai pejabat sementara. Presiden Abdurrahman Wahid dikudeta oleh Sidang MPR sebelum masa jabatan resminya berakhir. Mungkin hanya Presiden Megawati Soekarnoputri yang turun karena masa jabatannya berakhir, tetapi itupun melalui intrik politik yang luar biasa.

Jadi, bukankah drama politik telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa kita sejak zaman dahulu kala?

The Prisoners of Weekdays

Posted by: on Jul 11, 2011 | 5 Comments

Jika Yngwie Malmsteen punya lagu Prisoners of Your Love, maka dari situlah judul artikel ini berasal. Sudah empat tahun lebih saya mencangkuli tanah ibukota, menebas hutan beton dan menjalani kehidupan seperti orang kebanyakan: menjadi karyawan yang bekerja Senin sampai Jumat, libur di Sabtu dan Minggu.

Nah, menjalani pola kehidupan seperti itu kadang-kadang membuat saya merasa seperti terpenjara. Praktis hari Senin hingga Jumat, seorang karyawan tidak bisa melakukan hal lebih banyak daripada ke kantor seharian. Berangkat pagi-pagi, bersamaan dengan matahari terbit dan pulang bersama-sama matahari tenggelam.  Kita tidak akan bisa kemana-mana selain duduk mencangkung seharian di depan komputer. Waktu istirahat di siang hari yang sebentar itu tidak bisa dipakai karena akan habis di jalanan.

Akhirnya, segala kegiatan itu akan tertumpuk di hari Sabtu dan Minggu. Acara resepsi pernikahan di Jakarta hampir dapat dipastikan akan diadakan di weekend. Ke bengkel, belanja kebutuhan, dan sebagainya. Walhasil, acara di weekend pun juga sudah penuh oleh aktivitas. Saya pernah mengolok-olok teman saya yang selalu penuh acaranya di weekend, “kapan liburnya?”

Saya tidak tahu kehidupan karyawan kantoran di kota-kota lain. Saya dibesarkan di keluarga pendidik yang ketika jam 2 siang semua sudah lengkap dan makan siang bersama. Begitu selama bertahun-tahun. Di sini, mungkin ada keluarga yang untuk bisa makan malam bareng seminggu sekali saja adalah sebuah kemewahan.

Di satu sisi, hidup di Jakarta memang menawarkan sisi gemerlap kemewahan yang lebih dibandingkan dengan kota lain, tetapi sebenarnya banyak yang harus dikorbankan untuk itu: kemewahan akan waktu, kemewahan akan kenyamanan di jalan, dan semacamnya.

Selamat hari Senin, kawan-kawan!

Naik Panggung Lagi

Posted by: on Jul 7, 2011 | 3 Comments

Oh iya, saya kan pernah cerita kalau saya sedang mempersiapkan beberapa aransemen musik religi seperti Bila Waktu Telah Berakhir-nya Opick dan Dengan Menyebut Nama Allah-nya Novia Kolopaking. Akhir minggu di awal Juli kemarin, saya mendapat kehormatan untuk mengiringi acara talkshow pagi yang merupakan bagian dari acara Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) dari BDI (Badan Dakwah Islam) pabrik tempat saya bekerja. Acara yang berlangsung selama 24 jam itu diselenggarakan di Hotel Cikopo, Puncak Bogor.

Tempatnya belum terlalu naik dari gerbang tol Ciawi. Melewati simpang Gadok yang macet parah itu, Mega Mendung, Cipayung, kemudian sampai. Konsep hotelnya adalah bungalow-bungalow dari kayu dalam sebuah area taman buatan yang asri. Sayang tempatnya tidak terlalu jauh dari jalan besar, jadi kesan terpencilnya kurang, apalagi kalau dibandingkan dengan Talita Resort, The Pinewood, atau villa-villa di puncak-nya Puncak (Cipanas dan sekitarnya) yang sepi dan berhantu.

Tentang acara Mabit-nya sendiri sih lumayan. Tetapi buat saya tidak terlalu merasuk secara spiritual. Masih hebat dan berkesan sepuluh malam terakhir Ramadhan tahun lalu yang saya habiskan di field Muara Badak. Saya waktu itu seakan-akan memasuki pesantren kilat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Saya sendiri mengisi acara di pagi harinya sebagai pengiring musik religi dan music background untuk talkshow. Yang paling berkesan adalah kesempatan untuk mencoba Roland RD-700NX, keyboard standar panggung musisi-musisi terkenal.

Rupanya saya belum bisa mengatasi demam panggung. Saya masih gemetar ketika untuk pertama kali memainkan musik Al-I’tiroof dengan style Jaya Suprana. Saya banyak memencet chord dan nada yang salah di lagu-lagu yang nge-beat macam Assalamu’alaikum (Opick) dan Rindu Rasul-nya Hadad Alwi. Tetapi saya anggap berhasil untuk lagu Dengan Menyebut Nama Allah (Novia Kolopaking) dan Tuhan (Bimbo).

Ada ungkapan, pemain piano yang baik adalah yang bisa memainkan lagu apa saja menurut selera penonton. Rupanya saya belum menjadi pianis yang baik. Setelah acara selesai, teman-teman saya mulai request lagu-lagu yang boro-boro saya bisa mainin, kenal saja tidak hahaha… Saya memang memulai belajar piano melalui jalur klasik. Lalu sekarang mulai belajar jazz dari awal sekali. Rupanya perlu juga sekali-sekali belajar lagu-lagu populer hehehe…

*) Foto oleh: Adji Cynthia

Sidang Proposal Thesis

Posted by: on Jul 6, 2011 | 5 Comments

Alhamdulillah, tadi malam saya mempresentasikan proposal thesis saya yang membahas tentang process improvement di area Supply Chain Management di pabrik tempat saya bekerja. Puji syukur, proposal diterima dengan tanpa harus mengganti metodologi dan framework penelitian — sebagaimana yang dialami oleh beberapa teman. Revisi kebanyakan pada typo dan gramatical error. Bikin bukunya buru-buru dan ngantuk sih, hehehe…

Secara keseluruhan saya puas dengan “penampilan” saya. Meskipun agak grogi di bagian awal karena harus presentasi dalam bahasa Inggris di hadapan lima dosen penguji. Saya cukup bisa mempertahankan pendapat saya ketika dihujani pertanyaan-pertanyaan berat oleh para doktor-doktor penguji. Yang paling penting adalah bagaimana meyakinkan dewan penguji bahwa permasalahan yang diajukan adalah nyata dan sangat penting. Kemudian meyakinkan bahwa framework yang dipakai, Six Sigma, sesuai dengan permasalahan yang ada.

Satu langkah awal telah terlewati untuk menuju babak final kuliah master ini yang insya Allah akhir tahun ini ditargetkan selesai.

Semangat! Ganbattee! Ganbaruuuu… Chaayoo Chayoooo… hahaha…

Switch to our mobile site