Capung
FLICKR
Lokasi: Rawa-rawa antara tol Suramadu – Bangkalan, Madura
Nikon D90 | Sigma 70-300 mm Macro
Memotret benda kecil itu ternyata susah. Ternyata dalam ruang sekecil itu, cahaya yang masuk ke lensa juga sedikit dalam bukaan lensa yang paling besar. Padahal ruang tajamnya juga sangat sempit, artinya untuk mendapatkan ruang tajam yang cukup, bukaan lensa terpaksa harus dikecilkan lagi — minimal hingga F/11. Implikasinya, cahaya yang masuk jadi lebih sedikit. Tripod menjadi wajib dalam fotografi ini. Saya yang tidak bawa tripod, terpaksa menaikkan ISO hingga 2500.
Debian Masih Tetap yang Terbaik
Hari Minggu kemarin, saya diminta men-setup sebuah web cache di sebuah warnet milik kawan saya di bilangan Rawamangun. Saya menyarankan untuk memakai Squid dan ia terserah saja saya mau memasang apa. Karena Squid sangat optimal berlari di sistem Linux, maka saya install Squid di atas sistem operasi Debian versi stabil (Lenny) dengan update repository dari versi unstable (Sid).
Bagi saya, ini bukan sekadar melakukan instalasi sistem Linux. Ini adalah sebuah reuni dengan kawan lama yang tidak pernah berjumpa. Saya menggunakan Ubuntu untuk mengerjakan tugas keseharian di laptop saya. Meskipun Ubuntu adalah turunan Debian, namun setiap turunan tidak sama dengan induknya. Ubuntu sangat memperhatikan pengalaman dan kemudahan — salah satu contohnya adalah menghilangkan (atau menyembunyikan) user root dan menggunakan sudo untuk melakukan tugas-tugas administratif. Akan menjadi sangat report jika kita ingin melakukan hal-hal secara langsung dari command prompt.
Debian masih saja seperti dahulu. Sederhana. Nggak neko-neko. Ketika monitor tidak mau menampilkan layar karena resolusi yang terlalu tinggi, saya langsung melakukan editing di file X11/Xorg.conf dan menurunkan resolusinya dari situ. Hal yang tidak jalan jika ini saya lakukan di Ubuntu — entah di mana mereka menyembunyikannya.
Mau setting apa-apa straightforward. Mau menambahkan kartu ethernet ada di file network/interfaces. Mau melakukan restart daemon ada di directory init.d (Ubuntu memberikan warning jika saya merestart service dari sini). Dan yang paling bisa dilihat adalah tampilan Desktop Environment-nya yang sangat sederhana. KDE atau Gnome yang masih asli. Simpel. Dan saya orangnya memang suka dengan kesederhanaan.
Jadi, untuk urusan tertentu, Debian masih tetap yang terbaik!
List, Mem-follow Tanpa Harus Memenuhi Timeline
Adanya smartphone yang memiliki koneksi internet setiap saat membuat saya aktif kembali di Twitter. Dan saya memang akhirnya menemukan kekuatan Twitter jika dibandingkan dengan layanan microblogging yang saya ikuti seperti Plurk dan update statusnya Facebook.
Twitter saya gunakan untuk berkicau tentang hal-hal yang lebih bersifat sharing ilmu pengetahuan. Saya berkicau tentang apa yang sedang berkelebat di kepala — tentang fotografi, dan catatan-catatan singkat saya ketika membaca buku. Plurk tidak saya tinggalkan, ini khusus untuk update status yang tidak penting dan seringkali tret yang dibuat adalah untuk menyangga karma. Saya sangat jarang update status di Facebook — bukan apa-apa, sebagian besar teman di Facebook dalah teman di dunia nyata. Blunder di Facebook bisa berlanjut ke dunia nyata.
Nah, Twitter juga mengubah cara saya mengkonsumsi berita. Kantor-kantor berita yang mengupdate beritanya melalui Twitter bisa di-follow dan kita bisa mendapatkan update secepat yang kita mau. Apalah arti isi berita di zaman sekarang ini — kebanyakan isinya tidak penting. Judul berita adalah raja. Kalau dirasa berita tersebut benar-benar penting, baru saya akan klik link yang disediakan.
Tetapi ada sedikit masalah. Jika saya follow account-account tersebut, maka timeline saya akan dipenuhi oleh berita-berita yang sangat cepat update-nya — menutupi kicauan dari teman-teman dan orang-orang yang saya follow. Adakah cara untuk tetap update tanpa harus mem-follow?
Twitter menyediakan fitur List untuk tujuan ini. List adalah semacam pengelompokan twit-twit yang bisa kita buat sendiri. Dan list ini tidak akan memenuhi timeline kita. Jika kita ingin membaca berita, kita tinggal buka list itu kapan saja kita mau. Dengan demikian kita bisa mengontrol lalu lintas timeline.
Cara membuatnya cukup mudah; pertama-tama buatlah list Anda sendiri. Akan terbentuk satu list tanpa anggota atau list kosong. Untuk menambahkannya, silakan kunjungi account twitter yang akan Anda masukkan, lalu cari menu di situ — Anda akan menemukan menu semacam Add to list.
Okey, sampai di sini dulu #kulblog-nya dan jangan lupa kunjungi halaman kicauan sayah di http://www.twitter.com/galihsatria
Idul Adha 1431H
Meskipun sudah empat tahun tinggal di Jakarta, ini adalah Idul Adha pertama saya di Jakarta. Biasanya saya selalu mudik ke Tulungagung. Tetapi karena tahun ini lebaran haji ada di tengah minggu, jadi saya memilih untuk berlebaran di ibukota Jakarta. Menariknya, lebaran haji ini juga tidak serempak — saya ikut pemerintah berlebaran di hari Rabu, dan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah di hari Selasanya.
Awalnya saya ingin melaksanakan sholat Ied di masjid Istiqlal bersama presiden SBY. Pukul setengah enam, setelah mandi pagi, SCTV menyiarkan liputan langsung persiapan sholat Ied di Istiqlal. Masya Allah jamaah yang hadir sudah banyak sekali, tidak mungkin bisa masuk ruang utama dan memotret presiden. Jadi saya mengubah rencana dan melaksanakan sholat Ied di Masjid Sunda Kelapa.
Foto-foto bisa dilihat di halaman Flickr saya seperti biasa, dan berikut adalah beberapa foto favorit hasil jepretan Nikon D90 dan lensa kit-nya yang luar biasa: Nikkor AF-S 18-105 mm.
Sholat Ied diselenggarakan di taman Masjid Sunda Kelapa. Di sisi sayap sebelah kiri diperuntukkan untuk jamaah pria, sementara bagian dalam masjid dan pelatarannya semua diperuntukkan untuk jamaah wanita.
Karena outdoor, maka koran bekas dipakai sebagai alas sajadah. Selain membawa sendiri dari rumah, banyak juga yang menjual koran bekas ini dengan harga Rp. 1000 untuk beberapa lembar. Kemudian setelah selesai, mereka mengumpulkan kembali koran-koran yang ditinggalkan oleh jamaah untuk dijual secara kiloan. Seperti ibu ini misalnya.
Masjid Sunda Kelapa terkenal oleh pengunjungnya yang modis-modis. Ini juga salah satu alasan saya memilih sholat di sini. Keluarga-keluarga yang berada merayakan Idul Adha dengan membawa semua keluarga besarnya di masjid ini. Seperti misalnya nona ini dan ibunya yang sedang bercakap-cakap dengan saudaranya yang ada di lantai bawah.
Sunda Kelapa 2010
FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Ketika tidak ada tempat lagi yang bisa dijadikan objek hunting, maka Sunda Kelapa adalah satu-satunya tempat untuk berpaling. Setiap tahun sejak perjalanan fotografi saya di Jakarta, Pelabuhan Sunda Kelapa dan kawasan Kota Tua tidak pernah absen dari kunjungan.
