Suatu Sore di Muara Badak

Posted by: on Jun 10, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Muara Badak, Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS

Setiap kali menikmati suasana sore di tempat yang cukup asing, saya selalu berpikir, inilah sepenggal dunia lain. Dunia yang saya tidak ikuti setiap hari, karena dunia saya sendiri adalah jalan raya dan kemacetan kota besar. Orang menjalani hidup di dunianya sendiri-sendiri, dalam foto ini, kampung di area sebuah operasi penambangan minyak dan gas di ujung Kaltim.

Ketika memotret, pikiran saya selalu melayang, di sore-sore seperti ini, seperti apa ya suasana di dunia-dunia lain jika saya menghabiskan kebanyakan sore di depan komputer. Di Muara Badak, beberapa pekerja plant pulang naik sepeda. Di Tulungagung, Pak Tani sedang mengangkut damen dari sawah. Di Solo, seorang gadis cantik sedang menegur keponakannya yang menjatuhkan ponselnya ke lumpur sawah. Di Bogor, hujan sedang turun. Di puncak Gede, sekelompok pecinta alam sedang mendirikan tenda untuk berlindung dari dingin malam…

Migrasi ke Ubuntu Lucid Lynx

Posted by: on Jun 7, 2010 | 9 Comments

Setelah sekian tahun memakai Windows XP, akhirnya saya memutuskan untuk migrasi sepenuhnya ke Linux. Menghabisi semua partisi NTFS di drive C dan menggantinya dengan ext4 tanpa dual boot. Saya bukanlah fans fanatik open source (bahkan cenderung fans Microsoft), dan faktor saya bermigrasi juga bukan karena isu legalitas bajak membajak software.

Faktor pertama adalah karena kebutuhan yang tak tergantikan di Windows sudah tidak ada lagi. Dulu saya masih membutuhkan Dreamweaver dan Photoshop untuk pekerjaan mendesain web. Akan tetapi tren web sekarang adalah menggunakan CSS sehingga praktis fungsi layouting Dreamweaver tidak terlalu diperlukan lagi karena lebih mudah menggunakan teks editor biasa. Selain itu sekarang saya tak ada waktu lagi buat side job sebagai web designer, sehingga praktis fungsi Photoshop hanya saya pakai buat editing foto, yang mana itu bisa dilakukan oleh GIMP. MS Office, jelas untuk kebutuhan personal dipenuhi oleh OpenOffice.

Pemicunya adalah saat Windows XP saya crash dan harus diformat ulang. Karena laptop Compaq saya ini dibundel tanpa sistem operasi, instalasi driver-drivernya adalah perdjoeangan, apalagi setelah support driver hardware tidak disupport lagi oleh Windows Update. Semua bisa berjalan mulus, kecuali card reader-nya yang tidak terdeteksi. Saya berpikir, “Apa bedanya dengan Linux kalau begini?” Akhirnya setelah mencoba di atas Virtualbox selama sehari, saya dengan semangat melakukan full installation.

Menyenangkan Sekaligus Menyebalkan

Ubuntu Lucid Lynx memiliki tampilan yang saya suka. Font-nya halus, seperti yang saya dambakan. Sangat mirip dengan Mac (copycat?). Pokoknya sampai saat ini saya masih excited dengan OS baru ini. Saya berinternet ria dengan lancar dengan Firefox (in certain circumstances terasa lebih cepat — mungkin cache-nya lebih bagus), mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan OpenOffice Writer, dan melakukan editing foto dengan Gimp.

Tetapi Ubuntu masih jauh dari sempurna untuk pengguna awam. Meskipun orang bilang semuanya serba autodetect, tetapi saya tidak seberuntung itu. Harus berdarah-darah untuk menghidupkan modem 3G Huawei saya, dan sampai sekarang saya masih belum bisa membuat printer Epson Stylus T20E saya bekerja dengan gutenprint. Masih memakai driver  dari Turboprint versi trial 30 hari. Tentu saja saya suka hanya itu saja yang tidak jalan — device lain terdeteksi dengan baik; card reader, bluetooth, wireles LAN, semua bisa plug and play tanpa hambatan.

