Flamboyan

Tiba-tiba pagi tadi waktu sekadar melemaskan jari sebelum berangkat ke kantor, saya ingat dan memainkan lagu lamanya Bimbo yang berjudul Flamboyan (etdah, Bimbo aja udah pasti jadul apa lagi ini labelnya “lagu lamanya bimbo”). Liriknya sederhana saja:

Senja itu, Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau…

Satu-satu, daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi

Ref:
Bunga Flamboyan itu diraihnya
Wajahnya terlihat sayu
Flamboyan berguguran
Berjatuhan
Berserakan…

Sejak itu, sang dara berharapan
Esok lusa kan bersemi kembali…

Tentang sebuah potret di sore hari. Seorang gadis yang berdiri termangu-mangu setengah terpukau memandangi bunga yang jatuh. Hanya itu, tidak ada yang spesial. Tetapi seorang seniman bisa membuatnya menjadi sebuah lirik dan lagu yang cantik kalau boleh saya bilang.

Tetapi mengapa nadanya minor dan terasa sangat meyayat? Apakah flamboyan yang dimaksud Bimbo benar-benar bunga Flamboyan yang sedang jatuh? Denotatif sebagai bunga Flambloyan yang merupakan keluarga Fabaceae alias polong-polongan. Tetapi ataukah sebuah perlambang seorang pria? Kalau bukan, mengapa lagunya bernada minor yang sedih?

Inilah indahnya seni. Seni itu seperti melihat sesuatu melalui kaca hablur. Apa yang terlihat akan nampak berbeda ketika dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Demikian pula seni. Terserah Anda memaknai lirik lagu itu. Anda bisa berimajinasi menurut khayalan Anda sendiri.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. Sebagai penikmat karya musik, saya sangat menyukai lagu-lagu Bimbo, tak terkecuali yang berjudul Flamboyan ini. Lirik lagunya indah, melodinya pun indah, suara Kang Acil yang melantunkannya juga indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *