Kelegaan itu Priceless

Apa yang paling saya takuti dalam menghadapi ujian semester kali ini? Adalah matakuliah “hibrida” Managerial Economics, sebuah mata kuliah ekonomi mikro yang sangat matematis dalam membahas teori-teori ekonomi. Siapa yang pernah melihat film peraih Oscar, A Beautifull Mind — Russel Crowe yang berperan sebagai John Nash. Di kuliah ini, teori equilibrium John Nash juga disinggung.

Tidak mudah memang, bekerja sambil sekolah lagi. Saya tidak bisa mendalami materi-materi yang diajarkan di sekolah. Jangankan mengeksplorasi ide-ide baru (yang idealnya begitu kan di jenjang S2 itu?), untuk menghadapi ujian saja sudah cukup ngos-ngos-an. Tapi ya begitulah, itu sudah merupakan konsekuensi yang harus saya ambil — saya tidak bisa membayar uang kuliah kalau tidak sambil bekerja (kalimat ini membuat saya sangat sedih kalau ada begitu banyak beasiswa di luar sana — bahkan di Malaysia begitu memudahkan generasi mudanya untuk belajar). Sementara di sini, semangat menggelora untuk belajar belum cukup, here, you have to earn much money to buy knowledge.

Saya tidak pernah merisaukan hasil, justru yang saya risaukan adalah prosesnya. Saya merasa sangat gelisah kalau merasa belum siap menghadapi ujian. Jadi kemarin, saya cuti setengah hari untuk bersemedi menenggelamkan diri di antara kertas-kertas dan buku-buku teks di kafe Coffee Bean di lantai bawah. Meskipun saya tahu saya tidak akan bisa mengerjakan soal sebaik kalau saya belajar dari awal, tapi itu penting untuk “menipu” otak saya bahwa saya siap. Saya akan tenang dan siap menghadapi ujian.

Saya cukup puas tadi malam bisa mengerjakan soal dengan baik — meskipun ada beberapa yang saya tidak bisa kerjakan (tidak banyak, minor saja). Tentu saja saya tidak tahu apakah jawaban saya itu benar atau tidak, tetapi paling tidak saya sudah mengeluarkan semua tentang apa yang saya pahami mengenai teori-teori marginal cost, marginal revenue, production function, principle-agent problem, monopolistic competitive market, dan sebagainya.

Pukul 20:30, saya keluar kelas dengan perasaan yang sangat lega. Perasaan yang hanya saya dapat setelah ujian selesai. Perasaan ini adiktif, karena priceless. Hanya ada di bangku sekolah, tidak di tempat lain (meskipun di tempat psikotes untuk masuk kerja sekalipun). Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya yakin, kelak saya pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *