Dari Mengagumi Hingga Mencintai

As far as I know, sependek pengalaman saya dalam urusan kewanitaan (maksudnya punya gebetan gituh), ada tingkatan-tingkatan perasaan yang terklasifikasi ketika kita mulai menaruh perhatian kepada seseorang. Tingkatan terklasifikasi? Ilmiah sekali kedengarannya? Biarin, wong blog saya sendiri, tulisan-tulisan saya sendiri… :p

Perasaan pertama yang muncul adalah “mengagumi”. Saya banyak mengagumi orang. Entah kecantikannya atau keramahannya. Kebanyakan memang dari faktor fisik, apa yang tampak di mata. Apalagi kalau orangnya benar-benar sosok yang menurut saya sempurna (contoh: Meyda Sefira, atau mbak sekretaris SCM di kantor :D), maka dipastikan saya akan mengaguminya. Lalu ngefans. Belum apa-apa, diajak bicara saja mungkin saja jadi grogi…. hehehe…

Jika kemudian saya jadi berteman dengannya, mungkin rasa itu akan berkembang menjadi “menyukai”. Dari mata turun ke hati, kata pepatah. Menyukai itu ketika faktor fisik bertemu dengan faktor non-fisik. Saya selalu menyukai teman-teman wanita saya yang ramah, mendengarkan curhat saya (atau kadang-kadang saya yang mendengarkan), tertawa ketika saya menceritakan lelucon yang garing dan tidak lucu, dan tentu saja, membuat sifat kekanak-kanakan sekaligus ingin berperan jadi pahlawan buatnya muncul.

Ketika saya menyadari bahwa saya mulai memikirkannya sepanjang waktu, berharap SMS saya dibales dan uring-uringan ketika pesan pendek itu tak terbalas, cemburu nggak jelas jika mendengar ia bersama orang lain, saya tahu bahwa saya sedang “jatuh cinta”. Ketika saya mulai bisa menulis puisi, ketika tiba-tiba menjadi begitu melankolis, merasa menjadi pria yang tersakiti dan paling malang sedunia — saya tahu kalau saya sedang jatuh cinta. Dan dari beberapa kali drama “pernyataan cinta”, kadang-kadang saya lebih siap ditolak ketimbang diterima. πŸ™‚

Nah, tingkatan terakhir adalah “mencintai”. Saya tidak yakin apakah saya pernah mencintai seseorang. Mencintai berarti sanggup menerima kondisi sang kekasih apa adanya. Tidak hanya yang bagus-bagus, tetapi juga yang jelek-jelek — ya gendutnya, suaranya yang kecil gak kedengeran, pendiamnya yang tak ketulungan, ngambekan nggak jelas, dll.

Saya sering mengaku cinta kepada seseorang yang hanya kepadanya saya bikin puisi di blog ini. Saya ingat kalau saya pernah diberi kesempatan, tetapi saya tidak pernah berani mengambil langkah. Jadi saya hanya mengaku-ngaku saja. Ketika semua sudah terlambat, janur kuning sudah terlanjur melengkung, saya baru sadar kesalahan saya. Jadi, saya belum pernah merasakan “mencintai” seseorang. Demikian.Β I think, that’s such a bigΒ commitmentΒ that almost all men afraid to face it when the time comes. But when they’re ready, the chance has already gone. πŸ™‚

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. Mas Galih, apa yang mas rasakan juga terjadi pada saya πŸ™‚
    Persis mulai dari awal sampai akhir.

    Berharap bisa mengumpulkan keberanian untuk menyatakan isi hati tgl 21 April ini πŸ™‚

  2. semua itu pada akhirnya hanya kata2 pngertian yg kita berikan jikalau tak sampai jadi πŸ˜€

    anyway keep moving forward mas…… πŸ™‚

  3. Wuiiiihh… Postingan yg dalem bgt! Aku sampe speechless. Bingung mau nanggepin apa.
    Uhuk… Udah lama mas galih ga bikin postingan kayak gini. πŸ˜›

    Btw, blog ini dibikin versi mobile nya dooonk…
    Biar gampang dikomentari dr BB. πŸ˜› *riwil*

  4. @Eko:
    Semangat mas, semoga diterima. Dan jika sudah diterima, jangan disia-siakan atau disakiti si do’i hehehe…

    @Rafael:
    Dari mata turun ke hati πŸ™‚

    @adji cyntia:
    Tentu saja bukan. Cinta juga harus menerima segala kelebihan, wakakaka :))

    @aRuL:
    Ehm, seperti ilmu makrifat saja, kalau tak tahu rasanya hanya sebatas pengertian saja tahunya πŸ˜€

    @Fenty:
    Yeah, seperti ambil keputusan di pasar modal saja, terlambat sedikit, sudah ditinggalkan, harga sudah melambung tinggi. Tapi kalau terlalu awal, juga bisa salah, bisa jadi harga sahamnya terus jatuh #responnggaknyambung :))

    @Nilla Juminten:
    It’s like the old times rite? Aku lagi kangen nulis yang beginian la’ hahaa…
    Oke, usul diterima :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *