Judging the Book by the Cover

Posted by: on May 13, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Jl. Kuningan Barat, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Saya pernah bertanya-tanya berapa kira-kira omset harian bapak penjual rujak buah ini. Setiap hari ia mendorong gerobak kaca yang sudah tidak muat menampung jumlah buah yang dibutuhkan sehingga harus ditambah ekstra dua tas kresek super besar di pegangan dorongannya. Posnya adalah di kompleks pedagang kaki lima di tepi jalan Kuningan Barat 1. Lokasi yang sangat strategis karena di situ bisa dikatakan “halaman belakang”-nya beberapa kantor pemda Jakarta dan kantor pusat Telkomsel: Wisma Mulia.

Beliau cukup memonopoli pasar karena praktis di pasar niche ini tidak ada pesaing lain. Berbeda dengan mereka yang memilih bermain di blue ocean market seperti nasi uduk, gado-gado, mie ayam, dan gorengan. Meskipun demikian, kondisi pasar di sini sudah cukup matang, artinya sudah ada pelanggan tetap dari para pekerja kantoran di hari Senin-Sabtu.

Saya cukup confident untuk mengatakan bahwa bapak ini tidak pernah membaca The Wealth of Nation-nya Adam Smith, atau tentang teori Power and Politicking di buku Organizational Behavior-nya Mc Shane, tetapi beliau tahu betul bahwa ia menguasai pengaturan harga secara mutlak. Kalau tidak salah, satu piring rujak buah dijual pada angka sepuluh ribu yang mana harga pasar normalnya sekitar enam ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi toh, dagangannya tetap laris sampai habis. Sekadar prakiraan kasar, jika setiap hari beliau bisa menjual 300-an piring, maka omset per harinya adalah Rp. 3.000.000. Dan jika berandai-andai setiap hari ia bisa mengambil profit margin hingga Rp. 1.500.000, maka penghasilan per bulannya adalah sekitar Rp. 25.000.000! Jauh lebih tinggi dari penghasilan seorang supervisor, apalagi staf-staf muda yang merasa kaya dengan penghasilan lima jutaan tiap bulan dan dihabiskan untuk lifestyle.

Lesson learn-nya adalah:

  1. Untuk Anda yang bekerja di kantor yang adem, berbusana rapi, dan mungkin bersepatu Mahnolo Blahnik, pernahkah Anda berpikir? Berapa saving ada tiap bulan?
  2. Bisnis makanan kaki lima seringkali dipandang sebelah mata. Tetapi kadang-kadang ternyata tidak seperti kelihatannya bukan?

*disclaimer: perhitungan omset di atas hanyalah angan-angan belaka tanpa didukung oleh data survey maupun wawancara langsung. bisa jadi masih ada banyak faktor yang belum diperhitungkan, tetapi pada intinya hanya sebagai jembatan untuk saya menulis lesson learn yang saya dapatkan dari penjual buah ini.

Nganggur

Posted by: on May 7, 2010 | 11 Comments

FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta Selatan
Canon EOS 550D | Canon EF-S 18-55 mm

Kalau mug-mug ini sedang tidak bertugas, mereka biasanya teronggok begitu saja di atas meja bulat. Biasanya para OB (Office Boy) meletakkan gelas-gelas yang baru saja dicuci di situ. Hanya seorang fotografer yang sedang iseng saja yang bisa punya pikiran untuk menyusun mug-mug itu, memaksanya menjadi model still life dengan komposisi yang nanggung.

Dari Jurusan Sains ke Sosial

Posted by: on May 3, 2010 | 7 Comments

Bapak saya adalah seorang guru Matematika yang — menurut teman yang pernah menjadi muridnya — gaya mengajarnya jelas, enak, humoris, tetapi sekaligus killer. Jadi wajar jika dalam pendidikan keluarga, saya mendapatkan doktrinasi bahwa sains  (science) adalah ilmu dari segala ilmu di atas ilmu sosial. Saya masih ingat betul, bagaimana Ibu sangat galak ketika mengetes hapalan saya tentang perkalian dibawah angka 10. Saya bisa disetrap tidak diberi kue-kue kalau masih salah menghitung 8 kali 7.

Ketika saya duduk di bangku SMU, citra jurusan IPA dianggap lebih superior daripada jurusan IPS, karena disanalah orang-orang pintar nan jenius bercokol. Sembilan dari sepuluh pemegang The Best Ten Student di Cawu III kelas 2 memilih jurusan IPA. Deretan ruang kelas 3 IPA yang berada di paling selatan gedung sekolah sepertinya lebih berkilau daripada deretan ruang kelas 3 IPS. Anak IPA berjalan dengan anggun dan menegakkan kepala. Semua membidik jurusan sains yang dianggap paling memiliki masa depan cerah saat itu: Teknik Informatika, Teknik Industri, dan Teknik Elektro.

Sejak saat itulah, saya tenggelam di dunia sains. Jika ditanya apa kredonya, mungkin I believe in science. Persamaan Matematika menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelaah. Matematika adalah sains sekaligus seni. Hal ini berlanjut ketika saya mengambil penjurusan Intelligence Business System. Saya memilih pembimbing yang terkenal paling killer, paling galak, dan memiliki kecintaan dengan Statistik pada tingkat yang mengerikan. (Salam hormat saya selalu, Pak Rully Soelaiman ).

Makanya saya sendiri masih agak heran mengapa saya berani kuliah lagi di jurusan sosial. Padahal saya pernah berangan-angan meneruskan riset saya di bidang information retrieval, atau topik-topik advance mengenai Data Mining dan Artificial Intelligence.

Perubahan. Saya merasa jalan pikiran saya terlalu struktural mengikuti pola pikir komputer. Loop and break if not zero. Dengan “menyeberang” ke jalur sosial, saya berharap mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih luas lagi, sehingga pola pikir yang terlalu ke otak kiri ini agak bergeser ke kanan. Oleh karena itu, saya mengambil Magister Manajemen, bukan topik-topik advance di bidang sosial macam Ekonomi Mikro atau Akuntansi lanjut.

Ada seorang kawan yang mengasumsikan alasan saya memilih MM karena saya ingin menjadi manajer. Agak terlalu jauh, karena saya anggap, tidak harus manajer atau calon manajer yang kuliah MM. Setiap profesional yang bekerja memerlukan pengetahuan yang diajarkan di kuliah MM. Dengan mengetahui lebih luas dunia manajemen, ia akan lebih produktif dan lebih strategis dalam pekerjaannya. Katakanlah, seorang programmer murni mungkin akan memikirkan ekses teknis saja dalam merancang sebuah sistem. Tetapi, programmer dengan pengetahuan manajerial bisnis akan memikirkan aspek-aspek yang lebih luas ketika merancang sistem. Mungkin ia akan memperhitungkan efek politisnya, efek sosialnya, dll.

Ilmu mungkin dalam jangka pendek tidak begitu terasa gunanya. Tetapi ilmu yang menumpuk dan mengendap akan menjadi sebuah pola pikir. Dengan ilmu yang lebih luas pula, kita akan mendapatkan kesempatan untuk membaginya dengan orang lain, menolong orang lain, mungkin bahkan mencerahkan orang lain.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Mejeng

Posted by: on May 2, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Jawi-Jawi, Muara Badak, Kalimantan Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Saya melihat gadis kecil ini lincah sekali berlari-lari di geladak kayu. Ia sama sekali tidak terintimidasi dengan moncong lensa panjang kami yang mengikuti ke manapun ia bergerak. Dan inilah yang saya dapat, saya tersenyum dan ia pun balas tersenyum ramah kepada saya. Senja begitu indah, hangat menyinari bibir muara di ujung timur pulau Kalimantan dimana di bawahnya tersimpan berjuta-juta metrik ton gas alam dan minyak bumi.

PS: Ini adalah pertama kalinya saya memakai GIMP sebagai editor. Setelah sekian lama, mereka rupanya telah melakukan banyak perbaikan. Saya mulai nyaman memakainya, setidaknya, sebagai awalan, untuk upload foto ke flickr.

Switch to our mobile site