Awalnya adalah saya ingin menghabiskan weekend terakhir liburan kuliah dengan hunting foto, apalagi stok foto saya sudah habis, padahal target saya di akhir tahun ini jumlah upload foto harus melebihi tahun 2008. Bandung adalah target saya. Saya masih ingin memotret tiang-tiang bendera di depan gedung Asia-Afrika, dan bonusnya ingin berjalan-jalan ke Lembang. Sepupu saya yang kuliah di ITB saya kontak, dan dia mau saya paksa menjadi tour guide — dengan iming-iming sepiring batagor Kingsley
Apa mau dikata, cuaca memang tak menentu di sepanjang tahun ini. Sabtu malam baik Jakarta dan Bandung diguyur hujan. Minggu pagi mendung masih malas berlalu. Akhirnya daripada tak dapat apa-apa, saya batalkan rencana ke Bandung. Padahal kamera Nikon D90 sudah saya gosok sekinclong kaca — dan tidak ada tempat lain tujuan saya hunting di seputaran Jakarta kecuali ke Pelabuhan Sunda Kelapa, yang selalu menghadirkan sesuatu yang baru di sana.
Memperkenalkan: ComputerOffside.Com
Blog memang telah melewati masa keemasannya, tetapi bukan berarti blog-blog baru tidak tumbuh. Jadi, di sini saya memperkenalkan sebuah blog baru, bikinan kakak saya, yang ia beri tajuk ComputerOffside.Com. Entahlah, mungkin ada komputer yang berdiri di belakang posisi terakhir pemain lawan dan ia mendapatkan umpan bola dari kawannya, sehingga komputer itu posisinya ofset (baca: offside).
Tidak tanggung-tanggung, ia menuliskannya dalam pengantar bahasa Inggris — sesuatu yang saya tidak bisa lakukan (menulis blog pakai bahasa Inggris itu capek jendral!). Nantinya ini akan berisi review seputar dunia komputer, personal komputer, video game, aplikasi social networking, bisnis online, tutorial tentang teknologi, dan juga travelling! Hla, kok semuanya diembat begini, jadinya gado-gado juga? Haha…
Simak tips-nya mengenai bagaimana instalasi Windows dengan sebuah Flash Disk (bye-bye disket!), atau iPad-nya produk Cina yang diberi nama (ng)iPed.
Selalu menyenangkan memiliki sebuah startup, tetapi tentu saja perjalanan baru saja dimulai. Tantangan terbesar dalam merawat sebuah blog adalah membuatnya tetap ter-update oleh konten-konten baru. Have a good blogging journey, big brother! Semoga berjamaah wal istiqomah.
“What to Discover”
Banyak teman saya, dan seringkali juga saya sendiri, menanyakan pertanyaan ini ketika mau memotret suatu tempat, “Apa yang bisa difoto di sana?” Biasanya pertanyaan ini muncul ketika kita menghadapi tempat yang “biasa” saja yang banyak orang sudah tahu dan khatam. Kita takut foto kita menjadi tidak spesial lagi.
Misalnya, apa sih yang bisa kita dapat di gang depan rumah? Jalanan sempit berlapis aspal atau beton, tiang listrik, pedagang kaki lima mendorong gerobak… semuanya umum. Berbeda misalnya kalau kita memotret tempat-tempat yang terpencil seperti taman nasional Ujung Kulon, kepulauan Karimun Jawa — dimana asal jepret saja sudah menghasilkan foto yang bagus.
Justru di sinilah tantangan bagi setiap fotografer. Seharusnya pertanyaan kita bukanlah “What to photograph” tetapi “What to discover”. Apa yang bisa kita temukan di sana? Apa yang bisa kita lihat sudut-sudut dan objek-objek yang dilupakan orang. Sudut-sudut yang sedemikian rupa kita tempatkan dalam bingkai foto dan menghasilkan foto yang unik dan menarik.
Misalnya foto ini. Ini saya ambil di Pancake, di Pacific Mal Jakarta dengan kamera saku Canon Ixus 120 IS. Ini cuma sekadar dekorasi penghias. Mungkin bagi kebanyakan orang, apalah yang spesial di dekorasi sebuah kafe. Tetapi bagi saya, ini berbeda. Ketika dekorasi ini saya isolasi dari hiruk pikuk keramaian pengunjung, saya melihat banyak cerita di foto ini. Bahwa ternyata dekorasinya nyambung sekali dengan makanan yang jadi andalan kafe ini. Pemilihan warna dan pencahayaan yang didominasi merah membuat makin serasi. Pesan inilah yang saya coba rekam di kamera dan saya share ke Anda. Apakah pesannya sampai atau tidak, itu urusan lain. Itu murni ketidakmampuan saya dalam teknis memotretnya.
Comments