Senja di Pelabuhan Jawi-Jawi
FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Jawi-Jawi, Muara Badak, Kalimantan Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Dengan Ford Everest nomor seri berbuntut EEC, saya diajak untuk menangkap momen senja di ujung timur pulau Kalimantan. Jadi sebelum sirine pabrik menjerit, kami sudah keluar kompleks plant, menyusuri jalan pipa, jalan penduduk yang kepadatannya mengejutkan saya, dan akhirnya tiba di sebuah muara dengan geladak dari kayu yang mereka namakan Pelabuhan Jawi-Jawi. ABG-ABG setempat dengan segera mengenali seragam lapangan berwarna perak gelap (apa ya istilahnya?) dan dengan gembira mereka bergaya ketika lensa-lensa kamera membidik mereka.
Fariz RM
FLICKR
Lokasi: Java Jazz Festival 2010, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Ia memilih Roland Fantom G8 sebagai sintetiser, di bawahnya membujur panjang keyboard panggung 88 key Roland RD 700GX, dan Yamaha Modus H-01 sebagai digital piano-nya. Saya melihat Yamaha ini pula di konser tunggal Gita Gutawa yang bertajuk Kotak Musik Gita. Meskipun tidak terlalu mengekspos kepiawaiannya mengolah tuts-tuts piano, ia tampil luar biasa, khususnya di lagu spontan yang legendaris: Barcelona.
Maya Hasan
FLICKR
Lokasi: The Java Jazz Festival 2010, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Harpa elektrisnya seperti tunduk patuh terhadap perintahnya. Jemari-nya yang lentik dengan lincah memetik senar-senar harpa, tanpa sekalipun salah nada. Ia memetik dengan sempurna nyaris tanpa distorsi. Siapa dia? Jika Anda pernah mendengar dentingan harpa di lagu Kasih Tak Sampai-nya Padi (2001), ialah sang pemetik nada-nada tragis nan menyayat hati itu.
Bertemu “Teman Lama”
Saya benar-benar merasa excited Senin malam itu. Rasanya seperti bertemu teman akrab yang sudah lama tidak pernah bertemu. Ya, kami mungkin memang sudah tidak bertemu lagi sejak empat tahun yang lalu. Yeah, sampai sekarang pun saya masih sering memikirkan apa kata dosen pembimbing TA S1 saya dulu, atau kata manager saya beberapa bulan yang lalu: bahwa saya sebenarnya lebih sesuai sebagai akademisi daripada sebagai profesional.
Siapa teman lama yang saya maksud? Ia adalah Statistik, he he he… Ia memang sudah berganti nama beberapa kali. Dulu waktu masih menjadi mahasiswa junior namanya Statistik dan Probabilitas, diajar oleh dosen dari jurusan FMIPA Matematika. Kemudian setelah jadi mahasiswa tingkat akhir berubah nama menjadi Riset Operasional, berkutat dengan what if analysis dsb. Saya masih ingat dosennya adalah Pak Joko Lianto.
Sekarang, di S2 namanya berubah lagi jadi Quantitative Business Analysis. Saya tidak berarti sudah mengerti konsep-konsep dasarnya, tetapi paling tidak kemarin itu saya dilanda sensasi yang aneh dan menyenangkan, bahwa sudah sekian lama saya tidak bertemu dengan notasi Matematika, istilah-istilah dan suasana akademis ketika di ruang kelas. Mencatat di loose leaf, melihat presentasi powerpoint sambil mendengarkan celotehan pak Profesor yang nyentrik, tersenyum berkali-kali ketika berhasil menebak lambang-lambang latin sebagai population mean, sample mean, variance, standard deviation sambil bergumam, “Aku masih mengingatnya!”
Saya sudah menyesal dulu belajar Statistik tidak sampai ke hati. Saya tidak tahu apa makna multivariate, atau fungsi vektor eigen selain notasi-notasi limit mendekati tak hingga dan angka-angka yang memusingkan. Kali ini saya berjanji akan lebih serius lagi, khususnya dalam aplikasinya dalam manajemen bisnis.
Semoga waktu akan mengizinkan saya untuk melakukannya. Semangat!
John Paul Ivan
FLICKR
Lokasi: Java Jazz Festival 2010, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Tampil garang seperti biasa ketika di Boomerang, namun malam ini ia low profile. Sekali-sekali ia mengeluarkan jurus fingering yang luar biasa. Namun tak pernah sedikitpun gitarnya menonjol sendirian. Perannya bukanlah lead guitar, namun sebagai musisi pengiring Maya Hasan, si pemain harpa.
Tentang Java Jazz Festival 2010
Maya Hasan and Friends
Lokasi: JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat
Canon Ixus 120 IS
Akhirnya setelah dua tahun berturut-turut tidak kesampaian nonton, tahun ini saya berkesempatan menonton pergelaran tahunan festival musik Jazz yang diselenggarakan di JIEXPO arena PRJ Kemayoran Jakarta. Acaranya meriah, meskipun dengan berbagai catatan keluhan, tetapi acara inti — pergelaran musik jazz-nya itu sendiri sangat menarik.
Entah sengaja atau tidak, saya ternyata memilih venue yang boleh dikatakan kurang populer dibandingkan dengan stage lain. Saya memilih melihat Maya Hasan (harpa) berkolaborasi dengan Fariz RM dan John Paul Ivan (gitaris Boomerang), padahal di stage lain ada Elfa’s Singer. Kemudian waktu orang hiruk pikuk antri masuk ke stage Babyface, saya memilih menyaksikan Om Bubi Chen, legenda piano jazz Indonesia, beraksi.
Saya pikir akan cukup sulit melihat Maya Hasan mengingat alat musiknya yang sangat spesifik dan tidak populer: harpa. Kemudian juga Bubi Chen dalam usianya yang sudah 74 tahun. Kesempatan untuk mendengarkan teknik improvisasi elemen-elemen chord jazz-nya akan semakin langka di tahun-tahun ke depan.
Pencitraan
Salah satu hal yang patut dipuji adalah bagaimana usaha pencitraan musik Jazz di Indonesia yang menurut saya berhasil — jika yang dijadikan parameter adalah antusiasme penonton terhadap Java Jazz Festival. Musik jazz yang kental saya kira sulit mendapatkan apresiasi yang luas tanpa adanya usaha pencitraan yang telah dilakukan.
Citra musik jazz yang menyasar segmen pasar menengah ke atas saya kira juga berperan. Orang yang menyukai musik jazz selalu dianggap memiliki selera musik yang baik — kesannya high class. Ini penting untuk anak-anak muda yang memerlukan identitas. Jika datang ke festival jazz terbesar membuatmu terkesan punya selera musik tinggi, mengapa tidak? Cukup hadir di sana, segera sebarkan status di Facebook dan Twitter, kemudian segera upload foto-foto yang diambil dari BB terbaru dengan pose senarsis mungkin di dekat tulisan “Java Jazz Festival”.
Mungkin ini juga salah satu sebab panitia menghadirkan musisi yang tidak melulu jazz murni. Kehadiran Elfa’s Singer, Andra and the Backbone, dan Gigi barangkali untuk melayani penggemar yang sebenarnya tidak terlalu suka musik jazz murni. Beberapa musisi jazz juga ada yang memodifikasi musiknya sehingga menjadi musik pop dengan unsur-unsur jazz kental, bukan jazz murni.
Yang jelas, untuk tiket terusan seharga Rp. 150.000 untuk menikmati berbagai macam jenis musik, saya kira harganya sangat sesuai. Memang kita tidak akan melihat seluruh venue (pada kenyataannya, saya hanya melihat dua stage secara utuh, satu hanya lima belas menit), tetapi dengan banyak pilihan, acara semacam ini menjadi sangat menarik. Tahun depan, saya harap bisa hadir di Java Jazz Festival 2011.
Selendang Malam
Lokasi: Gate 1 VICO Indonesia, Muara Badak Kalimantan Timur
Canon Ixus 120 IS
Selendang malam mulai turun menutupi semburat kemerahan senja yang beranjak pergi. Keheningan segera menyeruak. Bintang-bintang berkelap-kelip riang gembira menyambut datangnya malam. Suasana yang tidak akan pernah saya temui di Jakarta ini membuat saya disergap sensasi yang aneh. Kehidupan para pekerja lapangan, kehidupan masyarakat sekitar camp, hutan-hutan, hingga perasaan mistik yang unik yang hanya ada di sini membuat tugas lapangan kali ini menjadi sangat menyenangkan.
Comments