Kemajuan Teknologi Tidak Seharusnya Merenggangkan Silaturahmi

Posted by: on Mar 15, 2010 | 6 Comments

Jika ada gurauan yang bilang bahwa Facebook dan social media mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, itu benar sekali. Kita telah bertemu teman-teman lama yang lebih dari sepuluh tahun tak bertemu, yang terpisah yang bahkan dulu adalah orang yang kita naksir berat kepadanya. Sebaliknya, dengan teman-teman dekat kita yang notabene setiap hari bertemu, ketika duduk bareng, kebanyakan sekarang kita saling diam, sibuk dengan BB masing-masing sambil sekali-sekali tersenyum atau terkikik sendiri. Soliter.

Tapi ternyata, ada satu hal lagi yang membuat saya merasa ironis: Events.

Dulu sekali, undangan dicetak berbeda-beda. Yang paling tebal dan paling harum baunya adalah undangan yang ditujukan untuk orang-orang yang paling dihormati dan paling disegani. Kemudian ada undangan yang khusus, dibuat lebih banyak, untuk teman-teman terdekat. Dan yang terakhir adalah undangan standar, dibuat paling banyak hingga beberapa ratus hingga ribuan eksemplar.

Kemudian, undangan yang paling tebal itu diantarkan secara khusus oleh si pemilik acara sendiri. Istilah Jawa-nya: atur-atur. Intinya adalah pemberitahuan resmi bahwa si pengundang memohon dengan sangat agar yang diundang datang ke acaranya. Sedangkan untuk undangan standar, biasanya diantarkan oleh kurir.

Kemajuan teknologi telepon, email, dan SMS telah membawa ke era baru dalam hal perkembangan budaya “undang-mengundang” ini. Karena mencetak undangan itu sangat mahal, maka teknologi yang praktis pun dipilih. Biasanya, telepon untuk menggantikan undangan tebal nan harum dan harus diantarkan sendiri itu. Email dan SMS untuk menggantikan undangan standar. Meskipun masih ada beberapa orang yang belum bisa menerima ini, tapi basically saya sudah bisa menerima.

Telepon, email, dan SMS masih membutuhkan komunikasi langsung, artinya, si pengundang memang masih harus mengundang satu per satu dengan cara yang lebih mudah. Masih ada kalimat sapaan, say hello, atau paling tidak masih ada tujuan. Semakin pribadi, kesan personalnya semakin hangat terasa. Misalnya, “Galih, kalau kamu nggak sibuk, tanggal sekian dateng dong ke acara ultahku…”

Nah, kehangatan personal ini tidak saya rasakan di undangan berbentuk Events di Facebook. Tidak ada sapaan pribadi, tidak ada say hello, bahkan tidak ada undangan yang sesungguhnya. Tiba-tiba saja saya mendapat notifikasi dari Facebook bahwa saya diundang di suatu acara. Apakah si pengundang benar-benar mengundang saya? Jangan-jangan ia hanya select all his/her friends di facebook tanpa tahu siapa yang dia undang? Oh, apakah teman saya sejahat itu? Mungkin tidak, tetapi itulah kesannya. Saya merasa seperti di-tag di foto, bukan seperti diundang. Memang praktis, si pengundang tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya, dan ia bisa berkonsentrasi hal lain yang lebih penting (tapi apakah undangan bukan faktor penting juga?). Tidak ada rasa seperti, “Galih, kalau kamu nggak sibuk…”

Mungkin saya tinggi hati ya? Entahlah, tapi saya hanya merasa bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya merengganggkan tali silaturahmi. Mengapa? Karena ketika ada seorang teman yang merelakan waktunya untuk secara personal mengundang saya, saya seperti mendapatkan kehormatan, kehadiran saya rasanya akan begitu berkesan untuk teman saya itu, jadi saya berusaha menyisihkan waktu, menyisihkan tabungan untuk membeli tiket pesawat jika letaknya jauh, untuk datang ke acara. Untuk sekadar bersilaturahmi dengan teman yang mungkin tidak lebih dari tiga menit.

Sebaliknya, saya merasa tidak spesial jika menurut saya undangannya juga tidak personal. Jadi mungkin prioritasnya juga rendah. Cukup dengan do’a yang mengiringi.

Bagaimana dengan Anda?

Lansekap Muara Badak

Posted by: on Mar 15, 2010 | One Comment

Lokasi: Muara Badak, Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS

Apa yang paling saya suka tentang Muara Badak? Selain pemandangan landscape-nya yang luar biasa, udaranya sangat bersih. Seperti sore itu, saya ikut bapak-bapak penghobi sepeda berkeliling area sekitar plant. Kontur yang naik turun membuat napas terengah-engah meskipun katanya ini adalah trek bersepeda untuk pemula karena tidak banyak terdapat tanjakan. Di sinilah ketika saya mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya, udara terasa begitu segar, begitu bersih, bebas polusi. Maha Suci Allah… Maha Suci Allah…

Kasmaran

Posted by: on Mar 13, 2010 | 5 Comments

Siapa kira siapa sangka?
Wanita cantik sepertimu bisa jatuh cinta dan patah hati?
Membuat sakit hatiku tatkala melihat keadaanmu

Adik, katakanlah kepadaku
Siapa orang yang telah melukaimu?
Oh… beruntung sekali pria itu
Tidakkah ia merasa bulan telah jatuh di langitnya?

