Akhirnya Menyerah!

Posted by: on Feb 10, 2011 | One Comment

Seperti laju indeks bursa yang terus menurun akhir-akhir ini, akhirnya saya menyerah juga, ambruk. Awalnya gara-gara makan martabak pisang cokelat yang terlalu banyak misis cokelatnya, hari Sabtu sebelum tahun baru Imlek, tenggorokan saya agak terganggu, serik. Tapi saya tak terlalu pedulikan itu, weekend itu saya masih bisa mengerjakan bab dua tugas paper Corporate Finance tentang analisis laporan keuangan perusahaan publik, dan menyelesaikan komposisi Beethoven, Sonata op. 13 Pathetique (setelah enam bulan).

Minggu yang sangat sibuk menyambut. Saya mengabaikan pesan SMS yang bilang supaya jaga kondisi dan kesehatan. Hari Kamis, dimana malam harinya saya sudah membersihkan kamera untuk persiapan hunting hari raya Imlek, pagi harinya saya demam meriang-meriang, ambruk lagi. Memaksakan diri buat istirahat total. Dasar saya ini paling bosan kalau nggak bisa ngerjain apa-apa, sekali-sekali saya baca partiturnya Reverie on F Major, komposisi klasik karya Claude A Debussy.

Saya selalu berpikir kalau orang sudah terkena flu maka dia akan kebal flu sampai sembuh total. Ternyata tidak. Hari Senin, malam itu tidak ada jadwal kuliah, seperti biasa saya pulang sekitar jam delapan malam – sempat kehujanan. Cuma sebentar sih, tetapi di hari Selasa saya bekerja dan kuliah sampai jam 10 malam. Maka hari Rabu kemarin, ambruk lagi. Saya terpaksa tidak mengikuti perkuliahan Marketing Management.

Obat flu yang terbaik mungkin memang istirahat total kali ya. Sepertinya sudah lama saya tidak tidur di bawah jam 9 malam, he he he… Empat belas jam berikutnya, sudah siap kembali dengan baterai 75%!

We’re all Alone

Posted by: on Feb 10, 2011 | No Comments

Outside the rain begins, and it may never end
So cry no more, on the shore of dreams
We’re all alone, we’re all alone

Close the window calm the light
And it will be allright
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Learn how to pretend

Gara-gara lagunya Boz Scaggs ini, saya jadi ingin mengenang masa sekitar lima tahunan yang lalu, waktu hidup begitu berwarna. Halah. Melodramatis dan realistis itu bisa dipisahkan kok, jadi ini posting murni hanya kenangan saja.

Adalah seseorang yang sanggup membuat seorang pria merelakan diri untuk menjadi pahlawan baginya. Atau setidaknya merasa menjadi pahlawan baginya. Mungkin karena pria itu butuh pengakuan ya, ia sanggup membuat seorang pria menjadi begitu romantis melodramatis melankolis, bahkan David Foster atau Boz Scaggs yang jago bikin lagu-lagu romantis begitu lewat.

Adalah seseorang yang hidup dalam angan-angan dan mimpi seorang pria. Seseorang yang sanggup membuat seorang pria menjadi seorang ksatria berkuda putih yang akan menyelamatkan dari penculikan raja jahat di negeri awang-awang di atas awan (yaa ini dari liriknya Peter Cetera, Glory of Love).

Adalah seseorang yang dengan sederhana mampu membuat pria merasa nyaman berada di dekatnya. Menginginkan waktu berhenti berdetak. Memohon supaya matahari berhenti saja. Meminta masa depan sampailah di sini saja tak usah kemana-mana. Tak ada yang lebih orang butuhkan daripada bisa hidup bersama-samanya selama-lamanya.

Kini, hal itu memang merupakan kemewahan yang sudah tak bisa dinikmati lagi. Realita terkadang lebih kejam daripada angan-angan. Sang putri lebih berbahagia menikahi “raja jahat” ketimbang ikut dilarikan sang kstaria ke negeri awang-awang di atas awan.

Hidup dalam bayang-bayang impian memang indah, tetapi hidup dalam kenyataan yang tak selalu indah adalah sesuatu yang harus dilalui. Hingga mungkin pada akhirnya nanti, kenyataan yang akan jauh lebih indah daripada hidup dalam bayang-bayang.

Outside the rain begins, and it may never end
So cry no more, on the shore of dreams
We’re all alone, we’re all alone…

Pasar Modal, Investasi Atau Spekulasi?

Posted by: on Feb 6, 2011 | 2 Comments

Pasar Modal menurut saya adalah bahasan yang menarik; suatu ranah dan pengalaman baru bagi saya. Menarik untuk dicermati bahwa pasar modal Indonesia (Bursa Efek Indonesia) sebagian besar dikuasai oleh modal asing. Investor asing adalah penggerak indeks bursa. Ini menunjukkan bahwa pasar modal belum begitu tersosialisasi dengan baik di negerinya sendiri.

