Let the Other Man Loves Her

Setel background music: Air Supply ( I Can Wait Forever)

Ia tampil sangat cantik siang itu. Memakai busana pengantin Jawa berwarna merah hati. Rangkaian melati menghiasi mahkota kepalanya yang dibungkus jilbab. Memakai sandal pengantin khusus yang berhak tinggi, nampaknya agar terlihat lebih serasi dengan sang suami yang berperawakan tinggi. Dua titik keringat meluncur di ujung alisnya yang dilukis lancip. Sesekali ia seka dengan tisu kertas kecil yang ia lipat tergenggam di jemarinya. Senyum tak henti-hentinya mengembang dari wajah manis yang dilabur tebal bedak dan lipstik.

Apa yang bisa kulakukan selain ikut mengulaskan senyum bahagia yang palsu? Melihatnya turun pelaminan — agak kesulitan karena kakinya dibebat kain batik — dan dibimbing oleh sang suami dengan mesra menuju ke dalam rumah, ke kamar pengantin.

Siang itu menjadi begitu terik. Sendirian aku menyusuri jalan pulang. Jalanan berbatu di tanggul sungai itu memiliki banyak cerita. Saat matahari sore menyinari pucuk-pucuk bunga teratai putih. Saat ia berkata lembut, “Aku akan menghindar jika mas menghendaki begitu agar mas tidak lebih terluka.” Seharusnya waktu itu aku meng-iya-kan saja.

Atau tidak. Ia terlalu baik untuk dilupakan begitu saja. Ia terlanjur mewarnai hidupku dengan warna-warna sendu yang melankolis. Ia yang mengajarkan bagaimana cinta itu seharusnya. Ia adalah seorang sahabat, seorang adik, yang selalu perhatian. Bagaimana bisa orang membenci gadis yang seperti ini?

Waktu telah menyembuhkan luka. Waktu pula yang membalut luka. Seperti air mengalir yang membasuh luka dan memberikan rasa nyaman. Karena waktu akan membuat setiap orang berubah. Orang yang aku kenal tahun-tahun itu telah mati ketika aku keluar dari gedung pernikahan dengan sebongkah hati yang terluka.

When you say, I missed the things you do
I just wanna get back close again to you
But for now, the voice is near enough
How I miss you and I miss your love

I can wait forever, if you say you’ll be there too
I can wait forever if you will
I know it’s worth it all, to spend my life alone with you

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. ak g mau koment ttg tlsn sampeyan…cuma mau nanya…buat tampilan blog seperti punyae sampeyan itu gmn ya caranya,hhhee….jiiiaannn…bth privat kyk’e ki…ternyata modal smgt tok..mlh bikin mumeettt…lha gmn gak mumet tiap kali buka blog tetangga tmpilanya pd bagusss…cuma kepingin2 tok jadinya,hhee..

  2. Pak galih klo bikin tulisan di cermin mesti ceritanya kyk gni..
    Emg pengalaman pribadi ta pak..?
    Tetap smgat pak galih!!

  3. hummm udah lama nggak BW kemari…. dan baru tersadar kalo ada “cermin” (atau saking lamanya ngak BW jadi lupa ya?

    Like this *jempol* (hehe, biar berasa di facebook), kind of sad story – tp sukaaa

    ubek-ubek “cermin” ah…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *