Sensus untuk Pembangunan

Posted by: on May 18, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah
Canon Ixus 120 IS

Cacah Jiwo Kanggo Mbangun Praja.

Itulah tagline poster kampanye sensus penduduk yang saya temukan ditempel di kaca sebuah pom bensin di Purwantoro, sebuah kota transit antar lintas kota Ponorogo – Wonogiri. Selanjutnya isinya adalah tentang pengertian sensus dan manfaatnya. Semuanya tertulis dalam bahasa Jawa dialek Surakarta.

Beda audience, beda cara komunikasi. Tampaknya hal ini sangat dimengerti oleh tim BPS setempat. Saya saja terkejut ketika membuka tangki bensin dan disambut ramah oleh petugas dengan sapaan berbahasa Jawa krama alus! Padahal, kalau lagi di rumah (Tulungagung), kemana-mana juga disapa pakai bahasa Jawa juga, tetapi masih terperanjat juga mendengar dialek yang masih asli dari mas petugas pom bensin.

Oh iya, tentang sensus-nya sendiri, saya kok pesimis bahwa saya akan dihitung. Di Jakarta ini saya hitungannya adalah perantauan. Bapak kos tidak tahu data detail tentang saya, kalaupun petugas datang ke kos-kos-an, saya rata-rata baru pulang jam 9 malam ke atas. Di rumah dimana secara legalitas saya tinggal, katanya sudah dihitung dan saya dikonfirmasi tidak dihitung karena kata petugasnya, yang dihitung adalah yang secara fisik ada di sana. Barusan saya berkunjung ke situs BPS dan tidak ada informasi mendetail tentang ini.

3 Comments

  1. Alex Barock
    May 19, 2010

    Kebanyakan tim sensusnya juga kerja asal-asalan,padahal untuk sensus sekarang bayarannya guede lho,…

    Reply
  2. roland
    May 20, 2010

    wah padahal saya pengen diwawancara loh ma petugas sensus, yah ternyata orangnya datang pas saya sedang keluar rumah :(

    Reply
  3. millati
    June 1, 2010

    Waduh, sebagai orang BPS saya jadi sedih ada yang pesimis gak dihitung.
    Begini konsepnya:
    1. Sudah tinggal di satu tempat, misal Jakarta, 6 bulan atau lebih : dicatat di Jakarta
    2. Baru tinggal kurang dari 6 bulan di satu tempat, misal Jakarta, tapi berniat menetap (meskipun belum punya KTP), dicatat di Jakarta
    Jadi kalo Mas Galih sudah tinggal di Jakarta 6 bulan atau lebih, insya Allah disensus di kos di Jakarta.
    Btw, sekarang sudah bulan Juni, mestinya sudah disensus karena batas akhir (yang normal) untuk Sensus Penduduk itu tanggal 31 Mei.

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site