Rasa “Klik” Itu Tidak Bisa Dipaksakan

Guru-guru yang pernah mengajarkan saya ilmu “Olah Pendekatan” selalu bilang, ciptakanlah rasa “klik” kepada gadis yang sedang saya dekati. Tidak heran, mereka bisa bilang “menciptakan” karena memang mereka adalah pakar-pakar di bidangnya. Mereka adalah player yang berpengalaman bertahun-tahun dengan berbagai macam tipe wanita.

Kalau saya bilang sih, rasa klik, atau rasa nyaman itu tidak bisa diciptakan. Seperti hukum kekekalan energi, saya pikir rasa nyaman itu tumbuh dari sebuah hubungan yang mengalir, bukan dari sebuah hubungan yang dipaksakan atau bahkan direkayasa. Mungkin dari sinilah asal pepatah bertepuk sebelah tangan itu kali ya? Karena rasa nyaman itu tidak bisa dari satu pihak saja. Kalau hanya sepihak yang merasa nyaman dan pihak lain justru merasa risi, klik itu tidak akan terjadi. Yang ada mungkin jadi kejar-kejaran yang melelahkan. A mengejar B, B mengejar C, C lagi bingung, lalu ada D datang mengejar A.

Social media, entah apakah ini kemajuan teknologi atau kegilaan, bisa membuat hal yang tidak mungkin dilakukan sepuluh tahun yang lalu. Saya bisa baru mengenal gadis sehari dua hari, lalu setelah itu bisa ngobrol akrab di Y!M atau BBM bercerita dari hati ke hati seperti sahabat kental yang sudah kenal bertahun-tahun. Saya punya banyak teman baik yang bahkan belum pernah ketemu, tapi sudah akrab seperti saudara saja.

Tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan mimik wajah dan aura bertemu langsung. Kata orang, mata adalah jendela hati. Di dalam social media apapun, tidak pernah ada kontak mata yang kadang-kadang bercerita lebih jujur dari mulut yang manis berbusa-busa. Di dunia teks, selalu ada jeda waktu untuk memikirkan exit run ketika sesuatu terjadi. Di dunia langsung, tetek bengek itu tidak ada. Makanya ada orang yang sangat cerewet di social media, temennya seabrek-abrek, populer, jadi bintang — di dunia nyata bisa jadi seorang yang sangat pendiam, pemalu, memakai kacamata setebal botol dan tidak memiliki teman.

Kembali ke soal pendekatan, saya juga pernah bilang, saya tidak akan pernah menjadi pemenang kalau saya kalah jarak. Kalau ada pesaing yang punya keuntungan lokasi yang sama dengan sang target, menjadi pemenang adalah sesuatu yang too good to be true. Itu sudah saya alami empat tahun yang lalu dan dua tahun yang lalu. Tetapi apapun itu, saya selalu lega kalau saya sudah sempat menyatakan perasaan kepada sang kekasih. Apapun keputusan sang kekasih, itu adalah hak prerogatif wanita sebagai kaum yang memutuskan. Setidaknya ia sudah tahu kalau Galih pernah menaruh hati padanya, dan ia tolak. Mungkin kelak itu akan jadi keputusan yang disesalinya hahaha… *overpede*

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 thoughts

  1. indeed, chemistry atau KLIK tsb itu tidak bisa dipaksain.
    been there, done that.

    kalo gak ada chemistry-nya, otomatis kenyamanan juga gak ada ya? I mean, mungkin nyaman sbg teman, tp untuk menjadi ‘lebih dr sekedar teman’ itu loh, kan memang membutuhkan rasa dan getaran yg spesial 😉

  2. ehem… masih ada hubungannya dgn postingan di blog mbak fenty kah? hihihi…
    yg jelas, menurutku nyari yg bener2 “klik” itu susah-susah gampang.
    ah, semua tergantung pada-Nya lah.

  3. Eh apa ini si Jumi nyebut2 nama saya ~.~”
    Tapi iya, masih nyambung sama postinganku ya ? *rumongso* soalnya nyebutin A dan B itu sih *halah*

    Bagi saya, yang punya “klik” atau “tidak klik” itu Allah, ya kita gak klik sekarang, besok, lusa, minggu depan, tahun depan siapa yang tau ? Walaupun ya, saya pernah juga ada di posisi itu, and I give up, saya toh tidak sekuat karang *err apa sih*

  4. Jauh sebelum dengan pacar saya yang sekarang, saya pernah “klik” dengan orang lain.

    Tidak pernah ketemu muka, tidak pernah kenal sebelumnya, hanya dengan baca blog masing-masing, tapi saya dan orang itu “klik” satu sama lain. Cita-cita saya adalah membuatnya mengaku bahwa dia menyukai saya secara seksi, kalau saja suatu hari dia tidak mengucapkan sesuatu yang kemudian saya ketahui bahwa ternyata itu bohong. Saat saya tahu bahwa dia bohong itu, maka “klik” yang saya rasakan langsung bubar.

    Dari situ saya dapet pelajaran, jangan pernah menaruh hati pada seseorang yang hanya saya kenal di internet. Bahasa teks boleh saja berbunga-bunga, tetapi ada hal-hal yang hanya bisa kita nilai jika kita lihat sendiri: gestur, cara berpakaian, cara berjalan, segala macam bahasa tubuh yang bisa membuat “klik” itu akurat.

    Tentu saja saya nggak anti cyber love. Sah-sah aja pacaran atau flirting via internet. Tapi, usahakan bahwa kita jatuh cinta karena apa yang betul-betul kita lihat-raba-dengar-rasakan, bukan sekedar karena apa yang hanya kita ingin rasakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *