Kupu-Kupu dan Kopi

Posted by: on Dec 7, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Rawa-Rawa Sweden, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D90 | Sigma 70-300mm APO Macro

Rawa-rawa Sweden (baca: se-we-den — wedi — pasir, kurang lebih artinya rawa berpasir), dulu ketika terowongan Niama belum dibangun menembus perbukitan kapur selatan menuju Samudera Hindia, adalah rawa-rawa yang sangat luas dan tak pernah surut. Itu terjadi ketika saya masih balita, ketika Tulungagung masih terkenal dengan sebutan kota banjir. Sekarang area ini berubah menjadi persawahan yang subur dengan meninggalkan bekas-bekas identitasnya sebagai rawa-rawa: tanah yang labil, sungai yang banyak ikannya, dan bermacam-macam tumbuhan liar.

Ketika lewat sini, saya sekilas melihat beberapa tanaman yang cantik jika difoto. Tiga tahun menekuni fotografi membuat mata saya mulai terlatih untuk mengisolasi objek tanpa diganggu oleh benda-benda sekitarnya. Jadi saya menyempatkan berkunjung ke sini. Orang-orang yang sedang memancing tampak sedikit terusik ketekunannya melihat seseorang membawa kamera bermoncong panjang membungkuk-bungkuk di tengah bekas rawa — tidak jelas apa yang difoto.

Saya cukup puas dengan hasil yang saya bawa pulang. Taman Bunga Nusantara saja lewat. Tidak sia-sia berpanas-panas di tengah hari yang terik membakar (karena sorenya hujan deras). Sebenarnya ada beberapa bunga yang sangat cantik, tapi saya tidak berani mendekatinya, takut ada ular sekonyong-konyong datang minta difoto. Meskipun sekadar ular sawah, tapi saya fobia ular.

Sekilas Tentang Blue Ocean Strategy

Posted by: on Dec 6, 2010 | 3 Comments

Kita mungkin sering mendengar istilah ini dari para pakar/pengamat marketing dalam hubungannya dengan strategi pemasaran. Blue Ocean Strategy biasanya disandingkan dengan strategi yang merupakan lawannya: Red Ocean Strategy. Apa itu strategi laut biru? Singkatnya, ini adalah strategi pemasaran yang berusaha membuat ceruk pasar baru di luar pasar yang telah ada. Seorang pemasar dengan strategi blue ocean akan melihat kemungkinan-kemungkinan pelanggan baru yang saat ini tidak menjadi pelanggan di bisnis yang sedang umum.

Saya akan membawakan contoh strategi blue ocean yang terkenal di kelas-kelas sekolah bisnis: Gillette. Sebuah merk yang akrab di keseharian kita sebagai silet cukur yang praktis dan murah. Tahukah Anda bahwa budaya cukur-mencukur kumis dan jenggot masih menjadi lifestyle para bangsawan Amerika pada tahun 1900-an? Mungkin sekarang seperti hobi fotografi, bike to work, atau nge-gym di fitness centre terkenal di mal.

Di tahun 1900-an, industri cukur jenggot berbiaya sangat mahal karena: (1) harus dilakukan dengan skill khusus, (2) konstruksi silet yang besar dan mahal. Sehingga praktis, pelanggan di industri ini adalah para pekerja kerah putih dan memiliki income kelas menengah ke atas. Sebaliknya, yang bukan merupakan pelanggan di industri cukur-mencukur adalah pekerja ber-income rendah dan kaum perempuan.

Padahal, data menunjukkan potensi yang sangat besar dari non-pelanggan industri cukur-mencukur jenggot ini. 40% dari total populasi dilaporkan memiliki income yang rendah. Dua juta orang hidup tanpa memiliki pekerjaan tetap. Dan, sekitar 30 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan.

Eliminate, Raise, Reduce, Create

Dalam melakukan analisis strategi blue ocean, empat elemen digunakan Gillette sebagai kerangka. Eliminate: Dalam hal ini, konstruksi silet yang berat harus dihilangkan agar lebih praktis. Raise: Tingkatkan faktor keamanan dan kemudahan agar orang bisa melakukan kegiatan cukur-mencukur sendiri tanpa harus pergi ke salon cukur. Reduce: Ukuran silet harus dikurangi, dan tentu saja harga agar bisa terjangkau kelas menengah ke bawah. Create: Bebas perawatan, bahkan kalau perlu sehabis pakai langsung dibuang saja; dan sisi fashion dan image untuk menciptakan gaya hidup baru.

Pada tahun 1903, Gillette menemukan sebuah silet cukur inovatif yang dinamakan safety razor with disposable blades yang bentuknya kira-kira mirip dengan sekarang. Gillette merubah model bisnis dengan mengubah bentuk silet cukur itu sendiri, antara lain:

  • Dari silet yang mahal ke silet yang murah
  • Dari silet yang berat dan berumur panjang ke silet yang ringan dan bisa dibuang
  • Dari silet yang berbahaya ke yang aman
  • Dari kegiatan yang sulit menjadi mudah

Dengan penemuannya yang inovatif inilah, Gillette sukses membuat pasar baru dengan pelanggan yang berlipat-lipat. Memang tidak mudah strategi ini karena dituntut pemikiran kreatif dan out of the box. Dan belum tentu produk sebuah pemikiran kreatif bisa diterima oleh pasar. Ambil contoh misalnya spidol (board marker). Meskipun dirasa inovatif, spidol yang bentuknya seperti bolpen (tanpa tutup, memiliki klip) masih tidak terlalu populer jika dibandingkan dengan spidol konvensional merk Snowman yang sering dipakai oleh dosen-dosen menulis di whiteboard itu.

*) Disarikan dari kuliah Operation & Supply Chain Management, studi kasus Gillette diambil dari sini.

Selamat Menempuh Hidup Baru

Posted by: on Dec 6, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Tenggilis, Surabaya, Jawa Timur
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Jodoh adalah rahasia Allah. Tak ada yang tahu orang akan berjodoh dengan siapa. Siapapun bisa saja terpisah bertahun-tahun dan berkilo-kilometer, kalau Allah berkehendak, mereka akan dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan pernikahan. Siapapun bisa berpasangan dengan siapa saja, tetapi dengan siapa yang akan menaiki panggung pelaminan, siapa tahu?

Tatkala menyaksikan mereka berdua berjalan beriringan diantar Gatotkaca dan isterinya Dewi Pregiwa naik ke pelaminan, saya seperti kembali ke suatu pagi saat matahari bersinar terik menghantam jendela kamar kos saya di Perumdos ITS Blok F/2. Saya dibangunkan oleh kedatangan sebuah mobil yang dikemudikan seorang wanita cantik yang menyambangi kamar sebelah.

Siapa sangka hari-hari itu hanyalah awal dari sebuah cerita panjang jatuh bangun memakan jarak Jakarta-Surabaya. Alhamdulillah perjalanan panjang itu bermuara pada ujung sebuah pernikahan. Sebuah bab awal telah selesai. Babak baru akan dibuka dalam perdjoeangan yang akan jauh lebih berat lagi.

Selamat menempuh hidup baru Abang saya; Bang Uki dan Mbak Tria. Semoga menjadi keluarga yang tenteram bahagia, penuh cinta kasih, dan selalu dirahmati oleh Allah SWT. Sebuah kehormatan menjadi saksi perjalanan cinta kalian. Amiin.

Meet @fenty_lovegood

Posted by: on Dec 1, 2010 | 7 Comments

Okey, saya merasa perlu menulis ini — seperti blogger-blogger lain yang melakukan kopi darat pertamanya dengan rekan blogger yang lain.

Saya sering berusaha membuat garis tegas antara dunia maya dan dunia nyata. Menurut saya dua dunia ini berbeda. Saya yang hidup dalam tulisan-tulisan di blog, plurk, dan twitter adalah pribadi yang berbeda dengan saya yang hidup dalam keseharian. Hanya Facebook yang paling mendekati dengan kenyataan — oleh karenanya sekarang saya jarang posting sesuatu di Facebook.

Tetapi tentu saja tidak bisa sepenuhnya begitu. Ada kawan-kawan yang sebegitu akrab dan baik di dunia maya sehingga akhirnya menjadi sahabat betulan di dunia nyata. Nilla, misalnya, saya bertemu blogger *kurus* ini pertama kalinya waktu pengumuman lomba blogger di PIM. Setelah itu ya seperti teman beneran; dari ngobrol sampai berantem seru.

Di perjalanan saya ke Surabaya kemarin, saya mendapatkan kehormatan untuk bertemu Fenty Lovegood, eh, Fenty Fahminnansih. Kami bertemu di acara pernikahan Bang Uki di Tenggilis. Kami janjian ketemu pukul 06:45 malam, tapi karena sesuatu hal saya berangkat terlambat. Baru sampai lampu merah depan gedung, ponsel saya udah berteriak-teriak menjerit-jerit ada telepon dari Fenty. Saya bilang sepuluh menit lagi sampai.

Teman barengan saya berkomentar, “Eh, suaranya manis,” (karena saya mengaktifkan speaker phone). Saya menyahut, “Aku juga baru denger suaranya sekarang ini…” Haha… komentar khas kopdar banget deh jawaban saya ini. Ternyata benar apa kata blogger-blogger yang sering kopdar itu. Kita sudah seperti teman yang udah bertahun-tahun bertemu aja. I just wonder whether she know the real me or not, he he he…

Tinggal Nike nih, kapan saya boleh nggendong Alaya, Nick?

Switch to our mobile site