Framework dan Tumpukan Masalah yang Menyertainya

Saya sudah agak lama tidak terlibat dalam sebuah project yang sangat intens dengan coding dan saya merasa rindu karenanya. Saya sudah cukup banyak tahu dan mencoba bermacam framework seperti Spring, Hibernate, Webwork, Struts, Seam, IceFaces (Java sudah jenuh dengan framework ya?). Saya bukan programmer yang tahu terlalu dalam dengan tumpukan framework tersebut dan tidak terlalu tahu bagaimana memanfaatkan mereka dengan benar. Izinkan saya meletakkan ego saya dengan berkata bahwa saya tidak terlalu paham dengan konsep MVC (Model View Controller).

Saya pernah gagal dalam merancang sebuah software dengan tumpukan framework MVC, dimana di sisi model menggunakan Hibernate sebagai ORM (Object Relational Model), di sisi view menggunakan Struts/Webwork, sedangkan Spring menangani sisi controller-nya. Singkatnya, dengan begitu tumpukan framework yang besar, permasalahan datang karena batasan-batasan framework, bukan karena proses bisnisnya. Akhirnya, banyak energi yang harus dihabiskan untuk memenuhi syarat-syarat cukup yang diwajibkan framework.

Seharusnya dengan perancangan, desain, dan perencanaan yang baik hal itu tidak terjadi. Janji-janji framework dimana proses skalabilitas dan perawatan akan lebih mudah menjadi janji palsu belaka. Nyatanya proses tambal sulam menjadi sedemikian besar. Apakah dengan framework tersebut proses pengerjaan akan menjadi lebih cepat? Mungkin jika project-nya begitu besar iya, tapi dengan skala kecil, akan ada waktu yang dihabiskan untuk membuat sistem dasar dimana semua framework berjalan dan saling bekerja sama dengan baik sebelum menyentuh ke proses bisnis intinya.

Akhirnya saya begitu merindukan PHP. PHP from scratch. PHP tanpa framework. PHP yang dengan begitu buruknya menangani variabel dan nilai null karena pemesanan blok memory tanpa deklarasi. Dan itulah yang saya lakukan. Semua saya gabung jadi satu. Query ke database, validasi, HTML, Javascript, semua dalam satu file PHP yang besar. Saya hanya memakai library kecil-kecil saja tanpa framework besar yang bertumpuk-tumpuk. Cukup merepotkan, tapi saya fokus dan hanya dihadapkan pada permasalahan inti, bukan masalah-masalah yang ditimbulkan karena penggunaan framework yang tidak benar.

Pelajaran moral yang saya dapatkan: tidak semua permasalahan harus menggunakan solusi framework yang besar. Kadang-kadang, sebuah permasalahan lebih efektif jika dikerjakan dengan cara “gila” tanpa aturan seperti ini. Permasalahan selesai, dan ada banyak orang yang lebih mengerti dengan cara dasar (karena mudah) dan sulit mengerti cara framework karena learning curve-nya jauh-jauh lebih panjang. Lebih mudah mendelegasikan pekerjaan.

Anda boleh menyebut saya programmer yang buruk karena tidak patuh terhadap kaidah suci MVC. Toh, saya mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia ini, ha ha ha ha…

PS: Saya jadi ingat tulisan-tulisan beberapa tahun yang lalu waktu masih memuja MVC hehe.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. kalo framework Prado, udah nyobain belum? 😀 aku lg pake itu sekarang.
    kalo setauku sih… framework itu lebih baik digunakan ketika mengerjakan proyek2 yg berskala besar. jd lebih rapi.

    *hihihi… padahal masih baru banget mendalami framework*

    btw, lah… kalo ga ngoding lg, mas galih sekarang ngerjain apa? 😛

  2. Di kantor saya sekarang, juga terbentuk pemikiran kalau mrogram Java harus pake framework. Saking tahunya hanya framework, sampai-sampai teman-teman saya pada kebingungan bagaimana caranya untuk mengambil data dari database tanpa memakai Hibernate. Mereka tidak pernah memakai layer bawah (plain JDBC). Padahal kadang Hibernate juga boros kerja. Data yang bisa diambil hanya dengan 1 query native JDBC akan dipecah jadi beberapa query native di Hibernate. Akibatnya IO request ke DB Server juga tinggi.

  3. Kalau saya sih secara konseptual, lebih suka kadang-kadang assembly, kadang-kadang C, kadang-kadang Java, kadang-kadang PHP/JSP, kadang-kadang Java dengan MVC, dan seterusnya, bahkan kadang-kadang cukup ngoding dengan Microsoft Excell/Open Office Spreadsheet.

  4. “Anda boleh menyebut saya programmer yang buruk karena tidak patuh terhadap kaidah suci MVC. Toh, saya mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia ini, ha ha ha ha…”

    Ok Boss, catet…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *