Perpustakaan UI – 2010
FLICKR
Lokasi: Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm
Kata beberapa pakar, Presiden Soekarno terlalu dini mendirikan TVRI di saat budaya baca belum tertanam di kehidupan rakyat Indonesia. Padahal, negara-negara besar selalu identik dengan budaya membaca. Budaya baca juga sangat kental di zaman keemasan Islam; ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Sinna, Abu Yusuf Al-Kindi, adalah sang pencerah kegelapan Eropa. Buku-bukunya diterjemahkan dan dipelajari sehingga mengakhiri masa aufklarung.
Makanya, saya sangat berharap megaproyek perpustakaan UI ini segera jadi. Bangunan berarsitektur nyleneh ini terletak di pinggir danau UI yang asri. Melihatnya, mungkin seperti melihat piramida terbalik di depan museum Louvre. Di luar kemapanan arsitektur bangunan-bangunan UI dengan ciri khas bata merahnya.
Semoga kelak perpustakaan ini dibuka untuk umum, senyaman perpustakaan Binus di kampus Joseph Wibowo Center, Hang Lekir. Tentu saja yang lebih penting adalah buka di akhir pekan sehingga saya bisa menghabiskan Sabtu dan Minggu menenggelamkan diri di tengah-tengah guyuran ilmu pengetahuan. Ironis jika memikirkan tidak ada perpustakaan yang buka di hari Minggu, dengan suasana senyaman kafe Starbuck
Kelegaan itu Priceless
Apa yang paling saya takuti dalam menghadapi ujian semester kali ini? Adalah matakuliah “hibrida” Managerial Economics, sebuah mata kuliah ekonomi mikro yang sangat matematis dalam membahas teori-teori ekonomi. Siapa yang pernah melihat film peraih Oscar, A Beautifull Mind — Russel Crowe yang berperan sebagai John Nash. Di kuliah ini, teori equilibrium John Nash juga disinggung.
Tidak mudah memang, bekerja sambil sekolah lagi. Saya tidak bisa mendalami materi-materi yang diajarkan di sekolah. Jangankan mengeksplorasi ide-ide baru (yang idealnya begitu kan di jenjang S2 itu?), untuk menghadapi ujian saja sudah cukup ngos-ngos-an. Tapi ya begitulah, itu sudah merupakan konsekuensi yang harus saya ambil — saya tidak bisa membayar uang kuliah kalau tidak sambil bekerja (kalimat ini membuat saya sangat sedih kalau ada begitu banyak beasiswa di luar sana — bahkan di Malaysia begitu memudahkan generasi mudanya untuk belajar). Sementara di sini, semangat menggelora untuk belajar belum cukup, here, you have to earn much money to buy knowledge.
Saya tidak pernah merisaukan hasil, justru yang saya risaukan adalah prosesnya. Saya merasa sangat gelisah kalau merasa belum siap menghadapi ujian. Jadi kemarin, saya cuti setengah hari untuk bersemedi menenggelamkan diri di antara kertas-kertas dan buku-buku teks di kafe Coffee Bean di lantai bawah. Meskipun saya tahu saya tidak akan bisa mengerjakan soal sebaik kalau saya belajar dari awal, tapi itu penting untuk “menipu” otak saya bahwa saya siap. Saya akan tenang dan siap menghadapi ujian.
Saya cukup puas tadi malam bisa mengerjakan soal dengan baik — meskipun ada beberapa yang saya tidak bisa kerjakan (tidak banyak, minor saja). Tentu saja saya tidak tahu apakah jawaban saya itu benar atau tidak, tetapi paling tidak saya sudah mengeluarkan semua tentang apa yang saya pahami mengenai teori-teori marginal cost, marginal revenue, production function, principle-agent problem, monopolistic competitive market, dan sebagainya.
Pukul 20:30, saya keluar kelas dengan perasaan yang sangat lega. Perasaan yang hanya saya dapat setelah ujian selesai. Perasaan ini adiktif, karena priceless. Hanya ada di bangku sekolah, tidak di tempat lain (meskipun di tempat psikotes untuk masuk kerja sekalipun). Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya yakin, kelak saya pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.
Pesona Gunung Kelud
FLICKR
Lokasi: Puncak Kaldera Kelud, Kediri, Jawa Timur
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Gunung Kelud adalah gunung berapi yang masih aktif di daerah kabupaten Kediri, Jawa Timur. Gunung ini terakhir meletus sekitar tahun 1990 dimana hujan abunya sampai di rumah saya. Waktu itu saya masih duduk di bangku TK. Saya masih ingat bahwa sore itu mendung gelap seperti mau hujan, tetapi tiba-tiba hujan turun tetapi bukan air — pasir. Pagi harinya halaman rumah dipenuhi pasir belerang putih sedalam selutut anak kecil, dan saya dengan riang gembira bermain truk dari kayu mengangkut pasir ke sana ke mari, mengganggu Ayah yang sedang sibuk membersihkan genteng.
Mungkin Gunung Kelud adalah salah satu gunung api aktif yang puncaknya mudah diakses. Perjalanan ke sana bisa dilakukan dengan naik mobil, parkir di sebelah kaldera-nya, kemudian berjalan kaki kira-kira lima ratus meter masuk terowongan bunker langsung tiba ke perut kawahnya.
Liburan lebaran kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi kawasan wisata ini. Saya ingin melihat kondisi Gunung Kelud setelah erupsi tahun 2007 kemarin yang menghilangkan kaldera danau menjadi sebuah puncak anak gunung baru yang terus membesar dan meninggi. Jalan menuju puncak sudah beraspal mulus, dengan pemandangan kanan kiri yang luar biasa indah.
Dan jangan lupa bahwa di sini juga ada jalan yang dinamakan misterious road, yaitu jalan misterius yang melawan hukum gravitasi. Yap, jadi ada jalan sepanjang 100 meter yang menanjak, namun setiap benda-benda yang dilepaskan tidak akan menggelinding jatuh, tetapi malah memanjat naik dengan kencang! Botol air mineral, bola, sukses naik dengan gembira.
Penasaran, saya ikutan mencoba. Tidak tanggung-tanggung, uji cobanya pakai mobil mini SUV berlabel Daihatsu Taruna. Benar saja, ketika rem tangan saya lepas, kaki kanan siap menginjak pedal rem kalau-kalau mobil mundur ke belakang. Bukannya turun, mobil malah merangkak naik dengan akselerasi yang mengejutkan. Boleh percaya boleh tidak, Anda harus coba sendiri ketika ke sini.
Sebuah Catatan, Singing Vaganza
Kantor saya bisa dibilang kantor yang memiliki ekskul (kegiatan di luar pekerjaan utama) yang cukup banyak. Salah satunya adalah Sportvaganza, sebuah turnamen olahraga dan seni antar divisi yang diselenggarakan setiap tahun. Mirip Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) di SD dulu. Di cabang olahraga ada futsal, badminton, volley ball, basket, atletik (lari estafet dan sprint), dan bowling. Sementara di sisi “vaganza”-nya ada lomba menyanyi. Meskipun tema utamanya adalah having fun, mau tak mau hawa turnamen sangat terasa kental hingga setiap divisi menyiapkan semuanya sebaik mungkin.
Saya sendiri tidak pandai berolahraga, tetapi saya masih berpartisipasi di pesta tahunan ini di bidang seni-nya. Saya berkesempatan mengiringi seorang kawan yang multi talenta, menjadi bintang di lapangan futsal dan badminton, sekaligus penyanyi yang tahun lalu mewakili BPMIGAS di ajang lomba ESDM Gitavaganza.
