Life Begins at 50

Posted by: on Feb 27, 2011 | 4 Comments

FLICKR
Lokasi: Bundaran HI, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro APO

Lihatlah gadgetnya: Nokia E71 (atau semacam E series lah), helm sepeda model sport, dan earphone dari iPod yang menemani bersepeda sehatnya. Meminjam tagar #LBat50 punya Paman Tyo yang ultah kemarin, ini adalah salah satu contoh nyata bahwa hidup seorang pria baru akan dimulai di usia lima puluh.

Menengok Kinerja Awal IHSG dan Reksadana Saham

Posted by: on Feb 22, 2011 | 2 Comments

Seperti yang pernah saya tulis, salah satu instrumen investasi yang paling agresif adalah pasar modal dan saudara dekatnya: reksadana saham. Karena sifatnya high risk high return maka tentu saja risiko untuk nilai investasi turun juga besar. Meskipun sebenarnya tujuannya adalah jangka panjang, namun saya akan meninjau kinerja dua instrumen ini selama awal tahun 2011 ini. Untuk pasar modal saya akan menengok kinerja IHSG dan untuk reksadana saham saya akan menengok produk RD Panin Dana Maksima. Kenapa PDM, karena kawan saya Daniel memilih untuk investasi di sini.

IHSG

Well, Kinerja IHSG di tahun 2010 sangat impresif. Ia memulai tahun 2010 di titik 2533 dan finish di Desember 2010 dengan harga 3700-an. Jadi kinerjanya sekitar 32%. Artinya portofolio Anda akan telah berkembang sekitar 32% selama tahun 2010.

Namun demikian, nampaknya indeks 3700 dianggap terlalu tinggi untuk memulai tahun 2011. Dengan berbagai sentimen negatif yang ada, indeks terus ambruk hingga di posisi 3400-an. Atau kinerjanya turun sekitar 7%. Artinya, modal yang Anda masukkan di awal tahun akan berkurang alias mungkret sebanyak 7%.

Reksa Dana Saham

Bagaimana kinerja RD Saham? Berinvestasi di reksa dana artinya menyerahkan semua dana kita untuk dikelola seorang manajer investasi. Manajer investasi yang baik adalah yang bisa mengalahkan kinerja IHSG; minimal sama. Tentu saja, karena manajer investasi akan membuat portofolionya dengan sangat cermat: mengeliminasi perusahaan-perusahaan yang berkinerja buruk, mereposisi portofolio ketika dirasa tidak efisien lagi, dan seterusnya. Ambil contoh RD Panin Dana Maksima, di awal tahun 2011 ini kinerjanya minus 4%. Masih mengalahkan kinerja IHSG.

Trading

Di awal tahun, saya memilih untuk mengelola portofolio sendiri ketimbang memasrahkannya ke manajer investasi. Hasilnya, dengan memanfaatkan fluktuasi saham, portofolio saya sementara ini positif 5%.

Mengapa? Selain faktor keberuntungan, faktor modal kecil adalah salah satu faktor. Semakin besar portofolio Anda, maka akan semakin susah melakukan diversifikasi portofolio. Hasilnya, portofolio Anda akan semakin mendekati kinerja IHSG. Itu teori yang saya dapatkan di kelas Corporate Finance pada pembahasan Risk Management. Dengan jumlah modal kecil, saya bisa melompat-lompat. Masuk ketika harga rendah dan keluar di harga tinggi. Tunggu lima sampai sepuluh hari, akan ada saham yang sedang turun dan saya akan masuk di sana.

Cuma memang dari segi usaha dan pengetahuan yang diperlukan, melakukan trading di pasar saham lebih menyita waktu dan pikiran ketimbang hanya berinvestasi di pasar modal — menyusun portofolio di awal tahun berdasarkan analisis fundamental dan meninjaunya kembali di akhir tahun. Hasilnya pun belum bisa terjamin. Ini masih putaran awal, semua teori yang saya bangun masih akan saya perbaiki dan akan dibuktikan ketika 2011 selesai dan saya akan selalu penasaran saya akan finish di level berapa.

Serius

Posted by: on Feb 20, 2011 | 2 Comments

FLICKR
Lokasi: Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Mereka adalah para “pemain cadangan” yang sedang menyaksikan kawan-kawannya sedang menyusun serangan ke gawang lawan. Saya selalu suka ekspresi anak-anak. Ini saya potret di hari Minggu pagi di lapangan di tepi kebun tebu yang rimbun, di perjalanan Tulungagung – Malang. Hiburan yang menarik pas sarapan di tengah perjalanan.

