Buku Mencerminkan Kepribadian Kita

Posted by: on Mar 5, 2010 | 16 Comments

Dalam kasus pembunuhan berencana di novel Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia), Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.

Jika Anda suka membaca, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa Anda akan memilih buku yang Anda suka untuk dibaca. Sedikit banyak, kita memilih buku yang membangkitkan minat dan ketertarikan. Saya menyukai cerita yang misterius dan dramatis, oleh karenanya rak buku saya banyak bertumpuk novel-novel thriller pembunuhan dengan variasi yang macam-macam. Agatha Christie memasukkan unsur psikologi. Sidney Sheldon menyajikan drama yang cepat yang memilukan. Sandra Brown memasukkan unsur romantisme yang tragis.

Meskipun sering dibilang melankolis, saya tidak terlalu menyukai novel-novel yang terlalu romantis dan girly macam seri Twilight. Dan entah kenapa hingga sampai saat ini saya tidak bisa tahu dimana enaknya baca seri Harry Potter yang sangat terkenal itu.

Disadari atau tidak, koleksi buku kita juga mencerminkan tingkat kecerdasan. Misalnya, orang yang koleksinya chiklite, teenlite, chicken soup tentu dinilai berbeda dengan mereka yang koleksinya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Berbeda lagi dengan yang koleksinya buku-buku — asli bukan terjemahan — karya Dickens.

Mungkin setelah ini Anda bisa mengamati koleksi di rak buku Anda, atau membuka account Anda di Goodreads.com dan perhatikan apakah pendapat saya ini salah atau benar. Mari sharing di komentar di bawah atau trackback di blog Anda sendiri. ;)

16 Comments

  1. Juminten
    March 5, 2010

    samaaa… aku jg ga ngerti dimana enaknya baca Harpot yg novelnya makin lama tambah tebel itu. =,=’

    Reply
  2. mae
    March 5, 2010

    hooo……. *pasang tampang patrick ngowoh*

    Reply
  3. vany
    March 5, 2010

    aku jg lbh memilih baca Oliver Twist drpd Harry Potter…. :D

    Reply
  4. fahmi!
    March 5, 2010

    kalo novel, aku suka baca dan brown. sir arthur conan doyle juga okey :)

    Reply
  5. budiono
    March 5, 2010

    aku suka mbaca yellowpages. opo iku artine? kwkwkw

    Reply
  6. budiono
    March 5, 2010

    oia ini statistik setelah mengamati koleksi buku saya: masih ada 15 buku lumayan tebel dengan aneka topik, mulai sains sampe engineering, yang masih utuh di dalam plastic wrapper, lalu ada tumpukan majalah FHM, audiopro, tabloid RUMAH, buku-buku tulisan imelda akmal (aplikasi arsitektur), buku-buku dengan tema komputer (kebanyakan tulisan richardus eko indrajit sama onno w purbo, ANTI gregorius agung), beberapa buku dengan topik agama (kebanyakan bukan beli sendiri tapi hadiah), 1 deret buku tentang motivasi dan pengembangan diri, tak lupa buku tentang kucing ;) . oia, ada 4 qur’an yang semuanya sudah berdebu! (doh, ketok ndak tau diwoco)

    masih banyak lagi… [hampir 50% belum saya baca sampe habis, cuman skimming aja]

    Reply
  7. dnial
    March 6, 2010

    Hmmm… Fantasai, sci-fi, novel2nya pramoedya ananta toer, freakonomics, blink, tipping point, outliers, dan what a dog saw-nya Malcolm Gladwell, the las godfather.

    Belum termasuk ebook yang dibaca kayak buku soal Micro Expression dari Paul Ekman.

    Masih belum kebayang aku orang kayak apa. :P

    Reply
  8. Nike
    March 6, 2010

    Aku ga terlalu suka novel terjemahan. Buku terjemahan yang sudah aku baca dan bagus menurutku cuma Harry Potter dan bukunya Dan Brown.
    Lebih menghargai buku dalam negeri, bagus-bagus kok :)

    Reply
  9. Fenty
    March 7, 2010

    jadi menurutmu pembaca teenlit dan harrypotter itu gak cerdas ?

    Reply
  10. Galih Satria
    March 7, 2010

    @Fenty:
    aku nggak bilang begitu, harus dilihat secara keseluruhan minatnya terhadap buku-buku. aku cuma bilang nggak suka baca harry potter, dan pembaca teenlit itu berbeda dengan pembaca sastra-sastra berat. itu dua hal yang berbeda (di paragraf beda pulak) :p

    Reply
  11. roqwez
    March 7, 2010

    Saya sudah melahap buku-2nya Agatha Crietie sejak kelas 6 SD, saya rasa membaca buku tebal bukan masalah buat saya apalagi kalau penulisnya sangat imaginatif dan cara bertuturnya enak . . . kadang saya juga suka baca macam teenlit atau chicklit itu hanya semacam selingan karena bacaan seperti itu sering banyak bercerita soal percintaan picisan yang gampang ditebak akhirnya gimana . . . oya saya sendiri ga punya koleksi buku, lebih suka minjem ;)

    Reply
  12. dhodie
    March 11, 2010

    Sederhananya mungkin orang-orang yang maunya melahap novel-novel yang ringan saja menggambarkan pribadi yang nggak suka ribet.. maunya easy going. Dan sebaliknya :-D

    Reply
  13. ceriaselamanyah
    March 12, 2010

    kalau aku suka bacai al qur’an, tetralogi laskar pelangi, tetralogi buru dan catatan perjalanan. tapi kok ga cerdas yo?
    heheh

    Reply
  14. millati
    March 12, 2010

    Saya suka baca blog orang. Rasanya seru membaca apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan orang lain. Kalau itu artinya sifat saya gimana?

    Oya, mau komentar tentang HarPot. Saya pertama kali baca yang ke-6. Sebelumnya saya tidak tertarik sama sekali. Yang membuat saya tertarik adalah penggambaran karakter HarPot yang ternyata punya sisi keras kepala dan ngeyel dan bisa membuat teman-teman akrabnya berkata dalam hati “percuma bicara dengannya”. Ternyata tokoh utamanya bukan orang sempurna, beda dengan novel anak muda yang seringnya mengangkat tokoh utama yang perfect.

    Reply
  15. jka
    March 24, 2010

    kalo, yang penting ada yang dibaca? termasuk yang mana lih? soalnya kalo ndak baca sesuatu sebelum tidur, jadi susah tidurnya.

    Reply
  16. achsan
    September 9, 2010

    kalo aku sih yang penting aku suka, nggak peduli orang bilang apa, nyatanya mereka nggak berani kasih koment ke aku walau aku suka baca harpot, karna orang menilai kita dari kita menilai / menghargai orang lain bukan dari koleksi buku kita

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site