Keunggulan Daya Saing yang Langgeng

Posted by: on Jun 4, 2011 | 13 Comments

Salah satu hal yang berkesan di kuliah trimester ini (trimester terakhir yang ada sesi kuliah sebelum tesis), adalah konsep Sustainable Competitive Advantages, atau menurut istilah dosen saya yang mem-bahasa-Indonesia-kan-nya menjadi Keunggulan Daya Saing yang Langgeng (KDSL). Ini adalah soal bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan menghadapi persaingan.

Agar bertahan lama (sustainable), perusahaan harus memiliki keunggulan dibanding pesaing-pesaingnya. Jika tidak, ia akan habis. CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, bilang, menjadi baik itu belum cukup jika yang diinginkan adalah lebih baik.

Contohnya banyak: kereta Argo Gede Parahyangan Jakarta-Bandung tersungkur ketika tol Cipularang dibuka sehingga pelanggan berpindah ke travel. Adam Air tak sanggup mengatasi perang harga di bisnis low cost carrier. Fuji Film merombak Fuji Image Plaza-nya menjadi 7-Eleven karena era film analog telah lewat diserbu era foto digital. Starone dan Flexi kembang kempis dihajar perang tarif GSM. Hero kebingungan memposisikan diri dihimpit Alfamart dan Indomaret sehingga banyak yang disulap menjadi Giant Supermarket. Dan masih banyak lagi.

Pasar persaingan sempurna (perfect competition market) dan pasar monopolistic competition memang membuat posisi konsumen dalam Porter* Five Forces menjadi sangat kuat karena mereka memiliki banyak pilihan dan mudah untuk melompat-lompat.

Hari ini adalah hari pertama saya mencoba modem CDMA/EVDO setelah putus asa dengan layanan para operator GSM yang sangat lelet. Layanan internet mobile broadband ini termasuk masih baru yang dipelopori oleh Smart. Kali ini saya memakai layanan baru dari Esia, AHA.

Seperti halnya Indosat IM2 dan Indosat 3.5G yang berjaya tiga tahun yang lalu, saya tidak yakin seberapa lama layanan-layanan CDMA ini bisa punya sustainable competitive advantage-nya terhadap lawan-lawannya di GSM. Apakah kualitas layanan dengan tagline “Youtube tanpa buffering” akan bertahan?

Keunggulan daya saing seperti ini mudah sekali patah. Ketika pengguna telah membludak dan kualitas menurun, dan ketika ada pesaing baru yang menawarkan layanan yang lebih baik, ketika itu pula keunggulan itu lenyap karena pengguna akan berbondong-bondong meninggalkannya. Harus ada keunggulan-keunggulan lain yang sulit ditiru oleh pesaing sehingga pengguna akan loyal dan bertahan.

*) Michael E. Porter, profesor dari Harvard Business School, salah satu manusia yang didewakan di dunia akademi bisnis. Mungkin seperti Isaac Newton-nya dunia Fisika.

Motif Rumah Gadang

Posted by: on Jun 4, 2011 | No Comments

FLICKR
Lokasi: Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro APO

Bahkan hal-hal yang sepele seperti motif penghias rumah saja sudah menunjukkan bahwa Indonesia itu kaya raya. Terlalu kaya sehingga orang tidak menyadari bahwa Indonesia itu sangaaaaaaaaattt kaya ragam budaya. Ini adalah motif khas Minangkabau. Berbeda dengan motif ala Jawa, Dayak, Bugis, dan ribuan suku yang tersebar di seantero Nusantara.

Tentang Giliran Presentasi

Posted by: on Jun 3, 2011 | 3 Comments

Buat teman-teman yang masih sering presentasi bergiliran (biasanya yang masih kuliah, hehehe), mana yang lebih Anda suka, presentasi di awal atau di akhir? Jika bicara tentang giliran, menurut saya giliran yang paling enak itu di tengah-tengah agak awal, sekitar urutan tujuh sampai dua belas. Itu adalah waktu yang ideal baik buat presenter maupun dosen penguji.

Menjadi giliran awal menurut saya kurang menguntungkan. Kita akan menjadi standard setter bagi para penguji. Kalau dianggap buruk maka akan jadi relatif lebih buruk, tetapi kalau dianggap baik maka tidak akan jadi yang terbaik. Kalau ada peserta berikut yang serambut dibelah tujuh lebih baik, maka lebih baiknya akan cukup jauh daripada peserta pertama. Logis karena penguji adalah manusia biasa yang menilai secara subjektif dalam ke-objektif-annya.

Di sesi-sesi awal, penguji juga masih memiliki energi yang berlebihan. Ia akan menggonggong dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam. Selain mood yang masih menyala-nyala, ia juga harus menunjukkan kompetensinya di antara semua audience. “Pertempuran” seru memang akan terjadi di babak-babak awal sesi presentasi.

Seiring bergulirnya waktu, energi semua orang semakin terkuras (lebih-lebih pengujinya). Gonggongan (baca: pertanyaan) akan semakin tidak tajam. Dikejar waktu juga. Kalau batas waktu presentasi misalnya sepuluh menit, maka giliran awal biasanya molor sampai lima belas menit. Giliran terakhir akan mendapatkan jatah waktu yang semakin sedikit, dengan keuntungan gonggongan yang semakin tidak tajam dan dalam.

Dari catatan presentasi final paper kuliah Competitive Dynamics & Rivalry. Dari tiga jam waktu yang disediakan, saya mendapat giliran nomor dua dari belakang, baru presentasi pukul 22:20. Sepuluh slide yang saya siapkan akhirnya terpaksa dikebut dalam empat menit.

Sedap Malam

Posted by: on Jun 1, 2011 | One Comment

FLICKR
Lokasi: Kamar Kos, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Bunga sedap malam. Bunga ini pernah saya jadikan puisi untuk melambangkan kecantikan. Bukan kecantikan mawar yang membawa luka. Bukan pula kecantikan melati yang harum dipuja-puja. Tetapi kecantikan yang anggun yang menampilkan kesederhanaan tanpa harus dibuat-buat. Eh, ini ngomongin bunga apa wanita sih? Hehehehe…

Switch to our mobile site