Menuju Dunia Nyata
FLICKR
Lokasi: Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Matahari mulai condong ke arah barat ketika kami melepaskan bayi-bayi penyu itu dari penangkarannya ke lautan bebas. Bayi penyu itu bernama Tukik. Masing-masing dari kami yang memegang tukik diminta memberi nama dan melepaskannya ke pasir putih sambil menyoraki mereka. Awalnya tertatih-tatih, bayi-bayi penyu yang lucu itu merangkak berusaha meraih jilatan ombak. Sontak tiba-tiba, mereka dihajar ombak yang tiba-tiba datang dan segera terseret diombang-ambingkan ombak. Namun, talenta mereka adalah berenang dan menyelam meskipun usia mereka baru beberapa hari. Tukik-tukik itu segera beradaptasi dan meluncur ke lautan luas.
Dari sekitar seratusan tukik yang kami lepas, entah berapa yang akan bertahan hingga besar nanti. Entah apakah mereka sudah siap atau belum untuk menghadapi dunia nyata yang keras setelah beberapa hari berada di penangkaran yang nyaman. Apakah mereka tersungkur di batu karang, dimakan predatornya, ataukah selamat? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Upgrade WordPress ke Versi Terbaru (2.8.4) Pada Distro Debian versi Stabil (Lenny)
Ini gara-gara blogosphere dengan heboh memberitakan adanya security hole yang sangat serius di WordPress sebelum versi 2.8.4. Setelah lubang keamanan berupa akses lupa password dari URL yang dibuat sedemikian rupa, lubang keamanan terbaru adalah kemungkinan membuat administrator tersembunyi.
Ada satu sistem yang cukup krusial untuk tetap dijaga keamanannya karena menyangkut dengan citra. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk melakukan upgrade WordPress. Masalahnya, sistem tersebut memakai sistem operasi Debian versi Lenny (release/stable) dimana WordPress-nya adalah versi 2.5.x dan tidak bisa diupgrade ke 2.8.x. Versi ini sudah ada di Debian Sid (unstable), tetapi tentu saja saya tidak mau hanya gara-gara WordPress, keseluruhan sistem harus diupgrade — apalagi ke versi yang belum stabil.
Solusinya adalah membuat paket installer *.deb sendiri untuk Lenny. Saya membuatnya di Debian Squeeze (testing) dan cukup sukses ketika diinstall secara manual tanpa apt-get di Lenny. Dan menurut etika dunia open source, ketika saya memperoleh ilmu dari sana, adalah kewajiban saya untuk menularkan ilmu itu.
Romantisme Tragis di Balik Perang Bubat
Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.
Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.
Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.
Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?
Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.
Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.
Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.
Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.
Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).
Referensi:Â Langit Kresna Hariadi -Â Gajah Mada: Perang Bubat. 2008. Solo: Tiga Serangkai.
Senja di Karimun Jawa
FLICKR
Lokasi: Perairan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Kepulauan Karimun Jawa merupakan gugusan pulau kecil-kecil di lepas laut Jawa dan merupakan wewengkon kabupaten Jepara. Pulau terbesar bernama Karimunjawa Besar dan disini lah pemukiman penduduk berada. Alat transportasi utama adalah perahu, dan untuk transportasi ke pulau Jawa menggunakan kapal cepat dan kapal ferry yang secara periodik berkomuter dengan rute Semarang – Karimun Jawa – Jepara PP.
Kepulauan Karimun Jawa masih belum mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk menjadikannya salah satu produk unggulan wisata. Resort-resort yang ada masih terkesan asal ada — jika bandingannya adalah Pulau Umang, Ujung Kulon. Padahal, inilah Bunaken atau Wakatobi-nya Jawa. Kita tak perlu jauh-jauh ke sana, karena Karimun Jawa menyajikan taman laut, pemandangan pantai, dan suasana terpencil yang sangat cantik luar biasa. Jika dianalogikan, Pulau Umang adalah seorang gadis metropolitan berparas biasa namun dengan bantuan make-up, ia menjelma menjadi mempesona luar biasa. Karimun Jawa adalah kecantikan asli seorang gadis Sunda dari kampung pelosok yang sedang menunduk dan tersenyum malu-malu kepadamu.
Comments