Cukuplah Cerita Robert Langdon Sampai Di Sini Saja!

Posted by: on Apr 10, 2010 | 5 Comments


*gambar dari wikipedia

Judul Buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Bentang
Jumlah Halaman: 705 halaman

Meskipun saya adalah fans buku-buku thriller Dan Brown, namun di sini saya harus katakan bahwa The Lost Symbol tidak lagi se-spektakuler petualangan Langdon yang lain. The Lost Symbol masih bagus, saya merelakan diri untuk tidak tidur semalaman untuk menghabiskan buku ini. Tetapi bagi saya yang sudah mengenal baik Robert Langdon di Angels and Demons dan The Da Vinci Code, saya merasa bosan.

Basis ide ceritanya sama. Slow start, cerita dibuka dengan pembukaan basi ala Dan Brown: mimpi. Langdon bermimpi naik bukit dengan sesosok perempuan di Angels and Demons (sosok itu di ending cerita menjadi Vittoria Vetra), Langdon sedang tidur ketika ditelpon Max Kohler di pembukaan The Da Vinci Code. Dan lagi-lagi, Langdon sedang tidur ketika ditelpon asisten Peter Solomon di The Lost Symbol. Memangnya Dan Brown tidak bisa membuat pembukaan cerita dengan lebih kreatif?

Riset tentang Mason nampaknya dirasa Dan Brown masih kurang ter-eksplorasi di dua buku awalnya, sehingga ia perlu membuat satu buku khusus yang membahas persaudaraan ini. Sehingga, saya melihat ada beberapa perulangan penjelasan simbolisme masonic di tiga buku Langdon ini. Mungkin bagi pembaca yang belum mengikuti petualangan Langdon, The Lost Symbol akan sangat menarik, tetapi bagi yang sudah, jangan kaget jika ada pembahasan-pembahasan simbol dan fenomena yang diulang di buku ini.

Karena masih itu-itu saja, petualangan profesor yang beranjak menua ini pun mudah ditebak. Bahkan motif si antagonis dalam menjalankan misinya yang membuatnya harus berhadapan dengan si tokoh protagonis, saya sudah bisa meraba-rabanya sejak awal. Dan Brown harus membuat sesuatu yang baru di luar Robert Langdon, seperti ketika dengan jenius bercerita di Deception Point dan Digital Fortress.

Oke, saya belum mengulas jalan cerita buku ini. Jadi ceritanya, setelah terkenal dengan petualangan seru di Vatikan, kemudian mengulas sejarah agama yang kontroversial melalui lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci di Paris, Robert Langdon mengobrak-abrik ibu kota Ameria Serikat, Washington DC, melalui petualangan yang tak kalah mendebarkan. Setting utama yang diambil adalah Gedung US Capitol, dengan Freemasonry sebagai titik bahasan utama.

Seperti yang dijanjikan Langdon dalam salah satu kuliahnya di Harvard, Washington DC adalah kota yang penuh simbol, kuil, terowongan, ruang bawah tanah, lukisan-lukisan, seperti Eropa. Nyaris semuanya dideskripsikan dengan mendetail (kekuatan novel-novel Dan Brown — deskripsi, setting dan penokohan yang detail). Dan yang menarik, Washington DC menyimpan rahasia yang — seperti kebanyakan rahasia terbaik lainnya — tersembunyi mencolok di depan mata. Rahasia-rahasia itulah yang membawa Langdon kembali terjebak dalam sebuah petualangan semalam yang menantang maut.

Entahlah, meskipun saya menghabiskan buku ini dalam semalam saja, menurut saya ini adalah buku terburuk Dan Brown. Bagaimana menurut Anda? Sudah baca buku terakhir Dan Brown ini?

Twilight

Posted by: on Apr 8, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Pancoran Barat, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Kuncinya adalah selalu peka dan siap dengan kamera. Sabtu sore, waktu saya asyik mencoba nada-nada partitur Love of My Life-nya Queen, dengan ditemani sebungkus Citato (dua bungkus Kusuka dan Qtela telah ada di tempat sampah), jendela kamar saya menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Saat itu situasinya masih basah karena hujan, dan saya tidak tahu mengapa sore yang biasanya memerah suram menjadi kuning keemasan seperti ketika terbit pagi.

Saya segera mengambil kamera di atas meja, membuka jendela, dan klak klik sampai adzan maghrib berkumandang dari musholla di bawah. Inilah yang paling saya suka dari kamar kos saya: terletak di lantai dua, jendela ke udara bebas, langsung ke arah matahari tenggelam. Kamar yang jarang-jarang ada di Jakarta (kebanyakan pengap, sempit, tidak berjendela, kalaupun ada langsung menghadap kompleks yang sempit umpel-umpelan).

Tentang Distribusi Gaussian

Posted by: on Apr 7, 2010 | 5 Comments


*gambar dari Wikipedia

Menurut Anda, apa penemuan terbesar di dunia Statistik? Menurut saya, Distribusi Gaussian (disebut juga Distribusi Normal) adalah salah satu penemuan terhebat sepanjang masa. Adalah orang gila bernama Carl Friedrich Gauss yang menemukan distribusi yang mirip gunung simetris ini. Kenapa hebat? Para ahli Statistik akan bisa menjelaskan lebih detail daripada saya, tapi biarkan saya berceloteh kenapa saya terkagum-kagum dengan distribusi ini.

Tidak akan ada ramalan yang lebih menakutkan para politisi, calon presiden, calon kepala daerah daripada hasil exit poll atau hasil quick count. Mungkin jika tidak ada Mbah Gauss ini, hidup politisi lebih enak kali ya? Hehe…

Hampir tidak mungkin menghitung data populasi. Kalaupun bisa, ini akan memerlukan biaya dan waktu yang sangat besar. Coba lihat besarnya usaha sensus penduduk, berapa lama waktu yang diperlukan KPU menghitung hasil pemungutan suara. Nah, dengan adanya penemuan Mbah Gauss ini, populasi bisa diestimasi — atau diramalkan (jika kata estimasi terlalu ilmiah :p ) — dengan akurasi yang juga bisa diukur secara ilmiah, dengan sebagian data populasi yang diambil secara acak dengan syarat-syarat khusus. Salah satu syaratnya cukup mudah: 30 data acak sudah cukup. Oleh Mbah Gauss data sebanyak ini sudah dianggap “cukup besar”.

Kemudian, satu hal lagi penemuan beliau yang menyederhanakan banyak permasalahan, yaitu teorinya yang disebut Central Limit Theorem. Artinya kurang lebih, apapun jenis data populasi yang sedang Anda ramalkan, Anda bisa menggunakan aturan-aturan distribusi normal karena data acak yang Anda ambil itu akan terdistribusi normal. Syaratnya: asal data acak yang Anda ambil cukup besar. Sebesar apa? Minimal 30 data acak sudah cukup!

Seperti saya, mungkin Anda agak alergi dengan Statistik, apalagi kalau melihat persamaan dan rumus Matematikanya yang mengerikan. Tapi kita orang awam kan tidak perlu mengetahui bagaimana cara Mbah Gauss menurunkan rumus dari rumus satunya, semuanya sudah ada di Ms Excel. Cukuplah kita mengerti konsep dasar Statistik, bagaimana penerapannya untuk meramal suatu data populasi. Jadi, kita bisa tersenyum melihat orang-orang bertengkar di TV tentang hasil survey yang ternyata hasilnya berbeda satu sama lain.

Setelah ini, saya ingin berceloteh tentang analisis regresi. Bah, istilah apalagi itu? Masih berkutat mengenai Statistik, tetapi konsep yang dulu sangat saya benci dan membingungkan ini tiba-tiba saya sadari merupakan salah satu komponen terpenting dalam analisis dan peramalan data di dalam analisa bisnis.

* Disarikan dari kuliah Quantitative Business Analysis, Binus Business School

Demi Waktu

Posted by: on Apr 6, 2010 | 3 Comments

Ada hal yang menarik ketika saya membaca salah satu buku yang ditulis oleh Dr. Quraish Shihab1 ketika membahas tentang surat Al-Ashr. Kata ‘ashr hanya ditemukan sekali penggunaannya dalam Al-Qur’an, yaitu Wal ‘ashr, demi masa. Ternyata secara etimologis, kata ‘ashr atau masa ini berasal dari akar kata yang berarti “memeras atau menekan dengan sekuat tenaga sehingga bagian yang terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak di permukaan”.

Untuk kesekian kalinya, saya mengangkat tema waktu di blog saya ini. Untuk kesekian kalinya lagi, setiap kali saya ingat tentang waktu, saya ingat surat favorit saya ini. Cekak aos. Singkat padat.

Jika pepatah Inggris mengatakan time is money, bagi saya, waktu adalah kesempatan. Waktu adalah modal awal kita untuk melakukan segala sesuatu. Setiap dari kita diberi jatah modal yang sama: 24 jam sehari. Dan kesempatan itu bisa kita jadikan apa saja semau kita: mau jadi uang, ilmu, relasi, dsb.

Seberapa produktif kita memanfaatkan waktu, semua tergantung dari kita dalam memanfaatkan waktu. Astaga, tidakkah kita menyadari kalau kepentingan kita begitu banyak? Bagaimana harus membagi waktu dengan efektif dan efisien?

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formal saya ke jenjang S2, saya sadar bahwa waktu saya telah habis. Pagi hingga sore bekerja, kemudian malam kuliah. Dalam kuliah saya kembali berkutat dengan materi-materi yang sangat padat, yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari, sayangnya, tidak banyak waktu untuk mengupas setiap detail bahan kuliah dengan mendalam.

Padahal, saya masih ingin melakukan sesuatu yang masih saya rindukan: mengajar. Darah guru mengalir terlalu deras di tubuh saya karena kedua orang tua saya guru dan kakek-kakek saya juga guru. Ketika di kampus saya mendengar ada akses untuk bergabung ke lembaga NGO (Non-Government Organization) — LSM, saya sebenarnya ingin bergabung. Mungkin bisa mengajar anak-anak SD, menerangkan persamaan linier matematika, atau sekedar mengenalkan Linux Ubuntu.

Tapi apa daya? Saya mungkin masih punya Sabtu dan Minggu, tapi saya takut tidak bisa mengejar ketertinggalan saya di kuliah jika dua hari itu tidak saya pakai untuk belajar materi kuliah. Saya agak lambat dalam menyerap materi sehingga perlu waktu yang lebih panjang untuk bisa mengerti. Rasanya, semakin banyak subjek yang dipelajari, saya merasa semakin bodoh. Setiap subjek memiliki detail, dan kita tentu tidak mungkin menguasai setiap detail yang banyak itu.

Begitulah, semoga keluhan saya ini sedikit banyak bisa menginspirasi Anda yang mungkin masih memiliki banyak waktu luang. Atau terlalu lama bersantai-santai. Atau sibuk keluyuran dari wall ke wall. Marilah kita produktif, 24 jam itu terlalu cepat kawan. Seminggu itu sekarang lewat begitu cepat. Mungkin, panjang satu minggu sepuluh tahun yang lalu rasanya sudah sama dengan panjang satu bulan di masa sekarang.

Wal ‘ashr, innal insaana la fii khushr illa…

1 Lentera Hati. Dr. M Quraish Shihab, M.A, Penerbit Mizan: 1994

Switch to our mobile site