Tentang Kata “Which Is”

Posted by: on Jan 15, 2010 | 15 Comments

Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.

Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.

Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.

Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.

Lingua Franca

Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.

Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.

Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.

Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi. :)

15 Comments

  1. budiono
    January 16, 2010

    hehehe campur2 itu supaya kedengeran hebat sat.. tapi sering ada yang nyerocos pake bahasa inggris jebule jembret kabeh..

    kalo niatnya buat belajar sih oke.. tapi kalo niatnya pamer ya malah diketawain orang..

    [untungnya ada google translate xixixix]

    Reply
  2. Fenty
    January 16, 2010

    hehehe, kadang2 sulit menemukan bahasa indonesia yang tepat, lih, jadinya pake bahasa inggris, seperti … “aku wonder aja” secara kalo panjang, “aku bertanya-tanya” hahahaha …

    tapi emang mesti dibiasakan berbahasa indonesia yang baik dan benar kok :)

    Reply
  3. hedi
    January 17, 2010

    dalam kasus “which is” di bahasa pergaulan Indonesia itu cuma salah kaprah aja, sok campur2

    Reply
  4. dnial
    January 17, 2010

    Gimana kalau pakai penghubung ala prancis aja: qui, que dan ou.

    *cara mbalas orang sok2an pakai Inggris tapi belepotan: Ngomong Inggris campur Prancis :P *

    Reply
  5. dnial
    January 17, 2010

    Kelupaan: heck, even those bule think it awesome. :P

    Reply
  6. Galih Satria
    January 17, 2010

    @budiono:
    kalo berprasangka baik, mereka kadung terbiasa berbahasa inggris (jadi kek cinthca lawra dong)

    @fenty:
    ah yang sulit dibahasakan misalnya istilah-istilah asing seperti printer driver, cache (tembolok). kalau wonder kan bertanya-tanya lebih umum dipakai (hmm… kok terjemahanku plurker bangets ya…)

    @hedi:
    jadi bukan pengayaan bahasa ya?

    @dnial:
    eh bien, kalau mau cari contoh yang bagus, hercule poirot bahasa inggrisnya terpatah-patah dan selalu dicampuri dengan bahasa prancis. ^^

    Reply
  7. geblek
    January 18, 2010

    jadi bagaimana seharunya mas :)

    Reply
  8. zizima
    January 19, 2010

    tentang lidah jawa. ini juga kadang jadi masalah. masalah kalo sedang menggunakan akses jawa dengan orang yang sesama jawa di tengah orang yang bukan jawa.
    langsung di teror atau minimal di lirik kok pede-pedenya pake bahasa jawa, hoho.

    meski kadang bener2 lingu franca yang dipake, ya jawa ya indo ya inggris (bingung dewe, hehe)

    Reply
  9. dhodie
    January 20, 2010

    Intinya jangan setengah-setengah yak.. ya kalo mau ngomong sok English, be prof in that ^_^ . Tapi saya mah kepengen menggalakkan berbahasa Indonesia yang baik ^_^

    Reply
  10. kimi
    January 20, 2010

    hehehehe… dan masih pakai kata “secara” di kalimat terakhir. :p

    Reply
  11. Galih Satria
    January 20, 2010

    @kimi:
    ahahaha… ada yang teliti rupanya ;)

    Reply
  12. belajar bahasa inggris
    February 21, 2010

    bagusan yang mana ya…….. campur-campur atau atu 1 bahasa aja… tp 1 bahasa kayaknya lebih bagus

    Reply
  13. pingin bisa
    February 22, 2010

    itu namanya motivasi belajar mas… kalw full 1 bahasa susah… jd campur” lama” akan bisa… apa lagi ada yg ralat kalaw salah.. pasti cpt ngerti..

    Reply
  14. dian
    March 3, 2010

    hai…
    kita punya perhatian yg sama nih. Terlepas dr berbagai alasan mengapa seseorg bicara dgn campur2 bahasa ind-english, saya jg heran atau prihatin(?) dgn bnayak nya lirik2 lagu khususnya rap/hiphop mnggunakan bahasa campur aduk begitu. Kebebasan berekspresi yang malah tdk menunjukkan kemandirian bhs ind, menurut sy. Oya, apakah kamu bisa beri saran artikel/buku atau apapun itu yg bisa menjawab keprihatinan sy td?

    trims
    salam
    dian

    Reply
  15. ikang
    August 25, 2010

    Kenapa sih sekarang banyak orang mengucapkan kata ‘secara’ sebagai awal kalimat? Misal: “secara dia tidak biasa pulang cepat hari ini”. Kok rasanya tidak tepat ya? Risih mendengarnya..hehe.

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site