Business Model di Era Web 2.0
Pada dasarnya, web 2.0 adalah generasi dan tren baru dunia web yang menitikberatkan pada interaksi (komunikasi dua arah) dan konten yang dibuat oleh pengunjung. Jejaring sosial adalah contoh yang paling mudah dipahami. Tentu kita kenal (dan eksis) di salah satu social media ini: Facebook, Twitter, Plurk, Flickr, Youtube, dll. Atau jika merujuk pada media lokal: Koprol, Ngerumpi dan jaringan Dag Dig Dug-nya, Kaskus, dll.
Media-media ini semua konten-nya dibuat oleh pengguna yang loyal. Kemudian ciri berikutnya, media tersebut sangat ramai oleh interaksi antar penggunanya. Diskusi, saling bercanda, kopi darat, dan event-event yang akhirnya membentuk sebuah komunitas. Ada sangat banyak komunitas yang dibangun dari eksistensinya di dunia maya, misalnya komunitas blogger dari berbagai daerah, komunitas group di Facebook, Multiply, dll.
Pertanyaan logis yang muncul berikutnya adalah: dari mana situs-situs tersebut mencetak pendapatan (revenue)? Istilah kerennya, bagaimana sih business model-nya? Dari apa yang saya amati, paling tidak ada beberapa model, yaitu
Iklan
Ini adalah lagu lama dan sudah dipakai sejak jaman web 1.0. Situs mendapatkan iklan karena situs tersebut dikunjungi oleh banyak orang. Ini model bisnis yang dipakai portal-portal berita semacam Detik. Tetapi di situs yang mengusung konsep 2.0, kadang-kadang iklan tidak disukai oleh penggunanya. Pengguna mendapatkan servis gratis dan tetap menginginkan halaman pribadinya bersih dari banner-banner iklan. Jika ada kompetitor yang menawarkan servis yang sama dan tanpa iklan, pasti situs yang memasang iklan tersebut segera ditinggalkan penggunanya dan akhirnya: sepi.
Akuisisi
Banyak situs yang mendapatkan gelontoran dana dari raksasa web melalui akuisisi. Contohnya Koprol yang kaya mendadak karena dibeli Yahoo!. Youtube dibeli Google. Dan masih banyak lagi contohnya. Jadi, bangunlah web 2.0 Anda hingga menjadi sangaaaaaaattttt populer, lalu tunggu ada angel investor ataupun institusi yang membeli web — dan Anda sekalian untuk menduduki jabatan semacam CEO — Anda dengan harga yang mahal.
Premium Member
Nah ini yang baru saya sadari ada keberadaannya (bodoh saya hehe). Situs-situs seperti ini biasanya mempublikasi artikel-artikel yang (seolah-olah) bermanfaat. Mengedukasi pengguna awam mengenai topik-topik tertentu. Semacam teaser yang menggoda untuk tahu lebih jauh. Tapi weits, untuk mendapatkan lebih, Anda harus bayar untuk itu. There’s no such free lunch.
Misalnya, Financial Planner mengedukasi tentang pentingnya manajemen keuangan pribadi atau keluarga. Bagaimana agar Anda bisa kaya (atau memiliki ini itu) pada jangka waktu tertentu. Bahwa dengan berinvestasi di instrumen tertentu, Anda akan mencapai tujuan keuangan Anda. Tetapi tentu tidak sembarang produk investasi, ada rumus-rumusnya. Nah, Anda tidak perlu jadi seorang MBA atau MM atau CFP certified untuk mengetahui rumus-rumus itu, Financial Planner akan mengerjakan semua untuk Anda. Tentu saja dengan fee tertentu.
Para motivator memiliki model bisnis yang serupa. Dengan menyebarkan artikel dan informasi di blog, televisi, radio, dan twitter, Anda akan diberikan informasi yang menarik dan bermanfaat. Misalnya, kenapa sih Anda selalu jomblo, kenapa sih Anda ditolak oleh gadis/pria idaman Anda? Anda akan tahu jawabnya. Tetapi bagaimana cara agar bisa mendapatkan gadis/pria idaman tersebut, trik-trik tersebut akan dibagikan melalui seminar atau workshop, yang, tentu saja tidak cuma-cuma.
Data Pengguna itu Sendiri
Sama sekali tidak ada yang gratis. Ketika Anda daftar Facebook yang gratis, sebenarnya Anda membayar mereka dengan data-data pribadi Anda. Tidak usah muluk-muluk alamat rumah atau nomor telepon, tetapi hal-hal yang kelihatannya sepele seperti email, hobi, interest, buku kesukaan — itu adalah informasi yang berharga untuk Facebook. Dengan informasi itu, Facebook bisa mengarahkan iklan apa yang cocok untuk ditampilkan di halaman Anda (ads-targeting). Ketika Facebook menjadi single source of global personal data network, bayangkan betapa kuatnya posisi Facebook. Tak heran kalau valuasi perusahaannya hingga bermilyar-milar dolar.
Itulah beberapa business model di era web 2.0 yang saya ingat. Tertarik terjun di bisnis ini?
Flamboyan
Tiba-tiba pagi tadi waktu sekadar melemaskan jari sebelum berangkat ke kantor, saya ingat dan memainkan lagu lamanya Bimbo yang berjudul Flamboyan (etdah, Bimbo aja udah pasti jadul apa lagi ini labelnya “lagu lamanya bimbo”). Liriknya sederhana saja:
Senja itu, Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau…Satu-satu, daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumiRef:
Bunga Flamboyan itu diraihnya
Wajahnya terlihat sayu
Flamboyan berguguran
Berjatuhan
Berserakan…Sejak itu, sang dara berharapan
Esok lusa kan bersemi kembali…
Tentang sebuah potret di sore hari. Seorang gadis yang berdiri termangu-mangu setengah terpukau memandangi bunga yang jatuh. Hanya itu, tidak ada yang spesial. Tetapi seorang seniman bisa membuatnya menjadi sebuah lirik dan lagu yang cantik kalau boleh saya bilang.
Tetapi mengapa nadanya minor dan terasa sangat meyayat? Apakah flamboyan yang dimaksud Bimbo benar-benar bunga Flamboyan yang sedang jatuh? Denotatif sebagai bunga Flambloyan yang merupakan keluarga Fabaceae alias polong-polongan. Tetapi ataukah sebuah perlambang seorang pria? Kalau bukan, mengapa lagunya bernada minor yang sedih?
Inilah indahnya seni. Seni itu seperti melihat sesuatu melalui kaca hablur. Apa yang terlihat akan nampak berbeda ketika dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Demikian pula seni. Terserah Anda memaknai lirik lagu itu. Anda bisa berimajinasi menurut khayalan Anda sendiri.
Chord: Dengan Menyebut Nama Allah
Dengan Menyebut Nama Allah
Dipopulerkan oleh: Novia Kolopaking
Nada dasar: A = Do
Seperti biasa, saya menulis chord karena sama sekali tidak ada chord yang memuaskan yang saya temukan di internet. Ini saya tulis berdasarkan versi asli yang dinyanyikan Novia Kolopaking waktu masih kurus aktif menyanyi (sebelum jadi isteri Cak Nun). Progresi chord ketika masuk reffrain adalah turun setengah nada (dari A ke Ab), dan ketika balik ke bait-baitnya dilempar ke E untuk kembali ke A. Tanda garis miring, misalnya A/E berarti Anda harus membunyikan kunci A dengan bas ditahan di E. Garis sambung adalah walking bass, jadi E-F-Gbm Anda jalankan bas E-F-Gb dengan mendarat di kunci Gbm.
Oke? Selamat memainkan, semoga bermanfaat hehe…
Tentang eBook Reader
Ketika Apple iPad muncul, saya meramal bahwa kelangsungan hidup eBook Reader sudah tidak lama lagi karena pada awalnya, iPad memang didesain untuk sebuah pembaca buku dengan fitur-fitur tambahan. Nyatanya, produk yang kemudian popularitasnya semakin menurun dan terancam punah adalah netbook.
Ada satu hal yang tidak bisa digantikan tablet, yaitu sistem display-nya. Tablet seperti iPad atau GalaxyTab menggunakan sistem LCD/LED yang bersifat backlit atau menyorotkan cahaya untuk menerangi layar. Ternyata ini membuat mata cepat lelah. Bayangkan kita harus membaca beratus-ratus halaman dengan kondisi mata dihujani cahaya langsung dari layar. Capek. Nggak nyaman.
Sedangkan eBook Reader menggunakan sistem display yang dinamakan e-ink display yang bersifat memantulkan cahaya. Ebook Reader tidak bisa dipakai di tempat gelap. Jadi kesannya kita seperti membaca huruf-huruf rugos yang ditempelkan di plastik. Ah, nggak percaya? Rasakan bedanya, saya dulu juga tidak percaya beda antara baca e-ink display dengan backlit display.
Antara Kindle dan iRiver Cover Story
Saya sempat dibingungkan ketika memilih eBook Reader yang cocok untuk kebutuhan saya. Ketika saya baca review, saya lebih condong ke iRiver karena: 1) lebih murah; 2) lebih banyak fitur (bisa format epub, media penyimpanannya SD card biasa, touch screen, dll); 3) rekomendasi dari dua kawan saya, Daniel dan Kimi.
Ketika saya bertemu fisiknya di toko buku yang jual eBook Reader di bilangan mal Mangga Dua, saya langsung jatuh cinta dengan Kindle. Sederhana, saya suka font-nya yang sepertinya sangat pas, dan kesannya seperti membaca tulisan di atas kertas putih. Pengalaman membaca bukunya sangat terasa. Sedangkan reader yang lain seperti iRiver, Sony Reader, dll kesannya masih seperti baca layar elektronik berwarna cokelat bertuliskan huruf-huruf kusam. Tapi, Kindle tidak memiliki fitur yang kaya. Ia tidak bisa baca format epub, PDF-nya tidak bisa reflow (word wrap) secara otomatis, media penyimpanannya hanya media internal, dan terkesan sangat propietary.
Akhirnya saya memilih Kindle yang lebih mahal dengan pertimbangan saya tak mau mengurangi pengalaman membaca (reading experience) saya. Font-nya yang terlanjur saya suka dan display e-ink-nya yang sangat mendekati kertas putih. Dan juga, setiap kata bisa dirujuk ke kamus Oxford English Dictionary secara live. Salah satu impian saya kalau saya punya eBook Reader.
Ngomong-ngomong, sangat tidak nyaman lho membaca PDF kalau dengan eBook Reader. Format yang umum adalah epub. Bagaimana dengan ketidakmampuan Kindle membaca format epub? Saya harus konvert dulu ke format lain yang bernama mobi dengan Mobi Pocket Creator. Saya sudah sangat puas dengan hasilnya.
Sebagai penutup, bacaan yang sedang saya baca di Kindle saya adalah seri Api di Bukit Menoreh, The Study in a Scarlet, dan buku teks tentang Six Sigma. Only if you want to know…
Pendidikan Memang Harus Mahal
Pendidikan yang bagus memang harus mahal agar berkualitas, demikian kata Pak Mendiknas, M. Nuh, di suatu media. Saya setuju. Fasilitas laboratorium, perpustakaan untuk riset, dan tentu saja, untuk menggaji dosen-nya. Dosen harus digaji tinggi bukan? Supaya bisa menarik otak-otak nomor satu agar mau mengajar. Kalau pengajarnya saja berotak kelas dua, yang diajar jadi kelas berapa dong?
Tetapi apakah semua harus ditanggung oleh rakyat? (ceileh, udah kayak anggota dewan yang terhormat aja). Pemerintah seharusnya bisa menyelenggarakan pendidikan yang mahal namun dengan biaya yang murah. The good news is, Departemen Pendidikan Nasional kini adalah salah satu departemen yang menghabiskan anggaran APBN cukup besar. Dua puluh persen. Besar, tapi belum cukup besar. Malaysia saja menganggarkan tidak kurang dari 25% dari total belanja nasionalnya.
Tetapi jika melihat kenyataan yang ada memang menjadi miris bagi setiap orang tua yang memiliki anak. Saya mendengar mau masuk pra sekolah saja sudah berjuta-juta. Alamak, diajar apa aja anak-anak balita itu? Kalkulus? Apalagi masuk S1. Dulu universitas negeri adalah tujuan utama anak-anak pandai dari daerah. Modal otak saja sudah mencukupi. Seratusan kursi Fakultas Kedokteran diperebutkan sekian puluh ribu siswa SMA. Hukum alam berlaku. Yang paling encer otaknya, yang paling kencang dukunnya, berhak menduduki kursi presitisius itu. Dokter.
Sekarang, otak kelas satu belum jaminan bisa masuk. Secara finansial kuat tidak? Yang jelas, jumlah beasiswa yang ada masih sangat kurang dari kebutuhan. Jadi, pendidikan mungkin kelak hanya untuk orang kaya saja. Seperti jaman Boedi Oetomo dulu, dimana yang berhak masuk sekolah tinggi hanya orang dari strata atas.
Ah, abaikan, saya tidak menulis secara komprehensif yang didukung data dan fakta.
Kreativitas di Jalanan
Sedemikian parahnya kondisi lalu lintas Jakarta di jam-jam pulang kantor membuat saya harus lebih kreatif dalam mencari jalan yang lowong. Tentu saja, untuk menghindari titik-titik kemacetan yang sangat menguras tenaga. You know la, bersepeda motor di kemacetan itu benar-benar seperti bertempur mengerahkan ilmu kanuragan yang dimiliki dalam mencari celah sekecil-kecilnya, tetapi jangan sampai spion antar motor bersentuhan, apalagi dengan mobil.
Jadi, soal yang harus dipecahkan kemarin adalah jalur Stasiun Gambir – Pancoran Barat. Jalur terdekat menurut riset bertahun-tahun adalah Stasiun Gambir – Tugu Tani – Taman Menteng – Flyover Tugu 66 Kuningan – Jl. Rasuna Said – Mampang – Tegal Parang – Pancoran Barat. Hari Minggu pagi, saya bisa menempuh jalur ini dengan sepeda lipat dalam waktu 40 menit. Hari Senin sore pukul 18:00, saya menempuh jalur ini dengan sepeda motor dalam waktu 45 menit.
Titik kemacetan yang sangat parah adalah Jl. Rasuna Said di sekitar jembatan Casablanca. Embok, saya membayangkan berapa waktu yang diperlukan mobil untuk menempuh Jl. Rasuna Said dari ujung ke ujung.
Jadi saya memutuskan untuk mengambil jalan memutar. Stasiun Gambir – Tugu Tani – Taman Suropati – tembus Manggarai – Pasaraya Manggarai belok kanan tembus Jl. Dr. Supomo Tebet – Tugu Pancoran – Pancoran Barat. Titik kemacetan yang parah hanya di sekitar Pasaraya Manggarai dan sedikit di ujung Supomo. Selebihnya, bisa ngebut. Tapi bukan berarti jalur ini tak pernah macet parah. Tetapi paling tidak, probabilitas untuk longgar lebih besar daripada Rasuna Said yang 90% pasti macet parah.
Haha, kasihan ya orang Jakarta itu. Memilih jalur pulang saja harus pakai kalkulasi yang rumit. Siapa suruh datang Jakarta?
Tentang Sepeda Motor yang Membludak
Awal 2007 ketika saya memilih sepeda motor sebagai moda transportasi di Jakarta, kondisi bisa dikatakan masih cukup nyaman. Saya memilih sepeda motor karena menurut saya angkutan umum high cost dan tidak aman (saya pernah hampir dipalak di metromini 640 Tanah Abang – Pasar Minggu). Kondisi jalanan masih cukup manusiawi meskipun sudah macet, tetapi yang jelas, waktu itu sebelum jam 07:00, Pancoran – Kuningan masih bisa ngebut.
Hanya butuh empat tahun yang diperlukan sepeda motor menjadi raksasa jalanan Jakarta. Pertumbuhannya mengerikan. Tak heran, selain low cost, proses kredit sepeda motor sudah macam kacang goreng saja. Cukup KTP dan uang lima ratus ribu (bahkan ada yang tanpa uang muka), sudah bisa membawa pulang motor baru.
Sebenarnyalah hal ini sungguh-sungguh tidak sehat. Tanpa transportasi massal yang memadai, Jakarta lumpuh tinggal menunggu waktu yang tak lama lagi. Lihatlah, Gatot Subroto yang selebar lapangan sepakbola macet hampir sepanjang hari. Terjebak macet di Mampang saat menjelang tengah malam adalah hal yang biasa. Tetapi selama tidak ada alternatif yang lebih baik dari sepeda motor, perkembangannya akan terus naik.
Padahal, produsen macam Honda dan Yamaha sudah meningkatkan kapasitas produksi mereka untuk mengejar growth. Hal yang tidak saya mengerti adalah mengapa pemerintah mengizinkan produksi dalam kapasitas yang gila-gilaan, sementara transportasi massal seakan-akan tidak mendapatkan perhatian serius. KRL Jabodetabek semakin penuh. Mengapa tidak membangun jalur kereta dari double track menjadi quart track? Kapan kita punya Gajayana 2 dan Gajayana 3? Mengapa pemerintah membangun jalan tol melulu sebagai andalan infrastruktur?
Ah, kasihan pemerintah. Mereka juga manusia.
Comments