Maya Hasan 2011
FLICKR
Lokasi: Java Jazz Festival 2011, Arena PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm
Saya “bertemu” Maya Hasan lagi, ratu pemetik harpa Indonesia, di festival yang sama, Java Jazz Festival. Meskipun tidak tampil solo, tetapi ia tampil dengan harpa lengkap yang besar untuk mengiringi Elfa’s Singer bernyanyi di panggung Tribute to Elfa Secioria and his legacy. Sayang foto-foto Kahitna dan Elfa’s Singer tidak ada yang sukses — semuanya kabur.
Sekadar bernostalgia, ini foto tahun lalu, di artikel yang ini.
Yovie Widianto @ Java Jazz Festival 2011
FLICKR
Lokasi: Java Jazz Festival 2011, Arena PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105mm VR
Yovie Widianto mungkin salah satu dari sedikit pianis/keyboardis yang sangat populer. Setelah dengan Kahitna, ia membuat band anak-anak muda dalam payung Yovie and the Nuno juga tak kalah populernya. Biasanya, musisi-musisi itu memakai keyboard Roland kalau lagi beraksi di atas panggung, tapi nampaknya, Yovie adalah brand ambassador dari Yamaha Motif, sebuah sintetiser yang saya dulu pernah naksir pengen punya, hehe…
Titi DJ @ Java Jazz Festival 2011
FLICKR
Lokasi: Java Jazz Festival, Arena PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Titi DJ tampil di panggung Tribute to Elfa Secioria and his legacy yang dihadiri hampir semua pengunjung yang memadati hall D2 Axis. Panggung ini menampilkan karya-karya idealis komposer almarhum Elfa. Ada banyak artis terkenal “didikan” Elfa yang mengisi acara ini. Titi DJ salah satunya.
Foto ini mungkin akan menghiasi daftar 10 foto terbaik saya di 2011. Di sini saya merasakan dukanya jadi wartawan media karena saya tidak kebagian tempat duduk di depan (luar biasa orang berebut kursi depan). Akhirnya saya mlipir-mlipir ikut fotografer media dan beberapa penghobi fotografi jongkok di pagar dekat panggung. Beberapa kali diusir penjaga panggung yang bertampang sangar. Dasar bandel, tak sampai penjaga menghilang, kami balik lagi ke tempat semula.
Saya tidak terlalu menikmati pergelarannya, toh juga lagu-lagunya sedikit sekali yang hits. Saya memilih fokus memotret dan… ini salah satu yang akan selalu saya nikmati sampai waktu-waktu mendatang.
Duta Sekolah
Itu adalah sebutan yang diberikan rekan kerja kepada saya. Hehehe, saya memang paling getol mendorong kawan-kawan saya untuk melanjutkan sekolah. Saya adalah orang yang percaya pada pentingnya pendidikan formal. Bukan apa-apa, saya telah merasakan langsung dampak positif keputusan saya melanjutkan ke jenjang S2 setahun yang lalu. Dampak karier? Oh, bukan. Sesuatu yang menurut saya lebih berharga daripada sekedar naik gaji dan perbaikan karier.
Jika ada orang yang bilang materi-materi di kuliah formal sedikit sekali yang dipakai di lapangan, maka saya akan mempertanyakan keseriusan dia waktu kuliah dulu. Ia pasti tidak mengerti intisari, maksud, roh, jiwa *halah* dari setiap perkuliahan yang diajarkan. Secara textbook tentu saja memang sedikit sekali yang dipakai, tetapi jiwa dan filosofi yang mengendap menjadi pola pikir, itulah yang dipakai setiap hari!
Saya pernah menulis, bahwa pola pikir lulusan D3, S1, dan S2 itu berbeda dalam menghadapi sebuah permasalahan. Maafkan saya, saya tidak bermaksud membuat anda tersinggung. Seorang diploma akan menyelesaikan masalah dengan praktis dan cepat. Produk jadi, dan ia boleh berbangga dengan karyanya. Seorang sarjana akan melihat dengan lebih analitis. Ia akan berpikir bagaimana menyelesaikan masalah secara efisien, berdampak besar.