Sweet Corn

Posted by: on Feb 20, 2011 | No Comments

FLICKR
Lokasi: Jatim Park, Kota Batu Malang
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Penampakan yang menarik, di tengah hembusan angin sore kota Batu yang dingin (meskipun tidak lagi menggigit seperti dulu). Asap mengepul, jagung yang nampaknya masih segar, hangat, dan tentu saja manis rasanya.

Change or Die!

Posted by: on Feb 19, 2011 | 7 Comments

Bahkan ketika blog masih di puncak tren dan waktu itu banyak selebblog yang menulis topik spesifik (niche), saya berkata bahwa saya takkan mampu menulis blog dalam topik tunggal yang sedikit. Dan sekarang ketika banyak orang memilih menulis dalam kultwit berseri yang singkat-singkat, blog spesifik pun telah banyak yang tumbang. Sedangkan saya; meskipun saya kadang-kadang juga menulis twit berseri, saya sudah terlanjur cinta ngeblog. Saya sudah merasakan dampak positif menulis secara rutin seperti ini.

Saya orangnya memang moody, agak rakus dengan ilmu pengetahuan, dan gampang pamer. Jadi saya menulis apa yang sedang saya sukai. Ketika ada sedikit saja sesuatu yang membekas, saya buru-buru menuliskannya di blog. Sok sharing, padahal pamer. Hanya dengan cara inilah saya tetap bisa memiliki energi untuk menulis di blog. Kata “kesibukan” yang sering menjadi momok para blogger tidak pernah mengganggu saya. Saya sibuk. Saya selalu sangat sibuk. Tetapi menulis blog adalah hal lain, ketika gairah itu tiba-tiba muncul, saya akan menyampingkan kesibukan saya sebentar dan menyisihkan lima belas hingga dua puluh menit berikutnya untuk menulis.

Karena itulah, topik utama blog ini selalu berganti. Ketika saya memuja seorang wanita, saya menulis curhat untuknya. Saya tulis puisi hanya untuknya. Ketika saya ingin mengenangnya sebagai seorang yang khusus yang pernah hadir dalam hidup saya — yang mungkin takkan pernah ada lagi yang seperti itu — saya tulis kenangan untuknya.

Ketika saya sedang suka fotografi, saya pamerkan foto-foto saya. Saya tulis teknik-teknik yang baru saja pelajari. Saya menuliskan betapa asyiknya bisa mengantisipasi suatu momen, meramalkan kejadian, dan menangkapnya dalam bingkai warna-warni cahaya yang cantik. Sampai sekarang saya masih suka memotret, meskipun mungkin tidak segila tahun-tahun lalu.

Nah, Pak SeaGate di postingan ini menyadari kalau ada perubahan lagi. Memang saya menambahkan satu kategori postingan lagi di situ. Saya sedang suka mengamati gerak-gerik pasar modal. Tulisan saya nyaris seperti tulisan analis pasar modal yang setiap harinya memelototi chart. Padahal saya masih beberapa hari saja di situ. Kata saya, saya melakukan entry dan exit berdasarkan analisis yang rumit, padahal kenyataannya, mungkin tak lebih dari spekulasi untung-untungan saja.

Tapi begitulah, kalau saya menunggu saya menjadi kompeten di suatu bidang untuk memulai menulis, saya takkan pernah menulis. Nyatanya, saya sekarang hampir tidak pernah menulis lagi tentang dunia pemrograman. Padahal bisa dikatakan, dari semua bidang yang saya tulis di sini, saya paling kompeten di bidang IT programming. Tapi ya itu tadi, gairah untuk menulis nyaris tidak ada. Dengan kompetensi tersebut, saya jadi lebih berhati-hati dalam menulis, menyusun tulisan di atas fakta-fakta ilmiah. Ujung-ujungnya, menulis jadi lebih susah dan lebih berat. Akhirnya, tak jadi menulis, hehehe…

Analisis Teknikal, Relevankah?

Posted by: on Feb 18, 2011 | No Comments

Sejak terjun di pasar modal, saya jadi sering mengikuti berita-berita Ekonomi dan Keuangan untuk mengetahui update terbaru mengenai rumor-rumor yang berhubungan dengan indeks. Saya mengikuti account Twitter @detikfinance, @kontanInvestasi, dan @bisniscom. Setiap pagi, salah satu bacaan yang menarik adalah ulasan para analis tentang ramalan gerak indeks hari ini.

Ramalan indeks nampaknya memang seperti ramalan cuaca, kadang-kadang betul, tapi lebih sering melesetnya. Saya tahu para analis pasar modal mengandalkan analisis teknikal dalam meramal apa yang akan terjadi hari ini. Seperti misalnya hari ini, beberapa analis mengatakan indeks akan bergerak campuran dengan kecenderungan melemah (bearish). Apa yang terjadi? Semua sektor menghijau hingga IHSG kembali menyentuh 3500. Jadi, seberapa relevan hasil analisis teknikal?

Tentu saja naif kalau saya menganggap analisis teknikal bisa menebak apa yang akan terjadi dengan akurat — secanggih apapun metode analisisnya. Tapi seberapa akurat analisis teknikal dapat dijadikan acuan dan pegangan dalam berseluncur di hiruk pikuk pasar modal? Apalagi, pasar modal Indonesia masih sangat dikuasai modal asing. Mereka lah penggerak indeks. Jika investor (oke, saya bilang spekulan) asing ingin indeks jatuh, maka jatuhlah. Kalau ingin naik, ya naiklah, tak peduli indikator teknikal menunjukkan apa. Makanya, mereka itu sering dijuluki dengan istilah “bandar”.  Jangan-jangan, pasar modal Indonesia juga sama seperti pasar — dalam terminologi Marketing – konvensional Indonesia. Sama-sama unik, metode biasa tidak bisa dipakai di sini.

Pada akhirnya, analisis teknikal sebaiknya hanya dijadikan referensi dalam rencana perdagangan (trading plan). Menariknya, tentu saja trading plan masing-masing pelaku pasar modal berbeda. Seberapa akuratnya tergantung keahlian dan keberuntungan masing-masing pelaku.

Saya juga sedang mengeksplorasi berbagai macam metode untuk menyempurnakan trading plan di Excel saya (lebih tepatnya OpenOffice Calc sih). Saya melakukan beberapa proyeksi rencana yang kebenarannya akan dibuktikan pada saat tahun 2011 berakhir. Sangat mungkin saya akan mengupdate tulisan ini, tentang analisis teknikal, beberapa waktu mendatang ketika ada ilmu baru lagi.

PS: Dan dengan ini saya menarik diri bahwa saya sedang berinvestasi di pasar modal. Saya trader! Saya spekulan!

Twitter for

Posted by: on Feb 11, 2011 | 4 Comments

Perkembangan social media dan smartphone adalah hubungan mutualisme. Sebagaimana biasa, sebagian besar ‘early adopter’ adalah untuk lifestyle. Dulu, ponsel Nokia berfitur 3G jamak dipakai orang, padahal tak satupun operator yang punya layanan 3G. Sekarang, demikian pula buat iPhone, Blackberry, dan handset-handset pintar lainnya. Ah, ini sudah umum, bukan gadget yang bisa dijadikan pembeda. Makanya munculah tablet macam iPad, Galaxy Tab, dan Playbook.

Nampaknya ini dimanfaatkan betul oleh pembuat aplikasi mobile untuk social media. Apakah Anda tidak merasa berbeda ketika status Anda bertuliskan “Facebook for Blackberry”, via “UberTwitter”, “Twitter for iPhone”, dll. Anda akan segera di-diferensi-asikan bahwa Anda adalah salah satu pemegang handset pintar nan canggih berharga mahal (mungkin seharga gaji Anda sebulan). Ah, naif? Kalau bukan ini tujuannya, kenapa tidak ditulis saja “via Mobile”?

Psikologi ini penting, apalagi untuk pasar yang unik seperti Indonesia. Smartphone adalah bagian dari kelas sosial dan kepribadian. Kenapa Anda memilih BB Torch dan bukan Gemini? Kenapa iPhone 4 bukan iPhone 3G saja? Dan kenapa Galaxy S bukan Nexiandroid saja? Anda akan punya 1000 jawaban justifikasi, tapi mungkin karena kelas sosial adalah jawaban beberapa orang.

Android

Well, Android sedang menemukan momentumnya sekarang. Dukungan yang sangat luas membuat OS bikinan Google ini kian populer. Bahkan brand Android telah memiliki kepribadiannya sendiri. Android dicitrakan sebagai muda, enerjik, kreatif, dan suka ngoprek. Bandingkan Blackberry yang powerful di email (dipakai bapak-bapak VP berusia 45 tahun ke atas untuk bekerja), Android mengizinkan penggunanya untuk ngoprek OSnya — gonta-ganti versi dari Eclair ke Froyo, atau dari Gingerbread balik lagi ke Eclair.

Balik lagi ke soal diferensiasi dalam social media, saya pikir brand “Android” terlalu generic untuk dijadikan kelas sosial. Belum cukup spesifik. Orang tidak akan tahu gadget sang pengguna hanya dengan tulisan “Twitter for Android”. Nexian dan Galaxy Tab akan sama saja.

Jadi saya pikir, perlu ada aplikasi yang spesifik di setiap mesin. Misalnya “Twitter for GalaxyTab” ketimbang “Twitter for Android”. Lebih berkelas hehehe…

#sentFromMobile #edisiJempolGempor

Switch to our mobile site