Entries from October 2009

Paradoks

Date October 25, 2009

Matahari yang terik mulai condong di langit Kalimantan Timur. Kami baru saja melintasi tugu titik nol derajat lintang di jalan antara Muara Badak – Bontang. Sinarnya yang keemasan mampu menembus hembusan AC mobil yang digeber dalam tingkat dinginnya. Mesin Ford Everest 4 wheel drive menggerum seram berusaha menaklukkan jalanan tanah berbatu terjal — menyusuri pipa gas yang diluncurkan dengan tekanan 700 psi dari Badak Plant. Air pun jika diberi tekanan sebesar ini akan setajam belati.

Kota Bontang, sebuah kota kecil berkontur bukit sedang bermandikan cahaya menyilaukan ketika kami memasuki kota ini. Rasanya seperti memasuki negeri dongeng di cerita Alice in the Wonderland. Bagaimana tidak, dua jam kami dihajar jalanan tanah berbatu, mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera, tiba-tiba saja sebuah jalan beraspal mulus berkilauan terbujur lurus terhampar di depan kami.

Seperti memasuki kompleks kastil negeri impian ketika kami melewati gerbang kompleks PT Badak NGL yang dijaga super ketat. Kalau saja kami tidak membawa password berupa badge berlogo bulat merah-hijau-biru-putih yang menunjukkan salah satu pemasok gas perusahaan ini dan ditambah mantra “urusan pipeline“, kami mungkin tak pernah bisa masuk. Perumahan yang penuh fasilitas, jalanan lebar dan bersih, kanan kiri jalan dihiasi rumput hijau, bunga aneka warna, dan danau kecil, Anda tak akan pernah menduga ini adalah kompleks perusahaan jika Anda tidak mendongakkan kepala dan melihat instalasi Gas Plant raksasa dengan empat flare api-nya yang menyala-nyala.

Itu paradoks pertama. Bontang tampil sebagai kota yang kaya raya karena beberapa perusahaan besar ada di sana. Gas dan batubara yang menghidupkan cahaya kota ini sehingga demikian berkilaunya. Paradoks, karena begitu Anda keluar, Anda akan bertemu lagi dengan hutan Kalimantan yang setengah gundul, dengan sesekali rumah-rumah kayu reot para transmigran yang herannya kok mereka bisa dan betah hidup seperti itu.

Paradoks kedua. Sepulang dari PT Badak NGL, kami menyempatkan diri mampir ke stasiun satelit gas launcher di KM-53. Sebuah tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki di situ. Terletak di puncak bukit, dengan jalanan sempit yang terjal. Mobil yang boleh masuk hanya yang berlisensi stiker kuning — izin masuk jalan perintis.

Matahari sudah menjelang tenggelam. Pukul 17:00 WITA. Di pos kecil yang dikepung rerimbunan pohon, kami disambut ramah oleh dua orang operator. Mereka bekerja 24 jam memastikan bahwa plant bekerja dengan baik dan aman. Jangankan kantor pusat di Wisma Mulia Jakarta nan mewah itu, Badak Camp pun mungkin belum pernah mereka kunjungi. Ditemani segelas teh dan kopi (saya memilih segelas air mineral dingin), saya ngobrol sekadar berbasa-basi,

“Bapak asli sini ya?” tanya saya.

“Oh, saya tinggal di sini dari kecil mas, cuma saya lahir di Jawa, umur dua tahun saya baru di sini…,” jawab bapak itu sambil menghembuskan rokoknya.

“Jawa-nya mana pak?”

“Tulungagung mas…”

Mak plenggong…, saya melongo beberapa saat. Astaga… betapa sempit dunia. Di lokasi seterpencil ini, jauh berkilo-kilometer, kok ya saya bertemu dengan orang yang memiliki tempat lahir sama dengan saya. Kalaupun Jawa, bukankah masih ada ribuan tempat selain Tulungagung? Di tempat seluas Kalimantan, saya terbentur paradoks bahwa betapa dunia ini sempit sekali dengan dialog pendek yang sederhana tadi.

Paradoks.

Lokasi: Bontang, Kalimantan Timur
Kamera: Canon Ixus 120 ISĀ 

Selamat Sore, Tanjung Mas

Date October 18, 2009

FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Senja yang suram baru saja bersembunyi di balik cakrawala dan menyisakan semburat warna merah yang sendu. Namun kesibukan di pelabuhan ini nampaknya sama sekali tidak memperdulikan warna-warni yang sedang dipamerkan alam. Mungkin memang sudah terlalu terbiasa dengan sore ini. Namun, bagi saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan ini tak kuasa mengelakkan itu. Sayup-sayup, terdengar lantunan syair mengalun di kejauhan,

Bebasan kaya ngenteni udane mangsa ketiga
Snajan mung sedhela ora dadi ngapa
‘penting bisa ngademke ati

Semana uga rasaning atiku
Mung tansah nunggu tekamu
‘ra krasa setahun kowe ninggal aku
Kangen kangene atiku

Karang

Date October 14, 2009

FLICKR
Lokasi: Pulau Cemara Besar, Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Belitong eh? Laskar Pelangi? Bukan, karang-karang ini saya temukan di sudut pulau kecil berpantai pasir putih di hari terakhir ekspedisi bahari kami. Sementara kawan-kawan melakukan snorkelling (sedianya banana boat, tapi dibatalkan), saya memilih mengeksplorasi keindahan di pulau kecil ini. Apa yang bisa saya katakan adalah, masing-masing pulau di Karimun Jawa memiliki kecantikan dan keunikannya sendiri-sendiri. Saya menghabiskan lebih dari satu jam njerum di sudut ini.

Kamera-Kamera Saku Terbaik Menurut DPReview.Com

Date October 11, 2009

Mungkin sudah saatnya saya mengupdate tulisan review kamera 2 jutaan secara sampai sekarang masih banyak yang mendownload file Excel itu meskipun mungkin banyak tipe-tipe yang ada di situ yang sudah discontinue.

Well, apakah saya mau membeli kamera saku baru? Hm.. bisa iya, bisa tidak (tergantung budget dan mood yang impulsif haha). Tetapi saya menyadari satu hal bahwa nampaknya saya tidak pernah cocok dengan karakter warna Canon. Terlalu pucat! Emang kamera hitam putih? Jagoan saya, Ixus 860, tampil mengecewakan waktu saya pakai untuk mengambil gambar di panti asuhan Al-Hasanat Mampang, ramadhan kemarin. Jadi saya mencoba mencari alternatif karakter warna selain Canon.

DPReview.Com menyediakan beberapa review super komplit yang membuat Anda bosan membaca detailnya (karena sangat mendetail) dan ingin segera menuju ke konklusinya. Kalau Anda masih malas membaca konklusinya, ini saya rangkumkan buat Anda.

Kamera Murah – Dibawah 1,5 Juta

Mereka merekomendasikan Sony Cybershot W120 dan Panasonic Lumix LZ8. Dua kamera ini sudah memiliki adik, yaitu Lumix Z10 dan Cybershot W130. Jika kedua kamera ini cukup kecil untuk dikantongi, saya akan segera lari ke toko kamera, hehe.

Kamera Super Kecil

Pemenangnya adalah Canon SD 790 IS dan Panasonic DMC FX-37. Jika tak menemukan SD 790 IS di sini, Anda juga bisa memilih Canon SD 780 IS (Canon Ixus 100 IS). Sedangkan FX-37, Anda bisa memilih FX-48. Nah, berhubung saya sudah putus asa dengan Canon, seri FX ini cukup menggoda saya, mengingat saya ingin kamera saku yang benar-benar bisa dimasukkan saku celana dengan nyaman layaknya handphone.

Kamera Tahan Air

Kamera waterproof sempat saya lirik waktu saya akan berangkat ke Karimun Jawa, Juli lalu. Kandidat saya waktu itu adalah Olympus seri mju yang cantik. Tapi ternyata, menurut DPReview, pemenangnya adalah Canon Powershot D10 dan Panasonic Lumix DMC TS-1. Tampilannya sih mereka memang didesain untuk tahan air. D10 tampil seperti plastik yang gemuk, sedangkan DMC TS-1 tampil seperti kotak garang tahan air. Kamera tahan air sudah tidak menarik lagi buat saya, siapa yang tega kamera mahal-mahal dicelupkan ke air? Hehehe

Kamera Super Zoom Panjang

Anda mencari kamera saku yang bisa dibuat mengintip orang pacaran? Artinya Anda bisa meng-close-up objek yang jauh? Di sini Panasonic lagi-lagi memborong trophy DPReview.Com. Dua kamera andalannya menjadi pemenang, yaitu Panasonic Lumix ZS1 dan Lumix ZS3.

Kamera saku super-zoom juga tidak menarik saya. Saya lebih mencari kamera saku yang wide angle-nya luas, karena akan lebih sering saya gunakan untuk memotret landscape (hei, saya landscaper kan?) dan memotret dokumentasi orang-orang narsis. Mengambil zoom panjang dengan kamera saku berisiko noise dan goyang. Saya lebih mempercayakan urusan intip-mengintip ini ke Nikon D40 + Nikkor AF-S 55-200 mm VR saja.

Jadi, mana pilihan Anda? Semoga membantu kegiatan pilih-pilih. Saya sih belum memutuskan hehehe…

Hijau Terhampar

Date October 6, 2009

FLICKR
Lokasi: Pulau Cemara Besar, Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Apa perasaan Anda ketika disuguhi sebuah lansekap yang maha cantik terhampar di hadapan Anda? Pulau kecil tak berpenghuni, berpasir putih, dengan hutan rimbun yang menghijau yang berbatasan dengan bakau-bakau? Air laut jernih hijau kebiru-biruan, tembus hingga terumbu karang di bawah sana. Angin laut yang segar semilir menerpa wajah. Sinar matahari jatuh ke pantai dan memantulkan cahaya kemilau yang menyilaukan. Saya takjub. Betapa cantik Indonesia! Seribu kata takkan sanggup mewakili. Sejuta foto takkan mampu melukiskan!