Tetapi seorang lulusan pasca sarjana akan melihat masalah itu lebih luas. Ia akan menganalisis apa akar masalah tersebut. Alih-alih menyelesaikan masalah itu, ia malah menunjukkan masalah lain yang lebih besar, yang mungkin penyelesaiannya sangat lain sekali. Tetapi ia dapat menjamin bahwa dengan menyelesaikan akar permasalahan, masalah-masalah yang timbul bisa terselesaikan sendiri.
Mumpung Masih ada Kesempatan
Kawan saya tersebut bilang, biaya yang mahal adalah salah satu masalah. Uangnya telah dialokasikan buat biaya menikah (padahal calonnya aja belum ada — upss). Saya bilang, sebuah niat baik, akan selalu diberkati oleh Tuhan. Saya dulu juga khawatir bahwa saya akan hidup kekurangan karena sebagian alokasi penghasilan saya pakai buat sekolah. Tetapi ternyata Tuhan memberikan rezeki yang membuat saya tetap hidup apa adanya sambil bersekolah.
Menurut saya, ada hal yang jauh lebih kritis ketimbang masalah finansial: motivasi, waktu, dan kesempatan. Uang masih bisa dicari. Tetapi siapa yang bisa menghentikan waktu? Ketika motivasi untuk belajar telah hilang, apa lagi yang mau dicari?
Makanya saya selalu berkata: mumpung keinginan untuk sekolah lagi masih menyala-nyala. Mumpung waktu masih mengizinkan kita untuk memiliki malam-malam penuh dengan suasana akademis. Mumpung perusahaan tempat kita bekerja mendukung dan memfasilitasi penuh bagi yang sedang bersekolah: memberikan dispensasi khusus ketika ujian, diperbolehkan untuk tidak lembur meskipun dikejar deadline, dst…
Karena, ada banyak orang yang punya uang tetapi tidak lagi merasa perlu untuk belajar lagi. Ada orang yang punya banyak uang tetapi tak punya waktu lagi, karena waktunya telah habis untuk kantor dan keluarga. Dan tentu saja, ada lebih banyak lagi yang tidak punya uang dan tidak punya motivasi, hahaha…
Besekolah formal itu berat. Apalagi jika waktu telah semakin tipis. Waktu anda akan habis, anda akan pulang sekolah pukul 10 malam, dan kehilangan weekend anda yang mengasyikkan. Selama dua tahun! Tetapi saya sendiri selalu suka tantangan, karena sesuatu yang berat untuk diperjuangkan itu selalu berbuah manis. Insya Allah…
30th Anniversary Bina Nusantara
FLICKR
Lokasi: Central Park Ballroom, Jakarta Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Tanggal 27 Februari, saya menghadiri malam perayaan hari jadi ke-30 Universitas Bina Nusantara. Saya mendapatkan undangan gratis dari pihak kampus. Meskipun keesokan harinya adalah hari pertama ujian, namun saya ingin menyaksikan bagaimana Binus menyelenggarakan acara ultahnya. Karena, meskipun saya bersekolah bisnis di sini, namun saya merasa tidak menjadi bagian dari Binus, kultur dan warna jati diri saya telah dibentuk oleh kultur khas ITS.
Pemilihan tempatnya pun menurut penafsiran saya sangat terukur: Central Park Ballroom. Mal terluas di Podomoro City, sebelah mal Taman Anggrek. Ini analoginya seperti Galaxy Mal di Surabaya. Semoga Anda mengerti maksud saya.
Anyway, ini adalah universitas yang sangat tahu bagaimana membentuk citra. Perayaan ulang tahunnya diselenggarakan dengan cukup mewah, sesuai dengan citra yang ingin dibentuk. Nampaknya Binus sangat sadar, untuk menjadi kompetitif, ia harus terus menerus membangun citra. Saya jadi membandingkan dengan universitas-universitas negeri. Mungkin karena dijamin mendapatkan input calon mahasiswa terbaik dari SNMPTN yang akan menjamin kualitas, mereka jadi agak kurang agresif dalam membangun citra.
