“Planning is Good, but Execution is Mightier”

Event CEO Speaks yang diselenggarakan sekolah saya, Binus Business School, kemarin menghadirkan Managing Director PT General Motors Indonesia, Bpk. Mukiat Sutikno. You know General Motors? Itu lho pemegang merek Chevrolet. Contohnya di jajaran mobil SUV ada Chevrolet Captiva.

Ada banyak pelajaran dan wisdom yang didapatkan dari Pak Mukiat ini. Ia meraih posisi nomor satu di GM Indonesia di usia yang bisa dikatakan masih sangat muda. Salah satu keyword-nya yang terkenal adalah yang saya jadikan judul artikel ini: Planning is good, but execution is mightier. Beliau berpendapat bahwa kita (orang Indonesia) sangat jago membuat rencana, tetapi sangat payah dalam mengeksekusi rencana itu.

Apakah benar? Untuk kasus saya: sangat benar, bapak!

Dalam hal perencanaan keuangan saja misalnya. Ketika saya pertama kali membuat rencana keuangan bulanan saya dengan rapi dengan GNUCash, cukup sulit untuk disiplin, baik mencatat pengeluaran, pemasukan, dan disiplin terhadap budget. Walhasil, setiap bulan selalu saja ada jurnal pada account Gen/Loss untuk membuat penyesuaian besar terhadap transaksi yang lolos pencatatan (well, sounds very much accounting stuffs rite?).

Tetapi buat saya penting untuk mengetahui cash flow bulanan saya. Saya harus tahu kemana saja uang dibelanjakan. Pos-pos apa saja yang membebani cash flow. Misalnya, saya baru tahu kalau pengeluaran rutin di pos transportasi di luar perkiraan. Kalau hanya untuk berkomuter kantor/sekolah sangat sedikit karena memakai sepeda motor, tetapi beberapa bulan terakhir rupanya saya cukup mobile — ada buat tiket kereta api dan airport tax. Nah, kalau ini nggak disiplin dicatat, kondisi-kondisi seperti ini tidak akan ketahuan.

Terus ada lagi, masalah investasi. Sepertinya profesi Financial Planner sedang populer akhir-akhir ini. Sehingga saya pikir semua orang tahu rumus dasar financial planning, kayak berapa persen hutang maksimum, dana darurat, dsb. Tetapi apakah semua orang mempraktikkan nasihat yang baik ini? Belum tentu. Saya baru bisa keluar dari profil investor konvensional ke investor agresif di tahun ini. Padahal saya mulai belajar ilmu tentang pasar modal sudah setahun sebelumnya. Rasanya ada kengganan luar biasa untuk menghadapi risiko investasi.

Jadi kembali ke wisdom, perencanaan itu memang penting, tetapi kita harus kasih perhatian lebih ke eksekusinya, disiplin terhadap perencanaan tersebut. Merdeka!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. saya sudah mencoba mencatat pengeluaran2 saya, selalu saya evaluasi tapi ternyata memang banyak pos2 yg membutuhkan lebih tapi berbeda tiap periodenya.

    tapi terlalu berhati2 juga akan terkesan pelit 😀 yah fifty2 itu yg rada2 susah 😀 hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *