Summer
FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta Selatan
Panasonic Lumix DMC-F3
Saya tidak menduga kalau apa yang terlintas di pikiran saya ketika memotret foto ini bisa ditebak oleh Lisyin, di form komentar di Flickr ini. Memang saya membayangkan suasana seperti di film-film Korea (atau film seri Japan AV hehe). Salah satu kebahagiaan memotret itu adalah ketika apa yang terlintas di kepalamu bisa terbaca melalui fotomu. Jadi, saya sangat gembira dengan komentar Lisyin tersebut.
Digital Library Nyata di Dunia Akademisi Indonesia
Sekarang adalah era digital, semua orang juga sudah tahu. Internet marketer menyebutnya Web 2.0. Buzzwords yang sedang ramai dibahas adalah HTML versi 5. Para peneliti internet sedang giat-giatnya menelurkan terobosan baru bernama teknologi semantic web.
Para dosen tentu juga mengetahui bahwa pola penelitian yang dilakukan mahasiswa kini telah jauh berbeda dengan yang mereka lakukan jaman dulu waktu berdjoeang meluluskan gelar master atau doktoral mereka. Mahasiswa sekarang (termasuk saya tentu saja) tidak hanya suka mie instant, tetapi juga dalam gaya riset mereka. Pengennya yang instan-instan.
Google dan Wikipedia adalah tools utama mahasiswa masa kini. Cobalah lihat di daftar pustaka, berapa rasio acuan antara jurnal ilmiah dengan alamat URL. Yeah, ketimbang harus mendatangi perpustakaan yang berdebu dan berhantu yang tutup di hari sabtu minggu itu, tentu saja lebih nyaman berselancar di “perpustakaan” Google sambil menyeruput chai latte atau black coffee latte diiringi musik yang lembut di sebuah kafe. Terlalu metropolis? Ah baiklah, ilustrasinya diubah sedikit — … sambil nggelosor di atas kasur sambil sesekali melirik Twitter ditemani camilan di kiri kanan. Home sweet home.
Jika acuannya adalah internasional hal ini tidak masalah. Kita bisa mendapatkan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena sudah banyak e-journal dan digital library di luar sana. Sebut saja Harvard Business Review, atau jurnal IEEE. Kita tinggal meluncur ke layanan jurnal ilmiah seperti Pro-Quest atau EBSCO Host. Download paper setelah membayar biaya sewa jurnal.
Jurnal Ilmiah Lokal?
Menurut saya, keberadaan digital library lokal masih jauh panggang dari api. Memang universitas-universitas besar di Indonesia sudah memiliki sistem perpustakaan digitalnya sendiri-sendiri. Tapi sepertinya hanya nice to have. Kita hanya bisa membaca judul dan abstraknya saja. Untuk mendapatkan akses secara utuh, kita harus ke perpustakaan dan mencari barang fisiknya.
Tentu saja sangat menyenangkan jika ada layanan lokal seperti Pro-Quest. Sebuah mesin pencari terintegrasi yang mencari ke sumber-sumber ilmu di masing-masing digital library universitas lalu menampilkan full text-nya. Untuk akses file secara utuh, dikenakan biaya langganan tertentu. Tentu saja ini akan menjadi business model yang sangat rumit, tapi saya pikir itu merupakan sebuah peluang.
Waktu masih aktif di lingkungan akademis — (ITS maksud saya, sekarang di Binus saya hanya sebagai mahasiswa master yang tidak tahu-menahu tentang dunia akademis di Indonesia), saya pernah mendengar ada proyek INHERENT. Sebuah proyek ambisius yang akan mengintegrasikan semua jaringan universitas di bawah Dikti dan Depdiknas. Tetapi sayang, proyek itu sepertinya berhenti pada pemasangan infrastruktur, tidak berlanjut pada integrasi content. Mungkin ide ini bisa jadi bahan bagus untuk integrasi content. Atau mungkin sekarang pun jaringan INHERENT sudah pecah? Ada yang tahu? Namanya juga proyek ambisius hehehe…
#celoteh di sore hari waktu pikiran buntu mencari ide untuk tugas paper Corporate and Business Strategy
Ciri Dalam Lagu
Setiap lagu memiliki ciri khas tersendiri yang tidak boleh hilang dalam setiap aransemen model apapun. Ciri ini bisa jadi melodi, ketukan drum, walking bass, penggalan lirik, dsb.
Saya ingat, Trie Utami pernah bilang semacam ini ke salah satu akademia AFI yang menyanyikan lagu Keabadian-nya Reza. Akademia itu mencoba ber-improvisasi supaya ia bisa dibilang bernyanyi dengan gayanya sendiri dengan melantunkan syair tersebut dengan cara begini:
Mung-kinkah / kau men-cintai / diriku selama-lamanya
Padahal cara memotong syair itu, menurut Mbak Iie’, adalah salah satu ciri lagu Keabadian yang tidak boleh hilang:
Mung-kinkah / kau men-cintai diri-ku selama-lamanya
Atau ketukan walking bass di lagunya ME, Inikah Cinta. Coba dengarkan bass-nya ketika di syair, “… Aku tak tahu ha-rus ber-kata apa-a…” Tentu saja kalau rangkaian nada bass itu dipotong menjadi satu saja — meskipun tidak menghasilkan nada yang fals, tapi ciri dari lagu ini menjadi hilang.
Contoh lain. Lagunya KD yang merupakan lagu wajib di setiap acara resepsi pernikahan: Mencintaimu. Anda pasti bisa menebak bahwa ciri lagu ini adalah intro-nya yang dibangun dari dentingan piano. Teng tung tong teng tong… tung teng tong tung… tung teng tong tung… teng.. tong… Saya pernah melihat ada pemain organ tunggal di resepsi pernikahan yang mengganti intro ini dengan intro band-set bawaan dari si keyboard. Nuansa romantisnya langsung hilang menurut saya.
Itulah mengapa di beberapa posting terakhir saya menulis ulang chord-chord lagu yang sedang saya coba mainkan. Sebagai latihan menambah kepekaan telinga melacak nada apa saja yang sedang berbunyi.
Ternyata playing by ear begini mengasyikkan juga. Ini sesuatu yang belum pernah saya lakukan sejak saya bisa membunyikan gitar. Saya merasa cukup dengan chord-chord andalan dasar tanpa variasi (C – F – G – Dm – Em). Saya tidak percaya diri bahwa telinga saya cukup peka menangkap nada-nada. Saya lebih suka membaca partitur — yang kawan saya mencemooh bahwa bermain musik dengan partitur itu seperti robot. Dia memang dianugerahi telinga dan feeling yang luar biasa kalau soal playing by ear hehehe…
Chord: Bila Waktu Telah Berakhir – Opick
Bila Waktu Telah Berakhir
Cipt: Opick
Transcribed by: Galih Satria
Eb = Do
INTRO:
Cm - G/B - Ab - Eb - D - G
Cm - Bb - Ab - F - G - G
Cm G/B
Bagaimana kau merasa bangga
Ab G
Akan dunia yang sementara
Cm G/B
Bagaimanakah bila semua
Ab
Hilang dan pergi
Fm Fm/Eb Fm/D Fm/B G
Meninggalkan dirimu
Cm - G/B - G
Cm G
Bagaimanakah bila saatnya
Ab G
Waktu terhenti tak kau sadari
Cm G/B Ab
Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
Fm Fm/Eb Fm/D Fm/B G
Mengulangkan masa lalu
Cm G/B Ab Fm
Dunia dipenuhi dengan hiasan
Cm G/B Ab
Semua dan segala yang ada
Fm Fm/Eb Fm/D Fm/B G
akan kembali padaNya
REFF:
Cm B Ab Eb
Bila waktu tlah memanggil
Fm G
Teman sejati hanyalah amal
Cm B Ab Eb
Bila waktu telah terhenti
Fm G
Teman sejati tingallah sepi
INTERLUDE:
Ebm - D
Ebm - D
Dbm - Cm
Ebm - Fm - G - Ab - G
Kembali ke REFF
Mungkin lagu ini adalah lagu yang paling sulit yang pernah saya coba transkrip chord-nya. Motivasinya sama, karena chord di internet tidak ada yang memuaskan dan saya ditodong jadi pemain musik dadakan di acara dua minggu lagi (padahal secara skill belum layak buat “naik panggung”).
Lagu ini menjadi sulit karena nada dasar yang diambil bukanlah standar, tetapi nada Eb (atau menurut tangga nada minornya adalah Cm). Yang paling seru waktu mencoba mengikuti melodi piano ketika interlude. Berprogresi menanjak, dan kemudian dibuang balik lagi ke nada dasar awalnya.
