Googling Lebih Melelahkan
Jika saya bisa pulang kantor sore (matahari masih belum tenggelam), maka hal yang bisa saya nikmati adalah menonton TV. Akhir-akhir ini saya suka menonton sinetron Beningnya Cinta di Indosiar. Awalnya saya tertarik karena Jeremy Thomas berambut panjang seperti ketika awal dia muncul di sinetron Tersanjung (masih ingat? Lulu Tobing). Oldskul banget sehingga saya curiga apakah sinetron ini adalah sinetron lama yang diputar ulang oleh Indosiar. Akhirnya saya menjadi suka menonton karena pesona kecantikan Ida Ayu Kadek Devie, hehe…
Penasaran, saya pun googling nama Ida Ayu dan Beningnya Cinta. Yang tidak saya duga adalah tiga halaman pertama dipenuhi oleh halaman-halaman SEO. Halaman ini tidak ada gunanya diakses karena berisi informasi palsu — mereka hanya memberikan informasi kepada robot pencari, bukan kepada manusia. Bagaimana ciri-cirinya? Dari URL-nya saja, biasanya halaman SEO mengandung huruf sambung ‘+’ (untuk pencarian). Dari ringkasan yang ditampilkan Google, biasanya sepotong-sepotong dan tidak nyambung.
Tetapi sehafal apapun saya terhadap ciri-ciri website sampah ini, tetap saja googling menjadi lebih melelahkan. Saya rasa inilah faktor pembunuh Google kalau mereka tidak segera memperbaiki metode indexing secara radikal. Ini seperti pembuat virus yang menyasar Windows sebagai sistem operasi yang digunakan mayoritas pengguna komputer.
Dua kompetitor utama Google, Yahoo! dan Bing memberikan hasil yang jauh lebih bersih. Secara teknis, mereka bisa menyalip Google di sini. Hanya kultur, kebiasaan, dan dukungan default berbagai browser terhadap Google yang membuat Google masih bertahan, paling tidak untuk waktu yang masih lama ke depannya.
Simulasi, Mengapa?
Kuliah tadi malam adalah tentang simulasi dengan menggunakan metode Monte Carlo Simulation. Metode yang sangat populer, di jenjang S1 dulu, saya juga diajari proses simulasi dengan menggunakan software Crystall Ball.
Apa sih pentingnya simulasi? Mengapa kuliah manajemen bisnis merasa perlu memberikan ilmu kepada anak didiknya pelajaran simulasi?
Karena banyak keputusan yang didasarkan pada asumsi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada masa mendatang bukan? Siapa yang jamin harga saham akan turun jika instrumen-instrumen tertentu jatuh? Apa yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan prediksi. Prediksi berhubungan erat probabilitas. Sedangkan probabilitas erat kaitannya dengan Statistik. Statistik, jika ditelaah lebih dalam, ternyata merupakan ilmu ramal ilmiah yang sangat mengerikan. Jika diberikan data yang komprehensif dengan pemodelan yang bagus, ia bisa digunakan untuk menerawang masa depan dengan tingkat akurasi yang bisa diukur.
Dan di sinilah simulasi bersandar. Simulasi adalah proses perumpamaan bagaimana jika kejadian di masa depan itu terjadi seperti yang diasumsikan, hasilnya seperti apa. Proses ini dilakukan berkali-kali dengan mengubah-ubah variabel input. Tentunya hasilnya juga berubah-ubah. Sampai titik ini, Statistik mulai berperan, semakin banyak uji coba peluang, maka distribusinya makin mendekati distribusi normal. Dan semua akademisi tahu bahwa distribusi normal memiliki kesaktian setingkat dukun untuk melakukan peramalan.
Ada perlu banyak data agar distribusi mendekati normal. Pada zaman dahulu kala, orang melemparkan dadu atau uang logam untuk melakukan simulasi peluang. Sekarang, komputer bisa menciptakan angka-angka yang benar-benar acak (random generator) dan bisa disuruh melakukan uji coba berkali-kali tanpa mengeluh dan dengan sangat cepat. Perangkat lunak sekelas Microsoft Excel saja sudah bisa membuat angka acak sehingga bisa melakukan simulasi juga dalam tingkat tertentu.
