Tentang Api di Bukit Menoreh
Kalau anda tahu novel (mungkin bahkan sudah bisa disebut roman kali ya) Api di Bukit Menoreh (ADBM), tentu kita sepakat bahwa genre novel ini adalah action atau silat. Tapi buat saya, ADBM bercerita lebih dari itu. ADBM bercerita tentang kehidupan, pandangan hidup, cita-cita, nafsu, dan juga kekuasaan yang dibungkus dengan gaya bercerita yang ringan dan selalu berakhir happy ending di setiap sesi. Perbedaan jahat dan yang baik sengaja diperjelas. Meskipun terasa sangat naif, tapi itu justru menjadikan novel ini enak dibaca sambil makan.
Jika Anda ingin mengetahui bagaimana watak orang Jawa, novel ini salah satu referensi yang sangat bagus. Bagaimana orang Jawa sangat memperhatikan unggah-ungguh, berusaha menghindari konflik sebisanya, lembut terhadap wanita, juga penghormatan mutlak isteri kepada suami. Namun demikian, Anda juga akan menyaksikan bagaimana permainan politik khas Jawa yang sangat cerdik sekaligus licik.
ADBM adalah cerita fiksi yang bersandar pada sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Konflik dimulai sejak keruntuhan Demak yang kemudian tongkat estafet pemerintahannya dipindahkan ke Pajang oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menjadi Kasultanan Pajang. Tetapi konflik perebutan kekuasaan tidak berhenti. Seorang adipati Jipang (salah satu kadipaten di bawah Demak), Arya Penangsang (Arya Jipang), memberontak tidak mau mengakui kedaulatan Pajang dan berusaha mendirikan panji-panji kekuasaan di bawah Jipang. Perang pun berkobar.
Sultan Hadiwijaya kemudian mengumumkan sayembara, siapa yang berhasil membunuh Arya Penangsang maka akan diberi hadiah. Hadiah itupun jatuh ke orang yang berjasa membunuh Arya Penangsang. Ki Panjawi diberi tanah Pati, sementara Ki Gede Pamanahan diberi wewenang untuk membuka alas Mentaok karena anaknya, Raden Sutawijaya, berhasil membunuh Arya Penangsang dengan pusakanya tombak Kiai Plered. Raden Sutawijaya pun akhirnya menjadi raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.
Pembukaan alas Mentaok yang akhirnya menjadi kerajaan Mataram Islam itupun tidak lepas dari konflik. Mataram yang berkembang itu akhirnya berhadapan langsung dengan Pajang. Dan begitulah seterusnya, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa terus berseteru hingga hari ini (yes, hari ini. Ingat konflik keluarga kerajaan Kasunanan di Solo baru-baru ini?).
Rentetan sejarah itu bukan saya ketahui dari buku sejarah ataupun kitab Babad Tanah Jawi atau Serat Kanda, melainkan sebagian besar dari novel ADBM ini. Meskipun saya harus hati-hati dalam memilah-milah mana yang sejarah mana yang fiksi. Tapi itulah asyiknya belajar sejarah lewat novel fiksi.
Tentu saja bukan melulu cerita soal politik. Mempelajari watak para tokoh sentralnya seperti Agung Sedayu, Sekar Mirah, Swandaru, Pandan Wangi, dan Kiai Gringsing juga sangat menarik. Asal Anda sabar saja mengikuti penokohan yang terlalu detail bahkan berbelit-belit, karena novel ini adalah novel yang sangat panjang, lebih dari 300 jilid.
5 Comments
Vicky Laurentina
June 14, 2011Galih bercanda ya? Maksudnya 300 halaman kan? Mosok 300 jilid?
Galih Satria
June 14, 2011Nggak mbak, lengkapnya 359 jilid, tiga seri. Tiap jilid sekitar 80 – 120 halaman. Mungkin ini cerita terpanjang yang pernah dibuat di Indonesia.
Cek di sini: http://adbmcadangan.wordpress.com
Fenty
June 14, 2011Orang jawa itu lembut terhadap wanita ya ? oooh, ya ya
seringnya sih …
aRuL
June 15, 2011wah ini rekomendid keknya nih, bacaan berat buat pengantar tidur lagi nih hehe
pasti ngak bakalan tidur
jarwadi
June 18, 2011SH Mintarja adalah sebuah “camera” yg dengan akurat memotret detil pernik budaya jawa (jawa tengah dan yogyakarta) selain api di bukit menoreh yang jadi serial legendaris sejak dulu, kalau tidak salah Singgih Hadi Mintarja adalah penulis banyak lakon kethoprak mataram yang dulu tayang di TVRI
cmiiw