Selamat menikmati, lumayan kan jelang puasa musimnya lagu-lagu rokhani hehehe
Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur
Sebenarnya niat saya tadi sore ke Disctarra, Pondok Indah Mal, adalah mencari album jazz-nya Nial Djuliarso. Ternyata sudah tidak ada, malah menemukan album terbarunya Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur. Sesungguhnya album ini adalah sebuah trilogi, satu judul yang lainnya adalah Nokturno Nusantara.
Suita Marzukiana merupakan interpretasi Jaya Suprana terhadap karya-karya Ismail Marzuki. Menurut apa yang tercantum di sampul albumnya, suita adalah nama bentuk musik era barok dalam bingkai siklus terdiri dari aneka ragam irama musik pengiring tarian. Karya-karya utama Johan Sebastian Bach bisa dikelompokkan dalam suita.
Memang isinya sangat kaya. Ada yang berirama blues ceria dan jahil dalam Payung Fantasi, jazz lembut di Sapu Tangan dari Bandung Selatan, ada swing, ada pula yang bernuansa sangat klasik yang ciri-cirinya mirip dengan komposisi-komposisi Bach atau Chopin. Ah, entahlah, saya tidak begitu paham musik jazz dan klasik.
Sedangkan di album Tafakur, Jaya Suprana banyak memainkan nada-nada pentatonis yang bernuansa etnis, misalnya di lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang. Saya nyaris tidak percaya kalau nada-nadanya dihasilkan dari sebuah piano klasik, bukan gambang atau kenong.Lagu Al-Tiroof (Tamba Ati versi yang lain) menjadi sangat syahdu dan hening. Lagu ini lebih saya kenal sejak kecil lewat corong langgar karena menjadi lagu wajib puji-pujian setelah azan menunggu shalat berjamaah.
Buat saya, dua album ini menambah khasanah musik saya. Syukur-syukur kalau kelak bisa menirukannya. Sayang, belum ada songbook dari maestro-maestro musik Indonesia yang menerbitkan teks partitur dari karya-karyanya seperti komposer-komposer luar. Kalau sajaaa ada partitur asli untuk komposisi-komposisi Jaya Suprana…
Oh iya, royalti pianis untuk penjualan album-album ini disumbangkan 100% ke Yayasan Bhakti Luhur, Cilincing.
Salute, Pak Jaya Suprana… *menjura hormat*
Tentang Api di Bukit Menoreh
Kalau anda tahu novel (mungkin bahkan sudah bisa disebut roman kali ya) Api di Bukit Menoreh (ADBM), tentu kita sepakat bahwa genre novel ini adalah action atau silat. Tapi buat saya, ADBM bercerita lebih dari itu. ADBM bercerita tentang kehidupan, pandangan hidup, cita-cita, nafsu, dan juga kekuasaan yang dibungkus dengan gaya bercerita yang ringan dan selalu berakhir happy ending di setiap sesi. Perbedaan jahat dan yang baik sengaja diperjelas. Meskipun terasa sangat naif, tapi itu justru menjadikan novel ini enak dibaca sambil makan.
Jika Anda ingin mengetahui bagaimana watak orang Jawa, novel ini salah satu referensi yang sangat bagus. Bagaimana orang Jawa sangat memperhatikan unggah-ungguh, berusaha menghindari konflik sebisanya, lembut terhadap wanita, juga penghormatan mutlak isteri kepada suami. Namun demikian, Anda juga akan menyaksikan bagaimana permainan politik khas Jawa yang sangat cerdik sekaligus licik.
ADBM adalah cerita fiksi yang bersandar pada sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Konflik dimulai sejak keruntuhan Demak yang kemudian tongkat estafet pemerintahannya dipindahkan ke Pajang oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menjadi Kasultanan Pajang. Tetapi konflik perebutan kekuasaan tidak berhenti. Seorang adipati Jipang (salah satu kadipaten di bawah Demak), Arya Penangsang (Arya Jipang), memberontak tidak mau mengakui kedaulatan Pajang dan berusaha mendirikan panji-panji kekuasaan di bawah Jipang. Perang pun berkobar.
Sultan Hadiwijaya kemudian mengumumkan sayembara, siapa yang berhasil membunuh Arya Penangsang maka akan diberi hadiah. Hadiah itupun jatuh ke orang yang berjasa membunuh Arya Penangsang. Ki Panjawi diberi tanah Pati, sementara Ki Gede Pamanahan diberi wewenang untuk membuka alas Mentaok karena anaknya, Raden Sutawijaya, berhasil membunuh Arya Penangsang dengan pusakanya tombak Kiai Plered. Raden Sutawijaya pun akhirnya menjadi raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.
Pembukaan alas Mentaok yang akhirnya menjadi kerajaan Mataram Islam itupun tidak lepas dari konflik. Mataram yang berkembang itu akhirnya berhadapan langsung dengan Pajang. Dan begitulah seterusnya, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa terus berseteru hingga hari ini (yes, hari ini. Ingat konflik keluarga kerajaan Kasunanan di Solo baru-baru ini?).
Rentetan sejarah itu bukan saya ketahui dari buku sejarah ataupun kitab Babad Tanah Jawi atau Serat Kanda, melainkan sebagian besar dari novel ADBM ini. Meskipun saya harus hati-hati dalam memilah-milah mana yang sejarah mana yang fiksi. Tapi itulah asyiknya belajar sejarah lewat novel fiksi.
Tentu saja bukan melulu cerita soal politik. Mempelajari watak para tokoh sentralnya seperti Agung Sedayu, Sekar Mirah, Swandaru, Pandan Wangi, dan Kiai Gringsing juga sangat menarik. Asal Anda sabar saja mengikuti penokohan yang terlalu detail bahkan berbelit-belit, karena novel ini adalah novel yang sangat panjang, lebih dari 300 jilid.
Tidak Semua Orang Bisa Mengajar
Hari ini bahas apa yah, ah ini saja: tidak semua orang bisa mengajar. Orang yang kepandaiannya sundul langit ketujuh, yang panjang gelarnya kalau diukur bermeter-meter, yang sekolahnya sampai ujung bumi, yang seumur hidupnya ada di sekolaaah dan perpustakaan, yang jeniusnya bisa ngalah-ngalahin Albert Einstein, yang bisa berfilosofi seperti Rene Descartes… belum tentu bisa mengajar.
Saya pernah diajar konsep basis data di semester dua kuliah IT dulu. Seorang doktor yang pandai sekali. Tapi rasanya terlalu cepat untuk diikuti otak kami yang masih lamban. Kemudian, ada juga dosen muda bertitel master bisnis dari luar negeri. Beliau mengajar kuliah Competitive Dynamics and Rivalry. Tapi saya lebih sering menguap ketimbang berkonsentrasi. Beliau hanya membaca slide demi slide tanpa improvisasi, tanpa humor, tanpa sharing pengalaman di dunia bisnis nyata. Singkatnya: bosan.
Dosen pembimbing tugas akhir saya termasuk salah satu dari sedikit orang pintar yang bisa mengajar. Beliau bisa menjelaskan rumus-rumus turunan matematika diskret variance, covariance, eigen vector… (you name it) seperti mendongeng cerita Kancil Nyolong Timun aja. Enak diikuti, enak dimengerti, atut runtut.
Atau dosen pembimbing thesis saya sekarang. Beliau seorang doktor yang sangat asik kalau lagi ngajar. Salah satu yang berkesan adalah ketika menjelaskan konsep buillwhip effect, beliau mengajak kami dengan eksperimen sederhana dengan kancing, membentuk simulasi rantai supply, seolah-olah kami adalah manufacturer, distributor, retailer, hingga end-user. Emosi yang terlibat membuat konsep ini menjadi sangat nyata dan mudah dipahami.
Saya pikir mengajar adalah sebuah seni yang tidak semua orang bisa melakukannya. Mengajar memerlukan kita menyeberang ke dimensi yang berbeda, yaitu berada pada landasan pemikiran orang lain yang berbeda-beda. Kita tidak bisa begitu saja menyampaikan sebuah konsep dengan pemikiran kita sendiri karena sangat mungkin orang yang diajar belum bisa sampai ke tataran pemikiran tersebut. Di sinilah mengapa ada sangat banyak orang pintar tetapi tidak bisa mengajar. Perlu kesaktian khusus untuk bisa teleportasi dari satu landasan pemikiran ke pemikiran yang lain.
Selamat mengajar bapak dan ibu guru. Salam hormat dan salam kagum selalu dari saya, seorang murid bodoh yang bebal dalam menerima pelajaran. Sedemikian bebalnya hingga saya harus menyalahkan pengajar saya yang tidak bisa mengajar, hehehe…
Comments