Tentang Kritik Terhadap Foto

Posted by: on Jun 29, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Istana Bogor, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS (Powershot SD 940 IS)

Kemarin saya membaca sebuah kritik di salah satu foto di facebook yang kurang lebih berbunyi,

Ini foto nggak ada POI-nya, coba kalau yang bawa payung menghadap ke sini pasti lebih bagus.

POI adalah kependekan dari Point of Interest, atau titik utama yang ingin disampaikan fotografer kepada penikmat foto. Foto adalah sebuah seni. Seni erat hubungannya dengan rasa, sehingga cara menikmati dan mengapresiasi sebuah foto adalah dengan perasaan.

Karena perasaan masing-masing orang berbeda, tentu saja tak jarang bahwa apa yang disampaikan fotografer berbeda dengan audience. Tidak apa-apa. Itulah seni. Sehingga saya merasa aneh dengan komentar di atas, kalau menurut fotografer POI-nya adalah pembawa payung yang sedang membelakangi? Atau malah titik air hujan yang karena itu payungnya dibikin blur? Atau ternyata abstrak, padahal kritikus sudah mencela bahwa gambarnya tidak tajam?

Konsep selalu subjektif, bahkan menurut saya tidak ada foto yang jelek selama fotografer sudah senang dengan apa yang dipotretnya. Sehingga, saya pikir juga, tidak relevan juga kalau sebuah karya seni foto diperlombakan mencari mana yang paling bagus dan yang paling bercerita. Itu hanyalah lomba teknik dan keberuntungan. Keberuntungan momment bagus datang dengan settingan kamera yang pas. Keberuntungan dilirik juri sehingga pas dengan selera juri.

Kalau tidak diminta secara khusus, sekarang saya berusaha untuk tidak memberikan komentar/kritik yang terkesan sok tahu seperti di atas. Lha, siapa saya kok berani-beraninya lancang menilai sebuah foto padahal sebenarnya saya tidak mengerti cerita di balik foto? Kalau diminta, saya akan berkomentar menurut pandangan saya, jika saya yang mengeksekusi tombol shutter, jika saya dihadapkan pada momment seperti itu, apa yang akan saya lakukan.

Namun demikian, kritik dan komentar juga diperlukan sebagai salah satu sarana untuk memperluas wawasan dan khasanah kita. Asal jangan patah semangat kalau mendapat kritik yang mencela. Kritikus tidak tahu keterbatasan kondisi yang dialami fotografer ketika di lapangan. Misalnya kritikus bilang akan lebih bagus jika sudut diambil dari atas. Padahal di situ tidak ada alat untuk naik lebih tinggi. Semacam itulah.

Tetap semangat! Anda adalah master fotografi ketika di balik kamera. It’s not about your camera to capture momment, but it’s you, the person that shoot behind the gun.

Benarkah Linux Bisa Dipakai?

Posted by: on Jun 26, 2010 | 5 Comments

Cukup banyak teman-teman saya yang terkejut bahwa saya tidak memakai dual boot pada laptop saya. “Hah? Bisa Dipakai?!?” begitu reaksi kebanyakan kawan saya. Saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya tanpa melebih-lebihkan, “Bisa, cuma memang lebih susah.” Jangankan pengguna awam, yang mendapatkan pendidikan formal di bidang IT saja jarang yang menon-aktif-kan Grub-nya menjadi single boot saja. Kecuali mereka yang memang benar-benar maniak yang kerjaannya download dan kompilasi kernel terbaru.

Hingga saat ini, Ubuntu Lucid Lynx cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya menemukan bahwa aplikasi-aplikasi FOSS yang biasa saya pakai di Windows ternyata terasa lebih enak kalau dipakai di platform aslinya. Inilah aplikasi-aplikasi yang saya pakai:

Berselancar di Internet

  • Alat konektivitas modem: UMTSMon, untuk memaksa si modem 3G bekerja di sinyal 3G only. Modem akan dideteksi otomatis oleh Ubuntu dan kita bisa langsung connect lewat network connection-nya Ubuntu.
  • Webbrowser: Google Chrome, terkesan lebih lite ketimbang Firefox, dan saya kebetulan belum membutuhkan kemampuan Firefox extension yang luar biasa itu. Saya bahkan rela meng-upgrade WP engine saya ke WP terbaru karena editor WP versi 2.3 memiliki bug di Chrome.
  • FTP Client: Filezilla, meskipun Nautilus bawaan Gnome mendukung FTP, tapi saya lebih suka memakai perangkat khusus untuk FTP.
  • Chatting: Pidgin Internet Messenger. Aplikasi alternatif Yahoo! Messenger ini mendukung banyak protokol termasuk Y!M, Google Talk, hingga Facebook Chat.
  • Flickr Uploadr: Flickr Uploader, tidak ada versi resmi dari Flickr untuk perangkat yang bisa melakukan batch uploading ini, ternyata ada juga versi alternatifnya di Linux

Office

  • OpenOffice adalah hal wajib di Linux. Saya sudah mengerjakan beberapa makalah serius untuk tugas kuliah memakai OpenOffice Writer.
  • Email & Calendar: Evolution. Saya adalah pengguna Mozilla Thunderbird dulu waktu di ITS, tapi saya ngikut aja apa kata Ubuntu. Evolution sama sekali tidak usable di versi porting-nya di Windows, tetapi di Linux sudah sangat prima. Rasanya seperti MS Outlook saja.
  • PDF Reader: Adobe PDF Reader, tidak ada software yang fiturnya sekaya software aslinya.
  • Accounting: GNUCash Finance Management. Ini sangat berguna buat melakukan tracking cash flow harian saya. Software ini sangat berguna, utamanya buat orang yang belum memiliki Menteri Keuangan seperti saya, he he he…

Grafis

  • Perangkat utama: GIMP. Tentu saja. Tidak ada perangkat pengolah citra yang sehebat GIMP di dunia FOSS. Secara fitur sebenarnya sudah menyamai Adobe Photoshop, cuma tinggal permasalahan aksesbilitas dan kenyamanan user interface saja.
  • Desktop publishing: Scribus. Saya membuat format essay Car Free Day dengan menggunakan Adobe InDesign, waktu saya migrasi ke Linux, ternyata ada perangkat yang juga menyamai InDesign. Tinggal menunggu karya pertama ebook yang saya bikin dengan ini.

Multimedia

  • Pemutar musik: saya nurut apa kata Ubuntu sebagai pengganti Winamp: Rhythmbox. Saya masih mencoba bikin XMMS2 bekerja karena saya agak kurang suka dengan Rhythmbox.
  • Pemutar video: saya juga nurut kata Ubuntu: Movie Player. Mirip seperti Windows Media Player, perangkat ini juga cukup hebat termasuk kemampuan menampilkan subtitle.
  • Music Sheet: MuseScore. Untuk menulis not balok kalau saya lagi belajar baca partitur, saya memakai perangkat ini untuk menuntun saya mendengarkan ketukan demi ketukan.
  • Perekam audio: Audacity. Kalau lagi narsis pengen pamer kemajuan dalam belajar piano, saya merekam suara yang keluar dari piano, dicolokin ke line microphone di latop, lalu merekamnya dengan perangkat ini.

Demikianlah, masih banyak lagi yang belum saya sebut, tetapi ini sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pastikan koneksi internet Anda lancar dan anda tidak perlu menghapalkan homepage untuk setiap perangkat tadi. Linux menyediakan sistem repositori yang mengumpulkan dan mengatur dependensinya. Tinggal buka Synaptic atau kalau mau hardcore lewat terminal: apt-get install.

Kerak Telor

Posted by: on Jun 26, 2010 | 2 Comments

FLICKR
Lokasi: Setu Babakan, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Penjaja kerak telor selalu mengingatkan saya pada postingan lama ini, dan tentu saja mengingatkan pada isi postingan tersebut. Tetapi baru kemarin untuk pertama kalinya saya tahu bagaimana rasa jajanan khas Betawi ini. Mengikuti rekomendasi si bapak untuk memilih telor bebek ketimbang telor ayam, kerak telor berasa kasar dikunyah, berbau amis telur, dan eneg. Pokoknya jauh dari imajinasi, he he he…

Yeah! Bebas!

Posted by: on Jun 24, 2010 | 4 Comments

Rasanya saya seperti seorang anak kelas 4 SD yang sedang merayakan kebebasannya karena baru saja selesai ujian. Hehehe… ternyata sensasi seperti ini bikin rindu (dan itu salah satu alasan saya sekolah lagi). Bagi adik-adik saya yang masih menikmati suka duka bangku sekolah/kuliah, percayalah, kalian kelak bakal merindukan masa-masa itu kalau sudah lama meninggalkan dunia pendidikan. Jadi, nikmati selagi masih bisa.

Saya baru saja melewati trimester perdana yang luar biasa. Teman-teman baru, lingkungan kampus yang berbeda dengan waktu di ITS dulu, dan yang pasti subjek ilmu pengetahuan baru. Ini membuat saya merasa excited, menikmati serunya diburu deadline tugas, menikmati sensasi ketika mengintip nilai di ujung kertas ulangan, dan tentu saja: kebebasan sejenak untuk liburan setelah melalui ujian akhir yang berat.

Trimester perdana ini berisi kuliah-kuliah dasar manajemen yang kalau dicermati sangat menarik. Dimulai dari pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam kuliah Communication & Interpersonal Skill. Di sini diajarkan teori-teori self-awareness, self-disclosure, manajemen konflik dan negosiasi, hingga presentasi dan pembuatan proposal formal.

Kemudian kita bergerak dalam implementasinya di dunia kerja. Bagaimana motivasi dan persepsi seseorang berperan dalam organisasi. Masuk ke dalam lagi, semua isi organisasi dibedah. Ini menarik karena teori-teori yang dijabarkan sangat dekat aplikasinya di dunia kita sendiri. Mengamati pergerakan teman dan atasan di kantor mengenai leadership-nya, hingga bagaimana saling adu manuver dalam perang power dan politik kantor. Semua teori itu sangat dekat dengan mata! Hal ini dibahas dalam Leadership and Organizational Behavior.

Lebih jauh, kita dibawa untuk menyadari bahwa menjalankan bisnis dalam organisasi harus dilakukan dengan etika. Permasalahan etika dan moral ini diajarkan dalam kuliah Business Ethics. Tiada pertemuan tanpa case study, dari skandal ke skandal, dari luar negeri hingga dalam negeri. Wawasan kita dibuka bahwa ternyata masalah etika adalah masalah yang sangat dilematis dimana tidak ada jawaban yang benar. Dan kita akhirnya bisa mengerti mengapa kadang-kadang seorang pimpinan instansi yang notabene seorang yang bermoral dan beretika harus memutuskan untuk melakukan sesuatu yang melanggar hukum untuk organisasi yang dipimpinnya.

Dan akhirnya, setelah masalah bisnis dikupas secara kualitatif, kuliah Quantitative Business Analysis menjawab setiap permasalahan secara kuantitatif. Semua bisa diukur secara matematis, bahkan dalam urusan pengambilan keputusan yang sulit. Kuliah ini saya akhiri dengan final project yang menjelaskan gejolak indeks IHSG dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara matematis kuantitatif!

Tentang nilai yang akan keluar nanti, saya tidak terlalu fokus kepadanya. Adalah berat memang untuk bisa fokus jika kuliah harus berbarengan dengan bekerja. Meskipun masih ada kekurangan di sana sini, tapi saya puas bahwa saya melewati trimester pertama ini dengan cukup baik. Saya masih ingin berteriak loh, “Hei, jadi mahasiswa lageee!!”

Selamat Ulang Tahun Jakarta

Posted by: on Jun 21, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Setu Babakan, Jakarta Selatan
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Besok, tanggal 22 Juni 2010, Jakarta berulang tahun ke-483. Sudah hampir empat tahun saya numpang cari makan di ibu kota, baru sekarang saya mengucapkan selamat ultah kepadanya. Jakarta, kota yang dibenci sekaligus dicintai penduduknya. Kota yang penuh kesemrawutan tetapi daya tariknya membius setiap orang hingga tak mampu untuk berpaling darinya. Kota dimana orang menggantungkan segala harapan, asa, dan cita-cita.

