Saya dan Social Media
Sekarang nampaknya adalah era social media yang sedang menguasai tren. Baik buatan luar ataupun lokal. Facebook, twitter sedang sangat populer di sini. Keterlibatan media konvensional (MetroTV, tvOne) turut membesarkan tren ini. Apalagi hadirnya Blackberry. Orang merelakan beli smartphone itu agar bisa facebookan dan twitter-an. Pasar Indonesia memang unik, sekaligus sadis!
Tentu saja, saya punya beberapa account social media. Buat saya apa saja fungsinya? Ini dia:
Ini adalah social media yang dimana didalamnya sebagian besar adalah teman-teman di dunia nyata. Hanya sebagian kecil yang belum pernah saya bertemu muka secara nyata karena setiap ada request selalu saya perhatikan. Kalau merasa tidak kenal dan mutual friends-nya tidak terlalu banyak, langsung saya ignore. Saya upload foto dan video tentang aktivitas di sini. Tidak bisa sembarangan di facebook, karena kedekatannya dengan dunia nyata inilah, yang membuat semua hal harus dilakukan lebih hati-hati.
Plurk
Kebalikan dengan facebook, plurk adalah social media yang sebagian besar adalah teman-teman yang belum pernah saya temui secara nyata. Setiap ada friend request pasti selalu saya approve tanpa berpikir lagi. Seringkali yang add adalah anak-anak alay yang bikin sepet baca timeline-nya. Untuk kasus ini, biasanya saya cukup unfollow plurk mereka, tidak sampai me-remove menjadi friend.
Plurk adalah tempat saya mengutarakan uneg-uneg yang tidak mungkin saya pasang di facebook. Rasan-rasan tentang bos, teman kerja, mengeluh tentang sang kekasih yang sedang ngambek (atau saya yang lagi ngambek haha), dsb. Status begini ini sensitif kalau dipasang di facebook karena bisa berlanjut panjang ke dunia nyata. Kalau sedang tidak ada uneg-uneg, status nggak penting dimasukkan. Tujuannya untuk menjaga karma agar tidak jatuh. Paling sering saya isi lirik lagu yang sedang melintas di earphone.
Flickr
Tidak ada media tempat pamer foto-foto senyaman Flickr. Saya menggunakannya untuk meletakkan foto-foto serius untuk hobi fotografi. Model-nya yang seperti blog, aplikasi organizr dan fiturnya yang membolehkan kita melakukan hot linking dari luar Flickr membuat saya betah di sini. Saya sudah tiga kali memperpanjang account pro-nya dengan rata-rata jumlah foto yang diupload sekitar 200-an foto per tahun.
Sebenarnya account twitter saya buat jauh sebelum plurk. Pada waktu itu twitter belum sepopuler sekarang dan bahkan beberapa orang teman mengajak pindah dari twitter ke plurk. Mungkin saya snob, kini ketika semua orang balik ngetwit, saya masih betah di plurk.
Menurut saya, Twitter lebih cocok untuk status-status yang sifatnya fire and forget, bukan untuk berinteraksi. Saya heran mengapa orang suka dengan twitter yang sangat freak dengan kode-kode teks-nya: RT, @, dan entah apa lagi.
Foursquare
Oh no, apalagi ini? Foursquare adalah semacam media untuk menginformasikan kita sedang berada di mana. Saya merasa orang jadi tahu posisi kita sehingga privasi agak terganggu. Karena itu saya jarang mengunjungi foursquare, mungkin karena ponsel saya tidak terlalu cocok untuk update-update posisi, jadi sampai saat ini saya belum aktif di Foursquare.
Terkadang terlalu banyak social media yang menyita waktu kita, tanpa terasa kita bisa menghabiskan tiga jam lewat begitu saja hanya klak klik ke sana ke mari di berbagai social media yang kita ikuti. Jadi berhati-hatilah dan selalu bijaksana menggunakan waktu.
Wal ‘ashr, innal insaana la fi qushr, ila…
Catatan Piala Dunia 2010
Tidak, saya tidak akan menulis tentang analisis atau prediksi atau semacamnya. Sudah terlalu banyak komentator, jadi sejak awal Piala Dunia dimulai, saya berjanji tidak akan membahas tentang permainan siapapun meskipun saya ingin. Di sini saya menulis tentang catatan harian mengenai sekitar Piala Dunia saja, seperti di Piala Dunia 2006 ini.
Bagi saya, Piala Dunia pertama yang bisa masuk memori dengan jelas adalah Piala Dunia 1994. Saat itu saya menjagokan Brazil karena suka dengan trio Romario-Bebeto-Rivaldo. Kakak-kakak saya menjagokan Italia dan Jerman. Kemudian di Piala Dunia 1998 adalah saat saya memiliki sekolah baru, SMUN 01 Boyolangu. Piala Dunia 2002 adalah salah satu saat menegangkan dimana saya harus melewati ujian SPMB di Malang. Piala Dunia 2006 adalah transisi dimana saat itu adalah masa terakhir saya di Surabaya sebelum akhirnya hijrah ke sini: Jakarta Raya.
Piala Dunia 2010, nampaknya belum menjadi masa transisi. Tetapi bisa juga dikatakan transisi karena saya baru saja punya kampus baru, Universitas Bina Nusantara, sebagai tempat saya belajar manajemen bisnis. Saya bangga bisa sekolah di kampus ini, dan saya bersyukur cukup beruntung bisa sekolah di kampus ITS dan sekarang melanjutkan di kampus Binus — dua universitas yang memiliki karakter berbeda.
Jago saya, Brazil, sudah ditumbangkan Belanda di perempat final. Yeah, harus diakui mental mereka kurang cukup menghadapi aktor-aktor telenovela tim Oranye. Jerman bagus tahun ini, Spanyol juga, tetapi siapa tahu saja bahwa juara tahun ini adalah Uruguay? Biar pasar taruhan kacau balau, ha ha ha…
Pekan Raya Jakarta 2010
FLICKR
Lokasi: Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Siapa suruh jika hujan turun di bulan Juli, bulan yang seharusnya menjadi bulan yang kering? Tetapi itulah yang terjadi malam minggu kemarin, waktu saya dengan penasarannya ingin tahu bagaimana suasana arena Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) yang diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Jakarta. Hujan datang tanpa bisa dicegah, kerumuman orang yang berdesakan bubar mencari tempat berteduh seadanya, termasuk saya.
Akhirnya waktu kejenggreng di tenda foodcourt, saya berpikir, PRJ benar-benar miniatur Jakarta. Pusat bisnis dan perdagangan terbesar dimana manusia berdesak-desakan entah mencari apa. Sampah menggunung. Dan akhirnya lengkap dengan banjir. Seperti aslinya, nampaknya sistem sanitasi area ini juga kurang baik karena banyak genangan air waktu hujan.
Nikon D90: Review dan Kesan Pertama
Waktu saya melepas kamera DSLR pertama saya, Nikon D40, bisa dikatakan bedol desa. Betapa tidak, bersamanya pula ikut lensa kit 18-55 mm dan lensa tele 55-200 mm VR. Dua lensa yang meskipun murah tetapi kualitasnya superb. Eh, tidak hanya itu saja, speedlight berpower raksasa Nissin Di 622 juga ikut. Hlah? Entahlah, mungkin waktu itu saya dihipnotis, hahaha…
Saya memutuskan Nikon D90 karena pilihan logis ada di sini. Kalau D3000 atau D5000, Nikon D40 jauh lebih bagus. Nikon D300 terlalu mahal untuk sekadar menjadi kamera penghobi fotografi dan saya memiliki kesan pertama yang kurang baik untuk D300. Picture control-nya agak terlalu vivid bahkan untuk settingan netral. Jadinya ndemblok seperti karakternya Pentax yang juga tidak saya sukai.
Kualitas
Nikon D90 disebut-sebut sebagai kamera terbaik Nikon saat ini. Saya sangat setuju. Lensa kit 18-105 mm VR-nya tajam. Sesuai ekspektasi. Rentang focal length 18-105 mm benar-benar seperti gabungan dua lensa awal saya 18-55 mm dan 55-200 mm dengan sedikit kehilangan jarak di zoom terjauhnya, tetapi dengan keuntungan tidak perlu gonta-ganti lensa. Ini menghilangkan efek distorsi dan softness karena konstruksi focal length terlalu panjang, seperti yang sering saya temukan di konstruksi lensa sapu jagat 18-200 mm (bahkan lensa Nikon 18-200 mm yang mahal itu).
Dibandingkan dengan lensa 18-135 mm, lensa kit D90 jauh lebih baik karena sudah dilengkapi teknologi VR (Vibration Reduction). Ini sangat berguna untuk saya yang malas menghunus tripod dari sarungnya. Saya cukup heran bahwa di D90 yang lebih berat bisa pegang dengan stabil sampai 1/2.5 detik. Padahal di D40 maksimal di 1/8 detik.
Tentang noise, D90 satu stop lebih baik ketimbang D40. Batas toleransi saya di D40 adalah di ISO 800, tetapi dengan D90, saya masih cukup oke dengan menaikkan ISO di 1000 hingga 1250.
Fitur dan Handling
Fitur yang paling mengesankan adalah LCD-nya yang besar dan tajam. Ini membuat memotret menjadi sangat menyenangkan. Rasanya hasil foto menjadi lebih bagus. Nikon D40 adalah DSLR pertama yang ber-LCD besar, dan itu sudah sangat menyenangkan. Bandingkan dengan kakak tertua D90, Nikon D70, yang ber-LCD kecil. Harus memicingkan mata dulu kalau mau melihat. Di sini, setiap detail, warna, dan depth of field bisa langsung dinikmati dan segera diperbaiki dengan jepretan berikutnya kalau ada yang kurang pas.
Ada banyak tombol dan kombinasi tombol untuk mengatur setting. Menu yang tersedia tiga kali lipat lebih banyak ketimbang Nikon D40. Ada banyak fitur baru yang belum saya kenal. LCD kecil di sebelah kanan menunjukkan informasi lengkap tentang setting yang digunakan. LCD ini saya juluki sebagai: pembeda kamera Nikon seri pro dan seri pemula .
Movie dan Live View
Saya tidak akan menggunakan fitur movie meskipun kualitasnya bagus. Aneh rasanya merekam video dengan alat yang konstruksinya dirancang untuk memotret. Saya akan lebih sering merekam video dengan Ixus kecil saya yang sudah cukup memenuhi kebutuhan.
Saya juga akan jarang memakai mode live view. Salah satu kenikmatan memotret dengan DSLR adalah mengintip melalui viewfinder. Fitur ini baru berguna untuk memotret di sudut-sudut sulit yang tidak mungkin untuk mengintip melalui viewfinder.
Kesimpulan
Ken Rockwell bilang, if price does matter, grab D5000 instead. Tetapi memotret di D90 merupakan pengalaman baru yang mengasyikkan. Nikon D90 tidak hanya sekadar D5000 dengan tambahan tombol. Ada banyak hal yang D90 jauh lebih baik dan worth it dengan perbedaan harganya.
Jika Anda adalah fotografer pemula yang akan memilih kamera pertama, mungkin D90 bukan kamera yang terlalu tepat. Akan ada terlalu banyak fitur yang tidak terpakai. Nikon D3000 atau D5000 lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bereksplorasi dengan komposisi dan beberapa keterbatasan yang membuat kita jadi lebih kreatif lagi.
Ada rumor yang beredar bahwa masa hidup D90 sudah hampir berakhir, melihat kamera ini dirilis di tahun 2008. Tetapi ketimbang Anda menunggu, saya pikir lebih baik membelinya sekarang dan memulai memotret. Saya meramalkan penerus D90 adalah semacam D90s atau D90x atau apalah namanya — tidak akan ada banyak peningkatan dan akan lebih menjadi strategi pasar untuk menaikkan harga dan mempertahankan tren.
Contoh hasil foto Nikon D90 bisa dilihat di halaman Flickr saya di sini.
