Keunggulan Daya Saing yang Langgeng

Salah satu hal yang berkesan di kuliah trimester ini (trimester terakhir yang ada sesi kuliah sebelum tesis), adalah konsep Sustainable Competitive Advantages, atau menurut istilah dosen saya yang mem-bahasa-Indonesia-kan-nya menjadi Keunggulan Daya Saing yang Langgeng (KDSL). Ini adalah soal bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan menghadapi persaingan.

Agar bertahan lama (sustainable), perusahaan harus memiliki keunggulan dibanding pesaing-pesaingnya. Jika tidak, ia akan habis. CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, bilang, menjadi baik itu belum cukup jika yang diinginkan adalah lebih baik.

Contohnya banyak: kereta Argo Gede Parahyangan Jakarta-Bandung tersungkur ketika tol Cipularang dibuka sehingga pelanggan berpindah ke travel. Adam Air tak sanggup mengatasi perang harga di bisnis low cost carrier. Fuji Film merombak Fuji Image Plaza-nya menjadi 7-Eleven karena era film analog telah lewat diserbu era foto digital. Starone dan Flexi kembang kempis dihajar perang tarif GSM. Hero kebingungan memposisikan diri dihimpit Alfamart dan Indomaret sehingga banyak yang disulap menjadi Giant Supermarket. Dan masih banyak lagi.

Pasar persaingan sempurna (perfect competition market) dan pasar monopolistic competition memang membuat posisi konsumen dalam Porter* Five Forces menjadi sangat kuat karena mereka memiliki banyak pilihan dan mudah untuk melompat-lompat.

Hari ini adalah hari pertama saya mencoba modem CDMA/EVDO setelah putus asa dengan layanan para operator GSM yang sangat lelet. Layanan internet mobile broadband ini termasuk masih baru yang dipelopori oleh Smart. Kali ini saya memakai layanan baru dari Esia, AHA.

Seperti halnya Indosat IM2 dan Indosat 3.5G yang berjaya tiga tahun yang lalu, saya tidak yakin seberapa lama layanan-layanan CDMA ini bisa punya sustainable competitive advantage-nya terhadap lawan-lawannya di GSM. Apakah kualitas layanan dengan tagline “Youtube tanpa buffering” akan bertahan?

Keunggulan daya saing seperti ini mudah sekali patah. Ketika pengguna telah membludak dan kualitas menurun, dan ketika ada pesaing baru yang menawarkan layanan yang lebih baik, ketika itu pula keunggulan itu lenyap karena pengguna akan berbondong-bondong meninggalkannya. Harus ada keunggulan-keunggulan lain yang sulit ditiru oleh pesaing sehingga pengguna akan loyal dan bertahan.

*) Michael E. Porter, profesor dari Harvard Business School, salah satu manusia yang didewakan di dunia akademi bisnis. Mungkin seperti Isaac Newton-nya dunia Fisika.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 thoughts

  1. temanku pernah coba AHA, sempat juga ngadat kek telkomsel flash

    bagi saya, sinyal yg sustainable itu masih XL unlimited, hehe 😛 *bukan ngiklan lho*

  2. Wah…baru tahu kalau 7-eleven itu transformasi dari Fuji Image Plaza. Lha sekarang apakah 7-eleven akan menang bersaing dengan alfamart / indomaret.

  3. @Nanang:
    7-Eleven mestinya tidak akan berkompetisi langsung dengan Alfamart dan Indomaret karena model bisnisnya sedikit berbeda. Ia adalah gabungan convenience store, tempat nongkrong, dan breakfast restaurant. Positioningnya cukup unik, mungkin karena lisensinya yang juga mbingungi hehehe…

  4. wah galih ternyata sering nongkrong di 7-Eleven, hehe… btw sama baru tau kalo 7-Eleven itu dulunya Fuji Film, tapi belum pernah masuk iki..

