Enam

Posted by: on Dec 31, 2010 | 5 Comments

Enam. Enam tahun sudah sejak saya memulai menulis teratur di blog ini. Waktu yang pendek; karena ternyata tahu-tahu sudah enam tahun. Waktu yang panjang; karena saya cukup bangga masih tetap bisa konsisten menulis delapan hingga dua belas artikel setiap bulannya.

Saya memang lebih banyak menulis untuk diri sendiri. Saya menulis sebenarnya bukan untuk orang lain, tetapi untuk saya baca lagi. Mungkin ini salah satu narsisme dalam bentuk lain? Entah, tapi ketika saya sudah mulai bosan membaca, saya menulis lagi yang baru dan menunggu hingga bosan lagi. Demikian seterusnya.

Tetapi saya juga senang ketika ada orang yang membaca tulisan saya. Saya juga senang ketika trafik blog ini naik. Saya juga senang ada komentar yang masuk. Tetapi sebenarnya itu bukan yang utama. Saya akan tetap menulis meskipun tidak ada pembaca. Menulis bagi saya sudah jadi kebutuhan. Dan memang dari laporan Google Analytics, kebanyakan pengunjung datang dari search engine. Lebih sedikit yang dari direct URL atau feed reader.

Yang unik adalah mengamati komentator yang menemani saya dari tahun ke tahun. Serba datang dan pergi. Misalnya, di tahun 2006-2007, ada Mbak Reena. Di sekitar 2008-2009 ada Mbak Mae, ada Fifi di sekitar tahun 2009, dan beberapa teman-teman lain yang sekarang sudah tidak aktif ngeblog. Dan tentu saja ada teman-teman yang dari awal sampai sekarang masih juga ada berkunjung ke sini. You guys, thank you!

Saya pikir tahun 2009 adalah puncak era blogging. Pada waktu itu jumlah komentator artikel saya bisa mencapai 20 biji. Padahal kelakuan saya dari dulu ya tetap begini-begini saja tidak ada perubahan. Malas blogwalking kesana kemari. Males kasih komentar balik kalau isi blognya saya tidak ingin mengomentari. Mulai populer adalah suatu hal yang cukup menyiksa karena saya terdorong untuk menulis sesuatu yang mungkin disenangi pembaca. Dan alangkah senangnya ketika akhir-akhir ini blog saya kembali ke zaman-zaman tahun 2005-2008. Saya bisa kembali menulis apa saja yang sedang terlintas di pikiran. Curhat, salah satunya.

Tahun 2010, mungkin adalah era Twitter. Saya akhirnya “meninggalkan” Plurk dan kembali ngetwit. Facebook pun sudah dalam titik jenuhnya. Saya sudah sangat jarang membuka Facebook, padahal dulu adalah menu utama setiap pagi, siang, sore, dan malam hari. Twitter menjadi populer karena sederhana. Di Twitter, kita langsung berkicau pada intinya. Sedangkan di blog, akan selalu ada opening dan closing. Lebih banyak waktu dan energi untuk dihabiskan. Padahal kita tak punya banyak waktu bukan?

Enam tahun. Delapan ratusan artikel. Page Rank 4. Dari masa kuliah – bekerja – lalu kuliah lagi.  Saya cukup bangga dan puas dengan pencapaian ini — utamanya karena semua saya lakukan dari hati. Kota Roma tidak dibangun dalam satu malam, kata pepatah.

Selamat tinggal tahun 2010, mari menyongsong tahun 2011 yang penuh harapan.

Jaya-jaya dwipantara, tetep jaya ngadhepi bebaya
Suradira jayaningrat, lebur dening pangastuti

The Art of Programming

Posted by: on Dec 29, 2010 | One Comment

Akhirnya saya ngoding lagi! Ngoding — dari kata kerja Bahasa Inggris coding diimbuhi awalan Bahasa Jawa ng sehingga mendapatkan sebuah kata hibrida yang berarti melakukan pekerjaan coding atau menulis kode program komputer. Sedemikian lamanya sehingga saya baru menyadari salah satu seni pemrograman yang saya lupa.

Programmer itu tidak bisa bekerja mengikuti aturan jadwal tetap, misalnya jam 7 sampai jam 4 sore. Artinya jam 7 tet Anda sudah langsung on, jam 4 teng pulang. Tak bisa. Ndak isa ndak isa…

Mari saya tunjukkan. Menulis kode program itu tidak mudah. Ini adalah ilmu eksak yang digabungkan dengan imajinasi. Anda harus memiliki naluri logis yang sangat kuat untuk bisa memulai menulis. Bagaimana jika, kapan harus mengulang, kapan harus keluar dari perulangan, kapan harus menampilkan pesan ke pengguna, dsb. Itu baru syarat awal, setelah itu Anda harus menggunakan seluruh daya khayal Anda untuk mendesain aliran logika-logika tersebut. Ini tak bisa dilakukan oleh orang yang tak memiliki daya imajinasi.

Imajinasi sangat berkaitan dengan mood. Itulah salah sebab sebagian besar programmer sangat moody. Para bos-bos harap maklum kalau kami sangat tergantung mood dalam bekerja. Programmer memerlukan waktu untuk melakukan pemanasan, dan sesi pemanasan ini bagi tiap-tiap orang berbeda. Ada yang nge-game dulu, browsing sana-sini dulu, dsb. Kadang-kadang hal-hal seperti ini yang dianggap di luar scope pekerjaan. Tetapi kalau boleh saya curcol, hal itu sangat erat kaitannya dengan membangkitkan mood, imajinasi, dan akhirnya bisa menulis kode program dengan lancar.

Programmer cenderung anti sosial? Sangat. Ini jelas karena kebiasaan ketika bekerja perlu konsentrasi tinggi. Segala alur program yang direncanakan di kepala belum tentu bekerja ketika dicoba. Anda harus menemukan alternatif-alternatif ketika rencana utama gagal. Kemarin, saya tiba pada alternatif ketujuh baru program berjalan sesuai dengan yang saya inginkan. Enam cara sebelumnya gagal. Dan biasanya ketika sedang on fire, saya menutup diri dari dunia luar dengan menutup telinga saya dengan earphone yang paling tuli (Eterna rev. 2), dan mengisinya dengan musik.

Dan jika sedang ditengah-tengah keasyikan menulis itu harus dipotong oleh sesuatu: misalnya jam pulang kantor, kami harus memulai segalanya dari awal. Rencana-rencana yang sudah tersusun bisa jadi hilang kalau pekerjaan ditunda besok jam 7 pagi. Bahkan bisa jadi yang ada adalah solusi yang benar-benar berbeda.

Ini saja saya tulis pukul setengah tujuh pagi, setelah saya menyelesaikan proses debugging yang melelahkan. Ini adalah jam orang sebelum masuk kantor dan saya mengerjakannya juga masih di atas kasur. Terima kasih untuk kamar saya yang kena splatteran Wi-fi. Suasana kantor di Muara Badak ini jauh lebih kondusif untuk programmer dibandingkan dengan kantor Wisma Mulia Jakarta.

Adalah wajar kalau banyak orang yang menganggap programmer adalah orang yang aneh dan tidak normal. Dengan ketidakmampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, lengkap sudahlah “penderitaan” tersebut. Dengan ketidakmampuan itu, kebanyakan programmer justru menenggelamkan diri ke dunianya sendiri, bercengkerama sepanjang hari dengan kode-kode program, game, atau apapun yang tidak mengharuskannya bersosialisasi dengan orang. Saya sendiri tak jauh berbeda: hobi saya adalah hobi di balik layar (fotografi), dan saya juga sedang menenggelamkan diri di sini — di dunia maya blog, dimana orang tak tahu betul karakter saya yang sesungguhnya, he he he…

Bonus:

Menyikapi Perbedaan

Posted by: on Dec 25, 2010 | No Comments

Tidak banyak buku-buku yang saya baca yang membuat saya terkesan. Salah satu dari yang sedikit ini adalah novel “Sang Pencerah” karangan Akmal Nasery Basral, yaitu ketika terjadi diskusi antara KH. Ahmad Dahlan dengan kakak iparnya, Kiai Muhammad Nur mengenai silang pendapat yang cukup tajam di antara mereka. Pandangan brilian dan revolusioner KH. Ahmad Dahlan yang ingin mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil alamin — Rahmat untuk semesta alam berbeda dengan Kiai Nur yang lebih memperhatikan kondisi masyarakat yang dianggap belum siap untuk menerima perubahan.

Sebagai tokoh protagonis, tentu saja kita cenderung lebih memperhatikan KH. Ahmad Dahlan dan cenderung membela pemikirannya. Akan tetapi setelah diresapi lebih dalam, pertimbangan Kiai Nur pun tidak kalah benarnya. Kiai Nur beranggapan bahwa pemikiran revolusioner Kiai Dahlan sangat bagus untuk kemajuan, tetapi hal itu dikhawatirkan menimbulkan gejolak di masyarakat Islam tradisional yang dikendalikan oleh Masjid Gede.

Apa yang dikhawatirkan Kiai Nur tersebut terbukti. Langgar Kidul yang diasuh Kiai Dahlan dibakar oleh pihak-pihak yang tidak menyukai gagasannya. Konflik meruncing dengan Masjid Gede. Tak dapat dihindari, bahkan sampai-sampai Kiai Dahlan dicap sebagai kiai kafir.

Saya melihat, konflik semacam ini terjadi sampai detik ini.

Jika konflik yang ada masih dalam koridor hormat-menghormati, itu tidak masalah karena itulah dinamika. Namun yang membuat saya prihatin adalah demikian gampangnya orang mengecap kafir dan sesat kepada pihak lain. Kafir, atau ingkar kepada Allah adalah tuduhan yang sangat berat. Tidak bisa sembarangan karena ini menyangkut tanggung jawab. Tetapi coba lihat di media-media, di Twitter, orang demikian mudah mencap kelompok Islam yang lain (baca: rivalnya?) sebagai sesat dan kafir karena berbeda pendapat.

Ambil contoh: tuduhan kelompok Salafy terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL). Saya pikir pertempuran kedua kelompok ini sama serunya dengan pertikaian antara Front Pembela Islam (FPI) melawan Ahmadiyah. Bertempur opini di internet dengan artikel-artikel yang uniknya mengambil dalil yang sama: Al-Qur’an dan Al-Hadist, tetapi dengan penafsiran yang berbeda. Masalah aqidah memang salah satu masalah yang sangat sensitif.

Menurut saya, tanpa dibekali ilmu yang cukup, sebaiknya kita tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana. Bahkan jika kita adalah simpatisan salah satu pihak, ada baiknya untuk tidak ikut campur (misalnya dengan memforward artikel-artikel yang menjatuhkan salah satu pihak). Saya tidak habis pikir bagaimana bisa orang-orang di Twitter itu melontarkan sumpah serapah dengan mudah. Kita akan mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan hari ini kelak.

Asy-hadu alla Ilaha Ilallah, wa Asy-hadu anna Muhamadar Rasulullah.
Saya bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.
Dan saya bersaksi, bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Menakar Harga Facebook

Posted by: on Dec 22, 2010 | 6 Comments

Siapapun tentu akan setuju bahwa Facebook adalah fenomena. Saya pernah membahasnya secara teknis — teknologi informasi — ketika Facebook berhasil menggusur Friendster dan MySpace dengan sukses. Sekarang, mari kita bahas dari sudut pandang bisnis.

Di bulan Juni 2010, Tech Crunch melaporkan nilai market capitalization Facebook sebesar USD 25 billions! Ini jauh di atas “senior-seniornya” seperti Yahoo! (USD 21 B) dan AOL (hanya USD 2.3 B). Market capitalization, secara sederhana bisa diartikan sebagai harga pasar. Jika sebuah perusahaan telah go public di pasar modal, maka harga saham suatu perusahaan merefleksikan nilai market caps-nya. Meskipun data di atas tidak bisa dibandingkan secara langsung karena hingga sampai saat ini Facebook belum go public menawarkan saham perdananya (IPO – Initial Public Offering), tetapi paling tidak secara sekilas Facebook dianggap jauh lebih bernilai daripada Yahoo! dan AOL.

Padahal jika melihat pendapatan yang diperoleh Facebook pada tahun 2009, tercatat hanya sekitar USD 800 juta. Ini bahkan untuk pertama kalinya Facebook mencatatkan cashflow positive (setelah sebelumnya terus merugi) Bandingkan dengan Yahoo! yang mencatat revenue sebesar USD 6.4 B pada tahun 2009. Mengapa Facebook dinilai lebih tinggi daripada Yahoo! atau AOL?

Anda dan saya — kita — adalah penyebabnya.

Semua tentang kita ada di Facebook. Data pribadi, nomor telepon, alamat rumah, hobi, kesukaan. Seberapa banyak dari kita yang memasukkan data dengan benar dan lengkap secara sukarela di Facebook? Mungkin hanya sedikit saja yang memasukkan data ngawur. Tidak hanya itu saja, sebagian besar teman di Facebook adalah teman-teman di dunia nyata. Kita sangat selektif memilih teman. Apa akibatnya?

Bayangkan saya suka seorang wanita cantik yang hanya saya tahu namanya saja. Dan bayangkan saya punya akses penuh ke Facebook. Dengan sekali klik, saya bisa tahu semua tentang cewek itu dari Facebook. Saya tahu biodatanya, umurnya berapa, tinggal di mana. Saya langsung tahu dia sedang single atau sudah tunangan (ini penting :p). Saya tahu psikologisnya dari hobinya, buku-bukunya, kesukaannya. Saya bahkan tahu moodnya sekarang dari status-status yang ia pasang. Dan akhirnya, saya tahu dia sedang ada di mana dari tempat-tempat yang ia check-in dari Foursquare yang ia kirim ke Facebook.

Itu baru hal kecil yang bisa dimanfaatkan oleh secret admirer alias pemuja rahasia seperti saya. Bagaimana dengan perusahaan besar? Tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan lebih dari sekadar iklan atau komunitas. Hal yang konkret tentang pemanfaatan data ini mungkin belum ada, tetapi nampaknya pasar sepakat bahwa data-data ini sangat potensial membawa manfaat besar dan karena itulah market capitalization Facebook sangat tinggi meskipun secara revenue dan net income masih di bawah perusahaan-perusahaan lain yang satu industri.

Apakah Kita Perlu Lensa Fix?

Posted by: on Dec 20, 2010 | 3 Comments

Lensa fix (fix lens) adalah lensa yang tidak memiliki rentang zoom yang umum kita temukan pada lensa-lensa kamera SLR sekarang. Jika kita biasa memiliki lensa dengan rentang jarak 18-55 mm, 18-105 mm, atau 70-200 mm, maka lensa fix hanya memiliki satu ukuran jarak focal length saja. Misalnya 35 mm, 50 mm, 85 mm, dan 105 mm.

Keunggulannya? Dengan konstruksi yang lebih sederhana, biasanya lensa-lensa fix memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan lensa zoom biasa. Kualitas lebih tajam, distorsi minim, dan biasanya harganya juga tidak terlalu mahal. Satu lagi, diafragma yang lebar hingga mencapai f/1.4 membuat lensa-lensa model begini digandrungi banyak fotografer yang sering memotret di indoor.

Kelemahannya? Sangat tidak praktis. Karena tidak bisa diatur jaraknya, kitalah yang harus maju mundur menyesuaikan. Seringkali kondisi di lapangan sama sekali tidak membolehkan kita bergerak-gerak.

Saya sering melihat beberapa kawan menggunakan lensa 50 mm f/1.8 atau f/1.4 untuk memotret acara di indoor tanpa menggunakan flash. Ini bagus, karena dengan bukaan selebar itu masih bisa dapat ambience light yang cukup. Tetapi hal yang sering dilupakan adalah, setting ini juga berarti daerah ruang tajam yang sangat tipis (Depth of Field). Seringkali foto terlihat tidak fokus dan soft karena ini. Jadi menurut saya tantangan foto indoor dengan lensa bukaan lebar ini adalah DoF yang sangat tipis.

Kalau saya pribadi, saya tetap memilih kepraktisan — menggunakan lensa zoom normal dengan rentang antara 18 mm hingga 200 mm, bukaan standar (f/4.5 atau f/.5.6). Kekurangan cahaya bisa diakomodasi dengan menggunakan ISO tinggi (kamera SLR modern kelas menengah bisa menangani ISO 1500 dengan sangat baik), dan menggunakan lampu flash yang diset tipis atau di-bouncing sehingga ambience light masih terasa.

Capek Tapi Having Fun

Posted by: on Dec 18, 2010 | 4 Comments

What a hectic days!

Sudah tiga minggu penuh (dan akan berlanjut minggu-minggu ke depan), hari-hari saya berlari begitu cepat oleh kesibukan. Sekolah dan pekerjaan. Hari akan dimulai pukul 06:00 pagi untuk bersiap bekerja pada pukul 07:00, kemudian break sebentar makan siang. Pukul 13:00, sesi kedua hidup hari itu dimulai untuk melanjutkan tugas-tugas yang menunggu di kantor hingga pukul empat sore.

Beristirahat sebentar — sekedar bersandar di kursi, memejamkan mata selama lima belas menit. Dan sesi ketiga hidup saya dimulai untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Dua jam belajar sebelum kelas dimulai bukanlah waktu yang baik untuk seorang mahasiswa bisa menyerap segala ilmu yang dijejal-jejalkan setiap hari. Managerial Accounting di hari Senin, Corporate Finance di hari Selasa, Marketing Management di hari Rabu, Operation & Supply Chain Management di hari Kamis, dan ditutup dengan Group Experiental Project di hari Jumat.

Pukul 21:30 sekolah selesai. Perdjoeangan belum selesai karena seringkali saya harus menembus kemacetan di jalan pulang. Macet di tengah malam begitu? Yeah, kami warga Jakarta (perantauan) sudah terbiasa bertarung di jalanan tanpa mengenal tengah malam. Rekor termalam saya terjebak kemacetan lalu lintas parah adalah pukul 00:30. Sebenarnya berbahaya, karena kadang-kadang saya sudah merasa melayang karena kehabisan tenaga. Lelah fisik dan mental. Konsentrasi telah menurun. Mungkin tinggal lima watt.

Tetapi mungkin inilah hidup yang saya impikan. Banyak ilmu-ilmu baru yang menarik di kelas sehingga saya merasa sayang kalau sampai melewatkan satu sesi saja. Saya percaya bahwa itu akan mengubah pola dan kerangka berpikir saya — seperti yang saya harapkan di awal ketika saya memutuskan untuk kembali bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pekerjaan di kantor pun semakin menantang. Saya senang bahwa saya dipercaya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit. Sebuah mission impossible project telah menunggu di depan mata dan tidak akan ada lagi yang lebih menggairahkan saya untuk menyelesaikannya. Money is not everything, hal yang terpenting buat saya adalah bahwa saya masih dipercaya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang strategis. Hingga nanti saya merasa bahwa saya telah selesai, saya bisa meninggalkan semuanya dengan senyum bangga dan menatap ke masa depan yang jauh lebih menantang lagi.

Mengejar “Operation Excellence”

Posted by: on Dec 11, 2010 | 5 Comments

Tadi malam, di kuliah Operation Management yang menarik, kami membahas konsep desain pelayanan (Service Design). Setelah mempelajari ukuran-ukuran kualitas pelayanan, bagaimana menyusun sebuah proses pelayanan yang bisa memuaskan pelanggan dibahas secara mendetail. Tetapi teori tanpa praktik akan terasa hambar kan? Jadi Pak Feri (Firdaus Alamsjah), dosen kami, menjadikan Pizza Hut Delivery Service sebagai kelinci percobaan.

Tiga restoran cepat saji terbesar memang sudah mengeluarkan layanan delivery mereka: KFC dengan 14022, McDonald dengan 14045, dan Pizza Hut dengan nomor 500600. Ini adalah sebuah business model yang sangat inovatif. Dengan menghadirkan layanan delivery, restoran bisa menambah sumber pendapatan tanpa harus melebarkan area restoran dan menambah fasilitas-fasilitas restoran. Hal yang dibutuhkan “hanya” sebuah call center, petugas antar, kecepatan dan  ketepatan waktu dalam mengirimkan pesanan pelanggan secepatnya ke rumah/kantor mereka.

Kedengarannya sederhana; kami mendesain proses bisnis delivery ini berdasarkan pengalaman kami memesan layanan delivery. Kemudian di setiap rantai proses, kami menentukan standar-standar kesempurnaan pelayanan, seperti misalnya jumlah dering telepon sebelum diangkat, kecepatan call center mengetahui keberadaan si pemesan, kecepatan call center dalam mengakomodasi pesanan, fleksibilitas cara pembayaran, dan waktu antar dari sejak kami menelepon call center sampai akhirnya pizza itu tiba di kelas kami.

Kami menetapkan standar yang tinggi, tiga dering maksimal untuk menjawab telepon, dan dalam waktu 30 menit pizza itu sudah akan tiba di kelas sehingga pas waktu istirahat pukul 20:00 kami berencana memakannya secara beramai-ramai.

Kenyataannya. Tujuh dering diperlukan baru suara wanita di call center menyapa. Dan menariknya, ini yang mereka lakukan: Setelah diredirect dua kali, dan setelah mengetahui posisi kami di Binus Hang Lekir, mbak call center meminta kami menunggu 10 menit untuk dihubungi kembali. Sepuluh menit kemudian, kami dihubungi dari nomor lain; mencatat pesanan kami. Waktu total yang diperlukan untuk telepon pemesanan ini adalah setengah jam! Dijanjikan 45 menit lagi, pizza akan tiba dari Pizza Hut Blok M Plaza.

Di rantai delivery ini pun, Pizza Hut gagal menunjukkan “Operation Excellence”-nya. Waktu antar yang diperlukan adalah satu jam dari 45 menit yang dijanjikan. Sehingga praktis, ketika kami memesan pukul 19:38, baru pada pukul 21:00 kami bisa menikmati pizza.

Kegagalan Pizza Hut ini memberikan pelajaran banyak. Memberikan layanan dengan kualitas prima itu bukan pekerjaan yang mudah. Dalam analisis proses bisnis Pizza Hut Delivery Service, masih banyak ruang untuk perbaikan, khususnya di sistem call center-nya. Analisis kami menyimpulkan bahwa saat ini Pizza Hut belum memiliki sistem terintegrasi untuk mencek ketersediaan dan kemampuan outlet terdekat untuk melayani pelanggan. Jika ada, tentunya tidak diperlukan lagi tahap “menunggu dan ditelepon lagi” karena pada saat menunggu itu, call center mencek outlet terdekat yang tersedia. Dengan demikian, waktu pesan yang memakan setengah jam itu bisa dipangkas menjadi lebih singkat.

Switch to our mobile site