BNS – Batu Night Spectacular
FLICKR
Lokasi: BNS, Kota Wisata Batu Malang, Jawa Timur
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
BNS adalah sebuah prima donna baru yang hadir sebagai tempat tujuan wisata di kota wisata Batu, Malang. Positioning-nya cukup unik karena hadir dari sore hingga tengah malam sehingga nyaris BNS tampil tanpa pesaing yang langsung head to head. BNS praktis melengkapi munculnya tempat-tempat wisata baru di Batu semacam Jatim Park I & II. Praktis, munculnya Jatim Park dan BNS membuat Selecta dan Sengkaling menjadi tempat wisata masa lalu yang ketinggalan jaman.
Konsepnya adalah sebuah pasar malam di pinggir jalan tetapi dengan wahana-wahana yang modern dan permanen. Dan kenyataannya memang BNS adalah sebuah pasar malam di pinggir jalan yang sempit tanpa fasilitas parkir yang memadai. Ketika peak season seperti liburan lebaran kemarin, jalanan sudah macet dari ujung gerbang masuk Jatim Park 2. Saya dengan putus asa mencari parkir mobil yang masih tersedia dan menemukannya di tepi jalan yang jauh dari lokasi.
Terlepas dari jalan masuk dan tempat parkir yang menyedihkan, apakah saya terkesan dengan BNS? Sejujurnya tidak. Pendapat saya tentu saja bias karena saya tinggal di Jakarta yang punya Dunia Fantasi *bangga*, tetapi untuk sebuah wahana permainan yang ada di daerah, mungkin BNS bagus sekali. Saya, seperti biasa tidak menaiki satu pun wahananya, saya hanya jeprat jepret ke sana ke mari sambil menunggu keponakan saya yang masih batita bermain mandi bola dengan kakek neneknya.
Surealisme
Lukisan yang tergantung di sudut kantin tempat saya makan siang ini mengingatkan saya waktu masih kelas tiga SD belajar melukis di sebuah sanggar lukis. Dengan menggunakan media kertas, dan memakai cat air merk Guitar Water Color, saya diajari lukisan-lukisan beraliran realisme seperti pemandangan, pohon hijau, padi yang siap dipanen, orang-orangan sawah, hingga suasana di sekolah.
Lukisan di atas mengingatkan saya karena menyertakan objek-objek yang lazim dilukis dalam sebuah lukisan landscape: langit, gunung, sawah, pohon, danau, jalan tanah, dan gubuk! Lukisan ini juga mengingatkan saya karena teknik dasar campuran warnanya adalah persis dengan apa yang saya pelajari 17 tahun yang lalu.
Saya tidak tahu apakah karya seperti ini memiliki nilai seni yang tinggi karena lukisan seperti ini biasa kita temui di pinggir-pinggir jalan dijual dengan harga yang murah. Saya awam terhadap seni lukis, tetapi saya rasa, karena lukisan ini membangkitkan kenangan, saya anggap ia memiliki pesona adiseni tersendiri. Dan dengan lancang saya menyebutnya lukisan beraliran surealisme, karena saya telah adigang adigung adiguna menyebut apa yang saya pelajari waktu kelas 3 SD dulu di sanggar lukis adalah lukisan beraliran realisme.
Lokasi: Kantin YTKI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Kamera: Blackberry Bold-9700 Onyx
Bianglala Senja
FLICKR
Lokasi: Jatim Park 2, Kota Wisata Batu, Malang
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Kincir, atau bahasa Inggrisnya adalah Ferris Wheel, atau yang oleh Dufan disebut Bianglala, berdiri dengan anggun di taman wisata baru Jatim Park 2. Tentunya asik sekali menikmati pemandangan pegunungan Batu Malang dengan udaranya yang sejuk. Sayangnya saya itu fobia ketinggian, jadi nggak berani mencoba naik wahana ini.
Ied el Fitr Mubarak di Kampung Halaman
Hometown saya adalah Tulungagung, sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur yang terkenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia. Rumah saya sendiri masih terletak di 20 km dari pusat kota. Merupakan lingkungan yang ustadz mushola dan masjid-nya adalah lulusan-lulusan pondok pesantren besar Nahdlatul Ulama seperti Tebu Ireng, Darul Ulum Jombang, Lirboyo Kediri, dan (ng)Gontor Ponorogo. Karena itu, tradisi setiap kali datang hari raya Idul Fitri sangatlah unik dan mengesankan.
Selepas shalat Maghrib, tradisi pun dimulai. Setiap mushola telah menyiapkan untuk ini dengan baik. Sound system telah diperiksa secara prima. Corongnya adalah TOA yang disangkutkan di tiang bambu besar yang telah dipendekkan sedemikian rupa sehingga tingginya pas di atas wuwungan mushola. Tiang ini telah didesain supaya bisa berputar 360 derajat sesuai kebutuhan. Corong diarahkan persis ke mushola tetangga yang telah menyiapkan hal yang sama. Maka perang corong pun dimulai. Takbir berkumandang bersahut-sahutan merayakan datangnya hari nan fitri.
Berbeda dengan daerah lain yang mengadakan sholat Ied di lapangan, maka di sini sholat Ied dilakukan di mushola. Biasanya orang datang ke mushola tempat mereka melakukan sholat tarawih. Orang membawa ambengan berupa makanan khas yang bernama ladha sega gurih. Ini adalah ayam kampung yang diasapi kemudian dibumbui sedemikian rupa dengan nasi yang juga dibumbui khusus. Jika di daerah lain, hidangan khasnya adalah opor ayam, maka di sini adalah ladha sega gurih. Opor ayam dan ketupat akan hadir pada perayaan bulan Syawal hari ke-7, setelah selesai puasa Syawal, yang dikenal dengan Lebaran Ketupat.
Setelah khatib menyelesaikan khutbah Idul Fitri yang dilakukannya secara on the fly Arabic to Javanese language translation – membaca buku ceramah yang berbahasa Arab, tapi ia menyampaikannya langsung dengan bahasa Jawa krama alus – selamatan dimulai. Ini mungkin adalah salah satu transmogrifikasi antara budaya Islam dan budaya Jawa. Saat yang akan selalu saya rindukan. Setahun hanya sekali.
FLICKR
Lokasi: Mushola sebelah rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H
FLICKR
Lokasi: Mal Paris van Java, Bandung, Jawa Barat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Tak terasa waktu demikian cepat berlalu. Tidak terasa kita sudah di penghujung bulan mulia Ramadhan 1431H. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya atas dosa-dosa yang telah lalu, bukan orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan Allah SWT. Mari kita melambaikan tangan, mengucapkan selamat berpisah, dan berdoa semoga dipertemukan kembali tahun depan. Semoga bekal di Ramadhan ini cukup untuk menghadapi tantangan setahun ke depan.
Seiring datangnya fajar nan fitri, izinkanlah saya memohon maaf atas segala kesalahan, baik yang saya sengaja ataupun yang tidak saya sengaja. Selamat merayakan hari raya bersama keluarga, selamat meramaikan tradisi mudik 2010. Tetap waspada, utamakan keselamatan karena segala cahaya cinta Anda sedang mengharapkan kehadiran Anda di rumah.
Taqabal Allahu mina wa mingkum
Mohon maaf lahir dan batin.
Galih Satriaji, dan calon keluarga.
Menanti Kehadiran Malam Lailatul Qadr
Inna ‘anzalna hufii lailatil qadr
Wamaa adrakamaa lailatul qadr
Lailatul qadri khairu min al fi syahri
Tanazzalul malaikati waruhu fiha bi idhni robbihim minkulli amri
Salamun hiya hatta mathala’il fajri
Di dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah ini, terdapat satu malam istimewa yang disebut malam Lailatul Qadar. Malam seribu bulan penuh kemuliaan. Disebut malam seribu bulan karena setiap umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan kebaikan di malam ini, maka sama dengan melakukan kebaikan lebih dari seribu bulan secara berturut-turut tanpa berhenti.
Tentu saja pertanyaan wajar berikutnya adalah, seperti apakah ciri-ciri malam Lailatul Qadr itu? Pemahaman umum yang berkembang di masyarakat kita adalah malam Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun, seperti yang diungkapkan oleh ustadz yang mengisi kajian ba’da Subuh kemarin, semua ulama sepakat bahwa kapan terjadinya malam Lailatur Qadar adalah hak prerogatif Allah. Wallahu ‘alam.
Hikmahnya? Agar kita tidak mensepelekan malam-malam yang lain. Agar kita berlomba-lomba mencarinya di setiap malam, bahkan tidak hanya di malam terakhir saja. Ketika diisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar ada di malam ganjil saja, maka masjid-masjid banyak kehilangan shaf-nya di malam-malam genap. Semakin sulit mencari tempat parkir di mal, sementara parkir di masjid-masjid semakin melompong.
Prof. DR. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tanda-tanda ilmiah terjadinya malam Lailatul Qadar tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang jelas ialah, ketika itu dirasakan — oleh yang menemui malam tersebut — adanya kedamaian dan kesejahteraan. Ketika itu turun juga malaikat — sesuatu yang tidak ketahui hakikatnya. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah sambil menyadari dosan dan kelemahan kita.
Jika hal itu dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan, akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketenteraman, dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang. Malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat dimana jiwa telah diasah, sehingga berdampak positif terhadap kehidupan manusia. Itulah makna seseorang mendapatkan malam Lailatul Qadar, malam kemuliaan.
Catatan di penghujung Ramadhan (25 Ramadhan 1431 H)
Disarikan dari pengajian ba’da Subuh, dan dari buku Lentera Hati, M. Quraish Shihab: 1994.
Keterangan Foto:
Lokasi: Masjid Al-Muhajirin, Badak Camp, VICO Indonesia, Kalimantan Timur
Kamera: Blackberry Bold-9700 Onyx
Demi, Saya Tidak Akan Damai dengan Pak Polisi
Saya tidak akan “berdamai” dengan Pak Polisi jika saya dicegat di jalan. Saya akan minta tilang normal. Saya tidak akan menyuap bapak polisi dari dulu-dulu kalau tahu prosedur sidang tilang itu sebenarnya mudah dan sederhana!
Oke, jadi awal ceritanya adalah sekitar awal Ramadhan, hari keempat kalau tidak salah ingat. Sebuah Sabtu sore yang mendung dan sejuk. Cuaca Jakarta rasanya sangat ramah, apalagi kondisi lalu lintas sedang tidak terlalu padat. Saya sedang melakukan safari Ramadhan dengan kawan yang datang dari Denpasar. Shalat maghrib di Istiqlal, buka puasa di nasi uduk Gondangdia, lalu tarawih di Masjid Sunda Kelapa.
Sepulah tarawih, waktu melintas Jl. HOS Cokroaminoto sebelum naik flyover tugu 66 Kuningan, kami dihentikan oleh petugas Patwal. Bermotor gede. Berbadan gede pula. Awalnya saya pikir saya dicegat karena menerobos lampu merah, tapi ternyata Pak Polisi menunjuk helm yang dipakai kawan saya di belakang. Iya sih, helmnya model “helem cibuk”, bukan helm standar, apalagi helm SNI.
Singkat cerita saya ditilang. Saya tidak mendebat Pak Polisi — mengakui kesalahan. Saya juga tidak berusaha mengajak damai. Lagi bulan puasa. Sayang jika pahala hari ini terhapus begitu saja. Lagipula, saya juga ingin tahu bagaimana sih sidang tilang itu sebenarnya.
Sidang Tilang
Sidang tilang diadakan di hari Jumat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di jalan Gajah Mada, di depan halte busway Harmoni. Riset kilat dari Google mengabarkan bahwa hari ini akan menjadi hari yang kacau dan panjang. You know laa birokrat kita masih menempatkan diri sebagai raja yang dibutuhkan, bukan pelayan yang melayani publik. Jadi meskipun di surat tilang tercantum pukul sembilan pagi, saya datang pukul 07:45. Persiapan sahur dengan memperbanyak air karena saya perkirakan setelah Jumatan baru selesai.
Alamak sampai di sana sudah banyak motor parkir di Jl. Gajah Mada. Dan tidak lama, saya diserbu oleh calo yang telah siap sedia. Saya tolak karena saya benar-benar ingin tahu. Saya masuk ke area PN, lalu mendekati pintu detektor logam dan bertanya kepada petugas di sana. Saya bertanya dimana sidang SIM C, kemudian dijawab di lantai tiga. Oke, dengan riang saya melangkah ke lantai 3.
Sampai disana orang sudah banyak, tetapi pintu-pintu tertutup. Sama sekali tidak ada tulisan tentang informasi prosedur sidang tilang. Gelap gulita! Dijamin Anda bakalan bingung. Bertanya kepada orang yang menggerombol di situ juga percuma karena jawabannya juga tidak tahu.
Sejurus kemudian, ada petugas PN yang datang dan tiba-tiba orang menyerbunya sambil menyodorkan surat tilang. Saya ikut-ikutan saja. Nampaknya bapak ini adalah tempat registrasinya. Tempatnya sangat tidak representatif, hanya satu pintu dibuka separo. Tidak ada loket. Tidak ada pengeras suara. Tak heran kalau orang bergerombol dan berdesak-desakan di sini. Saya melirik ke ruang sebelah yang merupakan ruang sidang. Belum ada hakim. Tetapi ruangan sudah penuh sesak.
Tiba-tiba si bapak itu memanggil nama. Nama yang dipanggil akan ditawari ikut sidang atau langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali. Pertanyaan bodoh. Orang pasti menjawab langsung bayar denda. Di sini dendanya Rp. 75.000. Karena tidak pakai pengeras suara, dan petugasnya terkesan asal panggil saja, jadilah orang bergerombol dan berdesak-desakan di depan pintu yang dibuka separoh. Kalau nggak salah sampai kejadian ada yang kecopetan.
Pukul 08:54, ada kesibukan di ruang sidang sebelah. Hakim sudah datang. Ada nama-nama yang kembali dipanggil. Kali ini lebih keras karena pakai pengeras suara. Saya yang setengah putus asa menunggui nama saya di pintu separoh itu, melangkah ke ruang sebelah dan mendengarkan. Eh, ternyata tak seberapa lama nama saya dipanggil. Saya pikir saya mau disidang begitu, tapi ternyata hanya dipanggil dan disuruh ke “loket” pembayaran.
“Loket” pembayaran. Karena tidak berbentuk loket. Hanya meja panjang berisi dua orang petugas. Tidak ada lajur-lajur untuk antri seperti yang ada di bank. Orang berdesak-desakan lagi di sini. Di sini denda juga dipukul rata: Rp. 50.000. Segera saya memberikan uangnya dan SIM C kesayangan saya kembali menghuni dompet.
Sampai keluar gedung, saya tetap tidak tahu bagaimana tata cara sidang tilang itu. Tetapi kalau hanya cuma begitu saja, saya lebih memilih ditilang daripada harus berdebat dengan Pak Polisi — apalagi memberikan uang damai. Itu buat saya merendahkan citra dan martabat kepolisian. Saya sangat menghormati instansi kepolisian sehingga saya akan memilih mengikuti sidang tilang jika nanti ditilang lagi. Kacau, namun tidak sekacau yang saya banyangkan. Hehehe…
Comments