Entries from February 2010

Tentang Emoticon Senyum :)

Date February 22, 2010

Salah satu elemen komunikasi yang sangat penting yang tidak ada dalam komunikasi berbasis teks adalah tidak adanya ekspresi/mimik wajah. Tanpa adanya ekspresi, sebuah tulisan bisa ditafsirkan dengan sangat berbeda oleh masing-masing pembaca — tergantung suasana hati si pembaca. Kata-kata yang mengumpat, namun jika itu diucapkan dengan raut wajah jenaka jelas akan menjadi candaan yang hangat, yang sayangnya bisa ditafsirkan berbeda jika itu ditulis di chat room. Sudah berkali-kali kesalahpahaman yang ada di chat room.

Penyedia layanan chatroom seperti Y!M dan arena mengobrol santai macam Plurk menyediakan emoticon – gambar icon yang menggambarkan ekspresi yang berhubungan dengan kalimat yang ditulis — untuk membantu melukiskan ekspresi. Tidak banyak membantu, tetapi cukup berguna. Saya bilang tidak membantu karena tafsir emoticon itu sendiri pun juga berbeda-beda bagi setiap orang.

Ambil contoh icon senyum yang berkode :) itu  []. Tentu ini artinya senyum simpul yang tidak sampai keluar gigi. Tapi baik di Y!M dan Plurk, saya menafsirkannya dengan sedikit berbeda. Saya mengartikannya: senyum yang menyembunyikan sesuatu dan sifatnya serius, bijaksana, mengalah, senyum maklum, dan semacamnya. Kadang-kadang cukup menjengkelkan melihat orang di chatroom tersenyum dengan cara ini. Senyum ini jauh dari keceriaan, bertolak belakang dengan senyum jahil yang kelihatan gigi dan berkode :D (mringis) [].

Tetapi di situlah menariknya komunikasi lewat dunia maya. Adalah suatu hal yang bisa dimengerti jika seseorang bisa berperan sebagai pribadi yang benar-benar berbeda di dunia maya. Seseorang yang sangat pemalu dan introvert bisa menjadi begitu ceria dan akrab dengan teman-teman mayanya — karena ia tidak harus menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya, ia hanya diwakili oleh emoticon-emoticon yang bisa diartikan apa saja oleh setiap orang.

Saya tidak tahu apakah ini akan berlanjut hingga nanti ketika era jaringan pita lebar (broadband) telah benar-benar menyentuh semua lapisan masyarakat pengguna internet Indonesia. Apa jadinya jika orang bisa saling melihat wajah melalui videoconference? Ah, mungkin saya akan kehilangan peran yang sekarang begitu saya nikmati di dunia maya ha ha ha…

Framework dan Tumpukan Masalah yang Menyertainya

Date February 15, 2010

Saya sudah agak lama tidak terlibat dalam sebuah project yang sangat intens dengan coding dan saya merasa rindu karenanya. Saya sudah cukup banyak tahu dan mencoba bermacam framework seperti Spring, Hibernate, Webwork, Struts, Seam, IceFaces (Java sudah jenuh dengan framework ya?). Saya bukan programmer yang tahu terlalu dalam dengan tumpukan framework tersebut dan tidak terlalu tahu bagaimana memanfaatkan mereka dengan benar. Izinkan saya meletakkan ego saya dengan berkata bahwa saya tidak terlalu paham dengan konsep MVC (Model View Controller).

Saya pernah gagal dalam merancang sebuah software dengan tumpukan framework MVC, dimana di sisi model menggunakan Hibernate sebagai ORM (Object Relational Model), di sisi view menggunakan Struts/Webwork, sedangkan Spring menangani sisi controller-nya. Singkatnya, dengan begitu tumpukan framework yang besar, permasalahan datang karena batasan-batasan framework, bukan karena proses bisnisnya. Akhirnya, banyak energi yang harus dihabiskan untuk memenuhi syarat-syarat cukup yang diwajibkan framework.

Seharusnya dengan perancangan, desain, dan perencanaan yang baik hal itu tidak terjadi. Janji-janji framework dimana proses skalabilitas dan perawatan akan lebih mudah menjadi janji palsu belaka. Nyatanya proses tambal sulam menjadi sedemikian besar. Apakah dengan framework tersebut proses pengerjaan akan menjadi lebih cepat? Mungkin jika project-nya begitu besar iya, tapi dengan skala kecil, akan ada waktu yang dihabiskan untuk membuat sistem dasar dimana semua framework berjalan dan saling bekerja sama dengan baik sebelum menyentuh ke proses bisnis intinya.

Akhirnya saya begitu merindukan PHP. PHP from scratch. PHP tanpa framework. PHP yang dengan begitu buruknya menangani variabel dan nilai null karena pemesanan blok memory tanpa deklarasi. Dan itulah yang saya lakukan. Semua saya gabung jadi satu. Query ke database, validasi, HTML, Javascript, semua dalam satu file PHP yang besar. Saya hanya memakai library kecil-kecil saja tanpa framework besar yang bertumpuk-tumpuk. Cukup merepotkan, tapi saya fokus dan hanya dihadapkan pada permasalahan inti, bukan masalah-masalah yang ditimbulkan karena penggunaan framework yang tidak benar.

Pelajaran moral yang saya dapatkan: tidak semua permasalahan harus menggunakan solusi framework yang besar. Kadang-kadang, sebuah permasalahan lebih efektif jika dikerjakan dengan cara “gila” tanpa aturan seperti ini. Permasalahan selesai, dan ada banyak orang yang lebih mengerti dengan cara dasar (karena mudah) dan sulit mengerti cara framework karena learning curve-nya jauh-jauh lebih panjang. Lebih mudah mendelegasikan pekerjaan.

Anda boleh menyebut saya programmer yang buruk karena tidak patuh terhadap kaidah suci MVC. Toh, saya mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia ini, ha ha ha ha…

PS: Saya jadi ingat tulisan-tulisan beberapa tahun yang lalu waktu masih memuja MVC hehe.

Sinergi dan Harmoni

Date February 14, 2010

FLICKR
Lokasi: Plaza Senayan, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Apa jadinya jika tahun baru Imlek bersamaan dengan hari kasih sayang Valentine? Plaza Senayan dengan cerdik menyatukan keduanya dengan pernik khas Tiongkok dengan dicampur warna pink khas Valentine. Saya kagum rupanya cantik juga dua warna yang berbeda ini jika disatukan.

Saya sadar betul, bahwa Valentine adalah produk kapitalis yang diciptakan oleh pemasar dengan memanfaatkan sedikit sejarah agama. Tetapi ketimbang ribut-ribut berdebat tentang boleh dan tidaknya perayaan Valentine, saya memilih ikut menyebarkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat saya. Bikin puisi, bercerita tentang cinta, bersimfoni Fur Elise yang menyayat hati, mengajak burung-burung bernyanyi, dan mengajak bunga-bunga tersenyum.

Untuk ketiga kalinya, keinginan saya datang ke kelenteng (satu di Kembang Jepun, dua di Petak Sembilan) untuk memotret event Imlek gagal lagi. Saya harap nanti ketika perayaan Cap Go Meh, kelenteng di Tulungagung bikin event sehingga saya tetap bisa memotret pas mudik nanti.

Untuk pembaca saya yang setia,
Be my valentine, I wish you a happy new year
,  zhù ni xin nián kuài lè
:)

Looking in the Eyes of Love

Date February 9, 2010

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko Rp. 5 untuk menerima ungkapan cinta. Sekarang, bahkan tak perlu menunggu menit untuk menerima ucapan cinta dan sayang.

Tetapi mereka masih sadar satu hal, saat dimana waktu dan takdir mempertemukan mereka. Di bawah pohon Leucaena glauca itulah, perjalanan cinta abadi mereka dimulai.

Tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kulit yang telah keriput itu masih sehalus dan semulus dulu waktu senyum semanis madu menghiasi pipi yang merona merah. Tidak. Tidak ada yang berubah. Mata yang telah mengapur kabur itu masih setajam dulu. Punggung yang telah bungkuk itu masih sekuat dulu.

Tidak. Mereka bukan menolak kenyataan bahwa usia telah menggerogoti tubuh tua mereka. Cinta sejati tak akan pernah lapuk dimakan waktu. They’re looking in the eyes of love.

Apa sih yang Enggak Buat Cinta?

Date February 7, 2010

FLICKR
Lokasi: Debenhams, Supermall Lippo Karawaci, Tangerang
Canon Ixus 120 IS

Iklan yang buat saya akan sangat menggelitik bagi para cowok-cowok eksmud kelas atas. Masak berat sih ngeluarin duit sejuta untuk selembar lingerie untuk kekasihmu? Mungkin kira-kira itu pesan yang ingin diteriakkan Debenhams Department Store kepada mereka yang sedang lewat.

Iklan ini begitu elegannya sehingga saya memerlukan berhenti sebentar untuk mengamatinya. Bahkan sempat bertanya-tanya apa arti “What’s not to love”. Mulai penempatannya yang di depan sebuah foto pria tampan yang memakai setelan jas, tipografinya, pemilihan kata, hingga posisi grafis lingerie-nya.

Iklan ini memang hanya akan mengusik pria-pria berduit, tapi bukankah memang itu segmen pasar Debenhams? Ini tentang kelas sosial, ini tentang harga diri, bahwa demi menyenangkan hati sang kekasih, berapapun tidak masalah. Jika efeknya adalah sebuah kecupan di pipi dengan bisikan, “terima kasih, sayang”, apalah arti sejuta dua juta untuk sekadar lingerie? Iya nggak? :)