Apapun perangkat lunak yang diajarkan di sekolah, saya rasa intinya bukan mengajarkan kita bagaimana menggunakan perangkat tersebut, tetapi lebih ke filosofi dan pengertian simulasi itu sendiri. MS Excel, Crystall Ball, atau @RISK hanyalah perangkat (yang mahal) yang bisa membantu melakukan simulasi dengan cepat dengan laporan dan analisis yang sangat komprehensif. Jika kita telah mendapatkan ilmunya, dengan cara manual pun kita bisa melakukan simulasi dan meramal kejadian di masa depan seakurat dukun beranak.
*) Catatan kuliah, Decision Model under Uncertainty
Paris van Java
FLICKR
Lokasi: Paris van Java Mal, Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm | Equalized color by GIMP
Sejujurnya, ketika pertama kali melihat bagaimana Paris van Java itu, apa yang saya lihat ternyata sangat jauh dari imajinasi saya. Ketika tempat nongkrong yang sangat populer ini terdengar gaungnya hingga di ibukota Jakarta Raya, saya membayangkan PVJ itu adalah sebuah tempat makan yang terletak di sebuah bukit dengan pemandangan kerlap-kerlip kota kembang Bandung. Njekethek, ternyata PVJ itu seperti Citos aja, sebuah mal di pinggir jalan yang penuh dengan kafe, resto, dan bahkan Carrefour! Imajinasi saya itu lebih cocok untuk The Valley — besok akan saya tunjukkan fotonya untuk Anda!
Portabilitas dan Kemudahan Piranti Nirkabel
Beberapa bulan yang lalu, dengan bangga teman saya menunjukkan kamera saku barunya. Sebuah Sony Cybershot berwarna perak. Bukannya membanggakan kualitas gambarnya, teman saya ini malah membanggakan fitur yang ada di dalam kamera ini: mendukung konektivitas bluetooth. Sebuah fitur yang masih jarang ada di kamera-kamera saku. Dan waktu itu saya hanya tersenyum dalam hati, buat apaan sih ada bluetooth segala, jangan-jangan ntar bakalan ada kamera yang ada slot kartu GSM-nya!
Tapi sekarang, di jaman ketika personal computer semakin mengecil menjadi smartphones, ketika konektivitas bergerak ke mobile devices, dan ketika kualitas kamera perangkat mobile belum bisa menyamai kualitas kamera saku, saya merasa fitur tersebut boleh juga! Tentu saja ribet kalau orang harus memindahkan dulu isi SD card-nya ke laptop, kemudian membuka perangkat pengolah citra dan mengupload-nya ke internet. Padahal tidak semua gambar butuh sentuhan pengolah gambar, ada beberapa foto yang urgensinya melebihi kualitas. Jepret, resize, dan segera dipakai untuk update status di social media! Mungkin hanya orang iseng dan jahil yang begitu istiqomah mengupload foto-foto uniknya setiap hari di blognya.
Memang, nirkabel adalah hal yang masih di awang-awang. Nirkabel belum bisa sepenuhnya menghilangkan kabel. Ketika gadget semakin banyak, ternyata isi tas saya dipenuhi perangkat charger piranti-piranti yang mengklaim tanpa kabel tersebut. Maklum, setiap perangkat punya colokan yang berbeda, bahkan hingga tingkat colokan adapter ke power AC 220 (ingat colokan listrik laptop yang berlubang tiga, lalu kamera yang berlubang dua, colokan adaptor ponsel yang memakai USB kecil, medium, dsb).
Jadi saya pikir, kembali ke soal kamera ber-bluetooth, mungkin saya akan memasukkan daftar konektivitas ini ke dalam daftar pertimbangan ketika memilih-milih kamera yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Entah untuk saya sendiri, entah untuk teman-teman yang sering bertanya tentang kamera kepada saya.
Comments