Tidak Semua Orang Bisa Mengajar

Hari ini bahas apa yah, ah ini saja: tidak semua orang bisa mengajar. Orang yang kepandaiannya sundul langit ketujuh, yang panjang gelarnya kalau diukur bermeter-meter, yang sekolahnya sampai ujung bumi, yang seumur hidupnya ada di sekolaaah dan perpustakaan, yang jeniusnya bisa ngalah-ngalahin Albert Einstein, yang bisa berfilosofi seperti Rene Descartes… belum tentu bisa mengajar.

Saya pernah diajar konsep basis data di semester dua kuliah IT dulu. Seorang doktor yang pandai sekali. Tapi rasanya terlalu cepat untuk diikuti otak kami yang masih lamban. Kemudian, ada juga dosen muda bertitel master bisnis dari luar negeri. Beliau mengajar kuliah Competitive Dynamics and Rivalry. Tapi saya lebih sering menguap ketimbang berkonsentrasi. Beliau hanya membaca slide demi slide tanpa improvisasi, tanpa humor, tanpa sharing pengalaman di dunia bisnis nyata. Singkatnya: bosan.

Dosen pembimbing tugas akhir saya termasuk salah satu dari sedikit orang pintar yang bisa mengajar. Beliau bisa menjelaskan rumus-rumus turunan matematika diskret variance, covariance, eigen vector… (you name it) seperti mendongeng cerita Kancil Nyolong Timun aja. Enak diikuti, enak dimengerti, atut runtut.

Atau dosen pembimbing thesis saya sekarang. Beliau seorang doktor yang sangat asik kalau lagi ngajar. Salah satu yang berkesan adalah ketika menjelaskan konsep buillwhip effect, beliau mengajak kami dengan eksperimen sederhana dengan kancing, membentuk simulasi rantai supply, seolah-olah kami adalah manufacturer, distributor, retailer, hingga end-user. Emosi yang terlibat membuat konsep ini menjadi sangat nyata dan mudah dipahami.

Saya pikir mengajar adalah sebuah seni yang tidak semua orang bisa melakukannya. Mengajar memerlukan kita menyeberang ke dimensi yang berbeda, yaitu berada pada landasan pemikiran orang lain yang berbeda-beda. Kita tidak bisa begitu saja menyampaikan sebuah konsep dengan pemikiran kita sendiri karena sangat mungkin orang yang diajar belum bisa sampai ke tataran pemikiran tersebut. Di sinilah mengapa ada sangat banyak orang pintar tetapi tidak bisa mengajar. Perlu kesaktian khusus untuk bisa teleportasi dari satu landasan pemikiran ke pemikiran yang lain.

Selamat mengajar bapak dan ibu guru. Salam hormat dan salam kagum selalu dari saya, seorang murid bodoh yang bebal dalam menerima pelajaran. Sedemikian bebalnya hingga saya harus menyalahkan pengajar saya yang tidak bisa mengajar, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. dulu ada pendapat kalo sudah profesor ngajar cuman kulit2nya, sisanya mahasiswa yg nyari sendiri. entah itu alasan, cuman ngasih slide atau dimengerti karena menggunakan metode guru2 SMA/SMP ngajar sampai detil. Entahlah mana yg benar 😀

  2. Ada beda antara mengajar mahasiswa dengan mengajar anak SMP/SMA. Esensi mengajar adalah membuat yang diajar mengerti. Jika anak SMP/SMA mengerti rumus f(x) = ax + b, maka mahasiswa seharusnya mengerti dia ada dimana, dan apa yang harus dilakukan. Buku apa yang harus dia baca mengenai suatu konsep. Itu yang dimaksud dengan mengajar di kulitnya saja.

    Tetapi banyak yang salah mengartikan kalau mengajar kulitnya itu artinya memberikan slide sekadarnya tanpa usaha membuat mahasiswanya mengerti ada dimana. Kalau demikian, apa bedanya dengan membaca slide itu sendiri? Mengapa harus menghabiskan tiga jam yang melelahkan untuk melihat dosen membaca? Itu yang saya maksud di artikel ini.

  3. Di sekolah saya sekarang, ada kuliah Metode Mengajar. Isinya ya cara-cara mengajar, cara berbicara di depan banyak murid, cara berimprovisasi dengan ajaran. Ironisnya, melalui kuliah ini, saya baru nyadar kalau dosen-dosen saya banyak yang nggak bisa mengajar. Ilmunya ada, tapi kalau mentransferkan ilmu, ilmunya nggak sampek ke muridnya, gitu lho.

    Menurut saya, kalau mau merekrut orang jadi dosen, jangan cuman sekedar meloloskannya dalam ujian CPNS. Tapi juga harus menguji, apakah orang ini bisa mentransferkan ilmunya atau tidak.

  4. “bullwhip effect”, mas…
    bukan “buillwhip effect”… 🙂
    saya juga belajar itu di mata kuliah Supply Chain Management…

  5. TEPAT SEKALI MAS…, aku pernah ngalami.walaupun ngajar bocah ngaji dari tingkatan sd-smp, ketika aku 1 minggu Libur tidak ngajar (Lagi demo hehe) beberapa ibu-ibu ambil inisiatif buat ambil alih tugasku (ada 3 butir orang), mereka (ibu-ibu yg ngajar) itu bukan kelas kencur jg rupanya.ada yg dosen,ada yg ngajar di lembaga pendidikan yg berkelas, lalu apa yg terjadi…? ternyata santri2ku pada kocar ngacir, proses KBM tdk berjalan Lancar sbgaimana yg diharapkan.Lalu bagmana..? cuma kuat 2 hari doang tuh ibu-ibu, kapok ngajar murid2 saya lagi hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *