SLR Nikon, Saku Canon?

Posted by: on May 31, 2010 | 7 Comments

Ada pertanyaan menarik dari Om Roland di postingan ini:

Mas Galih maw tanya niy, kan Mas bilang suka Nikon karena karakter warna, bisa dijelaskan ga Mas apa itu maksudnya? Apa bedanya Canon ma Nikon? Saya juga pertimbangkan maw bli DSLR . . . oya kenapa kamera pocket mas itu Canon bukan Nikon?

Karena jawabannya bakalan agak panjang, saya jadikan satu posting tersendiri untuk menjawabnya.

Karakter Warna

Menjelaskan karakter warna antara Nikon dan Canon itu gampang-gampang susah. Ini erat kaitannya dengan kedalaman kontras, brightness, saturation, dan color temperature itu sendiri. Namun jika dikatakan secara awam, saya merasa kecenderungan warna Canon itu lebih natural dan alami daripada Nikon. Canon memiliki warna yang sangat alami terhadap skin tone (warna kulit). Lha? kok saya malah nggak suka dengan yang alami? Karena saya menganggap itu sebagai warna pucat. Saya harus menambah tingkat kontras di Canon.

Karakter warna Nikon memiliki kecenderungan lebih hangat. Lebih kontras meskipun tidak sampai over saturated. Karena kebutuhan saya kebanyakan hasil foto adalah untuk dinikmati di monitor komputer, saya membutuhkan warna-warna yang kontras agar lebih eye-catching. Nikon D40 sangat memenuhi kebutuhan ini dengan catatan metering-nya yang sedikit kacau sehingga perlu koreksi olah digital. Nikon D90, seperti yang ditampilkan di sesi hunting pertama bersamanya, memiliki noise yang jauh lebih halus, metering yang lebih akurat, sehingga sangat pas dengan kebutuhan.

Kamera Saku Canon?

Saya bukanlah seorang fotografer yang fanatik dengan suatu brand. Sejak awal, kamera saku saya adalah Canon. Canon Powershot A400 kemudian berlanjut ke Canon Ixus 120 IS. Mengapa saya memilih Canon? Hanya sekadar selera. Saya agak ragu-ragu dengan kualitas kamera saku Nikon karena sempat ada produk Coolpix yang dianggap produk gagal. Saya suka Ixus karena bentuknya yang mungil sehingga tidak terlalu mengganggu dimasukkan ke dalam saku. Nyaris terasa seperti ponsel.

Saya tidak terlalu mengejar kualitas karena kebutuhannya hanya untuk fun dan kepraktisan belaka. Foto-foto ketika datang ke acara pernikahan teman, foto kehidupan sehari-hari, dan membuat kita selalu siap menangkap objek yang tidak terduga. Jika saya menginginkan foto yang lebih serius, tentu saja saya akan mengambil kamera SLR. Saya tidak suka kamera ponsel. Kualitasnya di bawah standar. Itu hanya fitur nice to have saja.

Nikon atau Canon?

Pertanyaan legendaris yang sulit dijawab. Ini seperti pertanyaan, “Pilih distro Linux apa?”. Percayalah, browsing di forum-forum tidak akan banyak membantu. Itu akan membuat Anda semakin bingung untuk menentukan pilihan.

Jadi jawaban saya simpel saja: Keduanya sama-sama kamera berkualitas baik. Keduanya sama saja. Mana yang lebih disuka, itu pilihannya. Mana yang dipakai oleh teman-teman dekat, itu akan banyak membantu. Bisa pinjam lensa, diskusi teknis, dsb.

Uniknya, inilah fakta-fakta ketika saya dulu memilih Nikon atau Canon: teman banyak yang pakai Canon, warna lebih natural, noise yang lebih halus, dan harga yang cenderung lebih murah. Tetapi saya lebih suka Nikon. Nikon itu kamera, bukan printer atau mesin fotokopi! Hahaha…

Sebuah Arena Ekspresi: Hari Bebas Kendaraan Bermotor

Posted by: on May 31, 2010 | 8 Comments

FLICKR
Lokasi: Bundaran HI – Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Car Free Day atau yang kini diperkenalkan dengan nama Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) memang unik. Program ini bisa dikatakan sukses mendapatkan perhatian masyarakat dari segala lapisan, jika melihat tumpah ruahnya jumlah orang yang berpartisipasi. Orang dari berbagai komunitas, dari segala umur, segala lapisan berkumpul bersuka cita di jalanan yang biasanya macet total oleh kendaraan bermotor. Sekilas memang mirip demo besar-besaran, tetapi suasananya seakrab pasar pagi di desa di tepi hutan di lereng sebuah gunung.

Sudah lama sekali saya tidak mendapatkan semangat hunting foto seperti kemarin. Pagi-pagi sehabis subuh, saya mengayuh sepeda pinjaman dari Rawamangun menuju Bundaran HI. Menyenangkan sekali!

Dan akhirnya, sebuah essay fotografi pertama saya berhasil saya selesaikan. Apa itu essay fotografi? Photography essay adalah rangkaian foto yang mencoba bercerita mengenai apa yang ingin disampaikan oleh fotografer. Semoga cukup menghibur dan jangan dibajak ya, ha ha ha…

Silakan klik di sini untuk mendownload, hati-hati, ukurannya 24 MB.

The Heritage

Posted by: on May 26, 2010 | 2 Comments

FLICKR
Lokasi: Jl. H Juanda, Bogor, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS

Saya membayangkan beratus tahun yang lalu, meneer-meneer Belanda mengendalikan pemerintahan Hindia Belanda di kota kecil sejuk yang tak jauh dari pusat pemerintahan di Batavia. Kota yang sejuk dan selalu hujan ini diberi nama: Buitenzorg. Kereta kuda berseliweran membawa pejabat-pejabat berseragam putih-putih dan bertopi bulat.

Saya tak tahu dulu gedung ini dipakai untuk apa oleh pemerintahan kolonial, tetapi sekarang gedung yang masih terlihat kokoh terawat itu dipakai sebagai gedung Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah 1 Jawa Barat. Letaknya persis di depan Istana Bogor, yang memang dulunya merupakan pusat pemerintahan di Buitenzorg.

Bye Bye My Luv…

Posted by: on May 26, 2010 | 7 Comments

Ternyata tiba saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk salah satu benda yang paling saya sayangi selama ini. Benda yang paling sering menghiasi dan mewarnai blog ini. Benda yang merupakan impian dan obsesi selama kuliah. Kamera Digital Single Lens Reflex Nikon D40.

D40 adalah generasi pertama kamera Nikon seri entri level yang menyentuh angka lima juta. Sebelumnya, Nikon selalu gagal bersaing dengan kamera SLR sejuta umat saat itu, Canon EOS 350D, karena gagal menekan harga seri entri level-nya: Nikon D50. Akhirnya D40 keluar dengan terobosan baru, menghilangkan motor autofokus di body kamera sehingga kamera ini hanya bisa autofokus di lensa-lensa modern yang memiliki motor autofokus di lensa. Dengan kata lain: hanya bisa bekerja dengan lensa-lensa mahal.

Waktu saya membeli kamera ini, saya masih termasuk freshgrad dengan kamera andalan Canon Powershot A400. Ketika mendengar ada SLR seharga lima jutaan, saya langsung gelisah dan sibuk menghitung-hitung untuk memecah celengan ayam. Dilema seorang yang akan menjadi “mualaf” fotografi jelas: memilih “agama” kamera.

Pilihan saya antara Nikon D40 atau Canon EOS 350D yang satu harga meskipun secara teknologi, era EOS 350D sudah berakhir dan segera digantikan EOS 400D. Keputusan akhirnya jatuh ke D40 dengan beberapa alasan: (1) Saya lebih suka karakter warna Nikon; (2) Pilihan lensa yang lebih sedikit akan menahan saya untuk mengoleksi lensa-lensa (meskipun opsi ini akhirnya tidak berjalan juga, saya akhirnya beli-beli lensa juga hahaha…); (3) Ken Rockwell sangat suka D40 — bahkan hingga sekarang ia masih merekomendasikan D40 ketimbang D90 (if the price does matter!).

Jadi begitulah, saya masih belum tahu adeknya D40 ini apa — saya masih meriset kamera-kamera SLR Nikon. Saya pernah pakai Nikon D300 dan menurut saya D300 sangat susah dikendalikan, jauh lebih baik kakaknya, yaitu Nikon D200. Tetapi Nikon D200 selain sudah obsolete beratnya juga macam barbel dua kilo saja. Saya pernah pakai Nikon D80 milik kantor waktu tugas dinas ke lapangan beberapa bulan yang lalu dan saya suka handling-nya.

Entahlah, kita tunggu saja, he he he…

Marilah Kita Sholat

Posted by: on May 24, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Masjid Lido, Sukabumi, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS

Senja telah tiba. Seiring meredupnya sinar matahari, secara serempak suara adzan berkumandang bersahut-sahutan memanggil para muslim untuk segera menunaikan kewajibannya. Seruan yang sederhana. Bagi saya, kadangkala adzan terdengar menjengkelkan, tetapi sering juga mampu menggetarkan jiwa hingga memaksa saya meneteskan air mata.

Pembenahan Stasiun Gambir

Posted by: on May 19, 2010 | 4 Comments

FLICKR
Lokasi: Stasiun Gambir, Jakarta
Canon Ixus 120 IS

Stasiun Gambir sedang melakukan pembenahan layout besar-besaran, khususnya di sisi infrastruktur dan fasilitas. Paling mencolok terlihat adalah penambahan stand toko-toko dan restoran cepat saji di sayap selatan yang dulu kosong tak terurus. Saya lihat pembenahannya positif, lebih banyak pilihan makanan di sana (sehingga saya tak khawatir akan kelaparan di sini).

Infrastruktur tak ketinggalan. Parkiran sepeda motor yang biasanya ada di sisi belakang menempel pagar area Monas, sekarang dipindah ke sisi selatan di bawah rel yang dulunya adalah area parkir menginap mobil. Letaknya lebih berdebu karena masih banyak bagian yang beralas tanah — belum semuanya pave yard. Nampaknya areanya juga lebih terbuka dan saya berkesan kurang aman meninggalkan motor di sini selama empat hari.

Cuma satu yang saya tidak suka dengan perubahan ini. Blue Bird terusir dari Gambir karena insiden beberapa waktu yang lalu. Saya paling tidak suka diintimidasi sopir taksi dan pengemudi ojek ketika keluar stasiun, sehingga saya harus keluar gerbang stasiun dulu kalau ingin cari taksi. Itu sangat tidak nyaman.

Sensus untuk Pembangunan

Posted by: on May 18, 2010 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah
Canon Ixus 120 IS

Cacah Jiwo Kanggo Mbangun Praja.

Itulah tagline poster kampanye sensus penduduk yang saya temukan ditempel di kaca sebuah pom bensin di Purwantoro, sebuah kota transit antar lintas kota Ponorogo – Wonogiri. Selanjutnya isinya adalah tentang pengertian sensus dan manfaatnya. Semuanya tertulis dalam bahasa Jawa dialek Surakarta.

Beda audience, beda cara komunikasi. Tampaknya hal ini sangat dimengerti oleh tim BPS setempat. Saya saja terkejut ketika membuka tangki bensin dan disambut ramah oleh petugas dengan sapaan berbahasa Jawa krama alus! Padahal, kalau lagi di rumah (Tulungagung), kemana-mana juga disapa pakai bahasa Jawa juga, tetapi masih terperanjat juga mendengar dialek yang masih asli dari mas petugas pom bensin.

Oh iya, tentang sensus-nya sendiri, saya kok pesimis bahwa saya akan dihitung. Di Jakarta ini saya hitungannya adalah perantauan. Bapak kos tidak tahu data detail tentang saya, kalaupun petugas datang ke kos-kos-an, saya rata-rata baru pulang jam 9 malam ke atas. Di rumah dimana secara legalitas saya tinggal, katanya sudah dihitung dan saya dikonfirmasi tidak dihitung karena kata petugasnya, yang dihitung adalah yang secara fisik ada di sana. Barusan saya berkunjung ke situs BPS dan tidak ada informasi mendetail tentang ini.

Switch to our mobile site