Mengenal Musik Klasik: Fur Elise

Posted by: on Jan 31, 2010 | 6 Comments

Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik populer. Di antara yang sedikit itu, saya yakin Fur Elise adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, teng tung teng tung teng ting tong teng tung…. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna rungu, Fur Elise adalah komposisi musik yang luar biasa, baik bagi para penikmat maupun pemain.

Detail

Jika anda pernah melihat partitur aslinya, pada partitur itu tertulis Fur Elise, Bagatelle in A minor, WoO 59. Bagatelle, maksudnya pendek dan berprogresi secara tidak terduga. Fur Elise dimulai dengan nada-nada yang lembut, mengalun, melenakan di bagian pertama kemudian terpecah menjadi progresi yang mengejutkan dan tak terduga di bagian kedua dan ketiga.

Bentuk komposisi seperti ini dinamakan rondo. Dalam rondo, tema pertama dimainkan, kemudian tema kedua diperkenalkan dan dikembangkan. Sebelum tema ketiga masuk, komposisi kembali lagi ke tema pertama dan akhirnya diakhiri kembali di tema pertama setelah melalui tema ketiga yang tak terduga.

A minor tentu saja adalah kunci dasar yang dimainkan. Dalam musik modern, tanda kunci (key signature) A minor tidak terlalu dikenal karena nada dasar ini sama saja dengan nada dasar C yang terkenal. A minor adalah bentuk sedih dari tangga nada C mayor.

WoO 59, ini seperti tanda air yang saya tulis dalam setiap karya foto saya. O adalah opus (bahasa Latin) yang kira-kira berarti karya. Masalahnya, Beethoven hanya menomori karyanya hanya untuk karya-karya besar dan penting saja seperti misalnya grand symphonies atau piano sonata. Karya yang lebih kecil seperti Fur Elise ini tidak memiliki nomor opus/karya, sehingga orang memberikan tanda untuk Fur Elise sebagai WoO: tanpa nomor karya.

Siapa Elise Sebenarnya?

Pertanyaan yang sangat menarik tentu saja adalah misteri nama Elise di komposisi ini. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa Elise adalah kekeliruan — seharusnya adalah Fur Therese – karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada saat itu ada wanita bernama Therese Malfatti yang merupakan salah satu wanita yang menolak lamaran seorang Ludwig van Beethoven. Hingga masa meninggalnya, Beethoven tidak pernah menikah. Kasih tak sampai.

Andai tulisan itu memang benar Elise, bukan Therese, Elise akan selalu menjadi misteri yang akan menghidupkan imajinasi para penikmat musik klasik.

Saat saya memainkan bagian pertama Fur Elise, saya bisa merasakan lewat jari-jari saya, membayangkan seorang wanita cantik bernama Elisa yang begitu mempesona seorang laki-laki. Mereka berteman baik, kenangan akan masa lalu yang hadir di antara mereka berdua. Hari-hari yang begitu berwarna. Namun tiba-tiba sesuatu datang merusak semuanya, memadamkan sebuah harapan akan cinta yang bersambut. Cinta yang tak berbalas. Hingga cinta itu berakhir dalam sebuah kesedihan.

Itulah Fur Elise di imajinasi saya.

Abstrak

Posted by: on Jan 28, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Namanya abstrak, jadi segala interpretasi diserahkan kepada pembaca. Ternyata fotografi tidak harus melulu bergambar tajam, tetapi membuat segala-galanya kabur cukup mengasyikkan juga. Tentu saja yang sulit di sini adalah mengira-ngira lokasi mana yang kira-kira bagus jika dijadikan abstrak seperti ini. Saya sudah mencobanya di sela-sela dedaunan hijau, bunga, dan titik-titik lampu di kejauhan. Tertarik? Geser tuas lensa ke mode manual, bidik, putar fokus ke tak terhingga, dan jadilah gambar abstrak.

Kalibata Blues

Posted by: on Jan 27, 2010 | 12 Comments

FLICKR
Lokasi: Danau, Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Tiap kali lewat TMP Kalibata, saya selalu tertarik dengan danau kecil yang ada di kompleks makam ini. Saya pernah mencoba untuk memotret dari balik pagar, tetapi nampaknya terlalu jauh. Akhirnya hari minggu kemarin saya mendapat akses untuk masuk dan cukup leluasa untuk bertingkah sendirian di sisi danau yang agak sepi. Hari masih sangat pagi, matahari baru sepuluh menit berangkat mendaki langit. Rasanya saya cukup beruntung tidak disenggol oleh “penunggu” di sana, entah sosok prajurit bersimbah darah atau perawat palang merah yang cantik, ha ha ha…

Sunday Morning

Posted by: on Jan 24, 2010 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Demi… gara-gara posterous-nya Fenty Lovegood dan Efahmi!, saya jadi semangat untuk menghidupkan kategori Daily Photos lagi. Sempat tadi mau ikutan daftar, tapi takutnya ini cuma euforia sesaat saja. Sehabis subuh tadi pagi, biasanya saya melakukan scaling sampai jam delapan pagi. Tapi hari ini, saya menyambar si mungil Ixus 120, dan bergegas ke Taman Makam Pahlawan Kalibata yang jaraknya hanya selemparan batu saja dari kos-kosan.

Vista

Posted by: on Jan 23, 2010 | 8 Comments

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Apa yang paling menarik saya tentang produk gagal Microsoft: Windows Vista? Konsep wallpaper-nya. Garis-garis berkilau yang disinari cahaya seperti aura. Salah satu wallpaper yang saya sering coba reproduksi adalah rumput hijau kekuningan yang soft focus sehingga terkesan halus dan berkilau indah. Saya selalu gagal menemukan teknik pengambilan yang dipakai Vista, sampai saya memotret foto ini.

Ketika teman saya mengomentari wallpaper Windows XP saya dengan komentar singkat yang sama sekali tanpa kesan, “Ah, itu kan wallpaper-nya Vista….” saya tahu bahwa saya telah berhasil.

Bokeh

Posted by: on Jan 22, 2010 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Bokeh, atau daerah di luar ruang tajam (out of focus) adalah salah satu keasyikan dalam hobi fotografi. Bokeh membuat foto menjadi lebih terasa “art”-nya. Bokeh membuat Anda bisa mengisolasi objek yang Anda ingin tekankan dan sampaikan pesannya. Bokeh juga bisa membuat foto Anda terkesan, mm… sangat DSLR (baca: profesional) karena kebanyakan kamera-kamera saku kesulitan untuk membuat bokeh yang dalam karena konstruksinya, he he he…

Tentang Kata “Which Is”

Posted by: on Jan 15, 2010 | 15 Comments

Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.

Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.

Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,

Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.

Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.

Lingua Franca

Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.

Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.

Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.

Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi.

Switch to our mobile site