Berikut adalah mini photo essay-nya:
Saxophone soprano alto dan flute, salah satu penampilan dari Binus International School di Simprug. Saya tidak tahu berapa biaya masuk ke sekolah ini, tapi melihat apa yang ditampilkan di sini, terbayang lah, mungkin berkali-kali lipat gaji saya sebulan.
Mereka menyebutnya: Binus Orchestra. Tapi menurut saya, ini masih dalam kategori ansamble. Biarpun begitu, saya menganggapnya luar biasa karena alat musik gesek adalah alat musik yang paling sulit dipelajari.
Anak-anak sekecil ini sudah jago memainkan nada-nada pentatonis dengan piano. Saya tertarik dengan piano yang dipakai, nampaknya Yamaha Clavinova CVP series.
Antara Cost Averaging dan Cut Loss
Dalam berdagang di pasar modal, selalu ada dua sisi psikologis yang bertempur: ketakutan dan keserakahan. Ketika indeks sedang turun, kita takut bahwa indeks akan terus jatuh. Bayang-bayang kejatuhan BEI tahun 1998, dan efek domino dari kejatuhan bursa Wallstreet di 2008 menghantui. Sebaliknya, ketika indeks naik, kita menginginkan indeks terus naik lagi supaya mendapatkan capital gain yang lebih besar. Padahal, segera setelah indeks naik, aksi profit taking menyusul sehingga indeks kembali tenggelam.
Pada akhirnya, tidak ada yang kita lakukan karena ditekan dua sisi psikologis yang berlawanan bagaikan setan dan malaikat. Ketakutan dan keserakahan yang berlebihan membuat kita tidak akan kemana-mana. Musuh terbesar dalam berinvestasi bukanlah pasar, inflasi, gejolak ekonomi, akan tetapi diri sendiri. Butuh energi yang besar untuk memulai. Butuh keberanian untuk mengambil risiko. Sebuah perbedaan besar antara mengerti lalu merencanakan investasi dengan melaksanakan rencana investasi tersebut.
Nah, psikologi trader dalam menghadapi kondisi indeks yang sedang jatuh adalah dengan cut loss. Menjual rugi. Ia membeli di harga tertentu (yang ia pikir cukup rendah), tetapi ternyata harga terus meluncur jatuh. Kemudian ia melakukan penjualan di harga lebih rendah untuk mencegah kerugian yang lebih besar (cut loss). Lalu ia bisa menunggu sampai harga kembali naik untuk mengambil posisi di sana. Atau mereposisi ke saham lain yang sudah mulai merangkak naik.
Psikologi investor tidak pernah mengenal istilah cut loss. Wajar, karena memang tujuannya untuk jangka panjang, gejolak pasar hanyalah noise belaka. Pergerakan secara jangka panjang lebih tercermin dari kinerja perusahaan itu sendiri.
Ketika indeks turun bahkan ambruk, alih-alih melakukan cut loss dan keluar pasar, investor justru masuk pasar. Katanya sedang sale, harga-harga sedang didiskon. Cost averaging adalah, Anda membeli saham di 1000. Kemudian harga jatuh di harga 500. Anda beli satu lagi. Jadi, Anda punya dua dengan harga rata-rata 750. Ketika harga kembali naik, untuk mencapai balik modal, Anda hanya perlu sampai di harga 750 saja. Ketika harga kembali di 1000, Anda bahkan sudah untung.
Namun demikian, cost averaging memerlukan modal yang besar karena Anda harus terus-menerus menyuntikkan dana ketika indeks terus jatuh untuk mendapatkan harga rata-rata yang rendah. Cost averaging juga membutuhkan mental baja, karena bisa saja saham yang Anda suntik dananya takkan pernah kembali, atau bahkan setelah itu dihentikan perdagangannya oleh BEI. Risiko selalu ada. Risiko selalu membayangi dalam investasi.
Cost averaging dengan mental investor juga tidak membutuhkan analisis teknikal (baca: memelototi chart dan berbagai macam indikator) yang terlalu rumit. Saya masih tidak terlalu percaya bahwa analisis teknikal bisa digunakan dengan akurat sehingga saya bisa dengan percaya diri untuk melakukan cut loss. Saya masih percaya paham bahwa harga pasar mengikuti hukum random walk. Apalagi di pasar Indonesia, hehehehe…
Comments