  5. 7-11 Fuji Film itu cuma cabang Indonesia aja ya Lih? Tapi aneh ya kalo ada tempat nongkrong dll artinya positioningnya beda sendiri di Indonesia. Padahal 7-11 selain di Indonesia cuma convenience store semacam indomart, kecil2 ukurannya. Kalo dipikir2 agak norak juga orang Indonesia…..contoh lain Burger King sepertinya restoran mahal padahal kalo di negara lain, mereka sama aja kaya McDonald. Kenny Rogers Chicken juga kayaknya mewah (di Grand Indonesia) padahal di Malaysia levelnya ada di stasiun kereta (kaya Gambir)…Artinya banyak opportunity untuk brand “biasa” yang bisa disulap jadi brand “luxury” di Indonesia..

  6. @fims:
    Hahaha, gimane, apakah eike sudah jadi golongan anak gaaool jakartaaahh?? :p

    @Aris Kumara:
    Iya bos, kan ruang lingkup contohnya semua di Indonesia. Di sini asal bisa membungkusnya menjadi sesuatu yang elegan, beda, dan bisa meningkatkan prestige, pasti akan meledak. Orang Indonesia masih butuh pengakuan tentang kelas sosialnya — sesuatu yang tangible. Tapi jangan bilang norak dong om, mentang-mentang udah go international, kita orang cinta Indonesia hahahaha…

  7. Solusinya: Harus inovatif! Keunggulan jaman dulu yang mungkin kini sudah menurun kualitasnya, harus diganti dengan inovasi baru supaya pelanggan lama tetap bertahan. Kereta Argo Parahyangan seharusnya join dengan perusahaan taksi supaya bisa mengantar penumpang sampai ke rumah masing-masing. Adam Air mestinya mencontek Air Asia yang juga menawari penumpangnya menginap di hotel supaya penumpang nggak usah capek-capek cari hotel murah di tempat tujuan. Toh FIP sudah memakai cara ini dengan menggabungkan konsep-konsepnya.

  8. Hehe bukan mentang2 go internasional lih, aku cuma mikir ga bener aja kalo kaya gt. Kalo harga burger king dimahalin (sewa di senayan city mahal, restoran gaya luxury) biar kesannya prestise jadi ga semua orang bisa makan, padahal harusnya kalo harganya sama kaya McDonalds kan semua bisa menikmati bro..dan justru kesannya kita jadi negara yang terbelakang, masa ke 7/11 atau makan burger king aja prestise…hehe..tapi ya kembali lagi..pasar indonesia memang unik!

  9. Baru inget, burger king dulu banget pernah ada di Jakarta (pas kita SD) dengan konsep sama seperti McD tapi bangkrut (mungkin juga masyrakat jam itu belum tau burger), baru2 ini muncul lagi dengan konsep lebih mewah dari McD justru laku..market yang benar2 unik

  10. @Vicky Laurentina:
    Yeah, tapi inovasi gampang diomongkan di kelas-kelas bisnis tapi luar biasa susah dilakukan di dunia nyata. Argo Parahyangan terjebak di kultur pasar monopolistik-nya sehingga tidak siap ketika ada ancaman dari barang substitusi. Adam Air gagal karena model bisnisnya sebenarnya bukan Low Cost Carrier, tapi Low Fare (ini sama dengan yang dialami Mandala). Air Asia adalah contoh yang sangat bagus soal inovasi di low cost.

    @Aris Kumara:
    Setuju seratus persen. Pasar Indonesia adalah pasar yang besar dan berbeda. Apa yang booming di luar belum tentu di Indonesia, dan sebaliknya. Makanya di kelas juga dibahas case2 study lokal Indonesia (seperti kasus Yamaha vs Honda, Supermi vs Mie Sedap dll), tidak melulu dari Harvard

  11. Sebenarnya wajar sih, lih.
    Kalau ditinjau lebih jauh lagi, Kapitalisme itu kan Creative Destruction. Hal-hal lama yang nggak efektif, nggak efisien, harus diganti sesuatu yang baru yang lebih baik, lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menguntungkan konsumen.

    Jadi aku sih agak merasa lucu ada istilah Keunggulan Daya Saing yang Langgeng. Soalnya bisnis itu soal “jump the bandwagon”. Buzzword kali ini adalah Sustainable. Sustainable this, sustainable that.

    Ini sih soal siklus ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *