Entries from September 2009

Layakkah Kita Mendapatkan Hari Kemenangan?

Date September 14, 2009

Seorang kawan memposting di plurk-nya, “Sekian hari menuju hari kemenangan”. Nampaknya dia sudah menghitung mundur menyiapkan datangnya hari lebaran yang tinggal beberapa hari lagi ini. Tiba-tiba saja, sebuah pertanyaan menyeruak di benak saya, “Layakkah kita diberikan kemenangan?”

Bagaimana kita mengklaim menang perang jika secara pribadi kita tetaplah sama dan tidak ada perubahan signifikan? Berapa malam kita sholat malam — atau bahkan — apakah sholat wajib sudah tidak ada yang bolong?

Bagaimana kita bisa dengan bangga menyerukan takbir Allahu Akbar Walillahilhamd jika di jalan raya kita masih serobot sana serobot sini, klakson menyalak di mana-mana. Di mana letak kesabaran yang seharusnya ada ketika berpuasa?

Sungguh, di Jakarta ini, saya benar-benar merasa ironis dengan keadaan lalu lintas. Menjelang berbuka puasa, semua orang berebut pulang ingin segera berbuka puasa di rumah. Tetapi mereka yang berpuasa ini tidak saya temukan nilai puasanya di perilaku berlalu lintas. Tidak ada perbedaan. Mereka sama sekali tidak berusaha menahan diri untuk tidak mengklakson ketika jalannya diserobot, ketika lampu hijau menyala, ketika ada pengendara yang lain menghalangi jalan.

Bagaimana kita bisa merayakan kemenangan jika di malam-malam terakhir, dimana pahala yang sudah diskon diobral lagi, justru shaf-shaf sholat malam di masjid semakin sedikit, sementara mal penuh sesak macam pasar tumpah saja. Persiapan mudik lebaran.

Mudik, momen ini saya rasa telah melenceng terlalu jauh dari semangat puasa Ramadhan. Semangat mudik tidak lagi menjadi semangat bersilaturahmi, tetapi momen yang tepat untuk unjuk kesuksesan dan status sosial di hadapan keluarga dan teman-teman lama. Kalau tidak, kenapa orang bela-belain beli baju baru, handphone baru, mobil baru? Kenapa mal penuh sesak? Dari mana kita bisa berkata: inilah hari kemenangan?

Imam Al-Ghazali menyebutkan, ada tiga golongan orang yang berpuasa. Orang biasa, khawas (khusus), dan khawasul khawas (khususnya khusus). Saya kira kalau hanya lapar dan haus, kita telah bisa menaklukkan, apalagi sekadar dari pagi hingga sore. Tetapi apakah kita telah memenangkan dari pertempuran untuk bersabar, menjaga pandangan, menjaga ucapan? Apakah kita tidak ingin menjadi golongan yang khawas?

Ada quote menarik dari Mario Teguh tentang puasa ramadhan. Seharusnya ibadah puasa tidak lagi menjadi ajang pembelajaran, tetapi justru pembuktikan dari 11 bulan sebelumnya berproses untuk memperbaiki diri. Karena adalah mustahil jika proses perbaikan diri itu berhasil hanya dalam waktu sebulan saja. Ketika proses itu telah dijalankan, bukan tidak mungkin malam Lailatul Qadar itu jatuh di malam pertama Ramadhan baginya. Apa yang tidak mungkin bagi Allah azza wa jalla?

Saya pribadi merasa, rasanya tidak pantas jika saya merasa menang dalam ramadhan kali ini. Ibadah sholat saya masih amburadul, bacaan belum benar, saya masih suka bergunjing, saya masih suka melirik wanita yang bukan mahrom saya… Saya hanya berharap bisa memperbaiki apa yang saya masih bisa perbaiki di ujung hari-hari terakhir ramadhan ini. Semoga Allah mengampuni. Semoga Allah menerima. Semoga proses ini tidak berakhir ketika ramadhan selesai, tetapi terus berlanjut hingga insya Allah tahun depan dipertemukan kembali dengan ramadhan.

