Jejak Langkah

Posted by: on Feb 3, 2010 | 12 Comments

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm

Sayangku, langkah kita akan sangat panjang
Aku belum melihat ujung perjalanan kita
Semuanya masih gelap, kabur
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung

Ke sungai, ke muara?
Ke ujung lembah?

Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita
Menanggalkan butir-butir sisa usia

Terbentang berserakan,
Halangan rintangan di depan kita

Izinkan aku menggenggam tanganmu
Kuatkan aku, dukung aku
Berdua kita menggapai tujuan
Demi masa depan kita…

Catatan Kaki:
Nampaknya kerudung telah menjadi tren fashion, tidak hanya sekadar identitas seorang wanita muslimah yang alim. Saya banyak menemui pasangan muda-mudi seperti ini sedang memadu kasih di Kebun Raya. Untuk kalian yang sedang dilanda asmara, saya persembahkan puisi ini untuk merayakan bulan kasih sayang. Dengan penuh cinta! :)

12 Comments

  1. dhodie
    February 5, 2010

    Agak miris kalo sampai yang berjilbab tapi asyik masyuk pegangan tangan, mojok nda jelas… Bukan karena saya nggak ngedukung pacaran sih, tapiiiii…. ah sudahlah.

    Reply
  2. tary
    February 5, 2010

    pilihan kata-kata yg bagus

    Reply
  3. aRuL
    February 5, 2010

    ngak niat cari cewek kek gitu kah? :D hehe

    Reply
  4. annosmile
    February 6, 2010

    berjilbab..
    muhrim ato bukan tuh..

    Reply
  5. Galih Satria
    February 7, 2010

    @dhodie:
    iya… sudahlah bisa jadi perdebatan panjang tanpa ujung kalo mbahas itu. makanya sekarang saya cuma candid dari belakang aja :D

    @tary:
    terima kasih :)

    @aRuL:
    enggaklah, hehehe…

    @annosmile:
    meskipun muhrim, tidak sepantasnya bertindak demikian karena bisa menimbulkan fitnah dan gunjingan. melihat pandangan umum yang ada bahwa sebagian besar dari mereka adalah bukan muhrim. jadi bagi mereka yang telah ada surat nikah, sebaiknya tidak terlalu berlebihan di muka umum, dipuas-puasin aja di rumah :)

    Reply
  6. Qisthy
    February 10, 2010

    hm…. nice written…
    jadi menampar diri sendiri…
    keep on writing… ^^

    Reply
  7. sitik
    February 11, 2010

    waaahhh…. next nya gw musti ati2 neh lih… tau2 ada candid camera masuk blog lu bisa berabe neh gw… hehee… btw nice story but gw serasa di tampar ma elu lih… hiks..hiks… :-) peace galih…

    Reply
  8. ethie
    February 12, 2010

    *Like this*

    Suka sekali dengan pilihan kata-katanya…

    Reply
  9. icha
    February 15, 2010

    nyasar disini..aduh mas, saya berjilbab juga loh, meski bukan jilbab panjang. Tapi menurut saya jilbab itu bukan fashion, bukan jg cmn sekedar identitas muslim ato sok-sok-an biar dibilang alim. Untuk berjilbab, kemarin saya melalui proses, tahajud, dan nangis tiap malam. Meski saya tau saya gk sempurna pake jilbabnya, dan juga tidak terlalu membatasi diri berhubungan dgn pria..tapi saya gk pernah kok pegang2an tangan *kecuali terpaksa meniti tebing curam yg bisa bikin terpeleset* maaf buat pria2 yg pernah saya jadikan pegangan T_T
    kok saya jadi sedih ya…semestinya banyak perempuan berjilbab diluar sana yg harus baca tulisan mas..biar ditampar..
    makasih sudah diingatkan :)

    Reply
  10. fara
    February 17, 2010

    nice poetry, n pic..
    jilbab, tren??
    semoga menjadi tren yang positif,
    mungkin si mas sama si mbak yang di pic, masih belajar mengenal agama nya, saya juga belajar mengenal agama saya pelan2..
    sering2 diingetin aja, kalo kenal sama model fotonya..

    Reply
  11. zizima
    February 22, 2010

    bagus pilihan katanya…
    selama, tidak menjadikan gambar ini sebagai kesimpulan menyeluruh untuk semua muslimah yang berjilbab, im agree :)

    Reply
  12. Mendatangkan Keberuntungan | – A New Day Has Come
    July 1, 2010

    [...] Tetapi kemudian saya melihat pasangan — mungkin suami isteri — yang sedang berjalan berdua. Saya segera berpikir bahwa ini akan melengkapi suasana yang telah saya bayangkan. Jadi saya menunggu mereka dengan tidak mencolok, dan ketika sudah sampai belakang saya baru saya menjepret satu dua kali. Dengan sedikit post processing, saya mendapatkan hasil yang saya inginkan untuk mendampingi puisi saya: Jejak Langkah. [...]

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site