Kami mengaransemen Endless Love-nya Lionel Richie dan Dianne Ross agar lebih sesuai untuk suara cowok dan dinyanyikan dengan single. Kami membuat musiknya sesederhana mungkin dengan tujuan untuk menonjolkan karakter suara Salman yang sangat khas. Sayangnya, kami tidak mengantisipasi penonton yang histeris ketika Salman tampil. Saya bahkan tidak bisa mendengar suara piano saya sendiri. Monitor yang ada di depan panggung percuma karena kalah dengan jeritan penonton yang memadati lima ruang meeting yang disulap menjadi ballroom. Ini membuat kami membuat kesalahan yang cukup fatal di rolling terakhir ketika juri memergoki ada nada yang terpeleset sehingga kami urung mendapatkan gelar juara.
Tidak mengapa, memang rencananya bukan untuk mengejar juara. Intinya adalah having fun rame-rame eksis di atas panggung, he he he… Buktinya, ketika kami tampil kedua kali untuk mengiringi Stenly menyanyikan Sesaat Kau Hadir-nya Utha Likumahua, saya bertukar alat musik dari keyboard menjadi pegang gitar. Itu benar-benar spontan karena sejak saya pindah haluan ke aliran piano klasik, saya belum pernah memainkan gitar lagi.
Saya sempat berfoto bareng dengan Ghea ‘Idol’ yang menjadi salah satu juri. Thanks pula buat tante Icha dan Endah yang mati-matian me-make-over saya agar penampilan harian saya yang “so-fourties-style” menjadi ala anak band dengan jeans, sepatu kets putih, dan kemeja body-fit yang digulung. Hahaha… it wasn’t me, indeed…
IT Sebagai Business Enabler di CIMB Niaga
Sebuah Catatan Kuliah Tamu oleh Bpk. Paul Hasjim, IT Director CIMB Niaga.
Hal yang paling menyenangkan ketika diajar langsung oleh praktisi adalah uraian-uraian pengajar yang begitu dekat dengan implementasi di lapangan. Demikian pula ketika kelas kami kedatangan seorang tamu istimewa, petinggi salah satu bank terbesar di Indonesia, CIMB Niaga, bapak Paul S. Hasjim.
Information Technology (IT) saat ini telah diimplementasikan di hampir semua aspek bidang, mulai dari telekomunikasi, keuangan, perdagangan, pendidikan, hingga perbankan. Pendek kata, tidak ada bidang yang saat ini tidak bisa dimasuki oleh para IT guys. Namun demikian, sebagian besar dari itu, IT hanyalah sebagai pendukung berjalannya bisnis (support). Tidak banyak yang bisa menjadi business enabler. Mengapa IT bisa menjadi business enabler di bidang perbankan, khususnya di CIMB Niaga?
Bisnis perbankan adalah sebuah area pertempuran dimana sangat banyak kompetitor yang bermain di sana. Berdasarkan nilai aset, tercatat lima bank terbesar mendominasi bidang ini, yaitu Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan CIMB Niaga. Hal ini dikarenakan Indonesia adalah bullish market, pasar yang masih berkembang dengan peningkatan yang menjanjikan, sehingga kompetisi yang terjadi bahkan tidak hanya antar bank-bank itu sendiri yang menyediakan produk-produk konvensional perbankan (tabungan, deposito, dan kredit), namun juga dengan perusahaan microfinance, asuransi, dll.
Menurut teori dari Michael Porter, ada tiga cara untuk memenangkan kompetisi pasar. Pertama adalah menang harga (price leadership), kedua adalah faktor produk yang unggul (product leadership), dan yang ketiga adalah pelayanan yang prima (operation and service excellence). Saat ini, dengan strategi mee too, produk demikian mudah ditiru sehingga sangat sulit untuk memenangkan persaingan di area produk dan harga. Namun tidak untuk area pelayanan yang prima. Di sinilah, IT digunakan sebagai penopang utama inovasi-inovasi produk untuk pelayanan yang baik.
IT sebagai business enabler saya rasa sudah sewajarnya terjadi di dunia perbankan yang sangat ketat dengan kompetisi. IT dijadikan senjata utama untuk strategi bisnis memenangkan persaingan. Namun demikian, tanpa strategi dan cara yang brilian, IT tetap akan menjadi support saja tanpa pernah bisa masuk ke ranah core business. Menurut Pak Paul, salah satu cara divisi IT menjadi pemain utama di CIMB Niaga adalah karena divisi IT dijadikan bagian dari Board of Director. Dengan demikian, IT akan terlibat secara aktif dalam penentuan arah strategi bisnis untuk kemudian diterjemahkan ke dalam strategi implementasi IT yang tepat dan sejalan dengan strategi bisnis tersebut.
Pertanyaan iseng saya selanjutnya: Mungkinkah IT menjadi business enabler, dianggap menjadi core bukan hanya support di bidang industri non-kompetitif semacam oil and gas industry?
The Valley
FLICKR
Lokasi: The Valley Resort, Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Semua kawan-kawan saya yang gaul tahu tempat ini. Sebegitu terkenalnya sehingga saya merasa geli melihat tempat parkir dimana sulit sekali mencari mobil berplat “D” — semua didominasi oleh plat “B” alias mobil Jakarta! Lokasinya terletak di atas bukit yang menawarkan pemandangan malam kerlap-kerlip lampu kota Bandung. Baik secara kasat mata maupun jika kita melihat ke daftar menu, jelas sekali segmentasi tempat ini adalah untuk kalangan menengah ke atas — mereka yang telah memilih lifestyle-nya, dengan previlege khusus sebagai orang yang bebas finansial, yang ingin menghabiskan malamnya di atap kota Bandung. Suasananya memang benar-benar romantis, sampai saya berandai-andai bahwa saya akan melamar seseorang di tempat ini.
Tour Singkat di Kampus ITB
FLICKR
Lokasi: Kampus Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm
Sekitar sembilan tahun yang lalu, inilah obsesi terbesar saya. Menjadi mahasiswa ITB. Pelaksanaan SPMB (sekarang SNMPTN atau entah apa lah namanya) masih dua tahun lagi, tetapi saya sudah tapa brata puasa ngebleng. Ribuan soal latihan saya lahap dengan nikmat. Berbagai pelajaran yang orang sibuk berdebat tentang kurikulum saya pahami sedalam mungkin. Janji saya teriakkan dalam hati: demi, saya tidak akan menegakkan kepala jika belum merasakan dinginnya hawa Bandung, memainkan jari jemari di keyboard di salah satu lab Teknik Informatika ITB! Demi kehormatan, kebanggaan, dan kebahagiaan Ayah dan Ibu saya.
Dan memang perjalanan hidup bercerita lain. Tuhan lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan hamba-Nya. Segalanya adalah Dia. Empat tahun berikutnya saya menimba ilmu di kampus ITS. Menghirup hawa Surabaya yang lembab. Membawa gita cinta dan sejuta rasa dan pengalaman yang luar biasa.
Adalah Ifa, sepupu saya yang membangkitkan kenangan itu ketika di sebuah sore yang berhawa sejuk mengantarkan saya berjalan-jalan di lingkungan kampusnya. Saya beruntung karena ITB sedang mengadakan masa orientasi mahasiswa barunya sehingga saya bisa mendapatkan beberapa frame jepretan yang cukup bagus.
Tentu saja ketika lewat di depan gedung bersetrip warnah merah itu, saya berhenti sejenak dan tersenyum, kemudian meminta adik saya itu untuk memotret saya di depan gedung ini. Inilah sebuah pelajaran kepada seorang anak berumur 18 tahun tentang bagaimana cita-cita menghidupkan obsesi, dan bagaimana sebuah obsesi membakar sebuah kerja keras, dan akhirnya ikhlas dan tawakkal tentang apa yang telah menjadi takdir-Nya.
Comments