Kembali ke 2005
Ketika tren blog meledak pada sekitar kurun waktu 2007, semua orang menulis dan semua orang saling berkomentar pada blog masing-masing. Pada saat itulah muncul istilah selebritis blog, sebutan ini diukur dari eksposure pemilik blog di dunia maya, ditandai dengan banyaknya jumlah komentar pada setiap tulisannya.
Pengamat telematika Roy Suryo pada waktu itu mengeluarkan pernyataan yang sangat terkenal, ia meramalkan bahwa blog hanyalah tren sesaat dan akan segera tenggelam. Kontroversi segera memanas di kalangan para blogger. Saya masih ingat, selebritis blog paling terkenal saat itu, Priyadi, membantah dengan argumen-argumen yang sangat cerdas. Ironisnya, beliau sekarang hiatus dari blognya entah untuk berapa lama. Hiatusnya priyadi.net dan beberapa selebritis blog yang kemudian menyusul menandai bahwa ramalan Roy Suryo memang benar adanya.
Saya mungkin adalah orang yang termasuk late adopter. Saya baru memindahkan jurnal kecil yang sangat girly yang saya sebut diary ke mesin blog betulan (WordPress) atas desakan seleb blog pada saat itu: Andry S Huzain. Beliau kabarnya sekarang sibuk sebagai manajer IT-nya Detik sehingga tidak sempat menulis lagi.
Tentu saja, tren itu membuat saya semakin rajin merawat blog, semakin rajin mengupdate. Maklum banyak temannya. Komentator silih berganti datang dan pergi. Ada yang benar-benar rutin membaca celotehan saya, kemudian berkomentar. Tidak banyak yang masih seperti itu sampai sekarang. Biasanya komentator tersebut bertahan satu sampai dua tahun saja. Ada juga yang modelnya take and give, berilah saya komentar dan saya akan komentar balik. Begini ini saya tak mampu untuk melayani — selain karena kesibukan saya, saya juga tidak ingin menjadikan “silaturahmi” komentar ini sebagai beban. Saya hanya blogwalking seperlunya dan menulis komentar ketika saya ada bahan untuk mengomentari, bukan sekedar jejak kunjungan saja.
Ketika Pesta Blogger pertama digelar di quarter terakhir 2007, saya tidak ikut bergabung. Ternyata, hingga sekarang, saya tidak pernah menghadiri acara-acara kopi darat apapun.
Dan beginilah, saya suka kondisi blog saya sekarang. Rasanya seperti tahun 2005 dulu. Masih terawat, dan saya masih menulis dengan tanpa beban untuk menulis setiap hari. Menulis sekarang kalau lagi krenteg ingin menulis saja. Jumlah komentar masih tetap itu-itu saja, dua atau tiga komentar sudah cukup untuk membuat saya senang bahwa blog saya masih ada yang baca.
Saya memang tidak mungkin benar-benar kembali ke tahun 2005-an, dimana saya sering menulis tulisan-tulisan yang melankolis. Saya juga tidak ingin menghapus apa yang telah saya tulis meskipun kalau dirasakan sekarang saya jadi merasa malu. Orang tumbuh dewasa dari hari ke hari. Saya anggap itu adalah arsip sebuah demonstrasi dan ekspresi perasaan saya terhadap orang yang paling saya cinta pada saat itu. Kalau sekarang, saya lebih suka menyimpan dan menyembunyikannya. Kalau kata Ebiet G Ade,
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan?
Dada yang terluka
Duka yang tersayat
Rasa yang terluka…
Ngebut!
FLICKR
Lokasi: Bogor, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS
Kata siapa kamera saku tidak bisa membuat efek-efek bergerak semacam teknik panning? Dengan sedikit keberuntungan, Anda tetap bisa membuatnya. Bagi saya sekarang, memotret dengan keterbatasan adalah gairah dalam fotografi. Mungkin panning ini tidak sempurna, jadi biarlah saya menamai teknik ini dengan: teknik penuh goncangan, he he he…
Tentang Membuka Diri (Self Disclosure)
Saya pernah mendengar dongeng seperti ini: jika kamu dan pacarmu tidak pernah bertengkar, maka kemungkinannya ada dua: (1) kalian adalah dua orang yang sempurna; (2) kalian tidak serius dalam hubungan kalian. Karena tidak ada orang yang sempurna, maka besar kemungkinan ada di opsi (2). Mengapa kesimpulannya seperti ini?
Well, ini hanyalah sebatas contoh saja, celoteh saya ini berlaku tidak hanya hubungan dalam hal pacaran, tetapi lebih secara umum hubungan pertemanan dengan teman-teman kita.
Alkisah dalam teori komunikasi, ada bagan bernama Johari Window. Bagan ini melukiskan mengenai diri kita dan hubungannya dengan orang lain. Seberapa banyak kita dan orang lain tahu tentang diri kita. Seberapa banyak kita tidak tahu tentang diri kita. Dan seberapa banyak, orang lain tidak tahu tentang diri kita.
Kedekatan kita dengan teman kita bisa diukur dari seberapa besar open area ini dalam Johari Window. Semakin kita membuka diri, semakin akrab kita. Membuka diri (Self disclosure), dalam artian membuka hal-hal yang sensitif tentang diri kita kepada orang tertentu. Dengan teman yang tidak terlalu akrab, mungkin kita hanya membuka hal-hal yang “aman” saja seperti misalnya tentang nama, tanggal lahir, tempat tinggal, hobi, kesukaan. Tetapi dengan teman yang lebih akrab, kita mungkin menceritakan tentang hal-hal yang lebih sensitif seperti pacar, perasaan, keluarga, dll.
Sensitif, karena berisiko. Kita tidak tahu informasi ini akan dipakai untuk apa oleh teman kita tersebut. Jika dia seorang yang suka gosip, mungkin informasi itu akan disebarkan kepada orang lain dan bisa berakibat runyam.
Awalnya Saya pikir, self disclosure hanya terbatas secara verbal saja, misalnya lewat media curhat, atau dalam kondisi yang baik-baik saja. Tetapi saya sadari, suatu pertengkaran, kesalahpahaman bisa disebut pembukaan diri juga. Dengan mengetahui reaksi teman kita, atau — sebaliknya — dengan menunjukkan reaksi kita terhadap sesuatu hal yang membuat tersinggung atau marah, kita bisa mengetahui batas-batas sampai di titik tertentu yang bisa membuatnya tersinggung. Dengan mengetahui batas-batas itu, kita bisa menggunakan cara komunikasi yang lebih baik lagi yang tidak menyinggungnya. Dengan begitu, hubungan ke depan akan menjadi lebih hangat.
Itulah kenapa, in certain circumstances, pertengkaran itu perlu. Hal itu membuka sisi-sisi yang selama ini selalu kita tutupi. Bagaimana orang bereaksi ketika ia sulit mengontrol emosi, bagaimana cara ia mengatasi kondisi marah, apakah dengan memukuli tembok, atau membanting apa yang ada di dekatnya, atau dengan diam. Tentu saja, pertengkaran cukup riskan. Self disclosure selalu berisiko. Tetapi saya yakin, setiap kali kita saling mengetahui sisi-sisi tertutup orang lain, semakin lebar open area dalam Johari Window, semakin bagus dan semakin akrab hubungan kita.
Tali dari Langit
FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Tiba-tiba tali-temali petugas gondola pembersih jendela ini mengingatkan saya kepada buku yang saya baca waktu saya masih kelas 4 SD. Waktu itu di perpustakaan kecil milik SD Negeri Sanan yang hanya terdiri dari dua rak. Tapi cerpen-cerpen-nya sangat menarik, dan banyak diantaranya yang membekas di memory permanen saya hingga sekarang. Saking seringnya ke Perpus, saya pernah ditolak masuk oleh guru kelas (kalau nggak Bu Yatmi ya Bu Satun) karena ruangan Perpus dipakai untuk Raker guru-guru.
Nah, buku itu tentang dongeng-dongeng Asia Tenggara untuk anak-anak. Ceritanya tentang asal muasal Bulan dan Matahari. Bagian atas buku lebar bertuliskan, Dongeng Sri Lanka. Nah, menurut orang Sri Lanka, pada zaman dahulu kala, ada anak kakak beradik (laki-laki dan perempuan) yang ditinggal pergi kedua orang tuanya sehingga mereka yatim piatu. Mereka hidup sebatang kara.
Suatu malam, mereka berdua kelaparan. Ketika mencari makanan untuk mengisi perut yang telah melilit menjerit minta diisi, sialnya, mereka dicegat oleh penjahat yang mau menculik mereka untuk dijual. Sebisa mungkin kakak beradik ini melarikan diri. Tapi apalah daya dua anak kecil ini? Dalam kondisi lemah dan lapar dan nyaris tertangkap, sang kakak berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, tolong selamatkanlah kami…”
Tuhan mengabulkan doa sang kakak. Tiba-tiba dari langit turunlah dua utas tali. Mereka berdua memanjat tali itu hingga sampai di pintu langit. Sampai di sana, ada suara berkumandang, “Engkau yang tampan, jadilah Matahari! dan engkau yang cantik, jadilah Bulan!” Kemudian jadilah mereka berdua bulan dan matahari yang menerangi bumi. Awalnya, sinar matahari itu tidak terlalu menyilaukan. Tetapi orang-orang di bumi jadi bisa melihat matahari sehingga membuat sang kakak malu. Akhirnya atas saran sang adik, matahari menjadi bersinar menyilaukan agar orang-orang di bumi tidak memandanginya lagi.
The Executive Lounge
FLICKR
Lokasi: Garuda Indonesia Executive Lounge, Bandara Soekarno-Hatta
Canon Ixus 120 IS
Pagi mulai menghangat tatkala Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng sudah sibuk. Beberapa penerbangan pertama pagi ini sudah diluncurkan. Karena lalu lintas Jakarta seringkali sulit ditebak, orang biasanya berangkat lebih awal, jauh sebelum jadwal pesawatnya. Sambil menyeruput kopi Nescafe atau jus jeruk pahit, mereka duduk santai dengan sesekali melirik headline dari koran hari ini. Bagi mereka yang padat jadwal, notebook sudah terbuka, membalas satu dua email.
Saya, yang baru pertama kali masuk di executive lounge ini, sudah sibuk dengan mulut penuh kue-kue sekaligus bubur ayam hangat. Maklum, belum sarapan karena langsung berangkat selepas subuh. Sambil mengunyah dan melihat layar facebook di ponsel, saya tersenyum sendiri sambil berpikir, “Hmm.. begini ya cara orang-orang kaya itu bepergian…”
Selamat Pagi, Danau Lido
FLICKR
Lokasi: Danau Lido, Bogor – Sukabumi, Jawa Barat
Canon Ixus 120 IS
Danau Lido adalah danau kecil jernih kehijauan di kaki gunung Salak. Anda akan menemukannya setelah sekitar satu jam perjalanan keluar kota Bogor menuju Sukabumi. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit untuk melakukan tetirah ataupun outing. Lokasi ini mempunyai hotel dan resort (Lido Lake Hotel & Resort) yang sudah ada sejak jaman Bung Karno, menjadikan tempat ini cukup lumayan sebagai tempat tujuan berlibur.
Kembali Ke Sarang
FLICKR
Lokasi: Muara Badak, Kalimantan Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Lama-lama saya kok merasa, hasil Canon Ixus seringkali lebih bagus daripada hasil Nikon ya? Saya tidak tahu apakah ini merupakan faktor kebosanan dengan DSLR ataukah memang sensor Nikon saya yang kotor. Tapi saya masih senang, D40 masih tetap prima dalam mengambil objek-objek sulit yang tidak mungkin diambil oleh Canon Ixus.
Comments