Bagiku, engkau bagaikan sang bidadari
Dari negeri kahyangan indraloka turun ke bumi

Kalaulah aku boleh berkata
Pria yang sedang kamu impikan itu
Rendah hati dan baik budi, takut untuk menjawab cintamu

Disadur dengan terjemahan bebas dari syair berbahasa Jawa dengan judul Kasmaran ciptaan Mus Mulyadi.

Buku Mencerminkan Kepribadian Kita

Posted by: on Mar 5, 2010 | 16 Comments

Dalam kasus pembunuhan berencana di novel Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia), Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.

Jika Anda suka membaca, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa Anda akan memilih buku yang Anda suka untuk dibaca. Sedikit banyak, kita memilih buku yang membangkitkan minat dan ketertarikan. Saya menyukai cerita yang misterius dan dramatis, oleh karenanya rak buku saya banyak bertumpuk novel-novel thriller pembunuhan dengan variasi yang macam-macam. Agatha Christie memasukkan unsur psikologi. Sidney Sheldon menyajikan drama yang cepat yang memilukan. Sandra Brown memasukkan unsur romantisme yang tragis.

Meskipun sering dibilang melankolis, saya tidak terlalu menyukai novel-novel yang terlalu romantis dan girly macam seri Twilight. Dan entah kenapa hingga sampai saat ini saya tidak bisa tahu dimana enaknya baca seri Harry Potter yang sangat terkenal itu.

Disadari atau tidak, koleksi buku kita juga mencerminkan tingkat kecerdasan. Misalnya, orang yang koleksinya chiklite, teenlite, chicken soup tentu dinilai berbeda dengan mereka yang koleksinya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Berbeda lagi dengan yang koleksinya buku-buku — asli bukan terjemahan — karya Dickens.

Mungkin setelah ini Anda bisa mengamati koleksi di rak buku Anda, atau membuka account Anda di Goodreads.com dan perhatikan apakah pendapat saya ini salah atau benar. Mari sharing di komentar di bawah atau trackback di blog Anda sendiri.

Terinspirasi

Posted by: on Mar 3, 2010 | 6 Comments

Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven yang dimainkan oleh Sthephanie McCallum. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah Bagatelle in A minor, Fur Elise yang terkenal itu.

Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti sedang mencoba nada-nada yang baru dikenalnya. Mungkin semacam G#m11 first inversion. Ia tampil begitu anggun dan berkilau dalam riasan dan busana harian. Entah kenapa, saat itu nada-nada yang ia mainkan begitu merdu terdengar. Setiap ketukan nada yang ia bunyikan lewat jemarinya yang lembut serasa melayang-layang di udara, memenuhi ruangan. Penghayatan dan gairah terhadap musik begitu terasa.

Sang guru, Ludwig van Beethoven terhenyak. Bukan saja ia terkesan dengan suasana musikal yang sedang berlangsung, tetapi ia juga mengagumi kecantikan wajah muridnya yang telah mencuri hatinya. Seorang wanita muda yang lincah, ceria, dan berbakat yang sedang menari-narikan jari-jari lentiknya itu mempesonanya. Tanpa disadari oleh wanita itu, perlahan ia memperhatikannya dalam-dalam. Gelombang inspirasi menyerangnya. Satu bar dua bar ia tuliskan saat itu juga. Itulah nada awal rondo Bagatelle WoOp. 059: Fur Elise.

Senja

Posted by: on Mar 2, 2010 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: Sebelah RSUD Tulungagung, Jawa Timur
Canon Ixus 120 IS

Terkadang kita terpenjara dengan peraturan-peraturan yang kita definisikan sendiri. Misalnya dalam urusan foto ini saja. Saya seringkali tidak percaya diri untuk mempublikasikan foto tertentu di blog ini karena tidak berkonsep lah, atau cacat komposisi lah, dsb. Akhirnya malah tidak ada satu pun yang terpublikasi.

Jadi, kali ini saya publish foto ini. Jangan tanya apa konsepnya, konsepnya just point and shoot! Ini saya ambil di pertigaan rumah sakit RSUD Tulungagung waktu menjenguk sepupu saya, Zein, yang kena typhus. Tower yang terlihat itu adalah milik radio paling populer di seantero Tulungagung: Radio Josh (Suara Tulungagung Jaya FM).

Switch to our mobile site