Romantisme Tragis di Balik Perang Bubat
September 5, 2009
Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.
Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.
Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.
Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?
Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.
Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.
Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.
Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.
Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).
Referensi:Â Langit Kresna Hariadi -Â Gajah Mada: Perang Bubat. 2008. Solo: Tiga Serangkai.
Posted in 












September 5th, 2009 at 4:24 pm
wah kesurupen opo iki moro2 nulis sejarah?
*moco maneh ben mudeng*
September 5th, 2009 at 9:17 pm
hahahaha, embuh, kompak karo dion, aku cuma ngambil intisari yang ini, kenapa putri dan pangeran itu selalu cantik dan tampan, ya kalo gak gitu ceritanya gak laku, hahahahaha … ada juga pangeran kodok akhirnya turns up jadi pangeran tampan juga :))
September 6th, 2009 at 12:05 pm
resensi buku????
September 6th, 2009 at 12:09 pm
@detx:
Hehehe… pengen wae :D
@Fenty:
Bener juga fent :))
@luxsman:
Bukan, ini opini pribadi. Referensi opini ini adalah dari novel sejarah Perang Bubat karangan Langit Kresna Hariadi.
September 6th, 2009 at 3:54 pm
dari dulu wanita yah…
tahta juga
sama harta :D
hehehe
September 9th, 2009 at 3:40 am
Konon, karena peristiwa perang Bubat-lah sentimen Jawa-Sunda muncul, bahkan (masih ada sisa) sampai sekarang. Salah satunya di bandung (jawa barat) tidak ada nama jalan : hayam wuruk, gajah mada.
October 10th, 2009 at 9:34 am
Dari dulu hingga sekarang cinta memang lautan penderitaan yang tiada pernah bertepi
October 10th, 2009 at 10:57 am
its apart pf history,,,,
napa orang jawa dilarang menikah dengan orang jawa,,,,begitu sebaliknya
karena dari leluhurnya sudah mendarah daging,,keras kepala,,,,,
jawa sang penakluk ( sampai sekarang kuat jiwa perantaunya,,,,,)
sunda sang bestari ( keturunan cantik,,,,gaul,,modisss )
jawa adi nigrat,,,,sampai kapanpun darah jawa adalah jiwa pemimpin negara,,
tapi itulah manusia,,,akhirnya terlena oleh kemolekan wanita,,,,
hancurlah suatu dinasty,,,,karena WANITA DAN KESERAKAHAN…..!!!!!!
HIKMAHNYA : TETAPLAH MEMIMPIN DENGAN BIJAK
January 7th, 2010 at 3:27 pm
ewean anjing
February 2nd, 2010 at 6:49 pm
bisa download novelnya ndak ni…..mau dong..tq…
February 4th, 2010 at 12:59 pm
Panglima tiang feng berucap ,Dari dulu beginilah cinta deritanya tiada akhir,.sunda dgn sgala kemolekanya untuk merayu ,menebar pesona guna mendapatkan material…jawa slalu berjiwa ksatria,pemimpin.
February 5th, 2010 at 11:24 pm
@tunggul ametung: ksatria dan pemimpin? yang ada halalkan segala cara demi keserakahan. sadar kalo dengan jiwa ksatria tidak bisa kalahkan sunda dengan curang dan tipu muslihat baru bisa… inikah ksatria?
February 25th, 2010 at 8:33 pm
ti baheula urang sunda loba di licikan, euw caritana lamun sunda kudu jadi nagara jajahan !!!!!!
tong ngimpi
February 28th, 2010 at 4:44 pm
Setiap suku punya sifat and karakteristik masing-masing..,tp itu ga terlalu mutlak.Konyol rasanya bila orang jawa merasa superior dibanding suku lain(sunda,batak,minang,papua),klo org jawa punya pemikiran seperti itu ga jauh beda seperti Bani/Suku Israel yg merasa dirinya golongan makhluk Tuhan yg palig istimewa,akhirnya diadzab Tuhan kan and dibenci umat manusia yg lain ampe sekarang kan??? .
jgn sombong hanya karena udah ada 4 presiden berasal dari jawa,trs gmn hasilnya Indonesia sekarang dengan 4 presiden yg berasal dari jawa..??,bandingin dgn negara lain…??
Bisa jadi bumerang buat org2 jawa..
Bisa jadi kesempatan akan datang dengan presiden org sunda,batak,minag,papua,dll,Bangsa ini lebih maju..
March 21st, 2010 at 2:49 pm
Wah…wah…koq sudah menjurus ke rasis neh diskusinya. Apapun suku bangsa kita, kita tetap Indonesia. Dan dimata Tuhan bukan suku bangsa yang derajatnya lebih tinggi tapi keimanan…..jadi sejarah mang tak bisa dilupakan, tapi kta bisa belajar darinya, yang baik diambil yang jelek diabaikan…
March 22nd, 2010 at 5:22 pm
hmmm kurang setuju klo cew sunda dibilang cantik2,cew jawa juga banyak yang ayu2,bahkan smart,klo dibilang suku jawa sok pemimpin dan ksatria,salah besar, semua juga dikasih ksempatan yang sama untuk jadi pemimpin,cuma knapa orang jawa yang terpilih,kembali ke kita sebagai bangsa Indonesia, kan pemilu kita yang milih. Knapa cew sunda ga ada satupun yang duduk di MPR,DPR atau jadi menteri?kecantikan bukan segalanya, ayu,cantik,geulis it dominasi dari hati,otak n attitude, kalu cm punya salah satunya aja,menurutku belum bisa dibilang cantik,bangga sbg cew jawa ^^,peace for cew sunda,kita semua sama,ayo buktiin ke Gajahmada klo orang sunda n jawa bisa bersatu
March 22nd, 2010 at 5:25 pm
belajar dari My name is khan
cuma ada 2 manusia,insan yang baik n insan jahat,yang lain ga bisa bedain
kita orang jawa g smbg kok, nyatana dipimpin orang non Jawa p.Habibie skali,malah kita usir,g ada yang maksa orang Jawa jadi presiden,kita yg milih,maaf ga fair klo komen anda aa aa skalian dari tanah sunda begitu sentimen terhadap orang jawa
March 23rd, 2010 at 10:09 am
orang jawa punya jiwa penakluk, keras kepala dan jiwa kepemimpinan….ya barangkali ada benarnya juga…darah moyang mengalir karena gen itu pasti menurun kepada cucu walau berselang jauh jaraknya..
tapi ya itulah sehebatnya penakluk bisa kalah ama wanita…pelajarannya, jangan mengulangi sejarah…
gadis jawa gadis sunda…
blasteran jawa sunda..
sama seperti blasteran kalender Islam dan kalender jawa,,,
March 23rd, 2010 at 1:07 pm
Rupanya perlu diluruskan disini bahwa kisah PERANG BUBAT itu 100% fiksi. Sebenarnya tidak pernah ada perang di lapangan desa Bubat. Tidak pernah ada rencana raja Hayamwuruk mempersunting putri Sunda. Tidak pernah ada kunjungan tamu dari kerajaan Galuh/Sunda ke Majapahit. Tidak pernah ada raja Galuh/Sunda terbunuh di Majapahit.
Perang Bubat hanya sebuah kisah fiksi yang ditulis oleh para pujangga Bali pada abad 17 (3 abad setelah era Hayamwuruk) dalam Kidung Sunda/Sundayana dan Pararaton, untuk tujuan membendung pengaruh Mataram (Sultan Agung) yang saat itu sedang meluaskan kekuasaannya. Dengan ditulisnya kisah tsb diharapkan pada saat itu muncul penentang kuat dari Sunda.
Adanya hal-hal yang buruk pada Kidung Sunda/Sundayana dan Pararaton, pihak Mataram kemudian menerbitkan “buku putih” yaitu Babad Tanah Jawi, dengan menghilangkan data sejarah kerajaan Singhasari, meninggikan posisi Majapahit dan Mataram, merendahkan kesultanan Demak, dan membengkokkan sejarah asal-usul pendiri Majapahit (Raden Wijaya) seolah sebagai keturunan Padjadjaran.
Jadi, sangat tidak afdol, jika timbul sentimen kesukuan antara Jawa-Sunda pada saat sekarang, apalagi hanya karena sebuah dongeng belaka.
March 26th, 2010 at 4:45 am
@Tunggul amentung: komentar bodoh anda telah memancing permusuhan,!! jika anda orang jawa yang katanya ksatria, harap anda secara ksatria meminta maaf..!!
@Ruli: saya setuju, jika di zaman sekarang, sentimen kesukuan sudah tak perlu lagi.,apalagi jika diawali dari komentar bodoh Tunggul amentung tadi..!!
March 29th, 2010 at 12:19 am
Karya-karya fiksi sejarah memang bisa memiliki daya tarik luar biasa kepada setiap pembacanya. Dengan memanfaatkan latar belakang sejarah, dibangunlah imajinasi dan fantasi si pengarang tanpa banyak memikirkan resiko, karena dianggapnya kejadian yg diceritakannya itu terjadi jauh sebelum pembaca lahir.
Namun terbukti, bahwa cerita fiksi sejarah sangat efektif meracuni pola pikir dan pandangan obyektif para pembacanya. Hanya karena terhanyut akan dramatisasi dan romantisasi yg dibangun si pengarang, pembaca secara tak sadar kehilangan kekritisan berpikir. Dianggapnya apa yg dibaca adalah gambaran kejadian yg sesungguhnya.
Kisah Perang Bubat ini adalah salah satu contohnya. Betapa kisah fiksi ini telah meracuni pola pikir dan pandangan awam sejak dipublikasikan pada abad 17, dalam karya sastra Kidung Sunda/Sundayana dan juga Pararaton. Terlebih lagi di tahun-tahun belakangan ini para novelis justru mengangkat kembali kisah fiksi tsb dengan tambahan-tambahan kisah romantisme berlebihan. Ibarat racun ditambah racun.
Yang lebih mengherankan lagi, kisah fiksi diatas fiksi tsb seringkali jadi topik utama dalam beberapa forum diskusi. Dianggapnya semua itu fakta-fakta sejarah. Bahkan sempat pula untuk diangkat menjadi film daerah oleh pemerintah, namun (untungnya) digagalkan oleh para wakil rakyat.
March 30th, 2010 at 11:16 am
Napa sih kita meributkan perang bubat, perang bubat adalah sejarah perjalanan kerajaan baik majapahit maupun sunda dan itu merupakan perjalan nenek moyang baik org sunda maupun org jawa kenapa kita jadi generasi muda tidak melihat sisi positif nya aja toh semua itu sudah terjadi, jadi ada dan tidaknya peristiwa itu jangan sampai membuat kita generasi muda ini terutama org sunda maupun org jawa terpecah belah karena kita ini satu Bangsa jadi sekarang waktunya kita untuk berbuat unutk Bangsa dan Negara ini, OK teman2 mohon maaf kalau ada yg ngk berkenan dengan tulisanku ini, makasih …..
March 30th, 2010 at 3:20 pm
@ Raden Sudarsono
Betul sekali pak, sekarang waktunya untuk berbuat bagi bangsa dan negara.
Namun justru itulah, karena ini forum tentang Perang Bubat, kami justru berupaya meluruskan sejarah dan opini publik terutama kepada generasi sekarang, agar bersikap kritis dan memiliki pemahaman yang benar.
Sekali lagi, marilah berikan yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta. Hilangkan rasa saling curiga, rasa saling sentimen kesukuan hanya karena dongeng belaka.
April 2nd, 2010 at 8:58 am
Kayanya terlalu dini kalo kita menyimpulkan Gajah Mada sebagai biang keladi dari perang bubat ini, karena jangan salah lho sebelum Gajah Mada mengembara ke Jawa bagian timur dia sempat menjadi pegawai Istana Kerajaan Sunda bertahun-tahun. Menurut sumber dari Sumedang kalo ga salah, ketika Gajah Mada jadi pegawai istana Kerajaan Sunda dia cukup dekat dan akrab dengan Dyah Pitaloka. Coba deh explore lagi dari versi orang Sumedang kalo ga salah….
April 2nd, 2010 at 10:15 am
Rully@ Jadi begini silsilahnya:
Ken Arok-Ken Dedes punya anak namanya MAHISA WONGATELENG, MAHISA WONGATELENG punya anak namanya MAHISA CEMPAKA, MAHISA CEMPAKA punya anak namanya DYAH SINGAMURTI.
RAKEYAN JAYADARMA adalah Raja Sunda yang ke-26 menikah dengan DYAH SINGAMURTI, trus dari pernikahan itu lahirlah RADEN WIJAYA. Mungkin disebut keturunan Padjadjaran karena RADEN WIJAYA lahirnya di PAKUAN (pada waktu itu PAKUAN adalah ibukota Kerajaan Sunda). Jadi sebenarnya RADEN WIJAYA juga adalah penerus yang sah tahta RAJA SUNDA yang ke-27. Hanya saja Raden Wijaya memilih tinggal dan jadi penguasa di tanah jawa, sementara tahta Raja Sunda yang ke-27 diteruskan RAKEYAN RAGASUCI, saudaranya RAKEAN JAYADARMA atau pamannya RADEN WIJAYA.
Btw peristiwa bubat ini sumbernya bukan cuma Kidung Sunda/Sundayana dan Pararaton lho, tapi ada juga ditulis dalam naskah Carita Parahiyangan dan Pustaka Nusantara, penelitinya kalo ga salah Prof Dr.C.C.Berg dari Belanda. Kidung Sunda itu sendiri sebenernya yang merencanakan pembuatannya juga kan HAYAM WURUK, niat baik HAYAM WURUK untuk menyelesaikan masalah bubat agar diambil hikmahnya.
Jadi dari silsilah itu tidak ada yang perlu diributkan antara Jawa dan Sunda karena bubat bukan cuma Jawa VS Sunda tapi juga Sunda VS Sunda, dua kubu di perang bubat dua-duanya masih sama2 satu keturunan masih sesama saudara, strategi perangnya Majapahit dan Sunda juga sama2 bersumber dari Kitab Pustaka Ratuning Bala Sarewu…….Bahkan jika memang otak peristiwa bubat itu adalah Gajah Mada toh Gajah Mada juga orang Sunda, ayahnya Cina-ibunya Banten, nama Cinanya Ma Fong Hoe, nama Sundanya Ramada, nama Jawanya dikenal Gajah Mada.
Jadi buat orang Sunda jangan memiliki rasa sakit hati sama orang jawa ya, lebih baik koreksi diri sendiri!!! Kalo orang Jawa banyak yang sukses jangan iri ya, koreksi diri sendiri!!!
April 10th, 2010 at 4:01 pm
Klo lihat postingan terakhir dari Rully bener juga hampir seluruh anggota kerajaan pada saat itu berasal dari Pasundan bahkan Adityawarman yang menguasai sumatera sebanarnaya nama sunda, bahkan nama Galuh (kerajaan sunda pada saat itu) hingga kini banyak dipakai orang tua untuk memberi nama putri2nya di jawa yang pada asalnya untuk menghormati dan mengharapkan putri nya akan mendapatkan kecantikan yang sama dengan Dyah Pitaloka dan pada saat itu pula nama Diah mulai memasuki tanah Jawa yang jelas suasana masyarakat di dua kerajaan pada saat itu sangat penuh dengan suka cita bahkan nama Galuh sendiri di sunda sudah tidak akan ditemukan. yang jadi bahan pemikiran adalah manusia cenderung mempahlawankan yg tidak semestinya menjadi pahlawan.
Richard The Lionhart sepantasnya diberi nama Richard The Butcher (penjagal), Colombus the Finder harusnya diberi nama Clombus the destroyer, juga Gajah mada sepak terjangnya di bumi nusantara sangat mengerikan terlalu banyak intrik tipu muslihat dan darah untuk melaksanakan tujuannya yang jelas Nusantara saat itu lebih banyak diklaim dibawah maja pahit ketimbang perang terbuka secara langsung.
Kelakuan Gadjah Mada tidak hanya membahayakan kerajaan Sunda dan Jawa namun juga bertanggung jawab atas terjadinya penjajahan Barat ke Indonesia selama lebih dari 400 tahun mengingat apabila pada saat itu Majapahit tetap kuat dan Solid Negeri, penjajahan dari barat tidak akan berlangsung dengan mudah dikarenakan harus menghadapi sebuah kerajaan yang kuat.
Satu hal lagi yang harus dicermati oleh Orang Jawa dan Sunda bahwa kelakuan Gajah Mada ini bukanlah representasi dari orang Jawa bahkan ditentang habis Oleh seluruh keluarga kerajaan Majapahit jadi sangat tidak masuk akal apabila kedua suku besar ini pecah hanya karena kelakuan Patih Jelek yang satu ini.
Penaklukan wilayah sumatera oleh Majapahit tidak pula terlepas dari dukungn kerajaan Pasundan, dalam hal ini sangat jelas tidak mungkin majapahit menaklukan daerah barat ini tanpa dukungan logistik dan akses dari tetangganya.
Buat masyarakat Jawa janganlah kalian terlalu mengagungkan patih yang satu ini toh pembenaran dan keadilan harus terukur dari sisi kemanusiaan dan kebudayaan, bahkan harus bisa dipertanggung jawabkan disisi Tuhan, buat orang Sunda toh kelakuan Gajah Mada ini bukanlah representasi dari Kerajaan Majapahit ataupun masyarakatnya (pada saat itu) justru pada masa kini yg saya lebih khawatirkan.
Jadi menurut pemikiran saya Ketika Sunda dan Jawa bersatu dalam satu barisan, Nusantara dapat mereka kuasai, ketika Jawa dan Sunda Bersatu Republik ini meraih kemerdekaan (Ingat long mars Siliwangi) dan ketika Jawa dan Sunda bersatu PKI dapat dihancurkan dan yang terpenting Alhamdulillah saya menapatkan seorang Istri yang cantik dari Pekalongan (ketika Sunda dan Jawa bersatu)
April 25th, 2010 at 12:45 pm
Yang jelas Hanya Mahapatih Gajah Mada yg bisa mempersatukan Nusantara,……yang lain berjiwa kerdil…Hanya bisa mendirikan Kerajaan di daerahnya sendiri.
May 11th, 2010 at 9:47 am
mempelajari sejarah hukumnya wajib, tapi menggulanginya adalah haram, karena kita manusia tidak mungkin akan jatuh pada lubang yang sama….
apapun kebenarannya, apapun versinya, yang perlu di perdebatkan bukanlah siapa benar siapa yang salah,. ambil hikmahnya buat kita semua…
lagi pula sampai sekarang saya masih bingung, apakah cerita yang sekarang beredar adalah cerita sebenarnya atau bukan, karena yang saya tau berbagai sumber cerita yang kita ketahui itu di temukan oleh orang belanda pada masa penjajahan,. bisa saja cerita ini di jadikan alat buat mereka meruntuhkan keutuhan nusantara, dengan politik devide et impera mereka…
yang perlu di cari sekarang adalah kebenaran sejarah, bukan mendewakan sejarah, karena saya yakin, semua punya keyakinan bahwa sejarah masing2 lah yang benar…
tapi menurut saya yang benar adalah yang bisa mengambil hikmah dari sejarah tersebut…
May 11th, 2010 at 4:53 pm
Koek edan kita ngak cari sapa yang bener tapi si Gadjah Mada jelas2 salah
May 12th, 2010 at 8:15 pm
Yang tadi cuman buat si congkepak ya, anjing …. dari Sabang sampai Merouke juga jijik dengan komentar anjing yang satu ini sombong belagu biang kerok, lihat dari se-Indonesia melawan penjajahan dan di Genoside tapi kalian cuman bersekutu dengan penjajah memeras rakyat sendiri dasar feodal bahkan Pangeran Diponogoro seorang raja yang Sah-pun kalian korbankan dan diganti dengan koek pengecut yg dijadikan raja …. dasar golongan Soeharto CS penjajah bangsa sendiri.
May 13th, 2010 at 9:02 pm
klo aku presiden RI, NKRI aku bubarin, persetan negara besar, silahkan tiap etnis memerdekan & membentuk negara sendiri. Singapura negara secuil aja makmur loh jinawi. Hanya orang2 TNI etnis jawa yang tidak terima merdekanya Timor Leste & otonomi khusus Aceh
June 1st, 2010 at 11:55 pm
Kalo menurut aq sih.. siapapun yang mengarang buku ini dan menyebarluaskanya hanya untuk memcah belah persatuan Indonesia. Feodalisme yang diwariskan ke masyarakat Indonesia sangat kental.
Mungkin butuh waktu yang panjang, karena pananaman feodalisme lebih dari 300 tahun diterpkan oleh wong londo.
Pokok namah ieu teh feodalisme lah anu diwariskeun ku kompeni. tos sakitu wae iyong wis ngantuk n kencot.
June 14th, 2010 at 2:33 pm
bagaimanapun sejarah adalah rentetan peristiwa masa lampau…. di belahan dunia manapun banyak terjadi moment ber-sejarah… di dalam kerajaan sunda n kerajaan galuh sendiri sering terjadi konflik berdarah…. makanya orang sunda bercermin diri dong… enak aj ngaku sanjaya, ngaku r. wijaya…. mikir sia orang sunda …sanjaya dan wijaya pun TIDAK BETAH hidup di sunda yg notabene orang2nya licik2..
June 15th, 2010 at 3:17 pm
apapun yang terjadi di masa lalu perlihatkanlah…bukti2 sejarah temukanlah…demi ilmu pengetahuan yang benar dan warisan budaya yang benar …jangan di tutup tutupi dan di buat kabur … Jayalah Negeri ini … teu apal jeung raden galuh,raden siliwangi…teu apal sajarah,cik aya ahli sajarah ti sunda nu rada bener geura .. jadi sajarah teh sajarah lain dongeng nu di papais,dimamanis atawa di papait nu antukna jadi rujit ….
June 16th, 2010 at 5:10 pm
dasar orang sunda sok plin plan klo ngomong.. dari jaman mandiminyak pun udah main selingkuh sesama orang sunda.. di situlah kecurangan terjadi.. kebohongan.penipuan,kemunafikan,pengingkaran.. sanjaya katanya berhak atas tahta sunda dan tahta galuh, tp mengapa tidak di ambil, jawabannya karena sanjaya tidak suka hidup di antara orang2 licik picik berakal bulus..kalo ngaku sanjaya kenapa jg tamperan, banga sampai di bunuh…
June 16th, 2010 at 5:17 pm
orang sunda mengatakan dyah pitaloka mati bunuh diri.. trus org sunda yg lainnya bilang yg mati bunuh diri itu dayangnya dyah pitaloka yg menyamar… dasar orang sunda sok bisa bermain kata sok berakal… sprti halnya yahudi yg pintar berstatement….
June 28th, 2010 at 1:10 pm
jangan jadi konflik dong, saya amati sunda ko lebih santun yah…, yang arogan biasanya ingin menang jadi tidak objektif.
July 13th, 2010 at 8:44 pm
utk horas, anda belum merasakan sendiri hidup di tanah sunda…. temen temen gw, org batak/ medan sendiri gk suka tabiat org sunda yg pengecut dan plin plan… justru, di balik berlagu santun itu org sunda menyimpan kebohongan….
July 15th, 2010 at 8:45 am
wow..lg iseng2 browsing, koq nongol yg bginian y?
tp bener koq, sayah juga urg sunda asli..dan saya sndiri kurang suka dgn beberapa tabiat buruk urg sunda.
Manis di depan, di belakang nusuk. Jarang ada yg fair. Dan klo org sunda merantau, uh skill ngeboong nya sangat berguna (hehe berhubung lagi merantau nih).
July 15th, 2010 at 12:54 pm
Ti baheula urang sunda geus LICIK, CHAUVINIS.. raja galuh, Darmaraksa [891-895] ge di podaran ku mentri sunda… ku sabab urang sunda mbung di parentah ku Raja galuh kawali, nu sah jadi Raja sunda…. Dasar urang sunda we sok narsis, sok suci, sok hebat….
July 15th, 2010 at 1:00 pm
weeeeeeeeewwww… orang sunda emang besar kepala .. isinya cuma angin kyk balon tuuuhhhh, sampai2 orang sunda terbang melayang gk menginjak tanah yang notabene di sebut pulau jawa itu….
July 15th, 2010 at 9:20 pm
Putri Dyah Pitaloka.. my Hero
Orang Sunda tipe bangsa cinta damai..
(sayang di negara ini ada orang yang berprilaku seperti yahudi/amrik)
July 16th, 2010 at 3:40 pm
salut kang ama blognys minta ilmunya
visit :http://maestrosolution.com
July 22nd, 2010 at 10:25 am
kalau bisa kilas balik, perang bubat idealnya ga usah terjadi, kalau gajah mada bisa menahan diri, biarkan saja hayam wuruk dan diyah menikah sesuai dengan adat istiadat yang berlaku tanpa dicampur aduk urusan politik semacam sumpah pocong, sumpah palapa atau sumpah serapah sekalipun, adapun gajah mada ingin nusantara ini bersatu, keinginannya akan terkabul kok..sesaat setelah hayam wuruk dan dyah menikah, maka bersatulah nusantara ini, dua keluarga kerajaan ini konon silsilahnya ketemu di Raden Wijaya raja majapahit pertama, apalagi kalau ibu kota kerajaan majapahit pindah ke galuh, sama2 satu keturunan ini kok. Makin hebat aja tuh kerajaan Majapahit. Sejarah membuktikan NKRI ibu kotanya di jakarta yg nota bene adalah wilayah kerajaan sunda/pajajaran, sampai detik ini masih tetep NKRI. Jawa Barat adalah daerah yang paling strategis. Hidup Indonesia.
July 27th, 2010 at 12:12 pm
sejarah membuktikan jakarta adalah kota bekas peninggalan belanda, dan belanda adalah salah satu bangsa di dunia yang terkenal jago membangun, tidak ada kaitannya sama sekali dengan sunda/ pajajaran. mana ada sih peninggalan kerajaan sunda yang bisa kita saksikan sampai sekarang.
July 27th, 2010 at 7:52 pm
ga bahas masalah peninggalan, aku menitik beratkan pada daerahnya siapapun yang menempatinya ga jadi pokok bahasan , sejak jaman purba daerah jawa bagian barat jadi pilihan berbagai rejim untuk dijadikan pusat pemerintahan, dari mulai tarumanagara 358 m (pendirinya apa benar asli orang pribumi sunda ga usah bahas juga) sampai Pajajaran, terus dari mulai jaman belanda sampai indonesia sekarang, daerah jawa bagian barat jadi pilihan untuk di jadikan pusat pemerintahan. andai saja Majapahit pindahan ibu kotanya ke daerah jawa barat, sesaat setelah raja hayam wuruk nikah sama dyah pitaloka ga salah juga wong punya mertuanya kok.
August 4th, 2010 at 1:16 pm
g perlu berandai andai.. sejarah mencatat, sanjaya/ raja mataram yg notabene keturunan setengah sunda, tidak di sukai di galuh.(sunda galuh ).. wijayapun tidak betah hidup di sunda… sanjaya ataupun wijaya bukanlah apa apa selama mereka hidup di sunda, tetapi mereka menjadi besar setelah mereka hidup di mataram dan majapahit.. …
August 5th, 2010 at 5:25 am
satu nusa satu bangsa… saling mangsa… sudah tabiat bangsa ini. gak jawa gak sunda semua sama aja, pada susah ngelihat orang seneng dan pada bahagia ngelihat orang susah.
Aing mah javanese loves sundanese… keturunan dyah pitaloka memang bohay2 i love it!!! my girl is sundanese and i feel like a king when i’m making love with her. she’s my princess… free sex princess… oh yes…
August 6th, 2010 at 9:06 am
sengaja aku gunakan kata berandai andai toh judul tread ini ada kata “Romantisme…bla…bla…bla…” setidaknya paham hal yang berkaitan dengan nostalgia, cerita masa lalu, kenangan masa lalu, dsb, adapun sanjaya, wijaya adalah pelaku sejarah masa lalu, apakah bisa eksis di jawa bagian barat ataupun timur adalah pilihan pelaku itu sendiri, pada akhirnya waktu membuktikan, daerah jawa bagian barat ini di samping lokasi ibu kota negara karena memang tempatnya sangat strategis, juga salah satu daerah tujuan investasi dan mencari nafkah. keluarga besarku yang multi etnis, sumatera, sunda, jawa dan flores sementara ini lebih memilih daerah jawa bagian barat ini….btw…yoshi..bilang…keturunan dyah pitaloka bohay2..ha..ha….aku salah satu penggemarnya hhmmmmmm……..
August 7th, 2010 at 11:14 am
hanya sayang seribu sayang raja hayam wuruk sampai akhir hayatnya ga kesampaian meminang mojang galuh yang bohay2 termasuk si jelita dyah pitaloka…entah apa yg aku lakukan terhadap maha patih gajah mada andai aku jadi hayam wuruk….tingkat kesabaran yang manakah yang aku harus lakukan……tingkat ketabahan yang macam apakah yang aku harus jalani….mengingat kegagalan cinta yang sangat memilukan……jujur aku saat ini…beristrikan…turunan mojang galuh……hhmmmmm….menurutku…sesuai selera….he..he…he
August 7th, 2010 at 5:20 pm
Q dpt tgas dr gru sjrah Q,,,dr cni Q jd au klo perang da romantisme jg…cayooo ea..hehehe
August 11th, 2010 at 9:39 pm
Jadi ni perang tuch benar2 fiksi?
Trus klo pengen meluruskannya, bagaimana? Sedangkan data-data yang ada hanya sedikit.
August 12th, 2010 at 12:53 pm
Disinilah titik kelemahan bangsa kita yg bisanya saling menghujat satu sama lain dan meninggalkan nilai-nilai luhur warisan tradisi nenek moyang pendahulu kita. Sejarah, hikayat, legenda bahka dongeng sekalipun seyogyanya kita manusia yg berakal budi pekerti yg luhur dapat menarik hikmah dari setiap kejadian dari masa ke masa, ataupun dari jaman ke jaman, yang mana itu semua dapat dijadikan suatu cerminan untuk bangsa ini lebih maju ke depan dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yg telah dilakukan oleh para pendahulu kita.
Benar atau salah itu adalah sesuatu hal yg nisbi dan terkadang imagener, karena kebenaran yg hakiki adalah milik Tuhan YME, benar atau salah menurut versi manusia terkadang jauh dari objektifitasnya dikarenakan selalu ditunggangi dengan suatu kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu.
Cobalah kita renungi, untuk apa kita memperdebatkan pepesan kosong, kenapa pula kita tidak isi kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan lebih bermanfaat.
Ingat semboyan persatuan NKRI “BHINEKA TUNGGAL IKA” hilangkanlah rasa superioritas atau inferioritas diantara kita. Marilah kita merubah sikap atau perubahanlah yang akan menggilas kita….HIDUP INDONESIA!!!
Mohon maaf jika ada salah dalam berkata-kata dikarenakan saya pribadi hanyalah manusia biasa citaan Tuhan YME.
Salam Hormat,
Keturunan Galuh Pakuan Pajajaran dan Majaphit/Demak/Pajang
August 18th, 2010 at 10:46 am
Yuk kita pake akal sehat pake pikiran dingin
kita sama-sama bersatu fokus lawan/brantas :
- Premanisme
- Kebodohan dan pembodohan
- Korupsi
itulah musuh kita bersama ! Viva Indonesia!
August 20th, 2010 at 7:57 pm
kebenaran perang bubat sampai sekarang masih diragukan.
sebagai bahan pertimbangan :
kitab pararaton yg dijadikan pijakan tidak kuat dasarnya karena penuh dgn cerita2 mistik dan kesalahan2 penanggalan maupun keterangan2 lain tentang peristiwa2 penting masa itu. siapa yg bisa memastikan bahwa data2 dalam pararaton benar adanya ? bahkan penciptanya pun tidak jelas, begitu pula tahun pembuatan.
bagi yg menggunakan pararaton sebagai dasar pemikiran harap membaca dulu terjemahan pararaton sebelum berkomentar.
August 24th, 2010 at 11:44 am
Jawa koek…jawa edan…mikirna tara make otak tapi make dengkul…gak ada yang berhak mengemban superior di dunia ini…kecuali Allah SWT Sang Maha Segalanya…jadi jangan arogan lu jawa….
August 29th, 2010 at 6:43 pm
asal we orang sunda ngomongna teh…
August 31st, 2010 at 9:23 am
buat orang sunda : anda smua saudara saya terlepas dgn bnar tidaknya kisah tragis kidung sunda. saya orang jawa cm bisa memetik hikmah bahwa seandainya kisah itu benar maka kita harus belajar memahami isi cerita itu. biang kesalahannya adalah NAFSU, GENGSI, INGIN BERKUASA ATAS ORANG LAIN , MERASA MAMPU SENDIRI, dan itu bukanlah representatif dari orang jawa. itu gajah mada pribadi yg terobsesi dgn mimpi – mimpinya. POWER SYNDROM.
BUAT ORANG JAWA : Jangan mengkultuskan seseorang manusia. kelemahannya lebih dominan di banding kehebatann yg di suarakan. tak ada yg HEBAT diatas muka bumi ini kecuali orang yg mampu rendah hati kepada siapapun.
buat kita smua: sudah cukuplah pertumahan darah yg sama skali ga penting. sejarah ataupun cerita di buat untuk di renungkan bukan buat dasar pembenaran untuk menciptakan peperangan baru.
SALAM PERSAUDARAAN HANGAT ARI KAMI ORANG JAWA UNTUK SAUDARA KAMI ORANG SUNDA. SMUA PUNYA KEHORMATAN YG SAMA
August 31st, 2010 at 9:30 am
TAMBAHAN : JANGAN SUKA BERSUMPAH!!!!! TRUST ME. Nabi Muhammad SAW pernah ditegur hanya gara2 berjanji. jadi kita yg awam ini jgn skali2 merasa yakin mampu memenuhi sumpah kita. MULUTMU ADALAH HARIMUMU
September 1st, 2010 at 4:03 pm
sangat di sayangkan hanya karena kidung sunda yang tidak jelas asal usulnya, terjadi pemahaman yang salah di antara orang indonesia.
September 2nd, 2010 at 4:49 pm
kidung sundayana di ragukan asal usulnya, melihat dari bahasa yang dipakai dalam naskah tersebut, yang menggunakan bahasa jawa pertengahan. kalaupun kabarnya naskah tersebut di temukan di pulau bali, bisa di pahami juga kalau bali pernah di kuasai belanda setelah melalui perlawanan dari kerajaan bali dengan perang puputan yang terkenal itu. bisa saja naskah kidung sundayana adalah skenario ciptaan belanda dalam usahanya menjajah nusantara, karena berbagai macam cara di lakukan oleh belanda untuk menjajah nusantara. isi kidung sundayana lebih berbentuk dongeng semata, karena ditemukan banyak kejanggalan dengan keseluruhan isi ceritanya. coba lihat juga NASKAH BUJANGGA MANIK yang di tulis sekitar akhir tahun 1400-an atau awal 1500-an. seorang tohaan/ pangeran pajajaran yang melakukan perjalanan ke alas jawa, kemudian memasuki daerah daerah majapahit tanpa prasangka atau perasaan TRAUMA atau antipati kepada majapahit, seolah olah bujangga manik tidak mengetahui kejadian bubat. atau memang TIDAK PERNAH ADA TRAGEDI BUBAT. tidaklah jauh perbedaan jarak waktu antara perjalanan bujangga manik dgn tragedi bubat itu. seandainya tragedi bubat benar terjadi, mungkin saja bujangga manik akan dengan sedihnya menulis itu di naskahnya, sewaktu dia melanglang buana sampai daerah majapahit…. intinya, naskah kidung sundayana hanyalah naskah dongeng semata.
September 4th, 2010 at 5:19 pm
TVRI bandung pernah menayangkan ulasan mengenai sekelompok masyarakat di daerah ciamis/garut. yang tiap tahun menyelenggarakan ritual memperingati perang bubat. masyarakat tersebut meyakini kalau perang bubat itu terjadi di daerah/ kampung mereka. upacara ritual itu di adakan dengan meletakan sesajenan di tempat tempat seprti sungai yang di yakini di situlah banyak prajurit sunda yang gugur. APAKAH KEYAKINAN MASYARAKAT INI BISA DI PERCAYA????
September 7th, 2010 at 9:06 am
Saya orang jawa tulen tapi saya juga punya temen orang sunda. Jawa dan Sunda sama saja yang membedakan adalah perilaku masing-masing. Gak bisa dipukul rata.
September 8th, 2010 at 9:33 pm
bukan sara dan bukan provokatif hanya ingin mengingatkan saudara2 kami dari sunda stop menghujat orang jawa,,,kami tidak mengerti masalah kalian apa?yg pasti kami kalau hanya perang bubat gak beralasan sunda dan jawa bermusuhan,saya hanya ingin menjelaskan persepsi salah orang sunda dgn orang jawa,,kalau kita liat akar maslahnya sepele yakni rasa iri saudara kami dengan kemajuan dgn keuletan orang jawa lantas mengangkat masalah masa lalu yg sudah berlalu dan belum tentu kebenarannya..pertama kalau kalian menganggap majapahit dari jawa benar tapi tidak lantas majapahit bisa mewakili orang jawa,banyak kerajaan2 lain dijawa yg bermusuhan dgn majapahit terutama singosari( wilayah kekuasaan malang),selain singosari banyak kerajaan2 lain ditanah jawa yakni mataram(wilayah kekuasaan semarang),,yg saya benar2 heran kok ada yg menganggap jawa itu sepenuhnya majapahit lantas saudara kami orang sunda melihat semua jawa itu majapahit,,SALAH?? jawa itu berbeda2 ada jawa ngapak(tegal,brebes,banyumas,dll),ada jawa keraton(semarang,solo,jogja,serta jawa bagian tengah),jawa tapal kuda yakni(banyuwangi,bondowoso,probolinggo)yang terakhir jawa suroboyoan (sekitar wilayah surabaya termasuk mojokerto,gresik,sidoarjo)..jadi cukup selesaikan masalah ini,kasian anak banyak orang jawa yg gak tau klo sesungguhnya saudara2 mereka orang2 sunda banyak yg benci mereka karena selama ini orang 2 jawa tidak pernah memikirkan masalah ini..kesimpulannya jawa itu banyak dan berbeda2 jgn mudah mengambil kesimpulan kalau jawa seluruhnya jelek ato buruk…