Memang pasar modal memang masih banyak mendatangkan pertanyaan, buat saya sendiri, kejelasan tentang investasi di pasar modal masih menjadi pertanyaan. Investor pasar modal bisa dikategorikan investor apa memang spekulan (short time trader)? Dimana batas suatu entitas dikatakan investor atau spekulan?

Dalam pasar modal ada dua jenis, yaitu pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer adalah ketika perusahaan mengeluarkan penawaran saham perdana (IPO — Initial Public Offering) atau ketika rights issue. Di sini hanya investor besar/institusional yang boleh membeli langsung dari pasar saham perdana. Sedangkan pasar sekunder adalah ketika saham diperjualbelikan oleh antar pemilik saham, termasuk diantaranya investor individual. Dana yang berputar di pasar sekunder tidak pernah ada hubungannya dengan operasi perusahaan (kecuali jika perusahaan tsb ikut bermain saham di pasar sekunder).

Ada 2 imbal hasil saham: yaitu dividen dan capital gain (perbedaan harga saat membeli dan menjual saham). Dividen dibagikan suka-suka oleh manajemen perusahaan: bisa dibagi, bisa pula tidak sama sekali. Dan jumlahnya kecil sekali karena terdilusi (dilluted shares) oleh jumlah saham (outstanding shares) yang sangat banyak. Bisa dikatakan, dividen adalah imbal hasil investasi sebenar-benarnya.

Bagaimana dengan capital gain? Dalam segi ekstrim, capital gain mungkin tidak bisa disebut investasi. Capital gain adalah harapan akan harga naik ketika menjual. Seberapa lama, tergantung trader itu sendiri. Tidak perduli berapa lama saham dipegang, karena dana Anda tidak akan pernah dipakai langsung oleh perusahaan dalam menjalankan usaha. Dan kita sebagai investor individual memang tidak pernah bisa membeli langsung dari pasar IPO. Jadi tergantung definisi investasi itu sendiri. Apakah capital gain termasuk investasi? Bukankah instrumen emas batangan imbal hasilnya juga dari capital gain? Well, itu terserah Anda.

Saya memang tidak menduga kalau saya “terseret” menjadi trader begitu cepat. Hanya 14 hari sejak saya membeli saham KLBF dan disusul beberapa saham blue chips. Saya melakukan panic selling saham BMRI karena kabar rights issue, sehingga saya merealisasikan keuntungan 10% — hanya dalam 10 hari, waktu harga saham dikerek spekulan. Tapi saya juga melakukan kesalahan membeli SMGR ketika harga sudah tinggi, sehingga nyangkut merah selama beberapa hari.

Saya merasa excited karena pasar modal membawa banyak pelajaran baru buat saya:

  • Saya harus rapi memotret kondisi keuangan saya (aset, cashflow, hutang) sehingga saya tahu betul berapa dana yang bisa saya pakai buat belajar di pasar modal
  • Saya lebih mengerti konsep-konsep Financial Analysis, analisis fundamental banyak perusahaan, analisis teknikal, belajar manajemen risiko langsung di lapangan; semuanya adalah praktik lapangan dari ilmu yang saya pelajari di kelas
  • Menyadari bahwa emosi itu nyata. Pertempuran keserakahan dan ketakutan itu nyata dan sangat manusiawi. Mempelajari psikologi ini saya anggap penting untuk menghadapi kondisi yang lebih berat daripada sekadar “melihat potensi kerugian/keuntungan saham yang ditanamkan (unrealized gain/loss)”

Hukumnya?

Pasar modal ternyata jauh lebih rumit daripada apa yang tampak dari luar. Bukan hak saya menjustifikasi hukum transaksi pasar modal; biar bagaimanapun juga, ini adalah salah satu faktor penggerak ekonomi secara makro. Logika sederhana saya bilang bahwa pasar modal diperbolehkan karena di sini ada Jakarta Islamic Index, saham-saham yang dinyatakan syariah oleh Dewan Syariah Nasional.

Saya telah membaca banyak artikel mengenai transaksi saham syariah — salah satu yang cukup menyenangkan bahwa ada ulama yang berpendapat kalau trading diperbolehkan dalam batas-batas tertentu. Hal yang jelas-jelas dilarang misalnya: short selling (menjual saham yang belum pernah dimiliki), menggunakan margin trading, menggunakan hutang sebagai modal (leveraging), dll.

Apakah saya mungkin akan berubah pendapat? Sangat mungkin. Sekarang, saya masih dalam pencarian jati diri di pasar modal, masa-masa puber lah. Saya masih mencari pola yang sesuai, apakah short trading memang lebih menguntungkan daripada long buying? Apakah cost averaging lebih manjur ketimbang market timing? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang saya cari jawabannya lewat eksperimen, terjun langsung dalam hiruk pikuk dunia pasar modal.

Switch to our mobile site