Roses are Red
FLICKR
Lokasi: Kinara Restaurant, Kemang, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS (Powershot SD 940 IS)
Roses are red
Violets are blue
Honey is sweet, but not as sweet as you
Puisi pendek ini saya temukan lama sekali di sobekan koran iklan film Titanic. Ini sering saya pakai buat merayu, atau membumbui suasana di saat saya memerlukan efek gombalisme. Tetapi waktu saya melihat buket mawar merah di sudut ruangan yang ditemani dua buah lilin untuk penerangan sekadarnya, bukan efek romantis yang saya tangkap. Saya justru mengingat simbolisasi mawar berduri sebagai lambang seorang wanita cantik yang melukai pria-pria yang mengharapkan cintanya.
Mawar berduri, kini kupergi
Dengan membawa luka di hati…
Selamat Pagi Jakarta
FLICKR
Lokasi: Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS (Powershot SD 940 IS)
Sekadar pemandangan lain dari suasana pagi di langit Jakarta. Ini saya ambil waktu jalan-jalan selepas subuh keliling sekitar area Pancoran. Saya tiba di jembatan penyeberangan depan Hero Pancoran ini sekitar pukul 06:00, waktu matahari terbit, dan karena selalu ada kamera di saku celana, dengan falsafah Mensana in corpore sano, dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali jepret, terbakarlah dua tiga atau kalori, he he he…
Mendatangkan Keberuntungan
Siapa yang pernah bilang bahwa foto bagus itu didapat oleh fotografernya karena keberuntungan, saya setuju. Saya mendapatkan beberapa foto yang bagus karena kebetulan berada pada saat yang tepat dimana pada saat itu settingan kamera juga tepat untuk kondisi seperti itu. Kebanyakan kesempatan hanya terjadi satu kali, dan jika berulang biasanya tidak seperti kesempatan pertama, tetapi kondisi yang sama sekali unik.
Karena beruntung, maka apakah fotografer hanya bisa pasrah saja? Ada kutipan menarik yang berbunyi “Luck is when opportunity meets preparation”. Bahwa sebenarnya banyak sekali kesempatan yang datang tetapi terlewat begitu saja gara-gara kita tidak siap dengan persiapan yang sesuai untuk menghadapi kesempatan tersebut. Di sinilah jam terbang membedakan mana fotografer berpengalaman dengan fotografer amatiran saja. Kesiapan mengantisipasi momment yang akan tiba, ketepatan prediksi akan datangnya momment dan kepekaan yang tajam terhadap situasi yang sedang dihadapi.
Seperti misalnya foto ini. Foto ini mungkin tidak terlalu se-spektakuler seperti milik fotografer pro begitu. Tetapi ini saya ambil karena saya mengantisipasi kejadian ini. Ketika masuk jalanan ini — dengan suasana setelah hujan dan dedaunan yang berserakan — saya membayangkan suasana yang sendu. Saya menset kamera di posisi bukaan terlebar supaya gambarnya soft, kemudian white balance ke cloudy agar efeknya kekuning-kuningan. Saya mencoba menjepret dan cukup puas dengan foto dengan kondisi jalan yang kosong.
Tetapi kemudian saya melihat pasangan — mungkin suami isteri — yang sedang berjalan berdua. Saya segera berpikir bahwa ini akan melengkapi suasana yang telah saya bayangkan. Jadi saya menunggu mereka dengan tidak mencolok, dan ketika sudah sampai belakang saya baru saya menjepret satu dua kali. Dengan sedikit post processing, saya mendapatkan hasil yang saya inginkan untuk mendampingi puisi saya: Jejak Langkah.
Perlu dua paragraf untuk menceritakannya, tetapi kejadian sebenarnya berlangsung tak lebih dari dua menit saja.
Hanya dengan terus bereksplorasi dan terus memotret saya kira kepekaan mengantisipasi momment akan terus terasah. Sehingga kita makin sering berada di tengah keberuntungan ketika jari kita menekan tombol shutter. Jepret. Jepret. Jepret!
Comments