Saya tidak akan membahas tutorial tentang usaha-usaha tersebut karena sudah banyak di internet. Mungkin justru inilah permasalahan jika sebuah OS dikembangkan oleh komunitas dan tanpa garansi. Masalah yang sama bisa menghasilkan banyak solusi dan setiap solusi belum tentu berjalan di komputer lain. Ubuntu dan Linux pada umumnya masih sulit untuk digunakan pengguna yang benar-benar awam. Juga masih jauh untuk dipakai corporate karena hitungannya akan berat di maintenance cost (kasihan IT support dan helpdesk-nya). Selama harga Windows 7 dan software bagus lainnya masih IDR 5000 cap Glodok Public License, Linux tidak akan mampu bersaing dengan kompetitornya.

Janur Kuning

Posted by: on Jun 5, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: SMESCO UKM, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Wahai para pecinta yang bertepuk sebelah tangan, patah hatilah jika kalian melihat tanda ini di depan rumah kekasih kalian. Hahaha… sering mendengar ungkapan, “Sebelum janur kuning melengkung, harapan masih terbuka lebar” kan?

Janur kuning, ketika satu simbol bisa diartikan berbeda, tergantung dari sudut pandang mana kita memandangnya. Buat mempelai, pasti menjadi simbol yang membahagiakan karena cinta kasih mereka akan sempurna. Buat mereka yang menyimpan dan memendam rasa, bisa jadi ini akan menjadi simbol yang paling menyedihkan.

Ketika Kualitas Layanan Mengalahkan Harga

Posted by: on Jun 4, 2010 | 8 Comments

Setelah tirakat semalaman mengenai untuk memutuskan siapa adeknya D40, akhirnya di sebuah hari Sabtu yang cerah, dengan semangat saya menuju toko kamera. Ketika riset harga, saya melihat bahwa harga di Oktagon sedikit lebih murah daripada JPC. Tergelitik untuk mencoba toko ini, saya meluncur ke Gunung Sahari, toko pusat Oktagon, untuk mencoba. Saya tahu, butuh perdjoeangan cukup berat untuk mencapai Gunung Sahari, macetnya bo’ tak tahan. Meskipun ada Oktagon di Kemang, tapi saya berasumsi bahwa di pusatnya pastinya lebih lengkap.

Oke, akhirnya saya sampai di lokasi. Sekilas pandang, Oktagon memiliki konsep yang sedikit berbeda dengan toko kamera lainnya. Di ruangan yang tidak terlalu luas, menempel rak display di sepanjang dinding-dindingnya. Di tengah-tengah ada display gantung untuk tas-tas. Di salah satu sisi ada meja kasir. Kemudian ada meja-meja bulat kecil… Ah, ini yang membedakan. Sepertinya meja ini adalah tempat untuk diskusi. Dan memang meja-meja itu penuh dengan calon pembeli yang dengan intens berkonsultasi dengan kru Oktagon.

Masalahnya, sepertinya mereka kekurangan orang. Ketika saya masuk, sama sekali tidak ada yang menyapa. Semua pramuniaga sibuk. Di sudut belakang, nampak sepertinya fotografer-fotografer pro berdiskusi serius tentang lensa. Jadi minder sendiri kalau amatir melihat diskusi itu.

Masalahnya saya ini pembeli yang sangat manja. Saya muter-muter di sepanjang dinding dengan cara agak sedikit menarik perhatian, melihat-lihat barang yang didisplay. Belum ada yang menyapa. Setelah lima menitan, saya ke kasir, tapi dasar manja, saya diam saja sambil memandangi para kasir yang super sibuk. Namanya juga mencoba, mem-benchmark sejauh apa pelayanan Oktagon terhadap calon pelanggan baru. Aduhai, tidak ada yang menyapa juga. Mungkin saya dikira teman dari pembeli lain yang memang jumlahnya cukup padat di ruangan yang tak terlalu luas itu. Saya pikir saya sudah memasang wajah yang cukup linglung untuk menunjukkan bahwa saya baru di sini, tetapi tetap ada tidak ada yang perhatian.

Menyerah, seperti kebiasaan saya, saya keluar diam-diam. Saya meluncur kembali, menembus kemacetan Gunung Sahari hingga ke ujung Kemang. Hahaha… saya menuju ke toko tempat biasa saya beli yang harganya terkenal lebih mahal: JPC Kemang. Hanya pembeli aneh seperti saya yang mungkin mau bersusah-susah pindah toko ketimbang tanya atau memanggil pelayan meminta pelayanan.

Tapi lihat bedanya. JPC Kemang selalu penuh dengan pembeli. Baru saja saya membuka pintu, sudah ada yang menyapa saya dan menanyakan kebutuhan saya. Saya bilang DSLR Nikon D90 dan saya langsung diantar ke meja untuk dilayani. Mungkin memang ini keunggulan JPC, dan layout tokonya yang model konvensional memang lebih mudah mendeteksi calon pembeli baru.

Catatan:
Ada kebetulan yang unik, di nota pembelian tertulis begini:
- JPC Kemang, Nikon D40 kit, 29 Mei 2007
- JPC Kemang, Nikon D90 kit, 29 Mei 2010

Ah!

Bundaran HI

Posted by: on Jun 2, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Bundaran HI – Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM

Inilah landmark paling terkenal di Jakarta setelah Monas. Jika ada orang bertanya dimana titik pusat kota Jakarta, bundaran HI boleh dikatakan pusatnya. Lokasinya yang berada di titik segitiga emas Jakarta menjadikan lokasi ini sebagai tempat favorit untuk menarik perhatian masyarakat macam demonstrasi.

PS: Bundaran HI, checked! Meskipun pengennya night shot dan dari atas, tapi ini dulu sudah lebih dari cukup. 

Terpinggirkan

Posted by: on Jun 1, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Jl. Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Di Jakarta, pejalan kaki adalah kaum yang paling didzolimi. Adalah sangat tidak nyaman berjalan-jalan di ibukota Jakarta Raya ini. Fasilitas satu-satunya yang dimiliki pejalan kaki, trotoar, tidak pernah sepenuhnya dimiliki.

Oke, ambil contoh, berjalanlah di trotoar jalan Pasar Minggu Raya dari ujung Pancoran ke Kalibata saja di sore hari. Perjalanan Anda akan dihadang oleh pedagang kaki lima yang menggelar lapak di tengah trotoar, praktis memenuhi lebar trotoar. Para pedagang kaki lima itu sering mengeluh bahwa mereka didzolimi oleh nasib dan pemerintah, namun kira-kira mereka sadar nggak ya bahwa mereka juga mendzolimi kepentingan pihak lain, yaitu pejalan kaki?

Contoh lagi, berjalanlah di trotoar paling lebar di poros Sudirman – Thamrin di jam pulang kantor. Ini trotoar paling lebar dan paling bersih yang seharusnya memanjakan pejalan kaki. Apa yang terjadi? Anda akan diteriaki oleh klakson-klakson pengguna jalan paling arogan, paling agresif, dan paling tak tahu aturan di Jakarta: pengendara sepeda motor. Di sini, jalur Anda diserobot oleh pengendara motor. Yeah, seharusnya Anda yang berteriak marah, tetapi siapa yang berani melawan sepeda motor? Sedan 3 miliar saja memilih diam sambil menggerutu kalau spion-nya disambar sepeda motor.

Jadi beginilah kondisi trotoar sekarang. Tumpukan sampah daun yang rontok bercampur lumpur ini mungkin sangat jelas bercerita bahwa di sini pejalan kaki bukanlah pengguna jalan yang dianggap penting.

Switch to our mobile site