Fixie, Rebranding dan Tren Baru

FLICKR
Lokasi: Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm APO Macro

Euforia bersepeda sebagai gaya hidup sehat rupanya belum mencapai puncaknya di Jakarta. Ketika pada awalnya gaya hidup ini seperti dimonopoli kaum elit dengan sepeda-sepeda mountain bike yang harganya mendekati harga sebuah mobil baru, kini gaya hidup bersepeda semakin merambah kelas masyarakat yang lebih luas dengan semakin populernya Fixie.

Jika Anda pernah mendengar sepeda Doltrap, maka tentu yang ada di kepala adalah sebuah sepeda tanpa pedal rem karena giginya memiliki mekanisme unik yang digunakan untuk mengerem. Dan Doltrap adalah sepeda soo yesterday — jadul dan tidak gaul, dipakai bapak-bapak pensiunan pegawai negeri atau abang penjual es campur keliling.

Namun sejatinya Fixie adalah re-branding yang sukses dari Doltrap. Fixie mulai hadir di pertengahan tahun 2010 dengan ide gila dan terkesan norak. Fixie hadir melawan kemapanan sepeda-sepeda mahal yang memiliki gigi kecepatan sampai 12 dengan teknologi yang rumit. Fixie hadir dengan single speed dengan keunikan Doltrap. Warna yang sangat mencolok dan sering sengaja ditabrakkan adalah ciri khas lain. Velg berwarna hijau menyala dikombinasikan dengan hiasan mata kucing oranye menyala — dan yang menaiki adalah pemuda besar berkulit hitam dengan sepatu… kuning!

Tren memang tidak pernah bisa ditebak. Siapa sangka Fixie semakin populer sebagai identitas yang sangat klop dengan generasi muda 4LaY. Sama-sama norak (di mata beberapa orang), hahaha… Saya semakin sering berpasasan dengan kelompok bersepeda Fixie. Biasanya mereka muncul di atas jam 9 malam, dengan asesoris lampu neon kelap-kelip yang tak kalah mencoloknya.

Konstruksinya yang simpel (single speed) dan lebih jamak dirakit sendiri daripada beli jadi mungkin adalah daya tarik yang lain. Ini membuat harga komponen Fixie menjadi sangat terjangkau (yang penting mencolok mata). Ketika sebuah Trek digendong All New CRV atau Chevrolet Captiva melesat, pesepeda Fixie tetap bisa menggenjot dengan penuh percaya diri. Lengkap dengan ciri khasnya tentu saja: mencolok, bersepatu senada (yang juga berwarna menyala), biasanya memakai jaket tipis, dan mencangklong sebuah tas kecil di pinggang.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *