Judging the Book by the Cover

FLICKR
Lokasi: Jl. Kuningan Barat, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Saya pernah bertanya-tanya berapa kira-kira omset harian bapak penjual rujak buah ini. Setiap hari ia mendorong gerobak kaca yang sudah tidak muat menampung jumlah buah yang dibutuhkan sehingga harus ditambah ekstra dua tas kresek super besar di pegangan dorongannya. Posnya adalah di kompleks pedagang kaki lima di tepi jalan Kuningan Barat 1. Lokasi yang sangat strategis karena di situ bisa dikatakan “halaman belakang”-nya beberapa kantor pemda Jakarta dan kantor pusat Telkomsel: Wisma Mulia.

Beliau cukup memonopoli pasar karena praktis di pasar niche ini tidak ada pesaing lain. Berbeda dengan mereka yang memilih bermain di blue ocean market seperti nasi uduk, gado-gado, mie ayam, dan gorengan. Meskipun demikian, kondisi pasar di sini sudah cukup matang, artinya sudah ada pelanggan tetap dari para pekerja kantoran di hari Senin-Sabtu.

Saya cukup confident untuk mengatakan bahwa bapak ini tidak pernah membaca The Wealth of Nation-nya Adam Smith, atau tentang teori Power and Politicking di buku Organizational Behavior-nya Mc Shane, tetapi beliau tahu betul bahwa ia menguasai pengaturan harga secara mutlak. Kalau tidak salah, satu piring rujak buah dijual pada angka sepuluh ribu yang mana harga pasar normalnya sekitar enam ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi toh, dagangannya tetap laris sampai habis. Sekadar prakiraan kasar, jika setiap hari beliau bisa menjual 300-an piring, maka omset per harinya adalah Rp. 3.000.000. Dan jika berandai-andai setiap hari ia bisa mengambil profit margin hingga Rp. 1.500.000, maka penghasilan per bulannya adalah sekitar Rp. 25.000.000! Jauh lebih tinggi dari penghasilan seorang supervisor, apalagi staf-staf muda yang merasa kaya dengan penghasilan lima jutaan tiap bulan dan dihabiskan untuk lifestyle.

Lesson learn-nya adalah:

  1. Untuk Anda yang bekerja di kantor yang adem, berbusana rapi, dan mungkin bersepatu Mahnolo Blahnik, pernahkah Anda berpikir? Berapa saving ada tiap bulan?
  2. Bisnis makanan kaki lima seringkali dipandang sebelah mata. Tetapi kadang-kadang ternyata tidak seperti kelihatannya bukan?

*disclaimer: perhitungan omset di atas hanyalah angan-angan belaka tanpa didukung oleh data survey maupun wawancara langsung. bisa jadi masih ada banyak faktor yang belum diperhitungkan, tetapi pada intinya hanya sebagai jembatan untuk saya menulis lesson learn yang saya dapatkan dari penjual buah ini.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Di jakarta bisa jadi dia jualan rujak, tapi di kampungnya bisa jadi dia punya rumah tingkat dengan tanah luas dan ternak yang banyak, hehehehe… Biasanya orang2 kayak gini ulet, hasil jualannya dikumpulin untuk sesuatu yang lebih berarti untuk masa depan, karena dia nggak punya zona aman, kalo nggak dagang ya nggak dapet duit, makanya setiap rupiah hasilnya dihargai sungguh2… *iki wis koyok dadi tukang buah e ae komenku hahahhaha….

  2. dia itu tetangga saya.. omset jualanya kurang lebih 4jt dan di kampng dia punya dua rumah punya tanah luas punya ternak ayam tepatnya di desa kajenengan bojong tegal..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *