Teratai, 2006 dan 2010
FLICKR / Fotografer.net
Lokasi: Perumahan Dosen ITS Blok F, Surabaya, Jawa Timur
Canon Poweshot A400 | 2006
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | 2010
Teratai yang saya foto di kebun raya ini mengingatkan saya pada foto yang saya ambil empat tahun yang lalu ketika masih tinggal sebagai mahasiswa di Perumdos ITS Blok F/2. Tidak terasa rupaya sudah empat tahun saya mondar-mandir di dunia fotografi. Uniknya, setelah memotret teratai di kolam di perumdos itu, teratai berikutnya yang saya foto ya ini, yang ada di kebun raya Bogor. Empat tahun kemudian…
Background Putih atau Background Hitam?
Setiap Jumat, saya shalat jumat di kantor. Jumatan ini unik, karena diselenggarakan di lantai gedung yang dipakai untuk semacam ballroom. Majelis Taklim Telkomsel yang menyelenggarakannya. Kok bisa? Yaa karena kebetulan kantor saya ada di kantor pusat Telkomsel di gedung Wisma Mulia.
Nah, apa yang menginspirasi tulisan pendek ini, setiap kali, panitia selalu merekam ceramah khatib dengan menggunakan handycam yang dipasang di tripod yang diarahkan ke mimbar. Agar fokus, maka di belakang khatib dipasangi layar putih yang biasa dipakai sebagai layar proyektor in focus.
Menurut saya, pemilihan warna putih sebagai background kurang tepat karena membuat subjek utama (khatib) menjadi kurang jelas dan seringkali wajahnya gelap. Mengapa? Ini hubungannya dengan teknik metering.
Metering adalah cara kamera mengukur cahaya yang ada. Ia mengkalkulasi jumlah cahaya dengan memperkirakan seberapa banyak pantulan pada warna-warna, dari hitam hingga putih. Warna hitam dianggap benda yang tidak mendapatkan cahaya yang cukup. Warna putih dianggap benda yang terlalu banyak mendapat cahaya. Kemudian selanjutnya adalah kompromi. Setting bawaan auto kamera (evaluative metering — Nikon) berusaha menerangkan yang hitam dan meredupkan yang putih di semua area agar semua mendapatkan pencahayaan/terekspose dengan baik.
Nah, apa yang terjadi kalau background-nya putih? Putih lebih dominan dibandingkan warna lain (subjek — khatib itu sendiri). Karena itu, kamera akan meredupkan pencahayaan untuk mendapatkan area putih yang pas (teksturnya masih terlihat, tidak overexposed). Akibatnya subjek utama akan tidak terlalu terekspose (terlihat gelap). Ini juga terjadi pada subjek-subjek yang memiliki background berwarna terang atau pencahayaan dominan dari belakang (backlit).
Biasanya, solusi untuk permasalahan ini adalah menggunakan cahaya dari depan untuk melawan warna background. Teknik ini dinamakan fill-in lighting. Gampangannya, hidupkan lampu blitz kamera untuk memperjelas subjek.
Nah, dalam kasus khatib jumat ini, akan lebih baik jika background-nya berwarna hitam. Kamera akan menganggap warna hitam yang dominan sehingga akan memperjelas subjek. Dengan demikian, tidak diperlukan pencahayaan tambahan untuk memperjelas subject.
Sebagai ilustrasi, saya sertakan foto maskot dufan ini. Kapan-kapan, saya akan bahas metering dengan lebih teknis lagi. Tapi sebagai awalan, begini dulu biar lebih mudah dimengerti.
Bagaimana menurut Anda? Menurut saya, saya lebih mudah mengidentifikasi detail objek sebelah kiri daripada sebelah kanan. Dalam kondisi yang lebih kompleks, boneka di sebelah kanan akan cenderung gelap ketika mendapat cahaya terang. Bisa Anda coba sendiri kok kalau tidak percaya he he he…
Menunggumu
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Sembari nyedot es kelapa muda dan menggigit pisang goreng bertabur keju dan cokelat meises, saya terpesona melihat derasnya hujan zenith turun di kebun raya Bogor. Pengunjung yang menikmati liburan tahun baru berhamburan berlarian mencari tempat berteduh. Sejurus kemudian, akhirnya saya menemukan yang menarik saya untuk kembali memegang kamera. Perempuan itu duduk di pojok, berteman secangkir kopi. Jemarinya lincah menari di keypad Nokia seri E yang setengah diremas. Setelah mengikat rambut hitam terurainya, ia menoleh ke arah air hujan dengan gelisah. Apa kira-kira yang ada dalam pikirannya?
PS: Inilah foto pertama saya di 2010. Kebun Raya Bogor, tempat singgahan pertama saya dalam perjalanan fotografi 2010.
Review: Arok Dedes, Pararaton yang Dirasionalkan
Judul Buku: Arok Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 561 halaman
Anda semua pasti tahu siapa pendiri kerajaan Singhasari: Ken Arok. Anda juga pasti tahu siapa Empu Gandring dan buah karya kerisnya yang melegenda yang menggegerkan wangsa Rajasa. Yup, kisah berdirinya salah satu kerajaan besar di tanah Jawa, Kerajaan Singhasari, diajarkan di buku-buku sejarah waktu kita duduk di bangku sekolah.
Salah satu sumber sejarah yang digunakan buku sejarah di sekolah adalah kitab Pararaton, sebuah kitab berisi kisah raja-raja Jawa. Dulu saya sempat terbersit pertanyaan, apakah mungkin seorang pendiri kerajaan besar adalah seorang perampok yang suka mengacau keamanan. Jika benar, kenapa ia bisa mengurusi negara besar, bahkan setelah Tumapel takluk, Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Sri Kertajaya pun dikalahkannya. Bagi saya tidak mungkin seorang rampok tanpa pendidikan politik dan otak yang luar biasa bisa menjadi seorang raja besar.
Tetapi memang ketika saya membaca terjemahan kitab Pararaton, seorang Ken Arok memang demikianlah adanya digambarkan seperti apa yang ada di buku sejarah. Jadi saya tidak bisa menyalahkan buku sejarah. Hal yang ditekankan oleh Pararaton adalah bahwa kemenangan Ken Arok atas Tunggul Ametung dikarenakan kesaktian keris Empu Gandring yang konon ditempa dari batu meteorit dengan sepenuh jiwa raganya. Kesaktian itu terbukti dari betapa kutukan Empu Gandring yang benar-benar berbisa: tujuh turunan Ken Arok bertikai dan terbunuh oleh keris yang sama.
Alternatif Cerita yang Rasional
Pararaton sendiri sebenarnya tidak bisa secara penuh dijadikan sumber sejarah [wikipedia] karena mencampur fakta dan fiksi. Celah ini dimanfaatkan oleh Pram untuk menghadirkan sebuah alternatif cerita sejarah mengenai kudeta politik Ken Arok terhadap Tunggul Ametung yang merupakan awal dari berdirinya Kerajaan Singhasari.
Ken Arok, digambarkan sebagai seorang yang jenius. Ia adalah seorang Sudra yang memiliki semangat Satria dan berwawasan Brahmana. Dalam usia yang masih sangat muda, ia menguasai sansekerta dengan sempurna. Ia lulus dari asuhan Dang Hyang Lohgawe dengan predikat cum laude. Arok, namanya, diartikan sebagai Sang Pembangun.
Tidak ada cerita kesaktian aji-ajian keris. Yang ada adalah sebuah permainan politik. Membangun kekuatan militer sebagai gerombolan pengacau yang memusingkan pemerintah tapi dekat dengan rakyat. Membangun jaringan intelijen hingga ke jantung kehidupan pribadi Tunggul Ametung. Menghembuskan isu. Memanasi kubu-kubu. Menghasut tokoh-tokoh ambisius untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Mengadu domba hingga akhirnya kudeta terjadi.
Pada saat yang menentukan itu, Ken Arok tampil sebagai pembela Tunggul Ametung. Sudah ada yang bisa dicap sebagai pemberontak dengan meyakinkan. Penyelesaian yang gemilang itulah membuat dewan brahmana mengangkat Ken Arok sebagai akuwu Tumapel yang baru. Legitimasi penuh dari rakyat karena Ken Arok dekat dengan rakyat — sebagai simbol perlawanan sang akuwu yang semena-mena.
Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.
Ken Arok telah sukses melakukan kudeta khas Jawa. Licik dan cerdik. Dari tangannya langsung, ia tidak pernah bertempur secara fisik melawan penguasa. Namun tangannya berlumuran darah dari hasil strateginya. Kunci suksesnya adalah ia berhasil memanasi kubu Gerakan Gandring, yang sejak lama memang sudah memiliki niat merebut kekuasaan. Kubu Gandring tidak pernah menyadari bahwa mereka telah dijadikan umpan bidak yang melenakan lawan. Mereka sempat tertawa penuh kemenangan ketika Tunggul Ametung telah terbunuh. Ketika lawan termakan umpan, aktor yang sesungguhnya muncul menyelesaikan permainan.
Sebuah Metafora?
Roman sejarah ini sempat dilarang keras di zaman Orde Baru. Roman ini “sukses” mengantarkan Pram keluar masuk penjara selama hidupnya. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apakah Arok Dedes adalah metafora kudeta tahun 1965? Misteri Gerakan 30 September itu sampai sekarang masih simpang siur penuh kontroversi. Saya sadari memang ada beberapa kemiripan, utamanya ketika menjelang Tunggul Ametung terbunuh. Waktu itu salah satu petinggi militer kepercayaan Tunggul Ametung (Panglima-panglima Kuda bersaudara) terbunuh secara misterius dan santer terdengar isu bahwa ada pengkhianatan yang dilakukan oleh Kebo Ijo, seorang kepala prajurit yang dipercaya ada di pihak Kubu Gandring. Kalau ini adalah metafora, Pram telah sukses melakukannya.
Mana yang Benar?
Jadi, mana yang benar? Ken Arok menurut versi Pararaton atau versi Pram? Kalau saya pribadi lebih suka citra Ken Arok versi Pram. Seorang pendiri dinasti Rajasa (ia bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi), pendiri kerajaan besar, harus memiliki segala kualifikasi yang digambarkan oleh Pram. Saya tidak percaya seorang rampok kecil yang suka merampok rakyat dan memperkosa bisa mengurusi sebuah negara besar. Saya lebih suka ide bahwa Ken Dedes lah yang jatuh cinta kepada Ken Arok karena kecerdasannya (mengingat ia juga seorang brahmani — anak Mpu Parwa) ketimbang Ken Arok yang bernafsu mendapatkan Ken Dedes.
Tentu saja, fiksi karya Pram ini tidak bisa dijadikan literatur resmi. Namanya juga fiksi, rekaan penulis saja. Tetapi di lain pihak, Pararaton juga tidak bisa dijadikan pegangan melihat kualitasnya yang mencampurkan fakta, fiksi, mistik, dan mitologi. Lagipula, seperti roman-roman Pram lainnya, Arok Dedes adalah cara yang mengasyikkan untuk belajar sejarah. Tidak hanya cerita politik saja di roman ini, namun juga detail kebudayaan pada saat itu, detail pakaian Ken Dedes (mahkotanya pita bertabur permata), friksi-friksi antar kasta, pertentangan mencolok antara pemuja Syiwa dan Wisnu, dan masih banyak lagi.
PS: Terima kasih untuk Mas Prabowo yang merekomendasikan buku ini di forum komentar di artikel review Anak Semua Bangsa. Foto dicomot dari Goodreads.
Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2009
Tidak banyak event fotografi yang terjadi di sepanjang tahun 2009. Tahun 2009 memang tahun pikiran fotografi aneh-aneh di kepala saya, bahkan sempat melalui fase bosan. Saya amati, event hunting besar yang terjadi hanya: Cilegon di awal tahun, Karimun Jawa di pertengahan tahun, dan Kalimantan Timur di akhir tahun. Meskipun secara kuantitas, jumlah upload saya di flickr hanya separuh dari jumlah di 2008, namun pembelajaran yang ada tak kalah berkualitas dengan 2008. Sebenarnya, masih ada beberapa foto bagus yang saya ambil di Kaltim, tetapi karena ini erat hubungannya dengan “kedinasan”, saya tidak bisa mempublikasikannya.
Oke, tanpa membuang waktu lagi, inilah sepuluh foto terbaik saya di tahun 2009. Tidak diurutkan menurut prioritas tertentu.
01. Serenade Anyer
Selepas menghadiri pernikahan kawan saya di Cilegon, saya ngeluyur ke mercusuar titik nol kilometer jalan raya Daendels Anyer – Panarukan. Ini adalah foto HDR saya yang pertama yang saya anggap berhasil.
02. Dasaadmusin Concern
Gedung perkumpulan zaman Batavia. Masih event di awal tahun, jalan-jalan di kota tua Jakarta. Berhubung saya sudah sering memotret di kota tua, tidak banyak yang saya dapatkan kecuali beberapa interior museum Bank Mandiri. Tetapi yang ini, saya suka karena hasil olahan HDR-nya mengesankan.
03. Selamat Pagi
Pertama kali menginjakkan kaki di Semarang. Pagi yang luar biasa. Pagi yang membuat saya terlempar ke dalam alam imajinasi novel “Bismillah, Ini Tentang Cinta”. Bahwa di tempat inilah seorang Haydar berlutut bingung menghadapi tingkah dua pujaan hatinya: Salma dan Lexa.
04. Menyesap Nektar
Berbekal lensa pinjaman, saya hilir mudik di kebun belakang rumah berkalung kamera. Saya beruntung karena hasilnya cukup tajam. Meskipun tidak se-spektakuler foto-foto makro orang lain, tetapi inilah foto makro terbaik saya.
05. Bontang Kuala
Foto ini adalah jepretan terbaik yang didapatkan oleh si kecil mungil Canon Ixus 120 IS, kamera secondary saya. Tak mau kalah dengan kakaknya, ia menangkap suasana perkampungan nelayan Bontang Kuala — sebuah kampung di ujung kota Bontang, Kalimantan Timur — dengan sangat prima.
06. Negeri di Awan
Foto ini menjadi foto terbaik karena momen-nya akan sulit saya dapatkan lagi. Waktu itu saya beruntung, memakai pesawat paling pagi dengan cuaca yang sangat cerah. Dan yang paling penting, duduk di dekat jendela di lambung pesawat. Dan memang sampai sekarang kalau naik pesawat saya selalu menggunakan penerbangan malam hari.
07. Senja di Kalimantan Timur
Tak pelak, para fotografer sekaligus blogger senior yang sudah pro berkenan menyempatkan diri berkomentar di entri ini: Pak Iman Brotoseno dan Pak Benny Chandra. Saya sendiri menyukai sunset yang tidak ada duanya itu dan karena tiga menit yang berarti itu saya mengabadikan momen tersebut, saya menjadikannya foto terbaik 2009.
08. Membantu Adik
Foto human interest terbaik saya. Kunjungan ke panti asuhan di bulan Ramadhan, saya tidak sia-siakan untuk merekam sedikit sisi kehidupan sehari-hari anak-anak panti. Saya suka foto ini karena sangat bercerita, apalagi ditambah dengan munculnya ray of light matahari yang masuk lewat lubang ventilasi jendela.
09. Motif Ukir
Dari bandara Adi Sumarmo di Surakarta yang baru saja dibangun menggantikan bandara lama. Bandara ini dengan bangga menampilkan hiasan ukiran khas Solo — yang saya ketahui kemudian ketika riset literatur — berupa daun pakis yang menjalar liar.
Comments