Let the Other Man Loves Her

Posted by: on Apr 29, 2011 | 6 Comments

Setel background music: Air Supply ( I Can Wait Forever)

Ia tampil sangat cantik siang itu. Memakai busana pengantin Jawa berwarna merah hati. Rangkaian melati menghiasi mahkota kepalanya yang dibungkus jilbab. Memakai sandal pengantin khusus yang berhak tinggi, nampaknya agar terlihat lebih serasi dengan sang suami yang berperawakan tinggi. Dua titik keringat meluncur di ujung alisnya yang dilukis lancip. Sesekali ia seka dengan tisu kertas kecil yang ia lipat tergenggam di jemarinya. Senyum tak henti-hentinya mengembang dari wajah manis yang dilabur tebal bedak dan lipstik.

Apa yang bisa kulakukan selain ikut mengulaskan senyum bahagia yang palsu? Melihatnya turun pelaminan — agak kesulitan karena kakinya dibebat kain batik — dan dibimbing oleh sang suami dengan mesra menuju ke dalam rumah, ke kamar pengantin.

Siang itu menjadi begitu terik. Sendirian aku menyusuri jalan pulang. Jalanan berbatu di tanggul sungai itu memiliki banyak cerita. Saat matahari sore menyinari pucuk-pucuk bunga teratai putih. Saat ia berkata lembut, “Aku akan menghindar jika mas menghendaki begitu agar mas tidak lebih terluka.” Seharusnya waktu itu aku meng-iya-kan saja.

Atau tidak. Ia terlalu baik untuk dilupakan begitu saja. Ia terlanjur mewarnai hidupku dengan warna-warna sendu yang melankolis. Ia yang mengajarkan bagaimana cinta itu seharusnya. Ia adalah seorang sahabat, seorang adik, yang selalu perhatian. Bagaimana bisa orang membenci gadis yang seperti ini?

Waktu telah menyembuhkan luka. Waktu pula yang membalut luka. Seperti air mengalir yang membasuh luka dan memberikan rasa nyaman. Karena waktu akan membuat setiap orang berubah. Orang yang aku kenal tahun-tahun itu telah mati ketika aku keluar dari gedung pernikahan dengan sebongkah hati yang terluka.

When you say, I missed the things you do
I just wanna get back close again to you
But for now, the voice is near enough
How I miss you and I miss your love

I can wait forever, if you say you’ll be there too
I can wait forever if you will
I know it’s worth it all, to spend my life alone with you

Mister Nice Guy

Posted by: on Apr 29, 2011 | No Comments

Saya berkali-kali bilang, apa yang saya perlihatkan di dunia internet ini bukanlah saya yang sebenarnya. Di dunia pena, setiap orang bisa menjadi apa yang ia inginkan. Dunia pena adalah dunia balas dendam penulis terhadap kenyataan. Berperan menjadi seorang Mr. Nice Guy, adalah salah satunya. Kira-kira seperti tokoh Miss Wills di novel Three Acts Tragedy-nya Agatha Christie.

Jika saya sering menulis tentang topik agama, bukan berarti otomatis saya menjadi orang yang alim. Siapa yang bisa jamin kalau saya tidak ke Hard Rock atau Blowfish setiap malam? Jika saya menulis tentang pemrograman, dunia manajemen bisnis, tidak berarti saya ahli di bidang itu. Saya ingat ada twit yang bilang, “dibalik setiap kultwit, terbuka sebuah halaman Wikipedia”. Sebaliknya pula, jika status saya sedang nonton film bokep (MILF, Japan AV, dll), mungkin itu lah yang sebenarnya sedang terjadi hehehe…

Mungkin karena mIRC yang membuat saya agak skeptis dengan internet. Awal-awal mengenal chatroom ya IRC, baru kemudian mengenal Yahoo Messenger. Memang seterusnya sampai sekarang saya punya sahabat yang baik dan akrab di internet, tapi tetap saja, trauma masa mIRC sepertinya tidak bisa dihapus. Buat saya itu positif, karena menambahkan kewaspadaan untuk selalu ingat bahwa biar bagaimanapun juga, dunia internet adalah rimba raya yang sangat luas. Tidak semua orang baik terlihat baik, demikian juga tidak semua orang jahat terlihat jahat.

NU atau Muhammadiyah Saja

Posted by: on Apr 27, 2011 | 8 Comments

Hidup di kota besar berarti akses luas terhadap informasi — termasuk tafsir ideologi — khususnya Islam. Contohnya ketika masih mahasiswa baru dulu, saya dikenalkan organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan faham khilafah-nya, lalu ada Salafy, dan beberapa liqo’ lain yang sempat membuat saya terperangah karena cukup berbeda dengan apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya dulu di SD. Salah satu yang paling saya ingat adalah diharamkannya musik.

Mungkin karena memang basis kaderisasi organisasi-organisasi tersebut adalah melalui lingkungan kampus (mahasiswa baru relatif masih belum punya warna), sekarang saya tidak terlalu banyak tahu dan terlibat organisasi tersebut. Yang masih hangat, kata berita NII pun memusatkan kaderisasinya di lingkungan kampus.

Akhir-akhir ini, melalui jejaring sosial, saya banyak mempelajari berbagai macam idelogi dan penafsiran. Salah satu yang cukup berbeda adalah Jamaah Islam Liberal (JIL). Berawal dari kecaman banyak ustadz terhadap JIL, saya juga bertanya, apa iya semua agama itu sama? Wong Tuhan-nya saja beda kok. Pluralisme sosial yes, tetapi pluralisme agama jelas no. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Dari sini saja kalau tidak hati-hati kita bisa terjebak di middle of nowhere. Seperti masuk rimba raya dan semua perangkat penunjuk jalan mati.

Pada akhirnya saya tiba pada kesimpulan, bagi orang awam seperti saya, paling aman itu kembali ke hal-hal yang tradisional saja seperti Nahdlatul Ulama (NU), atau yang lebih “modern”: Muhammadiyah. Karena saya dibesarkan di lingkungan keluarga dan desa yang ustadz-nya lulusan pondok-pondok pesantren NU, saya lebih nyaman menerima nilai-nilai yang diajarkan NU. Dua ormas besar ini sudah terbukti sustainable dan tidak “bermasalah” selama bertahun-tahun.

Konservatif? Kenapa tidak?

Rumah Gadang

Posted by: on Apr 24, 2011 | 4 Comments

FLICKR
Lokasi: Anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM

Sejak ganti ke Nikon D90, saya jarang sekali memakai lesa wide Sigma 10-20 mm. Mungkin karakter kamera? Entahlah, tapi waktu saya masih pegang Nikon D40, bawaannya jalan-jalan melulu, Gunung Gede dan Karimun Jawa adalah mahakarya D40 bersama Sigma ini. Sekarang memakai D90, saya jarang sekali jalan-jalan; malah bawaannya dibawa cari duid mlulu.

Bicara soal TMII sendiri, mungkin sekarang eranya telah lewat, kalah sama Dufan dan Grand Indonesia (dan mal-mal raksasa lainnya). Tetapi bagaimanapun juga TMII adalah icon. Saya bahkan berani menyebutkan bahwa inilah masterpiece era keemasan Bapak Pembangunan, Soeharto. Jika Raja Samaratungga punya Borobudur, Dinasti Sanjaya punya Prambanan, Bung Karno punya Monas dan Tugu Selamat Datang, maka Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto punya Taman Mini.

Rasa “Klik” Itu Tidak Bisa Dipaksakan

Posted by: on Apr 19, 2011 | 8 Comments

Guru-guru yang pernah mengajarkan saya ilmu “Olah Pendekatan” selalu bilang, ciptakanlah rasa “klik” kepada gadis yang sedang saya dekati. Tidak heran, mereka bisa bilang “menciptakan” karena memang mereka adalah pakar-pakar di bidangnya. Mereka adalah player yang berpengalaman bertahun-tahun dengan berbagai macam tipe wanita.

Kalau saya bilang sih, rasa klik, atau rasa nyaman itu tidak bisa diciptakan. Seperti hukum kekekalan energi, saya pikir rasa nyaman itu tumbuh dari sebuah hubungan yang mengalir, bukan dari sebuah hubungan yang dipaksakan atau bahkan direkayasa. Mungkin dari sinilah asal pepatah bertepuk sebelah tangan itu kali ya? Karena rasa nyaman itu tidak bisa dari satu pihak saja. Kalau hanya sepihak yang merasa nyaman dan pihak lain justru merasa risi, klik itu tidak akan terjadi. Yang ada mungkin jadi kejar-kejaran yang melelahkan. A mengejar B, B mengejar C, C lagi bingung, lalu ada D datang mengejar A.

Social media, entah apakah ini kemajuan teknologi atau kegilaan, bisa membuat hal yang tidak mungkin dilakukan sepuluh tahun yang lalu. Saya bisa baru mengenal gadis sehari dua hari, lalu setelah itu bisa ngobrol akrab di Y!M atau BBM bercerita dari hati ke hati seperti sahabat kental yang sudah kenal bertahun-tahun. Saya punya banyak teman baik yang bahkan belum pernah ketemu, tapi sudah akrab seperti saudara saja.

Tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan mimik wajah dan aura bertemu langsung. Kata orang, mata adalah jendela hati. Di dalam social media apapun, tidak pernah ada kontak mata yang kadang-kadang bercerita lebih jujur dari mulut yang manis berbusa-busa. Di dunia teks, selalu ada jeda waktu untuk memikirkan exit run ketika sesuatu terjadi. Di dunia langsung, tetek bengek itu tidak ada. Makanya ada orang yang sangat cerewet di social media, temennya seabrek-abrek, populer, jadi bintang — di dunia nyata bisa jadi seorang yang sangat pendiam, pemalu, memakai kacamata setebal botol dan tidak memiliki teman.

Kembali ke soal pendekatan, saya juga pernah bilang, saya tidak akan pernah menjadi pemenang kalau saya kalah jarak. Kalau ada pesaing yang punya keuntungan lokasi yang sama dengan sang target, menjadi pemenang adalah sesuatu yang too good to be true. Itu sudah saya alami empat tahun yang lalu dan dua tahun yang lalu. Tetapi apapun itu, saya selalu lega kalau saya sudah sempat menyatakan perasaan kepada sang kekasih. Apapun keputusan sang kekasih, itu adalah hak prerogatif wanita sebagai kaum yang memutuskan. Setidaknya ia sudah tahu kalau Galih pernah menaruh hati padanya, dan ia tolak. Mungkin kelak itu akan jadi keputusan yang disesalinya hahaha… *overpede*

Jakarta Raya

Posted by: on Apr 15, 2011 | 4 Comments

FLICKR
Lokasi: Jl. Tol Dalam Kota, Jakarta Barat
Panasonic Lumix F3

Sebuah siang yang terik di kota metropolitan Jakarta Raya. Jembatan layang bertumpuk, gedung pencakar langit, langit yang panas bercampur polusi. Kota yang selalu dibenci dan dicintai warganya. Entah apa sebabnya, meskipun saya sering mencela buruknya infrastruktur publik seperti kemacetan yang mahaparah, tetapi ketika saya di luar kota, acapkali saya sering merindukan terjebak di tengah kemacetan. Benci-benci-benci tapi rindu jua, kata Diana Nasution.

Tentang Album “Shades of Purple”

Posted by: on Apr 12, 2011 | 4 Comments

Teman-teman saya yang cowok sering menertawakan kalau saya punya koleksi lengkap album Shades of Purple-nya M2M. Ya karena memang lagunya girly banget, mungkin mereka merasa aneh kalau lagu-lagu itu ada di rak berkas saya di laptop. Tapi coba sebut satu lagu dari album itu, saya masih hafal benar liriknya: Give a Little Love, Dear Diary, Why, Our Song, dll. Eh, nggak kenal? Lagu yang hits dari album ini memang bukan itu, tapi seperti Don’t Say You Love Me, Mirror Mirror, dan The Day You Went Away. Hahaha…

Selera musik saya emang agak aneh dan tidak seperti orang-orang kebanyakan. Saya tahu detail lagu-lagu everlasting love song tahun 80-an, tapi saya tidak tahu lagu-lagu tahun 2000-an (siapa ikon 2000? Radiohead, Coldplay, to say the list). Saya sering diolok-olok kalau saya sebenarnya lahir sepuluh tahun lebih lama dari tahun kelahiran saya gara-gara saya bisa menyanyikan Lionel Richie dkk. Tapi paling tidak saya tidak tahu lagu-lagunya The Beatles atau Genesis yang benar-benar ikon generasi 70-an

Sebenarnya ini karena waktu SMA, belum zaman iTunes. Kita harus membeli satu album penuh kalau mau punya satu lagu yang disuka. Pilihan lain, tunggu album kompilasi seperti Now (That’s What I Call Music), The Best of bla-bla-bla. Tapi biasanya, lagu-lagunya sudah agak lewat dari peredaran di radio. Waktu itu saya sedang suka The Day You Went Away-nya M2M, jadinya saya beli album Shades of Purple ini. Karena namanya kaset tidak bisa loncat-loncat track lagu, semua lagu di album ini hapal dengan sendirinya.

Beberapa kaset album yang saya beli di waktu sekolah dulu memang membekas sampai sekarang, misalnya Paint My Love the Greatest Hits (MLTR), Deep Cuts (Mr. Big), Shades of Purple (M2M), Bintang Lima, Cintailah Cinta (Dewa), The Corrs Unplugged (The Corrs), dll.

Switch to our mobile site