Kasih Tak Sampai
Yeah Hattrick!!
Hattrick pertama setelah lebih dari enam tahun ngeblog hahaha…. Maaf ya temen-temen ngeflood RSS reader kalian!
Ceritanya tadi sore pulang kantor dan bengong di dalam kamar. Energi rasa-rasanya masih full gara-gara di kantor banyak magabut — mungkin orang mau siap-siap masuk bulan puasa kali ya ga kirim email kerjaan, heheheh. Kuliah udah lewat, tinggal nulis tesis dan ternyata yang “tinggal nulis” itu maleeees banged.
Jadilah saya iseng-iseng bikin cover lagu. Pas yang lagi muter di playlist lagunya Padi, Kasih Tak Sampai, yang khas dengan dentingan harpa-nya Maya Hasan. Ya sudah saya iseng-iseng bikin pakai digital piano saya, Yamaha Arius, yang kebetulan punya beberapa suara selain suara piano akustik. Suara musik direkam duluan dengan bantuan metronom (karena saya payah sekali soal jaga tempo). Suara piano duluan untuk menggantikan harpa. Kemudian biar nggak terlalu sepi saya masukin suara string ketika masuk reff. Terakhir masukin suara vokal pakai suara sendiri. Mixing-nya pakai software Acoustica Mixcraft 5.2 trial edition yang dikasih tau sama Nilla.
Seumur-umur dengerin suara sendiri di earphone rasanya geli juga. Cukup bisa bikin perut mual, hahaha… Lidah medhok saya kelihatannya memang sudah tidak bisa direparasi, nyanyi aja masih medhok, hehehe…
Ya sudah, without further ado, kalo mau iseng-iseng dengerin silakan di-play video di bawah ini. Risiko ditanggung penumpang dan di luar tanggung jawab sopir. )
Menengok Car Free Day di Jl. Pemuda
Setahun yang lalu, saya menulis essay fotografi tentang Car Free Day di jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, yang diadakan di minggu terakhir setiap bulan. Di sana saya menulis ajang CFD tidak hanya sebagai sarana olahraga pagi yang sehat, tetapi sebuah arena ekspresi dan unjuk lifestyle.
Hingga sekarang, antusiasme masih sangat luar biasa sehingga Car Free Day diadakan dua kali sebulan. Bahkan di hari minggu biasa pun, jalur cepat harus ditutup sampai sekitar jam sepuluh karena begitu banyak masyarakat yang bersepeda.
Semangat bersepeda pun merambah tidak hanya di pusat kota. Salah satunya Jakarta Timur yang menggelar Car Free Day di sepanjang jalan Pemuda mulai perempatan yang menuju terminal Rawamangun hingga ujung timur persimpangan yang menuju terminal Pulogadung. Secara sekilas, tidak ada yang berbeda, tapi saya merasakan atmosfer yang sangat mencolok.
Di sini, tidak ada mobil-mobil SUV mewah yang parkir di tepi jalan menggendong sepeda mountain bike belasan hingga puluhan juta rupiah. Di sini tidak ada sepeda-sepeda kemilau dengan pesepeda yang… trendy, dandy, berpakaian olahraga dengan cermat, seakan-akan mau ke pesta saja bukan berolahraga.
Di Jl. Pemuda, saya menemukan atmosfer yang lebih merakyat. Mayoritas peserta CFD adalah penduduk kampung di belakang Jl. Pemuda. Jalanan relatif lebih lengang sehingga banyak yang menggelar lapangan bola di tengah jalan, bermain bulu tangkis, berjalan kaki, senam pagi, sampai anak-anak yang jungkir balik di tengah jalan yang selalu macet hampir 24 jam ini (wajar, ini adalah salah satu poros utama penghubung Bekasi-Jakarta).
FLICKR
Lokasi: Jl. Pemuda, Jakarta Timur
Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3
#1 Tentang Pentingnya Niat
Kita tentu mengenal sebuah hadits populer yang kira-kira berarti, sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung dari niatnya. Saking pentingnya niat sehingga bahasan ini muncul pada bab pertama kitab Riyadus Shalihin ini.
Hadits tersebut muncul waktu Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah bersama-sama sahabatnya. Pada waktu itu ada yang mau hijrah karena seorang wanita bernama Ummu Qais, bukan karena Allah. Tujuannya berbeda! Ada yang hijrah untuk menghindarkan diri dari kejaran kaum musyrikin untuk kepentingan penyebaran agama dan keluhuran Kalimatullah, tetapi ada yang hijrah semata-mata untuk mengejar wanita yang dicintainya. Maka yang didapatkan pun akan berbeda.
Tak usah jauh-jauh, seringkali saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan ada pamrihnya. Saya membantu orang agar dipuji, dihormati, bahkan kadang-kadang supaya pada suatu hari cinta terpendam saya diterima! Alangkah meruginya saya. Hanya gara-gara niat yang salah, saya rugi dua kali. Rugi karena belum tentu saya kelak diterima (bahkan ditolak seperti yang sudah-sudah haha), rugi combo karena bahkan kebaikan itu tidak mendatangkan pahala. (Astagfirullah, semoga niat saya diluruskan kembali).
Segala sesuatu tidak akan mendatangkan kebaikan jika niatnya tidak benar. Ibadah apapun, jika niatnya tidak karena Allah ta’ala, tidak akan mendatangkan sebuah pahala atau kebaikan.
Demikian inti dari bab 1 kitab Riyadus Shalihin. Dengan ini seri ngaji kitab Riyadus Shalihin dimulai.
Tarhib Ramadhan 1432H
Ramadhan telah di depan mata. Syukur alhamdulillah bahwa insya Allah kita akan dipertemukan dengan bulan yang paling penting bagi umat Islam, bulan Ramadhan 1432H. Jika orang biasa membuat resolusi di awal tahun, kenapa kita tidak mencoba mencoba membuat resolusi sebagai persiapan menyambut Ramadhan? Resolusi yang berisi target, harapan, dan cita-cita yang bisa kita laksanakan secara konkret.
Oke, apa target saya? Tidak muluk-muluk, lebih baik daripada Ramadhan tahun kemarin. Amalan yang lebih banyak dari Ramadhan tahun kemarin. Aji mumpung? Kenapa tidak? Kita tidak dilarang kok untuk beribadah karena pamrih ingin mengejar pahala, menjadi abid atau ahli ibadah.
- Bisa tarawih berjamaah di masjid > 70%.
Tahun kemarin saya hanya mentargetkan 50% dan alhamdulillah target itu tercapai — pas tidak kurang tidak lebih. Ini menurut saya cukup sulit dilakukan karena banyak faktor: berbuka sampai kekenyangan, terjebak macet di jalan, malas, acara-acara buka bersama dari komunitas-komunitas (temen kantor, temen kuliah, temen SMA, sesama fotografer, dll).
Tahun ini saya berharap bisa 70% tarawih di masjid. Artinya saya hanya diizinkan absen sembilan kali. Can I make it?
- Khatam Al-Qur’an sekali.
Ini menjadi target saya setiap kali ramadhan. Ini berarti satu hari satu juzz. Mau menaikkannya menjadi dua kali rasanya terlalu berat kalau melihat kecepatan baca saya. Malah seringkali, saya harus merapel beberapa juzz di weekend karena tidak terpenuhinya target satu juzz-nya di setiap hari.
- Baca kitab Riyadus Shalihin
Kitab ini saya kenal ketika masuk “pesantren” di sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun lalu. Kitab Riyadus Shalihin adalah kitab hadist yang membahas masalah akidah, syariah, dan akhlak yang disusun oleh Imam Nawawi. Di “pesantren” tersebut, setiap setelah shalat ashar dibacakan satu bab dari kitab tersebut.
Awalnya saya ingin mengkaji Al-Hikam, tetapi nampaknya Al-Hikam (Syekh Ibnu Atha’illah) masih agak terlalu berat untuk ditelaah, apalagi di bulan puasa yang padat.
Target saya, sehari satu bab. Saya berkomitmen untuk menulis intisari-nya di sini, sehari satu posting. Karena sinetron-sinetron Ramadhan sudah mulai tayang, saya akan coba membacanya besok pagi dan menuliskannya besok sore, di bawah kategori Agomo. Semoga istiqomah hehehe…
Mungkin resolusi gede-nya itu saja. Ingin bisa tarawih hardcore Al-Hikmah setiap tanggal ganjil. Maksud saya, di Al-Hikmah tarawih-nya menghabiskan satu juzz. Mungkin karena ngga biasa, tahun lalu kaki saya sampai bengkak-bengkak. Ingin bisa ikut sholat wajib berjamaah minimal 2 kali sehari. Ingin bisa tahajud sebelum sahur. Ingin lebih pendiam, ingin lebih bisa menjaga pandangan (ini yang paling susah).
Amin amin. Ini resolusiku, apa resolusimu?
JRockit Lebih Baik Daripada Sun JDK
Sejak mengenal Java hingga sampai sekarang, saya adalah pengguna setia Sun Java, baik Java Development Kit-nya maupun Java Runtime Environment-nya. Bukannya apa-apa, saya memang tidak pernah mengenal SDK (Standard Development Kit) selain bawaan dari Sun. Dan saya tidak pernah menemui masalah ketika memakainya di production environment.
Hingga kemarin waktu saya mau deploy Liferay. Saya menggunakan Liferay Community Edition edisi bundled dengan Tomcat. Java bawaan yang dipakai adalah Sun JRE 1.6. Server yang dipakai adalah Windows Server 2003 (32 bit) dengan total RAM 3GB yang berjalan di mesin virtual VMWare di atas IBM Blade Server.
Tetapi performanya sangat lambat. Saya tidak bisa mengalokasikan semua memory untuk Java. Maksimal saya hanya bisa alokasi heap space-nya di 1150 MB. Anehnya, Java tidak memakai jatah yang sudah diberikan, maksimum hanya sekitar 700 MB physical memory yang dipakai, selebihnya diswap ke virtual memory yang pastinya jauh lebih lambat.
Mentok, saya coba memakai JRockit dari BEA. Ini dari pengalaman teman saya yang mengalami masalah serupa dengan performance JDK bawaan Sun. Saya bisa mengalokasi RAM sekitar 1500 MB dan sepertinya JRockit mampu memakainya secara maksimal. Hasilnya, peningkatan performance sudah cukup terasa dengan waktu load yang lebih cepat — meskipun belum terlalu acceptable buat saya. Tujuh detik untuk loading portlet yang berat masih terlalu lambat. Tetapi paling tidak, pergantian JDK ini sudah cukup berpengaruh. Mungkin setelah ini saya akan coba memakai Liferay yang bukan versi bundled-nya.
Menariknya, dulu dua SDK ini adalah kompetitor satu sama lain. Tetapi faktanya sekarang Sun adalah milik Oracle, dan BEA juga dibeli Oracle. Dua-duanya menjadi produk Oracle Middleware. Namanya menjadi Oracle Java Standard Edition dan Oracle JRockit. Saya agak geli ketika download kedua SDK ini dari situs yang sama.
The Last Session
Jika dinamakan sebuah band rasa-rasanya terlalu berlebihan karena kami hanyalah sekelompok orang yang mencintai seni, khususnya seni musik. Berawal dari sekadar genjreng-genjreng gitaran setelah jam kantor, suatu hari kami iseng-iseng pengen main di studio band. Pas booking sama petugasnya ditanya, “nama band-nya apa pak?” Jadilah kita kebingungan sendiri, kepikiran nama “Apa Adanya Band” ya sudah akhirnya nama itu dipakai seterusnya buat pesen studio. Seperti namanya, kami memang tampil apa adanya, kemampuan apa adanya, waktu latihan apa adanya, yang penting have fun.
Cukup banyak studio latihan yang pernah dijajal. Pernah di C-Pro di belakang Tugu Proklamasi, Menteng. Lalu di Odyssey Tebet, lalu di Bukit Duri (lupa nama studio-nya), dan beberapa kali terakhir di Bina Seni Suara Kebayoran Baru. Terakhir di studio BepBop di Tebet Barat, Jakarta Selatan.
Itu terjadi di sekitar tahun 2009 – 2010. Satu per satu anggota band menikah dan semakin tidak punya waktu karena sibuk untuk keluarga. Apalagi setelah saya kuliah lagi, praktis sulit sekali untuk menyatukan jadwal kelima orang itu. Band ini tidak pernah main bareng lagi setelah naik panggung untuk pertama dan terakhir kalinya di event Family Picnic 2009 di Ancol. Waktu itu kami turun full team menyanyikan Smooth-nya Santana dan Black or White-nya Michael Jackson tapi dengan style Adam Lambert.
Kemarin kami berkumpul lagi dan bermain bersama lagi. Tetapi itulah jam session terakhir untuk Apa Adanya Band. Pemain bass (sekaligus guru piano saya) akan melanjutkan karier di tempat lain dan sayonara untuk Jakarta.
Thanks guys, it’s been an honor can play along with all of you!
Bass: Stenly T; Drum: M Faiz Wirawan; Vocal: Salman B; Rhythm Guitar: Puntadi J; Keyboard: Galih S
Pilar-Pilar dalam Musik
Yuk kita menelusuri lebih detail dari alat-alat musik yang biasa menghibur kita, menjadi soundtrack kisah cinta kita, mengisi kesepian kita, dan apa saja. Kata ABBA, who can live without music? What would life be? Without the song or a dance what are we? (Thank You for the Music).
Musik dibangun oleh tiga pilar besar: irama/ritme (rhythm), melodi, dan harmoni. Oke, mari kita kupas satu-satu.
Ritme atau irama atau tempo, rhythm, adalah salah satu bagian terpenting di musik. Ritme menentukan jalannya sebuah musik, cepat ataukah lambat. Ritme dalam suatu lagu dibagi dalam ketukan-ketukan berdurasi sama (bayangkan seperti jarum detik yang berdetak secara ajeg). Ketukan-ketukan ini dibagi-bagi lagi dalam bagian yang sama. Inilah yang biasanya dinamakan birama 4/4, 3/4, 2/4, dan seterusnya. Kalau ditelusuri lebih lanjut, musisi seharusnya jago Matematika karena bisa membagi nada-nada dalam ketukan tertentu, hehehe…
Alat musik yang bertanggung jawab menjaga irama atau tempo adalah drum. Ketukan drum dijadikan patokan alat musik lain untuk membunyikan nada demi nada sehingga bersatu dalam rangkaian musik yang utuh. Sehingga, syarat menjadi pemain drum bahwa ia harus bisa menjaga tempo dengan stabil. Ini tidak mudah lho, banyak kawan-kawan saya pemain drum yang sulit menjaga tempo, khususnya setelah ia melakukan drum roll dan masuk ke reffrain, biasanya temponya cenderung naik. Drum adalah salah satu alat musik yang paling penting dalam musik modern (Fungsi yang sama di musik tradisional gamelan adalah kendang).
Dalam membentuk ritme lagu yang utuh, drum akan ditemani oleh bass untuk menunjukkan nada-nada utama pada setiap bagian lagu. Bass untuk mempertegas chord untuk memandu alat musik melodis atau penyanyi mencari nada yang pas. Bass akan membunyikan nada mengikuti ketukan drum ketika bass drum digebug. Tek dug tek dug dug…
Dua alat musik ini sebenarnya cukup untuk membuat vokalis bernyanyi. Tetapi alangkah sepinya. Jeda antara nada bass akan menyisakan ruang kosong. Lha, ruang-ruang kosong inilah yang akan diisi oleh alat-alat musik melodis seperti gitar, piano, violin, saxophone, flute, dll.
Gitar dan piano, baik ketika memainkan chord maupun melodi untuk mengisi ruang kosong itu, seringkali masih menyisakan ruang kosong lagi. Padahal, bagian lagu yang disebut reffrain itu memerlukan musik yang cukup ramai. Untuk itu biasanya ruang-ruang kosong itu diisi sebuah layer musik yang bisa menutup rapat. Jika kita perhatikan dengan lebih detail, biasanya suara string (gabungan banyak violin yang memainkan nada berbeda-beda) dipakai. Itulah kenapa di pergelaran orkestra atau big band, jumlah alat musik gesek yang paling banyak, padahal fungsinya hanya sebagai pelapis ruang-ruang kosong. Namanya juga pelapis, hanya akan terdengar jika suara-suara dominan seperti drum, bass, gitar, dan piano diam.
Berbagai alat musik baik ritmis dan melodi yang berjalan dalam tempo yang seragam, dengan bunyi yang berbeda-beda, akan membentuk satu pilar lagi dalam musik yang dinamakan harmoni. Tentu saja jika semua alat musik ingin menonjol tidak akan terjadi harmonisasi yang baik. Penyusunan harmonisasi ini seringkali disebut proses aransemen lagu, dan karena pembuatannya adalah mengisi ruang-ruang dalam ketukan-ketukan drum dan bass, hasilnya akan menjadi sebuah komposisi. Penyusunnya disebut komposer.
Comments