Saya pribadi cukup bangga bahwa saya berani menantang keangkuhan Jakarta dengan memutuskan untuk bekerja di sini empat tahun yang lalu. Dan saya bersyukur, bahwa saya masih bisa bertahan, dengan nilai-nilai yang masih seperti dulu. Saya bersyukur punya lingkungan kerja dan teman-teman yang baik, yang menjauhkan dari sisi kelam Jakarta. Saya juga bersyukur bahwa sampai sekarang saya belum bisa bilang gue dengan fasih, ha ha ha ha….

Sudut Kampus

Posted by: on Jun 17, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Kampus JWC, Binus University, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Ini adalah salah satu sudut favorit saya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah setelah Perpustakaan Lantai 4. Agak sedikit terpencil di sudut dan sepi, memberikan saya tempat yang sempurna untuk sendirian. Kalau ingin produktif memanfaatkan waktu, saya memang memilih mengerjakan tugas di sini ketimbang di rumah. Paling-paling di sini gangguannya cuma internet dan makhluk-makhluk jelita yang kebetulan lewat. Kalau di kamar, gangguannya terlalu banyak: internet, televisi, piano, hingga kasur yang empuk buat tidur.

Mau dan Mampu Saja Tidak Cukup!

Posted by: on Jun 14, 2010 | 6 Comments

Well, jadi saya sudah suka dengan tampilan Ubuntu. Oke. Saya juga sudah membuat beberapa tugas kuliah dengan menggunakan OpenOffice Writer. Oke. Saya sudah berinternet ke sana ke mari dengan Firefox di atas modem 3G. Oke. GIMP menjadi sangat menarik di versinya sekarang. Oke. Saya juga sudah bisa me-routing laptop ke jaringan dalam kantor sehingga saya tetap bisa mengakses data kantor sementara saya bisa berinternet ria dengan bebas tanpa blokade proxy lewat modem. Oke. Saya berhasil menyambung VPN juga kalau saya sedang di luar kantor untuk mengakses email-email urgent. Oke. Evolution sudah bisa saya pakai untuk email client. Oke.

Saya sudah mau pakai.
Saya juga sudah mampu membuat Ubuntu bekerja sesuai kebutuhan saya.

Nyatanya, saya masih harus memakai Powerpoint untuk presentasi di ujian akhir kuliah Communication minggu depan. Saya hanya ingin aman dan tidak mau diganggu oleh masalah kompabilitas, karena saya 110% yakin pengaturan apapun yang dibuat di OpenOffice akan rusak di Powerpoint meskipun saving-nya sudah dalam format PPT. Pakai laptop untuk presentasi? Ribet om, menghadapi sesi presentasinya sendiri sudah banyak yang harus diantisipasi, apalagi jika harus disibukkan oleh masalah teknis.

Tugas akhir kuliah Statistik juga memaksa saya memakai Excel karena saya memerlukan Data Analysis Toolpak dan Solver. Meskipun ada Solver dan third-party-macro di OpenOffice, saya belum bisa memakainya (masalah klasik software bebas tanpa jaminan, lack of documentation).

Jadi, kawan-kawanku, mau dan mampu saja belum cukup. Anda semangat untuk bebas dari pembajakan, Anda memiliki kompetensi yang cukup untuk menangani masalah-masalah yang akan timbul, itu belum cukup. Lebih baik beli Windows 7 yang tak sampai 2 juta rupiah. Tapi jika dua juta cukup berarti di saat Anda bisa beli CD bajakan seharga lima belas ribu, it’s time to do good and well.

Alternatifnya, Anda bisa beli notebook yang ter-bundle dengan operating system dengan mengisi software bebas ke dalamnya, atau mari bersama saya bertualang bereksplorasi di dunia baru yang belum pernah kita masuki, dunia yang aneh, tapi sering juga mengasyikkan.

Switch to our mobile site