Amin…

Merepih Senja

Date September 12, 2009

FLICKR
Lokasi: Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimun Jawa
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Aku sengaja sedikit memisahkan diri dari rombongan ketika kulihat mentari sedikit lagi menyentuh cakrawala di ufuk barat. Mengikuti naluri, aku bergeser mendekati ranting pohon bakau yang patah di sudut sana. Kulolos tripod dari sarungnya, setengah tak sadar aku memutar lensa dan menempatkannya di sana. Sambil tersenyum girang, aku mulai menekan tombol shutter sambil berbisik ke bapak nelayan di depanku, “Pak, kita sedang melakukan hal yang sama. Merepih senja…”

*merepih, kira-kira maknanya hampir mirip dengan menebas, diserap dari kata Melayu, dipopulerkan oleh Chrisye dalam lagu Merepih Alam

Menuju Dunia Nyata

Date September 10, 2009

FLICKR
Lokasi: Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Matahari mulai condong ke arah barat ketika kami melepaskan bayi-bayi penyu itu dari penangkarannya ke lautan bebas. Bayi penyu itu bernama Tukik. Masing-masing dari kami yang memegang tukik diminta memberi nama dan melepaskannya ke pasir putih sambil menyoraki mereka. Awalnya tertatih-tatih, bayi-bayi penyu yang lucu itu merangkak berusaha meraih jilatan ombak. Sontak tiba-tiba, mereka dihajar ombak yang tiba-tiba datang dan segera terseret diombang-ambingkan ombak. Namun, talenta mereka adalah berenang dan menyelam meskipun usia mereka baru beberapa hari. Tukik-tukik itu segera beradaptasi dan meluncur ke lautan luas.

Dari sekitar seratusan tukik yang kami lepas, entah berapa yang akan bertahan hingga besar nanti. Entah apakah mereka sudah siap atau belum untuk menghadapi dunia nyata yang keras setelah beberapa hari berada di penangkaran yang nyaman. Apakah mereka tersungkur di batu karang, dimakan predatornya, ataukah selamat? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

Upgrade WordPress ke Versi Terbaru (2.8.4) Pada Distro Debian versi Stabil (Lenny)

Date September 9, 2009

Ini gara-gara blogosphere dengan heboh memberitakan adanya security hole yang sangat serius di WordPress sebelum versi 2.8.4. Setelah lubang keamanan berupa akses lupa password dari URL yang dibuat sedemikian rupa, lubang keamanan terbaru adalah kemungkinan membuat administrator tersembunyi.

Ada satu sistem yang cukup krusial untuk tetap dijaga keamanannya karena menyangkut dengan citra. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk melakukan upgrade WordPress. Masalahnya, sistem tersebut memakai sistem operasi Debian versi Lenny (release/stable) dimana WordPress-nya adalah versi 2.5.x dan tidak bisa diupgrade ke 2.8.x. Versi ini sudah ada di Debian Sid (unstable), tetapi tentu saja saya tidak mau hanya gara-gara WordPress, keseluruhan sistem harus diupgrade — apalagi ke versi yang belum stabil.

Solusinya adalah membuat paket installer *.deb sendiri untuk Lenny. Saya membuatnya di Debian Squeeze (testing) dan cukup sukses ketika diinstall secara manual tanpa apt-get di Lenny. Dan menurut etika dunia open source, ketika saya memperoleh ilmu dari sana, adalah kewajiban saya untuk menularkan ilmu itu.

Silakan download panduannya di sini. 

Romantisme Tragis di Balik Perang Bubat

Date September 5, 2009

Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.

Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.

Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?

Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.

Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.

Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).

Referensi: Langit Kresna Hariadi - Gajah Mada: Perang Bubat. 2008. Solo: Tiga Serangkai.